Kegelisahan Suta pada Plastik Pembunuh Samudera


Bertebaran di mana-mana, plastik mudah sekali ditemukan.

Jelas ini hal buruk bagi lingkungan. Parahnya, kebiasaan ini telah membudaya, termasuk membuang sampah sembarangan. Masalah ini telah menjadi musuh bersama yang harus diperangi secara berkelanjutan. Mulai dari diri sendiri.

Berbagai upaya untuk memberantas keberadaan sampah plastik akan tetap kembali pada diri sendiri. Kesadaran mutlak dilakukan untuk melawan arus budaya yang buruk. Bibir mungkin gampang mengucapkan tetapi tangan tetap ringan melepaskan plastik secara sembarangan.

Pemandangan tidak elok mata itu termasuk melihat sampah plastik bertebaran termasuk di laut. Imbasnya, satwa laut pun kena dampak. Ikan, penyu, lumba-lumba, dan seterusnya bisa memakan sampah atau terlilit sampah yang mengamcam keberadaan mereka.

Banyaknya sampah plastik terjadi akibat gaya hidup kita sendiri.

Plastik mudah sekali digunakan sebagai pembungkus ataupun tas jinjing untuk berbagai keperluan. Setelah digunakan, plastik lalu dibuang dan mendatangkan beragam sampah.

Polutan plastik dikategorikan ke dalam mikro, meso atau makro, sesuai ukurannya. Apapun bentuknya, mereka tetap lama diurai di tanah maupun laut dan mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Indonesia menempati urutan kedua sebagai penghasil sampah laut terbanyak kedua setelah China sebanyak 3,2 ton. Setelah itu Filipina 1,8 ton, Vietnam 1,4, dan Thailand 1,3 juta ton per tahun.

Lukisan I Made Suta Kesuma berjudul Laut dan Sampah Plastik (2019). Sumber Instagram Suta Kesuma.

Berangkat dari keresahan itu, perupa I Made Suta Kesuma melampiaskan emosinya melalui berkesenian. Dia pun menggerakan tangan mengambil kuas dan valet untuk menyampaikan kegelisahan melihat fenomena dampak lingkungan yang terjadi.

Suta mengaku teringat pada masa kecil ketika diajak neneknya ke carik atau sawah membawa bekal yang sering disebut tekor, pembungkus makanan terbuat dari daun pisang. Saat itu sampahnya langsung dibuang tetapi bagus untuk tanah karena termasuk organik.

Namun, perilaku sama tetap dilakukan ketika pembungkus makanan itu tidak lagi daun pisang, tetapi berupa plastik. Lalu sampah itu mencemari ke laut dan membunuh para penghuninya. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*