“Ngarit”, Balada Wartawan Pencari Ceperan

Menjadi wartawan saat ini lebih mudah dengan perkembangan teknologi. Foto Anton Muhajir.

Ada istilah dalam pergaulan wartawan di Denpasar, ngarit.

Kata ngarit berasal dari bahasa Bali yang berarti menyabit. Dalam obrolan wartawan, kata ini memiliki makna meliput sebuah berita dengan menemui narasumber yang berpeluang besar memberi “amplop”.

Sudah menjadi rahasia umum wartawan zaman sekarang identik dengan uang, malas pergi meliput jika tak ada “amplop”. Memang tak semua wartawan seperti itu, masih ada wartawan yang lurus dan menjaga idealisme namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Saya tak tahu kapan istilah “ngarit” muncul di kalangan wartawan. Istilah yang awalnya identik dengan petani dan kultur agraris ini  kini menjadi hal yang lumrah. Padahal, menurut kode etik, wartawan dilarang menerima sesuatu dari narasumber.

Seiring perkembangan yang memberi kemudahan mendirikan sebuah media kini, kita jumpai banyak sekali media baik cetak maupun online bermunculan. Juga wartawan yang kredibilitasnya patut dipertanyakan.

Dengan bermodal kamera ponsel dan kartu pers, seseorang menjelma menjadi wartawan. Syukur jika tindak-tanduknya baik. Kenyataannya, ada beberapa oknum yang mengaku sebagai wartawan tetapi menyalahgunakan profesi ini. Caranya dengan membuat berita menyudutkan pihak tertentu yang berujung pada aksi pemerasan.

Untunglah ngarit tidak mengandung persepsi negatif seperti pemerasan. Ngarit jika dikembalikan ke makna aslinya ibarat seorang petani yang bangun di pagi hari lalu minum kopi kemudian pergi untuk menyabit rumput di sawah atau ladang. Ada suasana santai di sana, tidak mengejar atau dikejar target.

Begitu pula di dunia wartawan. Ngarit bisa dianalogikan seperti petani, tidak ada unsur paksaan atau target. Saat pergi meliput dan menemui narasumber syukur jika diberi amplop namun jika tidak diberi tak apa-apa. Ada unsur kedekatan emosional antara wartawan dan narasumber yang terjalin.

Seorang wartawan yang kali pertama bertemu narasumber biasanya akan menjalin pertemanan dan silaturahmi. Kemungkinan untuk bertemu kembali di waktu yang lain sangat besar. Manusiawi, bukan?

Seorang teman wartawan saat saya tanya alasan mengapa ngarit menjawab bahwa jika hanya mengandalkan gaji dari perusahaan media tak cukup untuk memenuhi kebutuhan di kota besar seperti Denpasar. Apalagi di saat  bisnis media bagai jamur di musim hujan, persaingan makin ketat, media online banyak bermunculan menjadi ancaman bagi media cetak konvensional.

Wartawan kini “merangkap” menjadi tim marketing, mencari iklan dan berita berbayar yang dikenal dengan berita advertorial untuk pemasukan perusahaan. Bahkan ada perusahaan media yang tak memberi gaji kepada wartawan. Wartawan dibebaskan mencari penghasilan sendiri dengan mencari iklan atau melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah atau perusahaan swasta.

Dia tentu saja mengandalkan penghasilan dari ngarit.

Jangan tanya soal independensi wartawan. Bisnis media massa yang melaju dengan pesat dan tuntutan komersial secara tidak langsung telah membunuh independensi wartawan. Pemilik modal telah menempatkan para wartawan sebagai alat mendapatkan keuntungan yang melampaui kompetensinya.

Dampak tekanan dari perusahaan media agar wartawan juga menjadi pencari iklan, pastinya akan menggerus idealisme dan independensi wartawan. Maka pada saat menyampaikan informasi pertimbangan untung-rugi, kesinambungan hubungan dengan pemasangan iklan yang juga narasumber menjadi beban.

Kini memang bukan era wartawan idealis semacam Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, atau Goenawan Mohamad. Mereka anak zaman yang berbeda.

Wartawan sekarang hidup di zaman yang serba materialis. Tuntutan ekonomi menjadikan wartawan harus cerdas menyiasati hidup. Jika dulu sebuah berita murni tanpa ada sangkut paut dengan uang kini ada berita berbayar, narasumber membayar sejumlah uang untuk berita yang akan dimuat atau ditayangkan. Perubahan yang tak bisa dihindari yang justru mengancam dunia pers kita.

Dan, fenomena ngarit menjadi menarik untuk dicermati. Maka, menjadi hal biasa jika suatu pagi saya menerima pesan WA dari seorang teman wartawan; “Bro, kamu ngarit di mana hari ini? [b]

2 Comments

  1. Kami di Pemerintahan kerap disambangi Wartawan model begini. Yang kalo dilayani, ia bakalan rajin ngepos di depan pintu ruangan dimana kami bekerja, sambil menyapa ‘Bos, ada berita apa hari ini (yang bisa dibantu publikasi)?’
    Tapi yang tidak dilayani, siap-siap saja dengan berita negatif yang tentunya bakalan di-Share ke Aparat tertentu.

    Bagi yang punya salah dan paham punya salah, biasanya ya memberi amplop agar tak diganggu dengan pemberitaan negatif. Namun bagi yang idealis, ya sudah ‘ayo kamu adu sama saya…’
    Untuk yang terakhir, biasanya berujung di ruang Tipikor, berhadapan dengan Penyidik, yang meski berujung selesai tanpa masalah, tapi ybs terlanjur diberi image Negatif ke publik dan kolega hanya lantaran ‘dipanggil’ Tipikor. Habis Tenaga, Waktu dan Biaya bolak balik memberi keterangan.

    Dan jika Kalian tergolong yang tetap memilih Idealis meski sudah didorong jatuh dan ditimpa tangga, maka bersyukurlah ketika semua menjadi bahan pembelajaran berharga dan menganggap ‘ah itu sudah biasa… Dijalani saja…’

    Dulu pernah tersandung gara-gara menulis apa yang dilihat. Tuhan Maha Unik… Beberapa Tahun terakhir, malah mengalami dan berhadapan dengan Wartawan model begini…

    Akhirnya Malas Menuliskannya lagi.

    http://www.pandebaik.com

  2. Sampai saat ini, saya punya beberapa Rekaman Audio yang diambil diam-diam saat Wartawan model begini mampir ke meja kerja. Uniknya Mereka tidak sadar jika pembicaraan diRekam diam-diam. Digiring dengan model wawancara, menyebutkan Nama hingga Media dimana ybs bernaung.

    Ujung-ujungnya sudah Pasti. Ada dana Pembinaan bermuka Adv di media cetak mereka, yang saya yakin sangat sulit ditemukan di gerai majalah seputaran Denpasar bahkan Gramedia sekalipun.

    Jika permintaan tak dilayani, siap-siap saja bakalan menyusul ‘surat cinta’ dengan isi ‘dugaan korupsi dana pemeliharaan paket kegiatan’ lengkap dengan bukti foto dan analisa yang dipahami secara sepihak, tidak memperhatikan dasar hukum resmi lainnya.

    “Pokoknya Kamu (pejabat) Salah, Saya (Wartawan) Benar”

    Tapi ah sudahlah… Jangan cari masalah dengan Wartawan model begini. Lebih Aman kalian hindari dan teruskan Bekerja…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*