Perempuan Pasar Mengadvokasi Dirinya soal Kesehatan Reproduksi

Oleh Luh De Suriyani

Ni Nyoman Sinar, 60 tahun, salah satu pedagang di Pasar Badung, Denpasar ini tersentak dengan kematian beberapa temannya karena kanker leher rahim. Ia heran karena setelah diketahui mengidap kanker yang ada di saluran reproduksi perempuan itu, temannya dengan cepat meninggal.

“Penyakit apa sih ini, saya bingung kenapa bisa ada di sekitar kelamin kita,” ujar Sinar. Kebingungannya kemudian terjawab ketika diberi tahu seorang petugas penjangkau dari Yayasan Rama Sesana yang membuka klinik kesehatan di Pasar Badung. Petugas penjangkau inilah yang mendidik sejumlah pedagang untuk berani menjadi peer educator bagi komunitasnya di pasar tradisional terbesar di Bali itu.

Sinar lalu ditunjukkan sejumlah brosur berisi gambar alat kelamin perempuan, payudara, dan leaflet kesehatan reproduksi lainnya. Pertemuan berikutnya ia diajak diskusi bersama soal kesehatan reproduksi (kespro) di lantai IV Pasar Badung.

Dari sana ia bertemu dengan beberapa pedagang dan buruh angkut lain di pasar terbesar di Bali ini. Klinik Yayasan Rama Sesana (YRS) di lantai IV kini menjadi tempat rutinnya untuk papsmear, pemeriksaan untuk melihat gejala gangguan di leher rahim.

Tak berhenti disana, Sinar dan sejumlah temannya di pasar malah menjadi peer educator atau pendidik sebaya bagi perempuan lain soal kespro. “Saya merasa terpanggil saja. Dari rapat bulanan diberi pengarahan untuk diteruskan nformasinya ke pedagang lain di pasar,” ujar perempuan pedagang alat kebutuhan upacara adat ini

Sebagai peer educator, ia merasa tak terbebani karena ia tidak dituntut dengan target tertentu. Untuk memudahkan, ia memajang sejumlah brosur informasi kespro di tokonya. Pancingan itu menyulut perbincangan antar penjual-pembeli dan pedagang lainnya. “Kebanyakan ngobrol soal alat kontrasepsi. Kalau ada yang punya maslaah, saya rujuk untuk datang ke klinik Yayasan Rama Sesana. Semampu kita saja, ngayah untuk pencegahan dan keluarga,” tutur nenek lima cucu ini.

Selain Sinar, peer lainnya adalah Sumiati, 44 tahun, tukang angkut barang di pasar. Sumiati populer di kalangan buruh angkut dan carry (sebutan untuk guide lokal pasar badung), sebagai peer. Pendidikan kespro telah mengangkat derajatnya sebagai perempuan karena mulai memahami persoalan kesehatan diri sendiri serta mencegahnya.

Sumiati mengaku tak lagi menggantungkan diri kepada suami untuk memeriksa kesehatan karena adanya klinik di pasar badung itu. Bahkan ia kerap ditanyai anak dan suaminya karena membawa sejumlah brosur dan buku-buku kespro ke rumah.

Ini juga dirasakan Fatimah, 39 tahun. Pedagang nasi di lantai III Pasar Badung ini meletakkan sejumlah brosur di warungnya. Ada soal pemeriksaan payudara, HIV/AIDS, dan informasi dasar kanker leher rahim. Fatimah mengaku saat ini ia lebih pasti mengetahui soal infeksi menular seksual dan penyakit lain yang mudah diidap perempuan.

“Saya sering fotokopi brosurnya, dibagi ke ibu-ibu pengajian. Dari ibunya dulu didekati. Ibunya ngasi tahu bapaknya. Apalagi ada gambar (penyakit kelamin), malah ngeri dia,” ujar Fatimah soal cara membagi pengetahuan ke perempuan lain. Demikian juga halnya dengan kanker leher rahim yang kini ditakuti perempuan pedagang di Pasar Badung.

Perempuan kini menghadapi ancaman kanker leher rahim. Tak banyak yang tahu soal kanker ini dan mencegahnya secara dini. Sejumlah perempuan di Pasar Badung, Denpasar, mengadvokasi diri dan teman-temannya untuk awas pada penyakit yang telah membunuh hampir 250 ribu orang perempuan tiap tahunnya di seluruh dunia.

Menurut WHO, perempuan yang terdiagnosa kanker leher rahim (serviks) tiap tahun hampir 500 ribu orang, dan sekitar 80 persen kasus terjadi di negara berkembang. Kebanyakan yang meninggal karena tak mengetahui telah mengidap kanker stadium lanjut.

Pap smear adalah suatu tes sederhana untuk memeriksa kesehatan leher rahim (cervix). Tes ini adalah cara termudah untuk mendeteksi dan mencegah kanker leher rahim. Biasanya dokter akan mengambil sedikit contoh sel-sel di leher rahim dengan alat tertentu. Setelah diperiksa di laboratorium, hasil tes akan memperlihatkan tanda-tanda peringatan dini adanya kanker di leher rahim yang terdapat di dalam vagina. Tes ini juga dapat menjadi pendeteksi adanya infeksi alat reproduksi perempuan.

Kadang-kadang sel-sel  kecil leher rahim yang sehat dapat berubah menjadi tidak sehat (abnormal). Hal ini terjadi tanpa disadari. Kanker leher rahim baru menampakkan gejalanya pada stadium sudah lanjut. Gejalanya seperti keputihan yang berbau busuk, pendarahan saat atau setelah melakukan senggama, pendarahan spontan di luar haid, dan nyeri perut bagian bawah. Karena itulah diperlukan pemeriksaan sedini mungkin.

Data Yayasan Rama Sesana (YRS) menyebutkan sejak klinik ini berdiri, Januari 2004 hingga Februari 2005, yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah 1.055 kasus. Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan  84 kasus infeksi gonorrhea (GO), tanda-tanda infeksi pada mulut rahim (suspect chlamydia) 668 kasus, bacterial vaginosis 379 kasus, candidiasis vagina 312 kasus, serta tanda-tanda infeksi pada liang vagina 443 kasus.

Menurut Luh Putu Upadisari, dokter pendiri klinik kespro YRS Pasar Badung, data terbaru juga memperlihatkan situasi yang sama. “Dari hasil pemeriksaan pap smear,  tanda-tanda ke arah keganasan tidak bertambah dari tahun ke tahun. hasilnya sama saja. belum menunjukkan pertambhaan ataupun penurunan,” ujar Dokter Sari.

Dokter Sari, panggilan akrabnya, mengatakan selain pap smear, keluhan kespro lain yang teridentifikasi di kliniknya adalah gangguan kesehatan organ reproduksi seperti keputihan, ketidakcocokan alat kontrasepsi, dan infeksi alat kelamin. Infeksi itu diantaranya gonorrhea dan clamydia.

Menurutnya pemahaman masayarakat secara umum terhadap masalah kespro masih sangat rendah. Tidak hanya pada masayarakat sekitar Pasar Badung, tapi secara umum pada masayarakat luas.

Karena itu, salah satu cara yang efektif untuk mendekati perempuan adalah dengan pendidik sebaya. Dokter Sari mengatakan di YRS terdaftar 14 perempuan yang mau menjadi peer educator, namun hanya sekitar tujuh orang yang aktif ikut berbagai kegiatan di YRS.

Untuk menarik perhatian perempuan Pasar Badung yang sibuk berakivitas, mereka diberikan hak untuk memilih topik diskusi. Yang paling disenangi  adalah kesehatan umum. “Penyakit yang lagi ngetren seperti flu burung, demam berdarah. Tapi pasti disisipkan kespro,” kata Desak Suartasih, petugas lapangan YRS.

Selain itu, untuk mengakomodasi pedagang malam di Pasar Badung, YRS membuka klinik malam di area pasar. Sekitar jam tujuh malam, sejumlah perempuan dengan keluhannya masing-masing terlihat mulai berdatangan ke klinik yang menumpang salon kecantikan itu. Wajah-wajah lelah itu tak ragu lagi memeriksakan kesehatannya, ketika pelayanan kesehatan mudah diakses dan ramah bagi perempuan pasar.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*