Faye Menggairahkan Coworking Space di Indonesia

Faye Scarlet Alund, pendiri Kumpul dan Presiden Coworking Indonesia. Foto Wayan Martino.

Apa yang kurang dari coworking space yang kamu datangi?

Kalau kurang bergairah, barangkali ekosistemnya belum terbentuk. Silakan berkunjung ke Kumpul Coworking Space di sebuah gedung besar bernama Kembali di Jl Sunset Road, Badung. Bangunan bekas galeri yang keseluruhannya dirancang untuk sebuah tempat kerja bersama.

Beberapa grup terlihat menempati ruang-ruang ukuran sedang yang disewa jadi kantor. Sebagian lagi menyebar di ruangan lebih besar. Dalam satu meja bisa ada beberapa laptop dengan pekerjaan berbeda. Sebuah pantry jadi sudut pelepas penat dengan persediaan kopi, teh, dan air minum.

Lemari berisi minuman dingin bisa diakses asal mengisi celengan sendiri. Semacam kantin kejujurannya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di halaman belakang, ada sebuah rumah Joglo semi terbuka yang direncanakan jadi tempat makan. Panggung kayu di sampingnya dan halaman rumput yang bisa muat puluhan orang. Bangunan yang megah. Sebelumnya Kumpul yang dibuat pada 2015 bergabung di Rumah Sanur, sebuah ruang kerjasama kreatif.

Faye Scarlet Alund, pendiri Kumpul dan juga Presiden Coworking Indonesia dari Bali ini ditemui 24 Agustus. Dia baru pulang dari perjalanan sebagai salah satu peserta International Visitors Leadership Program (IVLP). Ia dan beberapa rekan lainnya berkunjung dan belajar di sejumlah kota di Amerika Serikat. Dalam setahun bisa lebih dari 10 grup IVLP yang mengikuti program ini, dengan minat dan bidang kerja berbeda.

Salah satu lokasi yang membuatnya terkesan adalah sebuah coworking yang fokus pada bisnis kuliner. “Ini cocok di Bali, karena kan banyak usaha kuliner di sini,” ujarnya. Di sebuah ruang kerja dan bisnis terpadu, ada yang sedang bekerja mengembangkan bisnis online dan juga memasak. Semacam laboratorium makanan.

Ada juga sebuah ekosistem industri perjumpaan mesin-mesin, pengerajin, pembuat karya rintisan, klien, dan tim pemasaran. Mereka membuat produk dari pesanan, dibuatkan prototype, dan bisa langsung dijual jika hasilnya bagus. Ruang ini membuat banyak karya inovatif lahir, menyesuaikan kebutuhan warga.

Faye Alund (tengah) saat mengampanyekan Gerakan 1000 Startup Digital di Malang. Foto samudrawan.blogspot.com

Membangun Jejaring

Faye mengingatkan coworking space itu tak hanya tempat bekerja, tapi mendorong komunikasi dan jejaring di antara penggunanya. Sebuah komunitas yang bisa saling melengkapi dan menambah nilai dari apa yang sedang dikerjakan.

Faye dan teman-temannya di grup IVLP-Creative Economy and Entrepreneurship Incubators ini mengunjungi lima kota, dimulai di ibukota Amerika Washington DC, Baltimore, Charlotte, Cleveland, dan Seattle. Mereka mengikuti lebih dari 30 diskusi dengan durasi masing-masing 1-2 jam.

Bisa dibayangkan berapa banyak pengalaman yang didengar, pengetahuan yang dicerna, dan jejaring baru di bidang pengembangan ekonomi kreatif ini sekitar tiga minggu perjalanan di Amerika Serikat. Tiap hari rata-rata berdiskusi dalam tiga pertemuan dengan tuan rumah berbeda. Dalam rombongan ini ada penggiat DILO Kota Medan, sekolah animasi Hello Motion, Hipmi Surabaya, dan pembuat start-up.

Hal menarik yang dicatat Faye, penggerak perekonomian di AS adalah ekonomi kreatif yang dihidupkan sektor swasta. Bahkan ada sebuah inisiatif, Midtown, menurutnya seperti pemerintah daerah karena mendorong gerakan warga aktif dan memastikan iklim bisnis kondusif.

“Mereka mendorong active citizenship,” ingat Faye.

Ada juga program American for the Arts yang fokus memberikan analisis bagaimana seni berdampak luas pada banyak bidang kehidupan termasuk ekonomi dan investasi. “Mereka fokus di research and development, apa yang dikerjakan berdampak pada hal apa saja, jadi bisa menjadi investasi jangka panjang,” lanjut penerima beasiswa S2 di Australia dan mengambil Peace and Conflict Studies ini.

Inilah salah satu kekurangan gerakan di Indonesia, memetakan bagaimana sebuah kegiatan memberi dampak yang bisa diukur kualitatif atau kuantitatif. “Misal, ada yang ngasi bantuan Rp 1 juta tapi bisa memberi dampak Rp 5 juta,” sebutnya soal matrikulasi dampak program yang akan memberi nilai tambah. Nah ini harus dianalisis.

Untuk Faye, berdiskusi topik-topik seputar ekonomi kreatif bukan hal baru. Mendirikan dan bekerja di sejumlah komunitas coworking space pasti membiasakan bertemu banyak orang, model bisnis, dan strateginya.

Seperti tur di Kumpul saat itu, tiap melewati ruang, ia bertegur sapa dengan mereka yang sedang bekerja dan memperkenalkan siapa yang berkunjung jika isunya relevan pada yang rekannya. Intuisi ide dan bisnis nampaknya sudah menyatu dengan jiwanya. Semua bersumber dari pertemuan dengan banyak orang dengan segudang semangatnya, tiap hari.

Inilah energi yang diciptakan sebuah ekosistem kerja bersama ini. Jejaring dan kolaborasi tak bisa dielakkan dalam usaha-usaha berbasis digital saat ini.

Kurang dari dua jam tur dan ngobrol di Kumpul saja, sudah berkenalan dengan dua pegiat gerakan sosial dan kewirausahaan sosial yang dirintis oleh perempuan muda. Pertama Rombak, sebuah jaringan media alternatif yang membuat beberapa channel seperti video dan website atraktif. Berikutnya Diffago, situs yang menyembatani penyandang disabilitas dengan kesempatan kerja dan pemberdayaan.

Tantangan di pengembangan usaha berbasis online, strategi ideal saat ini belum tentu cocok setahun atau dua tahun lagi. Makin banyak model bisnis baru, cara berkomunikasi, dan sarananya. Hal-hal semacam ini bisa ter-update ketika sering bertatap muka. Salah satunya di sebuah coworking.

Di Bali, selain Kumpul, ada beberapa tempat yang menyebut dirinya coworking. Makin banyak jumlah dan sebaran areanya. Ada Hubud di Ubud, Rumah Sanur, Colony-Plaza Renon Denpasar, Dojo di Canggu, dan lainnya. Tinggal pilih mana yang ekosistemnya cocok untukmu. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*