Akhirnya Jejak dan Curahan J’Orok pun Tertinggal

Salah satu diskusi usai pementasan Jejak Teater Orok. Foto Teater Orok.

Apa yang kalian pikirkan saat membaca kalimat J’Orok atau Jejak Orok?

Suatu hal yang negatif? Atau sesuatu yang kotor? Ini semua jauh dari itu, kok. Dari namanya sih J’OROK kependekan dari Jejak Orok. Memang Teater Orok buat apa, sih, sampai meninggalkan jejak segala? Sok sibuk, dari namanya sih udah serem banget ya.

Tentang J’OROK

Jejak Orok sendiri dilaksanakan di tiga wilayah, yaitu dari awal kita mulai dari Jembrana, terus ke Singaraja, dan akhirnya di Bangli.

Jejak Orok merupakan nama lain dari Pentas Keliling ini. Sesuai namanya, kami sepakat untuk memberikan suatu hal yang disebut dengan “Jejak” atau kenangan dan kesan sambil silaturahmi ketika kami melakukan sebuah pementasan. Kali ini kebetulan hanya berfokus di naskah Drama Pinangan karya Anton P. Chekov.

Syukurlah, sesuai dengan namanya “Jejak Orok” mungkin sedikit berhasil meninggalkan jejak di tempat tersebut. Terimakasih teman-teman yang sudah menerima jejak kami ini. Salam hangat buat kalian. Khusus buat cewek-cewek, salam kangen yaaaa..

Terlalu beban memang suatu tanggung jawab dipikirkan tanpa dijalankan. Kebetulan Yoga Pramana menjadi ketua panitia Pentas Keliling. Awal proses mengingat Yoga baru pertama ada di Teater Orok dan syukur masih bertahan hingga sekarang. Apalagi sangat minim pengalaman tentang teater dan tetek bengek teater. Apalagi dia kurang dalam relasi teater, pengetahuan teater, dan hal lain tentang teater.

Saya hanya bisa melihat, “Ooh, ini maksudnya. Oh, ini artinya toh. Oo begitu..” Namun, pada akhirnya berjalan dengan sendirinya. Mengalir begitu saja. Dedikit demi sedikit mulai masuk, walau sangat sedikit yang masuk tentang apa itu teater.

Sedikit cerita tentang awal mula menjadi Sekretaris Pentas Keliling. Kaget awalnya waktu ditawarin jadi sekretaris acara… Eh, bukan ditawarin ding, tapi disuruh dengan sangat amat singkat, padat, dan jelas. Kurang lebih begini bunyinya kalau tak salah ingat, “Novi, kamu jadi sekre pentas keliling ya, nanti kalo ada yang nggak ngerti langsung tanya sama kak Wiwid aja.”

“Sempet mikir ini orang ngapain coba. Tak ada angin, tak ada apa, tiba-tiba dikirimin chat kayak gitu, kan syok loh.. (yang merasa ngechat sorry ya, wkwkwk). Tapi dari hari itu saya mulai belajar tentang apa yang nanti bakal disebut sebagai jejak,” ujar Novi, sang sekretaris Pentas Keliling.

Poster Teater Orok di Jembrana.

Jejak Pertama di Negara

Nah, sesuai dengan keterangan di atas, pementasan pertama kami lakukan di Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana, tepatnya di Panggung Terbuka Rompyok Kopi punyanya Bli Nanoq Da Kansas.“badai_di_atas_kepalanya” itu nama instagramnya, kalau penasaran langsung kepoin saja. Hehehe.. Kalau nama Instagram kami “teater_orok”. Follow yaaa.

Waktu sesi diskusi, pertanyaan dan masukan yang diberikan bisa dibilang sangat serius dan pastinya membangun dong…. Kalau kami boleh jujur, sesi diskusi ini bisa dibilang tidak begitu hangat, sedikit agak serius dan menegangkan tetapi sangat bermanfaat dan membangun. Terima kasih teman-teman atas masukannya.

Secara keseluruhan sih asyik. Apalagi tempatnya, asyik tenan, rek! Suksma banget tempatnya, Bli Nanoq. Kami tunggu kedatangan kawan-kawan badai di Teater Orok.

Jejak Kedua di Singaraja

Karena kami pentas dan bermain di kampus, otomatis penontonnya juga anak-anak kampus. Kalangan muda gitu. Asyik.. Karena itu, ketika selesai pementasan dan pas sesi diskusi jadi lebih intim dan hangat. Mungkin karena umurnya tak beda jauh. Diskusi pun lebih enak, hangat, dan cantik. Samp-sampai hal yang ngawur pun ditanyakan tanpa ada batasan. Kami pun merespon dan menanggapi dengan hangat juga.

Terima kasih, Singaraja..

Jejak Terakhir di Bangli

Nah, waktu di Bangli, kebetulan kami bekerja sama dengan Komunitas Bangli Sastra Komala. Kami meminjam tempat yang sangat bernuansa desa banget dan adem ayem. Hehehe.. Becanda becanda.

Kami meminjam.. Umah Bata!! Begitulah teman teman Bangli menyebutnya. Rumah ini milik Bli Putu Suiraoka. Anggota Komunitas Bangli Sastra Komala ini juga dosen Politeknik Kesehatan Denpasar… To to tolih not, to orang ci adem ayem, dosen yeee nok, wkwwk… Pak Putu, becanda saja kok ini. Hehehe..

Singkat cerita, sesi diskusi pun terjadi. Diskusi kami tidak jauh berbeda dengan di Jembrana, sangat berjarak dan dingin. Mungkin karena daerah tinggi, makanya dingin. Tetapi, memang benar. Pada saat sesi diskusi pertanyaan, kritikan, dan saran sangat tegang dan pastinya sangat dingin. Yang bertanya juga banyakan kalangan yang berumur alias tua-tua.

Namun, secara pribadi kami sangat mengapresiasi penonton yang bela-belain nonton pementasan kami, bela-belain bangun dari gulungan selimut yang hangat, hanya untuk menonton pementasan standar ini.

Suksma banget semeton Bangli, semeton Bangli emang mantap!!!

Curahan oleh Yoga Pramana

Sedikit cerita. Teman-teman banyak mengatakan, sibuk ini, Kak. Sibuk ituu, kak. Alahh…. Banyak yang bilang gabeng, ada juga yang bilang ini gak penting. Beberapa temen saja sih yang bilang gitu. Hehehe.. Ada yang tiba-tiba di hari H hilang, tak ada kabar sampai sekarang. Jujur memang kecewa sih kadang-kadang tetapi bagaimana lagi? Cuma hanya bisa menjalankan dan berusaha ini harus baik. Yaa, setidaknya berjalanlahh.

Dan, akhirnya pentas keliling berjalan hingga berakhir di Bangli. Iya sihh, emang yang datang dari kita sendiri. Itu pun itu-itu saja. Padahal di sini fungsinya kita mulai lembaran baru kan? Pembelajaran baru, pemikiran yang beda sehingga rasa dan tujuan kita jadi satu. Namun, entah kenapa, itu tidak terjadi atau memang saya sendiri yang kurang sampai-sampai kita dikritik oleh beberapa orang. Ini lho fungsi kita ngumpul di Teater Orok, untuk mencari jalan keluar agar lebih baik.

Tapi kenapa? Kalian bilang gabenglah, inilah, itulahh. Dari hati yang sangat dalam, ayo dong berikan solusi. Bantu aku juga. Jangan ngomong tok kalian.

Aku gak enak juga sama kakak-kakak kita yang mau lengser. Kak Nando dan Kak Wiwid (penyedia transportasi), Kak Tress (manusia yang gak ada kerjaan. Hehehe), juga Novi (pembuat segala jenis surat-surat yang diperlukan). Hanya mereka saja yang kita BEBANI. Yang lain mana?

Ayolah ikut berproses. Malu sama mereka lohh, Hmm.. Ingin nangis rasanya saya, nok. Bukan sih menunut ya, kita sama-sama sibuk. Kembali lagi bagaimana cara kita membelah diri untuk mengatur semuanya. Banyak tugas? Cang liu tugas masih!

Sebenarnya masih banyak curahan hati saya, tapi saya yakin setengah curahan lagi mungkin tidak akan teman-teman baca. Hehehe..

Kata Mutiara

“Kalau menjadi pemimpin itu, tak harus ada tindakan yang membuat semua orang merasa tidak nyaman. Pemikiran saya, jadi pemimpin itu, kita harus ada di tengah tengah semua, kenapa? Iya, supaya kita tau bagaimana sih cara kita agar semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan curahan keluh kesah teman-teman kita. Maka dari itu, jadi pemimpin harus mampu menjaga moral, sifat rendah hati, etika, dan menjadi pendengar yang baik bagi teman temannya dan mampu mempraktekkannya bukan sekedar argumen”

Kiranya begitu kata kata mutiara saya. Kirang langkung sinampura, hanya sebuah kutipan biasa dari manusia yang biasa biasa.

Curahan oleh Novi Antari

Emang sih di awal-awal berat rasanya di saat harus ngurus ini itu dari awal. Mulai dari bikin proposal, surat, dan lain-lain tetapi untungnya masih ada Kak Wiwid yang selalu bisa ditanyain soal ini.

Terima kasih, Kakak. Dari sini saya tahu bagaimana ribetnya ngurus surat. Belum lagi ada nih yang tiba-tiba nyuruh buat surat permohonan kerja sama dan buat catatan sedikit katanya untuk dijadikan bahan bacaan saat mentas. Ya sebut saja namanya Kak Tress. Jancuk kali kakak satu ini tak tau apa lagi sibuk. Hehehe…

Namun, di sini saya bener-bener belajar tentang apa itu pementasan dan bagimana persiapannya yang bisa dibilang tidak gampang. Jadi sekalian mau bilang makasi juga nih buat yang sudah bantu selama kegiatan ini.

Di samping yang udah disebut di atas, ada yang bikin kesal juga kadang-kadang sama mereka. Di awal-awal semua semangat beli inilah itulah, cari inilah itulah dalam pentas keliling, tetapi semakin kebelakang apa? Semuanya sedikit demi sedikit ngilang. SIBUK kepanitiaan, ada acara, dan apalah itu lagi.

Jujur pengen banget komen di grup waktu ada yang bilang gitu tetapi tak ada gunanya juga. Toh semua juga nggak bisa diubah lagi kan? Ya kali menyuruh mereka nggak datang di acara itu dan nyuruh bantu di Orok saja. Maunya sih gitu, tapi sok-sokan jadi orang sabar. Nggak tahu saja yang lain keselnya kayak apa pas baca grup isinya gitu semua.

Satu yang aku rasain setelah ikut di JEJAK OROK ini, tujuan awal kita belum tercapai. Memang sih sudah susah senang bareng-bareng selama persiapan mulai dari latihan sampai pentas di satu tempat ke tempat lain, tetapi tetap yang dibilang mau mempererat hubungan intern itu rasanya belum maksimal. Semua kayak masih mementingkan ego masing-masing.

Ingin rasanya ikut-ikutan begitu di saat semua tugas di luar Orok diharuskan selesai. Namun, balik lagi kalo diingat-ingat ada orang-orang yang seharusnya cuma jadi pengawas acara kayak Kak Tress, Kak Nando, dan Kak Wiwid s aja semangat masak kita yang bisa dibilang masih belajar ini nyerah sih?

Untung banget rasanya ada mereka yang selalu siap bantu acara ini termasuk juga Kaka Iin. Jangan hilang di Orok yaaa, Kakak-kakak.

Satu yang ingin banget saya bilang ke temen-temen yang terlibat di JEJAK OROK ini, yuk sama-sama belajar. Kalau kata kakak-kakak yang lain, “Yuk, berproses sama-sama. Nggak ada yang nggak bisa kalau kalian mau nyoba”.

Udah, ah. Segini saja ceritanya. Semoga ada gambaran tentang proses kami kemarin. Satu kalimat terakhir yang selalu disebut-sebut selama JEJAK OROK….. JEG POKOKNE SEMANGAT!!!!

Sedikit catatan kecil dari kami bertiga (Tress, Yoga, dan Novi).

Untuk teman-teman Teater Orok (khususnya) jangan kapok-kapok menulis. Sesungguhnya sebuah tulisan tidak kalah saing dengan hasil dokumentasi pementasan lohh. Jadi jangan segan-segan untuk menulis (apapun) itu. Tentang teater, sastra, kuliner, bahkan tentang cewek juga. Hehehe..

Jeg tulis gen malu. Benar salahnya belakangan. Amanlah. Jangan sampai berhenti menulis lohh pada fase ini. Sudah itu saja, sih.

Ohh iyaa kita juga punya dokumentasi lahh selama pentas keliling ini di saluran YouTube kami. Kira-kira berdurasi 5-6 menit. Silakan ditonton, yaaaaa..

Akhir kata dari kami Salamm Budayaaa!!! Teater Orok………. AYEE! [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*