Ironi Manusia Modern dalam I Made in Traffic Jam

Potongan adegan dalam film I Made in Traffic Jam. Foto Minikino.

Vox populi, vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Artinya, suara rakyat harus dihargai sebagai penyampai kehendak. Ketika pemimpin mendengar suara rakyat maka secara tidak langsung pemimpin tersebut medengar saran-saran yang disampaikan oleh Tuhan.

Begitu pun dengan penokohan yang digambarkan dalam film pendek berjudul I Made in Traffic Jam. Film pendek yang dibuat pada tahun 2013 ini disutradarai oleh I Wayan Suhendra. Film pendek singkat penuh satire ini sukses menggambarkan penokohan atas nama Wayan dan Made.

Karakter-karakter dalam film I Made in Traffic Jam sangatlah berkaitan erat dengan karakter manusia di abad 21 ini. Bagaimana tidak, orang-orang pada zaman ini melakukan segala sesuatunya dengan terburu-buru.

Begitu pula digambarkan film ini. Karakter dalam film menabrak kandang ayam dan lupa mengunci pintu kamarnya. Tidak hanya itu kejadian mencari kunci mobil yang tidak ditemukan, meskipun diletakkan di tempat biasa, semakin menguatkan pendapat kalau orang-orang ini amatlah sangat terburu-buru.

Selain itu, pada abad 21 ini orang-orang sangatlah lihai dalam mengkritik tanpa pernah ikut ambil andil dalam mengatasi masalah. Alih-alih mengatasi masalah, mencari solusi saja sudah ogah apalagi mengatasinya.

Begitu pula karakter dalam film I Made in Traffic Jam ini. Mereka mengeluh dan mengkritik pemerintah dengan mengatakan lebih banyak menambah ruas-ruas jalan ataupun menciptakan jalan layang, sehingga persoalan macet bisa teratasi, bukan dengan menambah banyak sekali mobil.

Meskipun mereka tahu terdapat beragam tingkah polah manusia di jalan raya yang menyebabkan kemacetan, tetap saja Made dan Wayan menggendarai mobilnya.

Di satu sisi mereka menuntut pemerintah untuk mengurangi jumlah kendaraan, di sisi yang lain malah mereka yang mengendarai mobil, meskipun mereka hanya berdua di dalam mobil yang bisa diisi oleh delapan orang.

Selanjutnya, menilai sesuatu tanpa pernah ada niat untuk membantu ataupun mencari tahu.

Hal pertama yang ditemui Made dan Wayan ketika ingin memasuki mobilnya adalah 2 orang yang berlari lengkap dengan topeng. Bukannya mencari tahu apa yang terjadi, mereka sudah menilai dan menyimpulkan lebih dulu kalau kedua orang itu adalah pencuri. Padahal bisa saja 2 orang itu sedang melepaskan jenuhnya dengan cara main tangkap-tangkapan. Bisa saja bukan?

Sangat beragam tingkah polah orang-orang yang bisa kita lihat dalam film pendek ini. Rakus adalah salah satunya. Sebagian orang menganggap bahwa manusia adalah mahluk paling sempurna karena dianugerahi otak untuk berpikir, tapi kita jarang dan bahkan tidak pernah sadar kalau manusia adalah sumber bencana.
Perusak alam hanya untuk memenuhi kepuasaan nafsu pribadi.

Kita lupa bahwa kita tidak hidup sendiri, ada binatang dan alam yang kita ajak hidup berdampingan.

Dalam sebuah bagian dalam film I Made in Traffic Jam ini diperlihatkan kalau seekor sapi berkeliaran di jalan raya. Sutradara ingin memperlihatkan pada kita kalau sapi tersebut sudah kebingungan untuk mencari makan dan tempat tinggal akibat masifnya pola pembangunan atas nama modernisasi dan pariwisata.

Setelah sawah semua hilang diganti oleh vila, rumput diganti oleh beton, dimana lagi sapi dan segala binatang yang biasa hidup bebas harus tinggal? Kita terlalu rakus untuk mengelola alam ini.

Terakhir, karakter Made dan Wayan bisa kita tiru dalam sikap kritis dan keinginannya untuk menyampaikan pendapat. Tapi terlepas dari itu, mereka hanya menyuarakannya dalam mobil.

Bukankah itu pengecut untuk takaran tukang kritik? Sudah seharusnya suara-suara rakyat disuarakan sekeras mungkin agar para pemimpin yang pura-pura bongol tahu kalau rakyatnya tak mudah dibodohi hanya dengan beras murah dan beragam festival hiburan-hiburan.

Apalagi? Reklamasi atas nama pariwisata? Hihihi…. [b]

One Comment

  1. Yang belum nonton film nya bisa dilihat di link dibawah ini
    https://www.youtube.com/watch?v=OK3vSwIh0vI

    sekarang manusia sudah mengalami level yang berbeda menghadapi masalah
    ada manusia yang acuh dengan masalah dan ada manusia yang reaktif menghadapi masalah
    hanya saja masalah tersebut tidak terselesaikan karena hanya reaktif namun juga harus proaktif

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*