Artikel Lainnya

Memerdekakan Diri dengan Nge-Blog

Oleh Arief Budiman Untuk Gusti Ayu/Terimakasih untuk namamu/Yang telah melindungi tabiatmu. Pada suatu ketika, di salah satu tulisan di blog saya dikirimi komentar. Miring dan agak kasar. Spam comment kata teman saya. Tapi tidak juga. Dia –si pemberi komentar- telah mempergunakan kebebasannya berekspresi seperti halnya kebebasan saya membuat tulisan di […]

Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan

  Oleh Anton Muhajir Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang.  Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali September tahun lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda […]

Melihat Bali di Bajra Sandhi

Oleh Yusuf Rey Noldy Sejarah Bali terekam di Monumen Bajra Sandhi. Dari Pithecantropus Erectus hingga pembangunan kampus. Meski lahir dan besar di Denpasar Kadek Adi Mantara, 27 tahun, belum pernah sama sekali melihat isi dalam monumen Bajra Sandhi di Renon, Denpasar. “Bagus ya di dalamnya?” tanya warga Ubung, Denpasar ini. […]

Memerdekakan Diri dan Perut di Renon

Oleh Luh De Suriyani Renon tampil sebagai wajah urban warga Kota Denpasar. Memerdekakan jiwa dan juga perut. Gaya hidup warga Denpasar barangkali bisa dilihat di Renon, kawasan civic center atau pusat pemerintahan di jantung Kota Denpasar. Dari pagi sampai menjelang petang, kawasan Monumen Bajra Sandhi Renon dipadati beragam aktivitas warga. […]