UWRF 2017 Berikan Penghargaan untuk NH Dini

NH Dini saat menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Janet DeNeef di Ubud Writers and Readers Festival 2017. Foto UWRF 2017.

Ubud Writers & Readers Festival 2017 resmi dimulai.

Salah satu perayaan sastra dan seni terbesar di Asia Tenggara ini membawa 160 lebih pembicara dari 30 lebih negara di seluruh dunia untuk berkumpul di pusat seni dan budaya Pulau Bali, Ubud.

Malam Gala Opening pada Rabu (25/10) dibuka oleh tarian Sekar Jagat, sebuah tarian selamat datang tradisional Bali yang diciptakan N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem di tahun 1993. Tarian oleh tujuh perempuan muda ini membuat undangan, yang kebanyakan datang di Bali untuk pertama kali, terpesona.

Para tamu undangan sendiri terdiri dari penulis, jurnalis, seniman, duta besar, perwakilan pemerintahan, media, serta hotel.

“Dengan semua yang terjadi satu bulan belakangan, berada di sini, malam ini, bersama Anda semua, adalah suatu kehormatan dan ini adalah sesuatu yang pantas dirayakan,” ujar Janet DeNeefe, Founder & Director Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017, dalam pidatonya.

Janet merujuk pada keadaan Pulau Bali yang saat ini dirundung resah oleh aktivitas Gunung Agung yang masih dalam status Awas. Toh, status itu tidak menghentikan kedatangan para penikmat Festival dari seluruh dunia.

Puncak acara malam Gala Opening adalah saat legenda hidup sastra Indonesia, NH. Dini, menerima penghargaan Lifetime Achievement Award. Penghargaan bergengsi dari UWRF ini ditujukan bagi para tokoh sastra Indonesia yang telah berkiprah puluhan tahun dan sukses memajukan dunia sastra Indonesia. Penghargaan tersebut terakhir diberikan kepada Alm. Sitor Situmorang di tahun 2010.

NH. Dini naik ke atas panggung ditemani putranya, Pierre Coffin, sutradara dan animator film box office Despicable Me dan Minions. “Saya sangat bahagia bisa mendapatkan penghargaan ini, karena sebelumnya penerima penghargaan ini adalah Alm. Sitor Situmorang, seorang senior yang saya hormati,” kata NH Dini setelah menerima penghargaan dari Janet.

“Saya telah berkiprah di dunia sastra selama puluhan tahun dan merasa sangat terhormat saya masih diingat hingga saat ini,” lanjutnya.

NH Dini menulis sekitar 20 novel dengan tema utama tentang perjuangan wanita dan jender. Foto YWRF 2017.

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, lebih dikenal dengan nama NH Dini, lahir di Semarang pada 29 Februari 1936. Beberapa karya NH Dini yang terkenal adalah Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), dan masih banyak lagi karya lain dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, atau cerita kenangan.

NH Dini juga disebut sebagai penulis feminis yang terus memperjuangkan kesetaraan jender. Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan jender yang sering kali merugikan kaum perempuan.

Dalam karyanya yang berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya.

Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Banyak orang berpendapat bahwa ia menceritakan dirinya sendiri. Karya NH Dini adalah karya yang banyak dikagumi, buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra.

NH Dini pernah meraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand. Ia kini berusia 82 tahun dan tinggal di Ungaran, Jawa Tengah.

Menurut Janet DeNeefe hadirnya NH. Dini, seorang legenda hidup dunia sastra Indonesia, di UWRF adalah suatu hal yang sangat membanggakan. Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal NH. Dini.

“Saya harap makin banyak juga pembaca internasional mengenal beliau dan tahu betapa luar biasanya penulis-penulis Indonesia,” ucap Janet.

UWRF adalah sebuah perayaan sastra dan seni berkelas dunia yang membawa 160 lebih figur-figur mengagumkan dari 30 negara di seluruh dunia. Mereka semua akan bergiliran tampil di 72 sesi-sesi diskusi yang menarik tajuk dari tema UWRF tahun ini, yaitu Origins atau Asal Muasal. Pada 25-29 Oktober mereka akan berbagi kisah, ide, dan inspirasi.

Sesi-sesi panel diskusi berlokasi di venue utama, yaitu Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Selain itu juga akan ada 100 lebih program lain seperti workshop, Special Event, pemutaran film, panggung musik, pembacaan puisi, program pengembangan karier di Emerging Voices, dan masih banyak lagi.

Informasi lebih lanjut bisa dibaca di website Ubud Writers & Readers Festival di www.ubudwritersfestival.com. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*