Kenapa Ada Bunuh Diri karena Cinta?

Ilustrasi bunuh diri karena cinta.

yang fana adalah waktu, kita abadi (Sapardi Djoko Damono)

Beberapa hari lalu sepulang bekerja, jalanan padat merayap menjelang petang di kompleks pertokoan bunga. Nampak muda-mudi memadati jalanan. Beberapa dari mereka terlihat kebingungan memilih bunga.

Saya baru sadar hari itu adalah hari Valentine, harinya toko bunga dan coklat. Hari di mana Santo Valentine menerima hukuman mati karena menentang kaisar. Dia tetap menikahkan tiap pasangan meskipun kaisar melarang setiap laki-laki dewasa menikah karena khawatir mereka tidak mau berperang dan meninggalkan keluarga.

Belakangan saya mendengar berita sepasang kekasih melakukan bunuh diri dengan menenggelamkan diri di Danau Batur. Cara itu sebagai pembuktian atas cinta mereka sehari sebelum hari kasih sayang itu.

Bagaimana fenomena ini bisa terjadi?

Banyak dari kita seringkali menyederhanakan makna cinta hanya sebatas pada hubungan perasaan laki-laki dan perempuan. Padahal sejatinya cinta memiliki penjelasan jauh lebih dalam dari hanya sekedar hubungan perasaan laki-laki dan perempuan.

Dalam filsafat Yunani, cinta dibagi ke dalam beberapa jenis. Eros adalah cinta fisik yang sifatnya sensual, rindu yang dibaluti sensualitas.

Philiia adalah cinta sebagai sahabat. Cinta model ini adalah cinta yang tak lagi terikat hanya pada lawan jenis dan jauh dari kata sensualitas. Prinsip cinta Philia adalah kedekatan dan kesetaraan, memberi dan menerima.

Agape adalah cinta murni. Cinta tak bersyarat. Dia adalah cinta yang tak bermodus, ia memberi tanpa meminta mencintai tanpa berharap sebaliknya. Cinta Agape seringkali menjadi sajak romantis “seperti matahari menyinari tanpa syarat”.

Jenis cinta terakhir adalah Storge. Jenis cinta ini adalah cinta alamiah layaknya cinta orang tua kepada anaknya.

Pada ranah psikologi pun cinta memiliki banyak wujud. Sebut saja penjelasan Robert J. Sternberg tentang segitiga cinta, Jhon Lee tentang The Colour of love, Erick Fromm dengan The Art of Lovingnya.

Terlepas dari banyaknya penjelasan tentang cinta, disetujui atau tidak cinta adalah salah satu energi yang sulit dihindari. Dia hidup dan hadir dalam setiap hati manusia. Pada jenis cinta Eros ia seringkali memaksa masuk kedalam nurani tanpa bertanya. Karenanya banyak dari kita yang pernah menyebut “cinta sering kali datang tak tepat waktu”.

Setiap dari kita yang sedang mencari pasangan sebetulnya mengharapkan jenis cinta Agape, sebuah cinta tanpa modus dan murni. Namun, seringkali yang terjadi justru sebaliknya yang tumbuh dalam diri mereka adalah cinta Eros, sebuah cinta yang tumbuh karena fisik dan sensualitas.

Lalu bagaimana dengan pasangan yang bunuh diri demi cinta?

Bunuh diri karena cinta menurut Carl Gustav Jung adalah karateristik The lover. The Lover adalah salah satu arketipe (model) dari ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran kolektif ini berasal dari pengalaman masa silam yang amat jauh.

he Lover memiliki karateristik emosi kuat. Mereka mengabdikan hidupnya untuk mencari kasih sayang, baik yang sifatnya romantik atau platonik pendeknya energinya dihabiskan untuk mendapatkan cinta yang timbal balik.

Ekspresi lain dari The Lover adalah bunuh diri karena cinta untuk mempertahankan cinta idealnya. Kerateristik macam ini biasa menjadi tema film, novel, lirik lagu, puisi atau teater. Yang paling termasyhur adalah kisah Romeo dan Yuliet karya William Shakespeare. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*