Catatan sehabis Menonton Capung Hantu

Lakon Kamareka berakhir dengan penutup yang sedikit garib.

Sang pengawi, berhasrat pada tokoh perempuan rekaannya dan tak terima ia didekati lelaki lain. Ia lantas ingin mengenyahkan sang tokoh lelaki dan memasukkannya kembali ke dalam keropak.

Sang perempuan menahan, berseru agar dirinya saja yang dimasukkan lalu disusul sang ibu angkat dan tokoh-tokoh lain pun bak tersedok ke dalam keropak; kembali menjadi tokoh yang hidup di dalam teks.

Seperti jentera, klimaks lakon cinta ini adalah kembali ke kuasa sang pengawi.

Saya duduk di bangku penonton ketika sekumpulan mudi-mudi bernyanyi sembari menatap bulan dan berkasak-kusuk tentang mitos-mitos bulan. Sungkan rasanya membincangkan lakon yang hanya saya tonton separuh.

Meski begitu, saya terkesima dengan akhir lakon ini. Kamareka dibesut sastrawan muda asal Bangli peraih Sastra Rancage 2018 berbahasa Bali, Nirguna aka IGA Darma Putra. Doi juga rajin menulis catatan “perjalanan” lirisnya di portal tatkala.co dengan tag Sekar Sumawur.

Kamareka adalah lakon pertama yang dipentaskan di Gedung Ksiarnawa, pada Minggu 20 Mei 2018 dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya. Setelahnya dipentaskan Drama Musikal berjudul Capung Hantu garapan Komunitas Sekali Pentas.

Capung Hantu diadaptasi dari cerita pendek karangan Made Adnyana Ole yang berjudul asli Capung Hantu, Dayu Bulan dan lain-lain (2007). Sehari jelang pentas, kisi-kisi menyoal Capung Hutan yang ditulis Sutradara Teater Kalangan Wayan Sumahardika, dipublikasikan di portal tatkala.co, nongol sebagai pemantik.

Seorang petani membuka adegan. Ia bercerita tentang guyubnya sebuah desa. Tapi ternyata, ada riak ketakutan yang terpelihara: capung. “Siapa yang berani menangkap capung kemudian mematahkan sayapnya siap-siap tidak akan kembali ke desa…”

Dalam tempo yang cepat, prolog yang cukup bikin roma menggeligis itu disusul oleh keceriaan muda-muda yang bernyanyi dan menari menyambut pagi.

Adegan-adegan berjalan progresif; ada 3 bocah lelaki yang bermain-main, ayah yang menyuruh anaknya pulang karena hari beranjak larut, hiruk pikuk jual-beli di pasar juga gosip yang menyebar, petuah seorang ibu pada anak semata wayangnya, kisah cinta yang terlarang hingga dagelan capung-capung hantu yang mesti hijrah karena lingkungan yang cemar.

Dayu Bulan kehilangan Ajinya ketika ia masih berada dalam kandungan ibunya. Konon, Ajinya menghilang lantaran mitos Capung Hantu – ia dikira menghilang akibat menangkap dan mematahkan sayap capung hantu.

Dayu Biang, ibu Dayu Bulan menjadi perempuan yang getas – ia berusaha melindungi putrinya menjaganya ketat agar tak sembarang bermain terlebih melarangnya bermain dengan capung-capung hantu. Dalam sebuah percakapan, Dayu Biang menasehati Dayu Bulan yang saat itu masih berusia 8 tahun, agar kelak ia memilih pasangan yang segolongan dengannya; berasal dari keturunan bangsawan seperti dirinya.

Selama pementasan Capung Hantu, saya bergumul di kursi penonton selama 2 jam lebih menawar kebosanan yang hampir buncah di durasi ke 90 menit. Saya menunggu hal horor atau mengejutkan lebih awal. Cerita menanjak begitu pelan hingga menuju klimaks. Adegan di pasar yang terlalu lama-juga perkenalan Dayu Bulan dengan Wayan cs untuk tidak menyebutnya mubazir – terlalu banyak mengambil slot.

Mungkin itu adalah soal tempo, tapi saya percaya sang sutradara telah sangat bijak memilah dan menempatkan urgensi adegan demi adegan. Entah bosan atau kebentur jam malam, beberapa penonton mulai meninggalkan gedung sebelum drama ini usai. Bunyi kentongan yang ditepak beramai-ramai mencari Dayu Bulan kemudian mengakhiri drama musikal ini.

Drama musikal ini berdurasi sekitar 2 jam, mulai sekitar pukul 8.30 PM dan berakhir sekitar pukul 10.30 PM. Aksi pemainnya kocak, terlebih yang menjadi Capung paling bongsor. Lagu-lagunya tidak menjemukan dan pas dengan suasana yang dibangun di atas panggung. Saya memuji akting aktor yang memerankan Dayu Biang; begitu subtil dan natural.

Satu lagi, para pemain berkomunikasi dengan penonton, berbaur dan tetiba nongol dari bangku penonton. Cair melampaui batasan panggung.

Mitos mendapat tempat yang terhormat dan tak sembarang bisa digugat. Ada yang meletakannya di dunia surealisme dan ada yang menalarnya dengan ilmiah. Kamareka memikat saya dengan (gagasan) akhir ceritanya, dan Capung Hantu memikat saya dengan drama dan musiknya yang menghibur.

Saya pulang dengan hati bungah dan menuliskan memori ini sebelum lesap diiringi lagu Mars Penyembah Berhala-nya Melancholic Bitch. Suara Ugoran Prasad, berseru seru: siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi…

Saya yakin, semesta tidak bisa pepat dalam ukuran 14 inchi. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*