Oleh Rai Astrawan & Daivi Candrika

Debu beterbangan ketika iring-iringan truk melaju di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Desa ini memiliki wilayah mengandung pasir tebal sehingga menjadi lokasi penambangan galian golongan C (pasir dan batu). Kandungan pasir yang kini menggerakkan perekonomian warga Sebudi dan sekitarnya merupakan hasil letusan Gunung Agung pada 1963.

Berada di sisi selatan kaki Gunung Agung membuat Desa Sebudi luluh lantak 55 tahun silam. Berdasarkan catatan tugu letusan di depan kantor desa, 545 orang tewas akibat letusan Gunung Agung ketika itu.

Mangku Mariawan, salah satu penyintas letusan 1963, berhasil lari saat ledakan besar disertai embusan awan panas dan lelehan lahar memasuki desanya. Sekitar tiga bulan sebelum letusan sudah ada hujan abu disertai suara gemuruh dan banjir di sungai.

Tidak seperti gempa yang muncul tiba-tiba, peningkatan aktivitas gunung berapi membawa tanda-tanda yang bisa digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan. Sayangnya, pengetahuan warga dan akses informasi tentang gunung berapi masih minim jika tidak mau dibilang tidak ada. Ini bisa dilihat bagaimana warga pada bereaksi menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Agung ketika itu.

“Waktu itu saya sendiri ikut menonton banjir di Sungai Lenggung. Karena hujan sedikit saja di puncak gunung membuat sungai banjir,” kata Mangku Mariawan.

Tidak hanya banjir, percikan api yang terlihat ketika hari gelap juga menjadi tontonan warga masa itu. Ketidaktahuan membuat sebuah fenomena alam berbahanya disikapi seolah tontonan tanpa ada kewaspadaan dan kesiagaan untuk menyelamatkan diri.

“Setelah ada warga tewas akibat terbakar dan rumah-rumah tertimbun, baru semua warga panik lari,” Mariawan melanjutkan.

Ketidaktahuan warga Banjar Sebudi dan sekitarnya akan aktivitas gunung berapi membuat mereka tidak memiliki kewaspadaan dan kesiagaan terhadap kemungkinan terburuk. Lari mengungsi menjadi bentuk kepanikan, seolah refleks untuk bertahan hidup.

“Semua lari tidak tentu arah. Yang lari lewat bubung ke arah Banjar Tegeh, berhasil selamat. Sedangkan yang lari lewat jalan utama dan berkumpul di Pura Dalem habis tertimbun lahar,” Mangku menjelaskan.

Aliran lahar besar yang turun menenggelamkan Banjar Sebudi melalui sungai Lenggungdi sebelah barat jalan utama di tengah perkampungan. Besarnya volume lahar meluber. Menenggelamkan sebagian besar wilayah Banjar Sebudi termasuk Pura Dalem yang kala itu digunakan penduduk sebagai lokasi berlindung.

Aliran lahar juga mengubur keluarga terdekat Pak Mangku. “Sekitar 10 orang keluarga inti termasuk nenek saya,” kenangnya.

Bubung merupakan jalan setapak kecil di sisi timur komplek pemukiman. Jalan yang masih berupa jalan setapak hingga kini tersebut ternyata tidak dilewati luberan lahar.

Jalan itu pula yang ternyata menyelamatkan Mangku Muriawan dan keluarganya. Jalan yang membawanya mencari titik aman di Banjar Tegeh, sebelum akhirnya bergerak ke titik aman selanjutya ke Desa Padang Tunggal. Jalan bersejarah yang hingga hari ini masih berupa setapak tanah di bawah rimbun pohon bambu.

Warga menonton banjir akibat erupsi di Sungai Yeh Sah, Muncan, Selat, Karangasem pada September 2017. Foto Rai Astrawan.

Aduh, Lalu Mati..

Hal senada disampaikan Mangku Turut dan Mangku Rsi, pasangan sepuh dari Banjar Sogra, Desa Sebudi. Posisi Banjar Desa Sogra yang tepat berada di atas Desa Sebudi membuat lelehan lahar terlebih dulu mencapai Banjar Sogra sebelum masuk ke Sebudi.

Suara gemuruh Gunung Agung ketika itu tidak membuat takut Mangku Turut dan rekan-rekannya yang sedangberjaga (mekemit) di Pura Manik Bingin. Mereka malah penasaran dan pergi menonton ke Sungai Lenggung yang mengalir di barat banjar.

Mangku menceritakan suasana saat itu. Yang pertama kali lewat di sungai adalah werirang, air berwarna kekuningan. Setelahnya api menyala seperti disiram bensin mengikuti. Setelah aliran api sudah cukup jauh, di hulu terjadi letusan-letusan besar. Letusan sampai sebesar pohon beringin.

“Saya dan rekan-rekan lain terperangkap dalam asap, kemudian lari kembali ke pura,” katanya.

Di dalam pura, mereka sudah tidak bisa melihat apa-apa. Semua sudah gelap tertutup asap. Hanya sekitar 2 menit, tidak sampai 5 menit, banyak yang mati. “Aduh… lalu mati. Aduh… lalu mati…” Mangku bercerita.

“Saat itu saya menemukan kain kasa, lalu tertelungkup berselimut kain itu. Rasanya seperti melepuh. Yang mematikan ketika itu abu bang (awan panas) yang turun. Setengah tubuh saya sudah terasa melepuh karena panas,” lanjutnya.

Beberapa saat kemudian terang. Banyak mayat bergelimpangan di sekitarnya. Suara bergemuruh dari gunung kembali terdengar. Mangku masuk ke bawah mayat di dekatnya. Setelah menunggu beberapa saat, langit semakin terang. Dia kemudian mengungsi ke Desa Sekeluwih.

Berbeda dengan suaminya, Mangku Rsi Baru harus terpisah dengan orang tuanya. Dia mengungsi ke Klungkung bersama neneknya. Dia baru bertemu kembali dengan orang tuanya setelah berada di pengungsian selama sekitar satu minggu.

Keterbatasan informasi saat itu tidak hanya mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa, tetapi juga membuat warga terpencar dan terpisah dari keluarganya. Mereka harus menyelamatkan diri sendiri, mencari jalan yang kebetulan bisa dilalui dengan aman lalu menumpang di tempat aman tersebut. Pemerintah terkait lalu mengevakuasi para pengungsi.

Penanganan pemerintah ketika itu lebih bersifat reaktif merespon erupsi. Keterbatasan pengalaman bencana, kesadaran warga akan bencana, serta sarana komunikasi dan transportasi membuat situasi pada tahun 1963 menjadi begitu rumit dan kacau.

Monumen Sebudi menjaga ingatan warga akan peristiwa erupsi 1963. Foto Rai Astrawan.

Jauh Berbeda

Setelah 55 tahun berlalu, Gunung Agung kembali erupsi tahun lalu. Namun, situasi sekarang jauh berbeda baik dari pendidikan masyarakat, informasi yang diakses, sarana telekomunikasi, dan tentu saja sarana transportasi.

Jika pada 1963 warga mengungsi berjalan kaki melewati jalan setapak, tahun lalu mereka mengungsi naik mobil ataupun sepeda motor. Toh, perbedaan situasi ini tidak serta-merta membuat warga terhindar dari kebingungan ketika menghadapi kenaikan aktivitas gunung berapi.

Mangku Rsi, misalnya. Dia masih bingung ketika melihat warga banjarnya berbondong-bondong turun meninggalkan pemukiman mereka. Berbekal pengalaman letusan yang pernah dialaminya, Mangku Rsi dan suaminya masih bertahan. Mereka tidak ikut turun panik mengungsi malam itu. Alasannya, ciri-ciri yang mengawali letusan besar di tahun 1963 belum muncul.

“Belum ada ciri-ciri apa. Gemuruh belum. Abu belum besar. Daun-daun masih banyak. Dahulu abu sudah melewati mata kaki dan saya belum mengungsi,” jelas Mangku Rsi.

Pada hari berikutnya Mangku Rsi baru mengungsi bersama karena instruksi dari pihak terkait untuk untuk mengosongkan kampung. Juga karena dijemput langsung oleh menantunya. Sementara Ibu Rsi mengungsi bersama cucu dan putri pertamanya (yang difabel), sang suami bersama putranya bertahan dua malam sembari mengamankan ternak sapi milik mereka.

“Jika buru-buru dijual dan ternyata letusan besar belum terjadi karena tanda-tanda belum terlihat, nanti kami pelihara apa?” Ibu Mangku Rsi menjelaskan.

Derasnya arus informasi lewat beragam media memberikan informasi masif. Hal yang justru menambah kekhawatiran warga tanpa cukup bekal pengetahuan tentang aktivitas gunung berapi. Informasi yang mengecilkan pengalaman para penyintas dan penyaksi dahsyatnya letusan Gunung Agung 1963.

Saat ini sarana telekomunikasi seperti ponsel sudah dimiliki mayoritas warga. Demikian pula Internet yang sudah menyusup ke pedesaan. Keduanya mendorong maraknya penggunaan media sosial di kalangan warga. Berbagai berita bertebaran di media sosial bisa dengan mudah dikonsumsi warga. Tidak jarang berita ini dengan mudah dipercayai dan menjadi rujukan bagi warga dalam mengambil keputusan.

Warga Desa Sogra pun mengalaminya setahun lalu. Begitu Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Agung menjadi waspada, mulailah bertebaran berbagai berita di media sosial. Facebook menjadi salah satu media sosial yang banyak digunakan warga.

“Ada berita begini-begini. Karena belum tahu bencana Gunung Agung meletus, hanya berita di TV tentang letusan gunung lain, maka timbul rasa takut. Karena jarak kami terlalu dekat, antisipasi dinilah. Sebelum dievakuasi pemerintah, masyarakat sudah pindah dulu,” Putu Sumerta menceritakan pengalamannya terkait erupsi tahun lalu.

“Saya kira tidak ada tahapan-tahapan. Begitu gempa-gempa langsung duaar… meletus. Makanya menyingkirlah dulu, karena rasa takut itu,” lanjutnya.

Berbeda dengan Putu Sumerta yang bergeser ke Desa Selat karena rasa takut, warga Banjar Sebudi dievakuasi pada 21 September atas perintah dari Perbekal (Kepala Desa) Sebudi. Padahal, ketika itu Gunung Agung masih dalam status Siaga.

Begitu pula dengan warga dusun-dusun sekitarnya, seperti Lebih, Telung Tuana, Badeg Dukuh, Badeg Tengah, Sogra, Bukit Galah, dan Sebun. Pada 21 September 2017 Dusun Sebudi pun sudah kosong. Bahkan, rencana upacara yadnya pun batal karena instruksi pengosongan tersebut.

Pada 22 September 2017 status Gunung Agung dinaikkan dari level 3 (Siaga) ke Level 4 (Awas). Informasi di media sosial mulai berhamburan. Sementara itu, warga di lereng Gunung Agung yang belum tahu bagaimana kondisi sebenarnya, ternyata mengonsumsi berita di media sosial.

Pengetahuan yang Tertidur

Kurangnya informasi resmi dari pihak terkait ditambah kesimpangsiuran berita di media sosial membuat warga panik dan pergi mengungsi. Terjadilah ledakan jumlah pengungsi.

Kepala Desa Amerta Buana Wayan Suara Arsana menceritakan salah satu informasi beredar di Facebook saat itu adalah seolah-olah Gunung Agung sudah meleleh di sisi barat laut. Padahal, itu foto Gunung Sinabung, Sumatera Utara, tetapi keterangannya diganti dengan Gunung Agung.

“Dengan mudahnya semua warga percaya dan lari tunggang langgang,” katanya.

Ketika warga yang mengungsi karena panik ini tumpah ruah ke jalan, situasi kemacetan tidak dapat dihindari. Suara mengatakan perjalanan dari Karangasem ke Denpasar yang biasanya dua jam, saat itu mencapai lima jam. Upaya menyelamatkan diri justru bisa menyebabkan situasi membahayakan, karena meningkatkan potensi kecelakaan dalam proses evakuasi.

“Maunya selamat, tapi malah jatuh di jalan, terjebak di jalan, karena kesimpangsiuran informasi,” jelas Suara.

Ketika pengetahuan para penyintas letusan 1963 tertidur, informasi di media sosial justru lebih mudah tersebar dan dikonsumsi warga di sekitar Gunung Agung. Ibarat gelindingan bola salju, informasi di media sosial memperburuk psikologis warga. Sementara informasi resmi dari pemerintah tidak cukup terdistribusi sampai warga untuk meredam kepanikan.

Kepanikan akibat kesimpangsiuran memicu kerugian material sangat besar. Warga yang panik dengan cepat juga menjual hewan ternak mereka sampai setengah harga wajardaripada hewan ternak habis disapu erupsi Gunung Agung.

Kelian Pucang Desa Ban Mangku Jro Gede memperkirakan minimal kerugian warganya Rp 40 juta di setiap kepala keluarga. Sebagian besar warga bekerja sebagai peternak dan setiap keluarga bisa memelihara 10-12 ekor sapi.

“Warga waktu itu khawatir. Kalau ditinggal nanti siapa yang jaga. Toh, nanti juga akan mati,” kata Mangku Jro Gede.

Saat itu warga benar-benar tidak tahu cara menghadapi letusan gunung berapi atau ke mana harus pergi ketika terjadi letusan. Mereka hanya tahu peningkatan status gunung dan segala berita di media sosial. Sesuatu yang semakin membuat mereka panik hingga memutuskan untuk lari.

Terjangan air yang mengalir di yehsah setelah sebelumnya hujan abu juga turun di tahun 2017. Foto Rai Astrawan.

Sumber Resmi Kalah

Ni Made Ras Amanda, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Udayana mengatakan saat itu pemerintah tidak cukup memiliki kanal yang bisa dipercayai masyarakat. Informasi dari pemerintah kalah oleh informasi-informasi yang berkembang di media sosial.

“Masalahnya, literasi media digital dan media sosial kita, terutama di Karangasem, masih cukup kurang. Masih banyak yang beranggapan apa yang ada di media sosial adalah kebenaran. Informasi mereka terima begitu saja dan itu mungkin yang membuat mereka pada saat itu lebih cepat panik,” kata Amanda.

Menurut doktor ilmu komunikasi ini, semakin banyak seseorang mendapat informasi tanpa cukup literasi untuk membedakan mana informasi yang bisa diterima mana yang tidak, maka informasi itu justru akan menjadi beban. Secara psikologis seseorang yang kelebihan beban informasi akan membuat hoakslebih mudah dipercaya.

Facebook salah satu penyebabnya. Media sosial ini menjadi tempat menyebarkan informasi simpang siur dan tidak jarang mengaburkan berita-berita dari otoritas resmi seperti PVMBG. Belum lagi kendala apakah berita tersebut bisa dipahami pembacanya atau tidak.

Ni Made Ras Amanda, doktor Ilmu Komunikasi Universitas Udayana, baru-baru ini melakukan penelitian tentang informasi di kalangan warga. Respondennya 410 orang di delapan kabupaten di Bali. Hasilnya, perbandingan sumber informasi tentang bencana antara media sosial dan media massa hampir sama: 40,5 persen dari media masa dan 40 persen dari media sosial. Sumber lain yaitu banjar dan desa adat hanya sekitar 10 persen sedangkan 9,5 lainnya mendapat informasi dari orang-orang terdekat mereka.

Ketika pertanyaan dibuat lebih spesifik berkaitan dengan status Gunung Agung, media sosial menempati urutan paling banyak. Sebanyak 42 persen mengatakan mengetahui status gunung Gunung Agung dari media sosial. Setelah itu baru dari media massa (40,7 persen) dan keluarga (10,5 persen). Hanya 6,8 persen yang mengetahui dari lembaga adat seperti banjar dan desa adat.

Kegandrungan akan media sosial membuat warga kemudian mengandalkan informasi hanya dari yang disajikan di media sosial mereka. Kecenderunganitu diperburuk dengan kenyataan bahwa hoaks dan fakta berhamburan dengan bebas di media sosial.

Warga cenderung menelan mentah-mentah informasi di media sosial. Hanya 36,3 persen yang mencari informasi lanjutan setelah mendapatkan informasi dari media sosial, sementara 63,7 lainnya tidak melakukan verifikasi dari setiap informasi yang dikonsumsi.

“Mereka percaya-percaya saja. Tidak mencoba untuk bertanya ‘masak sih?’; ‘benar tidak sih?’” lanjut Amanda.

Hal ini diperkeruh ketika warganet sangat bermurah hati menekan tombol ‘suka’ dan membagikan ulang sebuah unggahan tanpa terlebih dulu memeriksa kebenarannya. Informasi yang dibagikan kepada teman atau pengikutnya kemudian kembali dibagikan ulang. Demikian seterusnya hingga membuat hoaks terlihat lebih menyakinkan dan dapat dipercayai daripada fakta sebenarnya.

Pawana Ketua Pasebaya Gunung Agung. Foto Rai Astrawan.

Mendirikan Pasebaya

Kurangnya informasi akurat dan bisa dipercaya inilah yang memicu kepala desa di 28 desa di Karangasem untuk bertindak, mencegah kesimpang siuran informasi. Mereka mengadakan pertemuan di Posko Utama Tanah Ampo, pusat komando bencana erupsi Gunung Agung, dan sepakat membentuk Pasemetonan Jaga Baya Gunung Agung yang disingkat Pasebaya Agung.

Organisasi mandiri yang diresmikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)pada 17 November 2017 inibertugas memberikan informasi dan pendidikan kepada warga. “Untuk menghindari berita, mengkounter berita serta memberikan pemahaman kepada masyarakat. Itu awalnya,” kata Suara.

Saat ini Pasebaya memiliki 1.221 sukarelawan dengan 105 tim penyelamat. Mereka bertugas mengumpulkan informasi, terutama foto dan video, terkait situasi Gunung Agung. Foto-foto dilengkapi titik koordinat pengambilan dan siapa yang mengambil foto tersebut.

Pasebaya melakukan pemantauan dari 47 pos pantau di lingkar Gunung Agung. Salah satunya yang kini menjadi objek wisata di Temukus.

Karena tidak ingin mengulangi kepanikan akibat simpangsiurnya informasi, Pasebaya mengoptimalkan semua sarana komunikasi untuk memastikan akurasi informasi dan menyebarluaskannya kepada warga. Mulai penapisan informasi di media sosial serta menyebarkannya melalui saluran pesan instan, radio, sampai bertemu secara langsung.

Untuk memastikan informasi dari lapangan, Pasebaya memiliki pos pantau tersebar di 28 desa dan tempat lain, seperti Pura Penataran Lempuyang dan Pura Lempuyang Madia. Keduanya dipilih karena letaknya strategis untuk menangkap visual Gunung Agung.

Pasubaya juga terhubung langsung dengan PVMBG dan kementerian terkait dalam satu grup WhatsApp. “Kalau ada masalah yang harus ditindak lanjuti, kami berkomunikasi di group itu,” kata Pawana.

Oleh Pasebaya informasi dari PVMBG kemudian diumumkan lewat radio kepada warga, para relawan Pasebaya dan gerbong-gerbong Pasebaya Agung di luar Bali, seperti Jawa Tengah, Bandung, Jakarta dan derah lainnya.

Ketika terjadi hoaks, Pasebaya memiliki foto dengan titik koordinat pengambilan dan sumber yang mengambil foto juga jelas. Materi informasi tersebutlah yang kemudian dibagikan ke publik, termasuk lewat grup WhatsApp. Informasi pun menyebar secara masif lewat grup-grup seperti itu.

Sebanyak 250 orang dalam satu grup wajib juga menyebarkan (informasi dari Pasebaya) ke orang-orang lain. Jadi 52 group (yang dimiliki Pasebaya) dikali 250 orang.

Untuk melawan berita-berita palsu (hoaks), Pasebaya juga memiliki tim penapisan di Facebook, termasuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan hoaks. Putu Arta, salah satu relawan Pasebaya Agung, mencatat saat itu dia melaporkan hingga lebih dari 500 akun Facebook pada saat awal-awal erupsi Gunung Agung.

Menurut Arta, yang juga anggota tim night control station (NCS), informasi yang biasa disebar berupa visual (foto dan video) serta teks.

Tim NCS beranggotakan sekitar 40 orang. Mereka bertugas meneruskan informasi dari ketua Pasebaya, instansi pemerintah, atau sukarelawan yang sedang memantau Gunung Agung melalui HT, media sosial, ataupun saluran pesan instan.

Di sisi lain, warga yang makin melek media sosial juga tidak begitu saja menggunakan informasi dari Facebook untuk memutuskan mengungsi. Mereka menunggu instruksi Babinsa atau Kepala Desa menyampaikan secara langsung. “Di sini jika tidak diimbau Kepala Desa atau Babinsa, tidak dipercaya oleh warga,” Ketut Muriani, Klian Dusun Pengalusan.

Anggota Pasebaya Gunung Agung berkomunikasi menggunakan radio tangan (HT). Foto Anton Muhajir.

Penggunaan HT

Namun, tidak semua wilayah di sekitar Gunung Agung juga bisa diakses Internet atau bahkan ponsel. Wilayah Dusun Pucang, hanya salah satunya. Warga harus mencari titik tertentu untuk mendapatkan sinyal ponsel.

Informasi terkait peningkatan status gunung pun disiarkan melalui radio pancar ulang atau handy talky (HT). Kepala Dusun Pucang Jro Mangku Gde menjelaskan bagaimana informasi terkait status Gunung Agung sampai ke warganya. “Yang menyiarkan anggota Pasebaya Agung,” kata Jro Mangku.

HT berperan sangat penting di Desa Ban, khususnya Banjar Pucang. Hal ini tentu saja karena keterbatasan sinyal di sisi utara Gunung Agung tersebut.

Sebelum Pasebaya berdiri, peran HT dalam memberikan informasi bagi warga sudah berlangsung, tetapi informasi lebih banyak berasal dari tim ORARI.

Namun, informasi melalui HT tidak sertamerta bisa sampai ke seluruh warga. Tidak semua warga memiliki HT sendiri. Kendala itu disiasati. Warga yang memiliki HT dan telah mendapatkan informasi terkait perkembangan status gunung meneruskannya kepada warga secara langsung, dari mulut ke mulut. Rumah di Dusun Pucang relatif berdekatan, sehingga penyampaian informasi secara oral bisa dilakukan dengan cepat.

“Sumber informasi yang disiarkan juga disebutkan. Hanya saja saya lupa,” Jro Mangku Gde menjelaskan.

Di Dusun Belong, Desa Ban, meskipun informasi dilakukan dengan pola distribusi yang sama, dari HT atau instruksi langsung dari Kepala Desa yang kemudian disampaikan ke Kepala Dusun, kemudian Kepala Dusun yang dibantu oleh warga lain yang memiliki HT akan membantu mendistribusikan informasi tersebut ke warga yang tidak memiliki HT.

Sayangnya lokasi pemukiman penduduk yang tersebar sedikit berjauhan, akses jalan yang rusak dan sempit tentunya mempersulit evakuasi. Terutama jika proses evakuasi dilakukan dalam kondisi masyarakat yang panik. Situasi tersebut bahkan membuat salah satu warga terjatuh dari motor hingga mengalami patah tulang saat dibonceng anaknya ketika proses evakuasi dilakukan di tengah kepanikan.

Radio Bencana

Ketika kondisi gunung sedang landai, pos jaga sudah tidak seaktif dahulu ketika warga baru kembali dari pengungsian, usaha dilanjutkan dengan pembangunan radio bencana untuk satu Dusun Sebudi.

“Kami meminta izin ke pemerintah Karangasem untuk membuat repiter radio bencana bagi Dusun Sebudi,” terang Tangkas Udiawan, Kepala Dusun Sebudi.

Pembangunan repiter ini untuk mempermudah warga mengakses informasi terbaru tentang status Gunung Agung serta tentu melalui HT yang hampir ada di setiap rumah warga Sebudi. Warga-warga yang memiliki HT nantinya bisa menginformasikan kepada tetangga terdekat mereka yang belum memiliki HT. Sumber informasi yang disiarkan melalui repiter didapatkan dari Pasebaya Agung.

“Pasebaya ‘kan terdiri dari 28 desa. Jika puncak gunung tidak bisa terlihat dari lereng selatan, dari lereng utara pasti ada yang melaporkan,” ujar Kepala Dusun. “Selain itu di dari Group Whatsapp Pasebaya kan juga sering dibagikan update Magma Var, informasi terbaru tersebut juga dibacakan dari melalui repiter.”

Kendala luas wilayah Dusun Sebudi dengan dua kompleks pemukiman yaitu di Sebudi sendiri dan satu pemukiman lagi di Sebum dengan jarak relatif jauh berhasil diatasi dengan pendirian repiter pesawat HT.

Informasi yang dibagikan melalui repiter berasal dari dua sumber, Pasebaya Agung baik melalui HT maupun group WhatsApp serta warga yang melihat atau merasakan gejolak pertanda aktivitas gunung.

Ketika kemudian informasi itu meresahkan warga, maka selaku kepala Dusun Tangkas Udiana akan berkordinasi meminta pendapat kepada kepala desa dan pertimbangan ke Pasebaya Agung. Kepala Dusun Sebudi juga menggunakan Pura Dalam dan wantilan Desa Adat Sebudi sebagai titik kumpul sehingga mempermudah evakuasi.

Tidak hanya itu koordinasi hewan warga yang memiliki angkutan besar seperti truk juga dilakukan sehingga mobil-mobil besar bisa digunakan untuk mengangkut warga ketika situasi genting terjadi.

“Untuk memberi tahu warga supaya tidak lewat HT saja, kami juga menggunakan kentongan dan pengeras suara (toa) di wantilan digunakan untuk mengumpulkan warga,” lanjutnya.

Semua fasilitas di Dusun Sebudi dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam proses mitigasi bencana. Hal yang berbanding terbalik jika dibandingkan di tahun 1963.

“Pada saat erupsi tahun 1963 tidak ada yang mengumpulkan. Semua lari sendiri-sendiri. Fasilitas apa-apa juga tidak ada,” kata Mangku Mariawan.

Jalinan komunikasi adat dan dinas tidak hanya terlihat dari pengerahan pecalang untuk berjaga-jaga, harmoni di Dusun Sebudi juga terlihat dari bagaimana dukungan Bendesa Adat Sebudi yang ikut mendorong bahkan menyokong pendanaan pendirian repiter bagi warga Dusun Sebudi dan Bendesa Sebun dalam mengkoordinir warga mereka.

“Jika situasi gunung bergejolak, tetua desa dan Jro Bendesa Adat yang saya hubungi lewat HT dan telepon untuk membantu mengkoordinir warga di Sebun sehingga proses evakuasi lebih cepat,” Mangku menjelaskan.

Penanda jalur evakuasi yang ada di perempatan Desa Selat. Foto Rai Astrawan.

Pekerjaan Rumah

Ketika tata kelola informasi terkait bencana sudah relatif baik, termasuk dengan peran warga sekitar Gunung Agung melalui Pasebaya, mitigasi erupsi di Bali juga masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Kurangnya penanda jalur evakuasi hanya salah satunya.

Beberapa tanda evakuasi bisa ditemui ketika menuju Desa Amerta Buana dari arah Rendang. Satu tanda ada di perempatan Pasar Selat. Satu tanda lagi di pertigaan Dusun Babakan Desa Pering Sari. Tanda arah evakuasi memang dipasang di beberapa titik di Kecamatan Selat setelah terjadi peningkatan status Gunung Agung.

Berbeda dengan tanda arah evakuasi di pinggir jalan utama, tanda larangan melintas selain petugas yang dipasang di Dusun Sebudi malah terlihat sudah terjungkal dan tak terurus. Bahkan jika pergi ke arah Desa Ban dari objek wisata Tulamben, tanda arah evakuasi tsunami lebih banyak terlihat daripada tanda terkait erupsi Gunung Agung.

Satu-satunya informasi di ruang publik hanya sebuah peta tua di sebuah posko di tepi jalan raya utama yang menghubungkan Kota Karangasem dengan Singaraja. Peta usang dan robek menggambarkan KRB beradius 12 km itu ternyata digunakan warga sebagai penghalang terik matahari pagi yang memang menyengat di daerah tersebut.

Kepala Desa Ban Wayan Potag membenarkan tidak adanya tanda evakuasi di desanya. Padahal, banyak jalan-jalan buntu di wilayahnya.

Selain persoalan tanda evakuasi, Wayan Potag selaku kepala desa juga mengharapkan pihak pemeintah baik kabupaten, provinsi atau pusat bersedia membangun jaringan telekomunikasi. Sinyal telekomunikasi seluler tidak bisa diakses warga Desa Ban. Hal tersebut membuat warga terbatas dalam mengakses informasi.

Pemerintah juga perlu tetap mengadakan pendidikan kebencanaan kepada masyarakat. Dengan demikian warga Desa Ban baik yang bisa membaca ataupun tidak tetap bisa mendapatkan informasi tersebut.

Hal paling penting menurut Wayan Potag adalah perbaikan jalur evakuasi. Perbaikan jalur infrastruktur yang nantinya akan digunakan warga meninggalkan pemukimannya jika terjadi erupsi Gunung Agung.

Lokasi Desa Ban yang terletak di antara dua gunung yaitu Gunung Agung dan Gunung Abang menurut Wayan Potag membuat medan di Desa Ban sulit untuk melakukan evakuasi sehingga dibutuhkan perbaikan sarana jalan yang akan menjadi rute evakuasi.

Hal ini terlihat jelas ketika pelaksanaan evakuasi warga di tahun 2017. Wayan Potag menceritakan, keterbatasan sarana transportasi untuk mengangkut warga membuatnya harus meminta bantuan sarana transportasi ke Desa Ban. Sayangnya, kendaraan itu tidak bisa menjangkau wilayah-wilayah rawan bencana karena kondisi jalan sempit dan rusak.

“Jika jalan tidak ada akan sulit juga melakukan evakuasi, apalagi dengan medan seperti ini. Maka diperlukan sekali membangun jalan-jalan untuk evakuasi,” kata Wayan Potag.

Hal tidak jauh berbeda terjadi di sisi selatan Gunung Agung. Jalan utama dari Desa Selat menuju Pura Pasar Agung di wilayah Dusun Presana juga memprihatinkan. Belum lagi warga Bukit Galah Dusun Sogra Desa Sebudi masih harus mengungsi hingga Oktober lalu akibat infrastruktur untuk mengakses kampung halaman mereka rusak parah. Salah satunya akibat banjir dari lereng gunung satu tahun yang lalu, banjir yang sama yang menghancurkan sawah dialiran sungai Yeh Sah, Muncan.

Selain kendala masalah jalur evakuasi, Wayan Darsana selaku Kepala Dusun Ancut Desa Sebudi juga juga menyoroti perilaku warga yang wilayahnya dilalui ketika proses evakuasi berlangsung.

“Saya mohon juga kepada masyarakat di selatan kalau terjadi erupsi Gunung Agung janganlah nonton di pinggir jalan. Karena masyarakat di atas sedang panik. Jangan sampai nanti kejadian jatuh atau tertabrak. Kan bahaya juga,” kata Wayan Darsana.

Belum Sepenuhnya Siap

Gede Sugiarta, dari Yayasan IDEP, menjelaskan setelah pemerintah membentuk badan khusus kebencanaan seperti BNPB dan BPBD, pengelolaan informasi dan koordinasi jauh lebih baik terutama dibandingkan saat belum ada lembaga yang bertanggungjawab atas kebencanaan.

Namun, ketika berbicara tentang bencana erupsi, Bali belum sepenuhnya siap. “Selama ini simulasi bencana oleh pemerintah lebih pada simulasi kegempaan dan tsunami. Jadi lebih banyak tentang tsunami, dekat-dekat pantai. Lupa pada gunungnya,” lanjutnya.

Hal ini membuat pendekatan ke masyarakat gunung belum maksimal karena lebih berfokus pada edukasi dan simulasi kebencanaan di pantai dan tentang tsunami. Ketika aktivitas Gunung Agung meningkat, masyarakat sekitar gunung belum siap. Pada saat evakuasi warga panik dan macet di mana-mana.

“Itu memperlihatkan masyarakat belum paham apa yang harus dilakukan ketika Gunung Agung meletus,” katanya.

Kesiapan warga ternyata sangat berkaitan akan pembelajaran dari pengalaman. Hal ini terlihat dari kesiapan warga saat Gunung Merapi meletus. Gede Sugiarta menjelaskan hal itu karena interval erupsi Gunung Merapi yang relatif pendek. Akibatnya setiap generasi bisa merasakan peristiwa erupsi. Pengalaman ini membuat warga di sekitar Gunung Merapi membangun kesiapsiagaan secara terus menerus.

Gede menjelaskan perbedaan situasi warga di Gunung Agung dengan di sekitar Gunung Merapi, Yogyakarta. Warga sekitar Gunung Merapi menyadari bahwa erupsi bisa terjadi kapan saja. Ketika erupsi terjadi masyarakat sudah siap warga tahu ke mana mereka harus lari, ke mana mereka harus mengungsi. Koordinasi tim kebencanaan di desa juga terjalin dengan baik.

Berdasarkan pengalamannya memberikan pelatihan bencana kepada warga bersama Yayasan IDEP, Gede Sugiarta menceritakan bagaimana warga sekitar gunung dilatih untuk mengetahui apa yang harus disiapkan dan dibawa ketika pergi mengungsi. Ke mana mereka harus pergi mengungsi. Sistem tersebut sudah direncanakan.

Selama ini cerita yang beredar hanya bahwa Gunung Agung meletus memakan korban dan mengakibatkan dampak, tetapi tidak belajar apa yang harus dilakukan masyarakat ketika gunung ini meletus. Bagaimana ekonomi mereka. Apakah mereka memikirkan tentang dana bencana.

“Kalau di Gunung Merapi, mereka sudah memikirkan sampai ke sana,” lanjutnya. [b]

 

Kepala Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang menjelaskan cara kerja mereka. Foto Rai Astrawan.

Pemberi Kabar Mutakhir tentang Sang Toh Langkir

 

Suara pukulan palu dan desingan mesin gerinda terdengar dari kejauhan. Material di sudut-sudut halaman menyambut siapa pun yang berkunjung ke pos pengamatan Gunung Agung di Rendang, Karangasem. Sebuah bangunan baru berdiri di belakang bangunan lama. Seorang petugas keluar dan menyambut dengan ramah mempersilakan untuk melihat-lihat pada awal Oktober 2018 lalu.

Foto-foto hitam putih tertempel di papan informasi, sedikit menggambarkan bagaimana dahsyatnya letusan Gunung Agung pada 1963. Di salah satu sudut, miniatur Gunung Agung lengkap dengan gambaran lelehan lahar yang mengunakan wara merah dalam sebuah kotak kaca berdebu akibat proses pembangunan gedung baru.

Pos Pengamatan Gunung Agung yang sempat begitu populer tahun lalu, kini kembali hanya dihuni oleh petugas yang tiap waktu mencatat setiap gerak-gerik Gunung Agung di hadapannya. Jauh berbeda dibandingkan tahun lalu ketika pos ini dikunjungi warga, bahkan banyak awak media yang nongkrong di sini.

Dari posko yang didirikan pada 1964 inilah segala informasi berkaitan dengan Gunung Agung dikumpulkan sebelum dikirim ke kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berada di Bandung.

Data dari posko ini mengubah status Gunung Agung pada 14 September 2017 setelah lebih dari 50 tahun pada tingkatNormal meningkat menjadi Waspada. Empat hari kemudian menjadi Siaga. Pada 22 September, statusnya naik berada paling tinggi di tingkat Awas.

Dewa Made Mertayasa, Kepala Posko Pengamatan di Rendang, menjelaskan bagaimana pengamatan itu dilakukan.

Ada 11 seismograf dipasang di badan gunung maupun desa-desa yang mengitarinya, seperti Cegi, Bukit Abang, Dukuh, Yeh Kori, Pasar Agung, Pengubengan Temukus, dan lainnya. Ada juga alat pendeteksi suhu air untuk mengetahui peningkatan suhu air ketika aktivitas gunung meningkat. Ada juga alat pengukur SO2 untuk membaca kadar SO2 yang diembuskan oleh aktivitas gunung berapi.

Semua aktivitas yang ditangkap peralatan-peralatan tersebut dan terkumpulkan di pos pengamatan Rendang kemudian dikirim ke PVMBG pusat untuk dianalisis.

“Pengolahan datanya tetap dilakukan di Bandung, karena tim ahlinya berada di PVMBG pusat. Jadi keputusannya tetap berada di Bandung,” Dewa menjelaskan.

Desa Berata juga menjelaskan bahwa keputusan dari PVMBG pusat kemudian dikirim ke pos pengamatan untuk kemudian dikirimkan ke pemerintah daerah baik itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten dan provinsi sertaBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Pemangku kepentinganyang berhubungan dengan masyarakat akan mendapatkan informasi terkait status Gunung Agung saat itu juga,” lanjutnya.

Selain disampaikan ke pihak-pihak terkait, informasi ini juga dipublikasikan di dalam website PVMBG dan Magma var (aplikasi yang bisa diunduh di telepon pintar).

“Dengan adanya magma itu, masyarakat yang berkepentingan bisa melihat bagaimana status gunung api, bagaimana kegempaannya di magma,” Dewa menambahkan.

PVMBG juga merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan peta daerah bahaya. Peta ini berisi radius potensi ancaman bahaya dan cenderung bersifat dinamis tergantung aktivitas Gunung Agung. Ketika aktivitas Gunung Agung meningkat pada 2017, peta ancaman bencana mencapai hingga radius 9 km. Ketika aktivitas gunung menurun, radius ancaman bahaya pun diturunkan menjadi hanya 4 km.

“Dari tim teknis vulkanologi nanti akan menginterpretasi ancaman bahayanya, karena itu mutlak ditentukan oleh vulkanologi. Nanti BPBD dan pemerintah daerah tinggal melaksanakan rekomendasi dari vulkanologi,” katanya.

Selain peralatan untuk merekam aktivitas gunung, pos pengamatan juga dilengkapi dengan sebuat radio komunikasi yang digunakan untuk menjalin komunikasi dengan Pusdalops (pusat pengendalian operasi) provinsi dan daerah.

Pos pengamatan secara konsisten terus mengamati Gunung Agung. Dari awalnya masih menggunakan peralatan manual dengan dua seismograf hingga kini dengan peralatan digital.

Semua informasi dan rekomendasi yang dihasilkan tidak bisa memastikan jam berapa gunung akan meletus atau berapa kecepatan embusan awan panas yang akan turun. Namun, informasi dan rekomendasi yang PVMBG hasilkan bisa digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan warga serta pemerintah terkait sehingga bisa meminimalisir korban jiwa. [b]

 

 

Wayan Gede Sirem, Berani karena Tidak Tahu

 

Di penghujung 2017, ketika perhatian warga tersedot pada status Awas Gunung Agung, unggahan di media sosial seperti Facebook juga didominasi informasi pemberitaan terkait gunung berapi di Bali itu. Di antara berbagai unggahan itu, sebuah unggahan tentang foto catatan harian terkait erupsi Gunung Agung di tahun 1963, cukup mencuri perhatian.

Penulis catatan harian tersebut adalah Wayan Gede Sirem, mantan Kepala Desa Sebudi, satu dari banyak desa yang hancur dan kehilangan banyak warga, pada bencana itu. Sirem menjadi kepala desa selama 20 tahun, dari 1961 sampai 1981.

Dia masih terlihat segar walaupun telah mengalami dua kali erupsi Gunung Agung dengan rentang waktu lebih dari 50 tahun. Berikut sebagian obrolan dengannya tentang pengalamannya menghadapi erupsi dan membangun desa yang hancur akibat erupsi.

+++

Apa yang membuat Bapak menuliskan catatan harian tentang erupsi 1963?

Karena bapak ketika itu sebagai kepala desa. Jadi harus melaporkan ke kabupaten.

Warga ketika itu kan menyebar?

Aduh, jika dibandingkan dengan sekarang, jauh. Hanya saja baiknya waktu itu sumbangan melimpah datang. Sekarang kan sumbangannya sedikit (keprat-keprit) seperti sakit perut ketika diare. Ketika itu bantuannya banyak. Sampai dibawakan dengan helikopter bagi daerah yang susah dijangkau.

Saat terjadi bencana (1963), apakah warga mendapat instruksi dari pemerintah?

Tidak ada instruksi apapun. Apa yang bisa digunakan untuk menginstruksikan? Tidak ada instruksi apa-apa. Tidak seperti di zaman sekarang sekarang ada banyak peralatan yang bisa digunakan. Banyak media. Pada zaman itu tidak ada.

Hanya begini, sejarah di ingatan saya. Namun, ini belum mutlak karena catatannya tidak di sini. Masih di pengungsian.

Pada 18 Februari 1963, pukul 4 subuh rumah saya digedor. Waktu itu saya berkantor di rumah karena tidak ada kantor desa. Datang klian Badeg Dukuh bernama I Sineb.

“Pak Kepala Desa… Pak Kepala Desa…”Tok… tok… tok…

Saya lihat dari atas, lalu buka pintu dan bertanya, “Ada apa, Sineb?”

“Begini, Pak Perbekel. Tolong tahan warga yang lari mau mengungsi.”

“Mengungsi karena apa?” tanya saya.

“Gunung agung mekeplug (meletus).” Pak Sineb tidak mengatakan meletus, tapi mekeplug. “Sudah mekeplug, aroma belerang di rumah saya di dusun sudah tidak tertahankan. Semua orang lari. Tolong Pak Perbekel segera keluar untuk menahan warga.”

Saya tahan warga (yang lari) di sini, di pasar. “Berhenti, berhenti dulu.” Saya kumpulkan pada dini hari. Saya sampaikan sebentar. “Jangan dulu pergi (mengungsi). Tunggu perintah Bapak Gubernur dan Bapak Bupati. Sekarang saya telpon dulu.”

Saya menelepon dari kantor distrik karena belum ada camat. Lokasinya di kantor polsek sekarang.

Dari sana saya menelpon, “Halo sentral… Halo sentral…” Setelah mendapat jawaban dari sentral saya minta disambungkan ke rumah jabatan bupati. Penerima telponnya ajudan bupati yang bernama I Kebon.

“Bon… Bon… tolong bangunkan Bapak Bupati,”

“Saya tidak berani, Pak Kepala Desa,” begitu jawabannya.

“Ini kepala desa yang melapor. Jika Pak Bupati marah biar kepala desa yang dimarahi, bukan kamu.” Setelah saya bilang begitu baru kemudian Pak bupati dibangunkan.

Setelah itu Pak bupati bertanya. “Ini Wayan, ada apa?”

“Begini, Pak Bupati. Ini Gunung Agung meletus. Sudah turun abu belerang dan abu. Warga yang lari sudah saya tahan di Desa Selat. Jadi silakan bapak bupati menginstruksikan,” Saya menjelaskan.

“Tunggu dulu ya. Jangan ditinggal dulu telponnya.”

Ketika itu mungkin beliau melihat dengan teropong kepulan asap di puncak gunung. Bapak Bupati kemudian kembali bicara di telepon. “Tunggu dulu sebentar. Sekarang saya telepon gubernur.”

Kemudian bupati menginstruksikan. “Tolong ini ada perintah dari bapak gubernur. Saudara kepala desa dan punggawa menunggu di kantor distrik.”

Segera saya pergi ke kantor distrik, punggawa distrik ketika itu namanya Bli Rogot juga ada di kantor distrik, belum ada camat.

Punggawa itu setingkat camat sekarang?

Setingkat camat sekarang hanya lain namanya. Kami menunggu di kantor distrik. Warga sudah diminta untuk tetap tinggal di Desa Selat dulu. Segera dibuatkan makanan dari beras-beras pembelian padi. Warga diinstruksikan untuk tidak ke mana-mana dulu. Ada yang di Paruman, ada yang di pasar, ada yang di Bale Agung.

Bupati datang mengendarai mobil jip. Karena lama menunggu dan Gubernur belum juga datang, berangkatlah kami ke utara. Sampai Desa Sebudi, aroma belerang sudah sangat tajam. Bapak Gubernur belum juga datang. Bupati balik kembali ke selatan, ke Desa Selat.

Kami kembali melewati jalur barat dari Muncan ke utara. Jalan ketika itu belum seperti sekarang. Masih sulit. Masih jalan tanah. Karena pohon bambu roboh menghalangi jalan akibat terlalu berat menahan hujan abu, jadi terhalang untuk menuju ke utara.

Di sanalah Bapak Gubernur kemudian berpidato memberikan petunjuk. Di Desa Lebih, di dekat Gunung Agung. Di desa paling atas. Seandainya Gunung Agung terus meletus, saudara-saudara yang tinggal di sebelah timur sungai mengungsi ke sana. Yang di sebelah barat pergi mengungsi ke Rendang. Warga diberikan instruksi langsung, secara lisan. Tidak ada peralatan seperti sekarang.

Setelah itu saya ngatag, menghubungi warga satu persatu. Keliling bersama Dansek I Gusti Komang Raid dan Pak Tut Gomboh. Berkeliling menginformasikan secara lisan ke rumah warga dan mencari warga. Bahkan pernah sampai memukul karena warga ngotot tidak mau mengungsi.

Karena sudah tahu akan keluar lahar, terpaksa warga yang bandel tidak mau mengungsi ditarik. Setelah menggunakan kekerasan, mereka baru mau mengungsi. Begitulah ketidaktahuan warga ketika itu.

Kalau sekarang kan lain. Baru gerak sedikit sudah lari. Dulu sampai harus dipukul supaya mau mengungsi. Sebab bagaimanapun juga pemerintah tidak ingin terjadi banyak korban.

Setelah warga mau mengungsi, tetap ada yang mencuri-curi pergi kembali ke rumahnya untuk bekerja, karena tidak ada yang bisa mengawasi.

Setelah itu terdengar suara gemuruh besar, tetapi yang keluar baru kepulan asap tebal. Hanya asap tebal. Setelah seminggu berhenti mengepulkan asap, air turun. Banjir air hangat. Seluruh sungai hanyut oleh banjir lahar. Kayu yang masih berdiri hanyut, tetapi pohonnya masih berdiri. Banjir berlangsung sampai satu minggu. Setelah itu kembali tenang, setelah banjir berhenti semua kembali tenang.

Jembatan di Bangbang Biaung putus. Jembatan Langon putus. Jembatan Tukad Barak putus. Putus oleh banjir besar lahar. Itu secara pintas lalu dulu saya ceritakan. Secara umum ya peristiwa yang terjadi pada Februari 1963.

Setelah tenang, pada 17 Maret 1963, gunung yang awalnya tenang tiba-tiba meledak. Duaaar!!! Nah, itulah yang keluar lahar api.

Gunung Agung saat erupsi pada November 2017. Foto Anton Muhajir.

Yang pertama itu tidak keluar lahar api?

Tidak. Bukan lahar api. Asap hanya asap penuh debu. Ketebalan abu turun di halaman sampai 30 cm. Hingga rumah-rumah yang rangkanya sudah rapuh sampai jebol. Pohon pisang tumbang. Bambu tumbang dari Desa Selat sampai Dusun Presana. Bambu-bambu roboh semua dikubur abu. Setelah itu banjir. Semua sungai tergerus, membuat bibir sungai semakin lebar. Semakin dalam.

Itu banjir yang menghancurkan jembatan Langon, Bambang Biaung, Tukad Barak, Yeh Sah. Itu jembatan putus semua.

Zaman itu jembatannya lebar. Tidak seperti sekarang. Semua saling mendesak, mempersempit (sungai). Jauh perbedaan kondisi alam dahulu dengan sekarang, sehingga tidak bisa dibandingkan. Alamnya berubah.

Setelah air banjir surut, gunung tenang. Saat tenang inilah, ketika semua mengira letusan sudah berakhir, warga banyak kembali pulang ke rumahnya. Bekerja. Mencuri-curi, bukannya mendapat izin untuk pulang. Mereka diam-diam pulang.

Tahu-tahu, pada 17 Maret itu meledaklah letusan besar. Meledak dan keluarlah api, lahar panas. Semua hangus yang dari Pengastian ke selatan, sampai di Plemadon berbelok (ke barat) di Muntig, sehingga Pura Muntig penuh lahar. Tukad Lusuh juga penuh lahar. Banjar Lusuh itu dulu jauh lebih tinggi di atas sungai, sekarang sudah rata (dengan sungai).

Di sebelah barat rumah I Ketut Gablar itu dulu sungainya dalam sekali. Jembatannya jauh di bawah sehingga jika dari Muntig turun dulu ke bawah kemudian naik menanjak ke barat, baru menemukan Banjar Lusuh. Sekarang itu sudah rata.

Pura Muntig hancur. Pura Muntig itu dulu tinggi sekarang sudah tertimbun lahar. Meru tingkat 11 hanya tinggal terlihat 2 tingkat Puncak Meru, yang sembilan tertutup lahar. Bayangkan, meru saja tertimbun, apa lagi bangunan yang lebih rendah. Meru yang 11 tingkat tertimbun 9 dan hanya menyisakan 2 atap yang paling ujung.Bisa bayangkan berapa tebal lahar ketika itu.

Terus Banjar Sogra, Sebudi itu habis?

Tidak, mereka diterjang awan panas. Kalau tertimbun lahar tidak terlalu banyak. Sedikit yang tertimbun hanya sepanjang sungai Lenggung. Desa Badeg Dukuh terkubur setengah. Yang sebelah barat tidak tertimbun terkena awan panas. Makanya, orang-orang yang meninggal akibat awan panas mayatnya masih bisa diambil. Mereka yang terkubur di Desa Sebudi, orang-orang (banjar) Sebudi sejumlah 217 orang tidak bisa diambil jenazahnya karena mereka terkubur hidup-hidup oleh lahar.

Yang di Sebudi kebanyakan karena terkubur lahar?

Karena terkubur lahar. Tidak bisa diambil jenazahnya. Yang jenazahnya bisa ditemukan itu di Sogra dan di Badeg Dukuh. Ketika letusan reda, Bapak Bupati saya ajak ke Utara (Desa Sebudi) membawa buruh. Sambil membawa tirta (air suci) dari jawatan agama, untuk dipercikkan ke jenazah yang ditemukan. Setiap jenazah yang berhasil ditemukan diperciki tirta lalu dikubur di tempat. Tidak di bawa ke kuburan.

Di sebelah jenazah dibuatkan lubang. Berapa jumlah jenazah ditemukan, di sebelahnya digalikan lubang. Dibasuh dengan air murni (toya anyar), kemudian diperciki tirta, baru diangkat dan dikuburkan.

Itu dilakukan berapa lama setelah erupsi berakhir?

Kira-kira sudah hampir tiga bulan. Mayatnya tidak apa-apa. Tidak busuk. Hanya kering seperti ikan asin, karena terkena awan panas.

Sesudah ledakan reda, tetapi suara gemuruh kecil masih terdengar, petugas Vulkanologi baru berani naik. Mereka membawa peralatan. Setelah memeriksa area lalu mereka menginstruksikan aman untuk naik, baru warga berani naik. Petugas yang membawa peralatan itu Bapak Ir. Suryo. Dia saya ajak ikut mengubur jenazah.

Alatnya ditancapkan lalu dia bilang berani naik, baru kami naik. Saya kan tidak tahu bagaimana cara kerjanya, hanya mengikuti. Ambil jenazah, bikinkan kuburan, dibasuh air, diperciki tirta, lalu dikubur. Ada buruh bernama I Dadi dari Desa Iseh yang melakukannya.

Kalau di Desa Selat ketika itu ada korban?

Ada di Sekuawana, tetapi saya tidak mencatatnya, biar tidak salah. Korban di Sekuwana terjadi gara-gara menonton lahar yang datang dari utara. Mereka kena imbasnya lalu kaku. Saya tidak punya catatannya. Kalau di Desa Sebudi baru saya catat. Total jumlah korban tertera pada monumen di Desa Sebudi.

Itu monumen satu-satunya?

Iya. Itupun dibangun dengan swadaya warga berdasarkan keputusan klian-klian. Waktu itu juga ada Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

Hanya untuk catatan-catatann agar kita tahu. Itu saja alasannya. Sederhana. Supaya memiliki catatan terkait bencana Gunung Agung, jadi tercatatlah korban di wilayah kami. Karena yang tercatat hanya yang di wilayah Desa Sebudi. Jumlah korban berapa itu termuat di monumen tersebut.

Kalau yang autentik masih ada di buku catatan saya. Kalau saja bukunya dibawa sekarang bisa dilihat, lengkap karena saya harus melaporkan ke Gubernur Soekarmen.

Ketika terjadi erupsi, banyak warga menonton letusan?

Oh iya, banyak yang menonton. Bahkan ada yang menyambut dengan membawakan gamelan.

Bagaimana cerita lengkapnya?

Seperti saya bilang tadi, warga sampai diintimidasi dengan pukulan. Bukan pukulan-pukulan kekerasan ya, tetapi intimidasi agar warga mau mengungsi. Mereka harus dipaksa dengan keras. Sampai polisi ikut memaksa warga untuk mengungsi.

Namun, warga tetap menolak dengan berkata tidak. Karena Ida Bhatara (Dewa) di Gunung Agung akan bekerja membuat penggorengan, membuat cangkul. Begitu pemahaman masyarakat ketika itu. Coba bayangkan. Warga memandang peristiwa erupsi sebagai Ida Bhatara di Gunung Agung sedang bekerja.

Kalau dari legenda-legenda dulu Gunung Batur meletus Ida Bhatara di Gunung Agung, Ide Bhatara di Gunung Batur membuat pengorengan, membuat peralatan rumah tangga. Nah, itu namanya legenda. Kita tidak serta merta harus mempercayai itu. Memang ada tuturnya (cerita) seperti itu. Kita sebagai orang intelektual kan tidak menelan mentah-mentah itu. Maka kami memutuskan menggiring warga karena ini merupakan bencana alam.

Namun, warga tidak mau mengungsi karena kasihan sama sapinya dan lain-lain. Maka terpaksa digiring dengan keras. Nah, setelah abu berhenti turun kemudian banjir lahar, warga mulai mendak (menyambut), membuat sesaji. Jro Dukuh Meweda Munggah hendak memimpin doa karena percaya Ida Bhatara di Gunung Agung sedang bekerja.

Warga ketika itu sudah tidak bisa di beritahu. Ada gamelan. Ada lagi yang di Sogra mementaskan tari-tarian di Pura Batur, mementaskan tarian Oleg. Akhirnya begitu meletus pada 17 Maret, mereka memang tidak terkena lahar, tetapi awan panas yang menerjang membuat mereka mati kaku. Mereka yang memainkan gamelan masih memegang panggul, kaku mati.

Jadi semua perlengkapan gongnya ditemukan?

Ya, ditemukan. Gongnya ditemukan sama orang yang mati kaku memegang panggul. Ketika itulah baru jenazahnya dikuburkan.

Nah, yang di Sebudi baru tidak ditemukan. Sebab desa ini tertimbun lahar. Jangankan gong, warga yang tertimbun pun tidak ditemukan. Tertimbun lahar panas. Sementara di daerah lebih di atas bukan lahar panas, tetapi awan panas. Makanya jenazahnya kaku.

Kalau yang di Desa Badeg?

Kalau di Desa Badeg setengah terkena lahar. Yang di bagian barat, jenazahnya bisa ditemukan karena diterjang awan. Yang di bibir tepi sebelah timur, di timur griya Sri Empu sekarang, sebelah timur jalan itu terkena lahar, sebelah barat jalan terkena awan panas. Makanya warga yang meninggal di sebelah barat masih bisa ditemukan dan dimakamkan.

Tanda-tanda gunung akan meletus tidak diketahui warga ketika itu?

Tidak ada yang tahu. Makanya ketika itu warga tidak pernah berpikir gunung akan meletus. Alat-alat pendeteksi gunung juga tidak ada. Setelah Gunung Agung meletus, melaporlah Pak Gubernur Sutedja ke vulkanologi. Datanglah Pak Suryo membawa alat-alat pendeteksi gunung ditaruh di Kecamatan Rendang. Belum ada tempatnya. Jauh setelah erupsi berakhir baru dibuatkan bangunan seperti sekarang. Jadi peralatan hanya digelar begitu saja beratapkan terpal.

Foto letusan Gunung Agung pada 1963 di Pos Pengamatan Gunung Agung Rendang. Foto Anton Muhajir.

Bagaimana perbedaan kepanikan dulu dan sekarang?

Jika soal kepanikan, lebih keras sekarang kepanikannya. Penyebabnya karena sekarang mereka tahu bahwa bencana alam itu membahayakan. Zaman itu tidak tahu. Makanya saking tidak tahu akhirnya meninggal (jadi korban). Di sana perbedaannya.

Lebih positif mana?

Menurut saya lebih positif yang sekarang. Karena kalau sudah bencana alam ya harus menyingkir. Kalau zaman (1963) itu bisa dibilang masih primitif. Masih percaya pada “suwung”, bhatara lagi hajatan kenapa lari, saya mau berdoa saja. Kalau dulu seperti itu. Coba bagaimana hal itu bisa diterima sekarang, kan tidak bisa. Makanya sampai harus dipaksa untuk mengungsi.

Setelah meletus dan terkena lahar baru pada menyesal. Ada namanya I Mangku Mudita dari Desa Sogra. Dia masih hidup. Saat itu dia ikut memainkan gamelannya. Dia sama I Kerti diterjang awan panas sampai kulitnya terkelupas. Saya menemukannya di jalan di Pedadakan (wilayah Desa Selat).

Saat itu saya hendak mengungsikan keluarga ke Padang Tunggal. Mereka menggigil tidak dapat dikenali karena penuh abu. Saat lari semua bermandikan abu. Makanya hanya kedipan mata yang terlihat. Tidak bisa saling mengenali. Kalau tidak menyebut nama tidak akan saling mengetahui.

Mertua saya saja tidak bisa saya kenali ketika itu. Dia juga tidak tahu jika saya tidak menyebutkan nama. Ketika itu dia bingung mencari putrinya. Kami belum menikah saat itu.

Terkait cerita ikan-ikan pada naik?

Itu ketika terjadi hujan yang bikin gatal. Sebelum letusan yang mengeluarkan lahar panas. Pertama letusan asap mengeluarkan hujan abu yang merobohkan pepohonan. Kemudian saat banjir itu terjadi juga hujan belerang (yang membuat gatal). Semua ikan dan udang bergelimpangan, kemudian tenang.

Karena tidak tahu, semua berpikir letusan sudah selesai. Ketika itu tidak ada siaran apapun dari pemerintah. Karena ketidaktahuan itu ya semua menonton, bergerombol menonton banjir, menonton saat jembatan Langon roboh dari bibir sungai.

Jika sekarang, walau ada banjir besar seperti itu tidak ada yang akan menonton. Semua memilih lari karena sudah tahu.

Setahun lalu ada banjir di Yeh Sah kok masih yang nonton?

Banjir yang berlangsung kemarin kan kecil, kira-kira sepersepuluh daripada yang dulu. Banjir dulu 10 kali dari itu besarnya. Banjir di Bambang Biaung, Langon, Tukad Barak, Tukad Yeh Sah, dan Tukad Telaga Waja. Banjirnya besar sekali dan berlangsung lama. Waktu terjadi banjir itulah, masyarakat yang ketika itu tidak mengerti dan menonton. Orang dari Desa Duda, nonton ke sini. Sengaja datang untuk menonton banjir. Terlihat ketidaktahuan warga ketika itu kan?

Tetapi kepanikan akibat ledakan informasi tahun lalu kan memicu kerugian material warga. Komentar bapak?

Ya, ketika tahun lalu, sapi, ayam babi, semua dijual murah. Karena lari berhamburan. Termasuk saya juga lari karena takut tidak seperti dahulu. Lahar sudah datang, masih bisa ditonton. Karena tidak tahu kalau itu berbahaya. Berani karena kita tidak tahu. Kalau sekarang, karena kita sudah mengerti, dan diberi tahu, oleh pemberitaan, harus lari.

Tidak lagi memperhitungkan apapun juga. Materi yang dimiliki ditinggal saja, yang penting nyawa. Pemikirannya jadi seperti itu. Lebih penting menyelamatkan nyawa. Material yang kita punya adalah ajakan duniawi. Yang tidak langgeng, tinggalkan saja. Jadi positifnya begitu, nyawa yang diutamakan. Bukan material yang diselamatkan.

Memangnya dulu karena punya sapi?

Saya waktu itu mau upacara 6 bulanan anak saya si Komang yang lahir tahun 1962. Sudah beli babi dua ekor untuk diguling.Sudah punya beras sekarung. Zaman itu belum ada mesin giling. Bikin berasnya masih tradisional, ditumbuk pakai lesung dan alu. Karena harus lari, babi ditinggal, beras sekarung juga ditinggal.

Yang saya selamatkan itu lontar, keris pusaka. Itu benda yang saya bawa. Sebab saya berpikir, lontar ini tidak akan bisa dibeli di mana-mana lagi. Kalaupun dapat membeli tidak asli warisan kita. Itu alasan kenapa saya membawanya satu lemari. Saat kejadian tahun lalu, benda-benda itu kembali saya ungsikan. Sampai sekarang masih diungsikan di Kelungah (tempat mengungsi).

Jadi dua kali diselamatkan?

Iya dua kali diselamatkan. Keris pusaka diselamatkan, di mana mau mencari? Kalau beras itu, akan diberikan oleh pemerintah. Kalau rumah yang rusak, ketika sudah aman kan bisa diperbaiki.

Bagaimana melihat penanganan pengungsi yang sekarang?

Kalau sekarang ya terus terang karena saya juga mengungsi, tetapi hanya didaftarkan. Tidak pernah mendapatkan perhatian, tidak pernah mendapatkan bantuan. Tidak ada yang bertanya juga, didaftarkan saja.

Di mana bapak mengungsi waktu itu?

Saya mengungsi di Kelungah, di tempat menantu. Jika seperti tahun 1963, bantuan dibagikan. Beras dibagikan, lauk pauk dibagikan. Kita memasak masing-masing. Jika cara pembagiannya seperti itu, maunya saya minta. Karena sekarang yang dibagikan adalah nasi bungkus dan harus mengambil di balai banjar sementara jarak saya dari balai banjar itu sekitar 700 m saya lebih memilih untuk makan di rumah.

Di tahun 1963, bagaimana cara penangannnya?

Waktu itu ada panitia bernama Komando Operasi Gunung Agung (KOGA). Bantuannya dari PBB. Semua bantuan yang diterima Ketua KOGA ditaruh di satu tempat di sebuah gudang. Pengungsi disuruh mengambil menggunakan kartu. Misalnya saya 4 orang. Juka, misalnya, kebutuhan 1 orang untuk seminggu itu 3 kg maka dikalikan 4. Dicatat di kartu. Misalnya, saya Wayan Gede, 4 orang, dapat beras 3 kg kali 4 jadi 12 kg. Lauk pauk sekian, sampai selimut diberikan. Semua yang diberikan termuat dalam kartu tersebut.

Lalu diingatkan bawa kebutuhan ini untuk satu minggu. Setelah itu kembali lagi ke sini dan saat ke sini ingat bawa kartunya. Waktu itu sangat rapi. Zaman itu persoalannya hanya kita harus berjalan karena tidak ada kendaraan. Sarana komunikasi juga tidak ada. Jadi, ketika ke sana tinggal ambil antrean dan kemudian dipanggil, disuruh masuk, memperlihatkan kartu. Lalu mereka yang menimbangkan (beras).

Setelah itu mereka tanda tangan, kartu dikembalikan dengan barang bantuan jatah para pengungsi. Kemudian diberikan tanggal kapan bisa kembali lagi. Administrasinya rapi walaupun dalam kondisi terbatas. Pengungsi benar-benar terlayani.

Kalau sekarang sudah terlalu heboh bersoraknya. Terlalu banyak kehebohannya. Jika dulu tidak ada yang heboh berteriak. Pengungsi tenang. Mereka menerima. Zaman itu, tidak ada kehebohan yg tidak perlu.

Terus terang saja, pada erupsi yang dulu, khusus untuk masyarakat Desa Sebudi. Sudah kembali pulang ke desa dari pengungsian namun masih mendapatkan bantuan.

Waktu itu pertanian benar-benar mati, ya?

Ya, ketika itu rakyat Desa Selat sudah pulang dari pengungsian, Desa Sebudi juga sudah pulang. Khusus untuk rakyat Desa Sebudi masih mendapatkan bantuan, jagung, beras. Bantuan itu saya manfaatkan untuk mengajak warga bergotong royong memperbaiki jalan.

Tentang alat komunikasi tradisional, kentongan itu digunakan tidak?

Ya, digunakan. Semua dibunyikan.

Kalau di Selat mengungsinya setelah atau sebelum ledakan?

Setelah ledakan baru warga Desa Selat mengungsi, sesudah banjir lahar panas. Ketika itu warga masih melaksanakan hari raya ngusaba dodol. Semua sesaji dipenuhi abu. Setelah ngusaba, akan datang Hari Raya Galungan.

Dua hari sebelum Hari Raya Galungan, saat penyajaan, orang masih sibuk membuat kue untuk Galungan. Pada saat itulah Gunung Agung meledak. Keluar lahar panas. Warga lari, tidak jadi merayakan Galungan.

Jadi ada dua periode mengungsi ketika itu?

Iya. Yang pertama ketika ledakan asap dan abu, warga lari sampai di Desa Selat. Tapi mengungsi ketika itu belum mendapatkan bantuan. Ketika itu Badan Pembelian Padi (BPP) memiliki beras. Beras itulah yang diambil untuk dipakai oleh warga yang lari ke Desa Selat.

Karena tenang, pulanglah warga. Pemahamannya dewa sedang bekerja, kenapa kita lari. Yang disambut itu banjir air, tapi airnya hangat. Belum api. Setelah selesai banjir itu, semua warga mempersiapkan untuk Hari Raya Galungan. Tiba-tiba gempa besar terjadi sekitar pukul 4 pagi. Terdengar suara gemuruh besar, tetapi Batu Gambar, puncak sisi sebelah selatan itu belum jebol. Masih tinggi.

Saya menonton dari depan kantor koramil sekarang. Api sudah mulai naik. Saya berpikir Batu Gambar tidak akan pecah dan letusan tidak akan sampai ke Desa Selat. Tahu-tahu batunya pecah, baru bersiap-siap lari. Belum sampai di Pedadakan, baru sampai di depan hotel, sudah disergap oleh abu tebal, tidak terlihat apa-apa. Jadi saya masuk ke hotel waktu itu.

Sudah mulai terang, remang-remang. Baru melanjutkan perjalanan. Larilah lewat pematang sawah. Sampai di Telengis, menyebrang ke Padang Tunggal. Lagi terang dan gelap berulang kali. Setelah keluarga saya aman, saya kembali ke desa saya, Selat. Saat itulah saya melihat api menjalar dapur di Jro Gede.

Untuk mencegah api menjalar ke desa, kami mendorong dapur itu agar jatuh ke sungai yang sudah dialiri lahar, agar terbakar di sana. Maksudnya untuk memutus aliran api. Di sini warga semua lari berhamburan. Ketika itu, berani berlaku seperti itu karena tidak tahu. Sekarang, setelah tahu dan ada pemberitaan, takut. Termasuk saya juga takut sekarang.

Itu kenapa, ketika ada pemberitaan gunung akan meletus, saya segera ikut mengungsi. Kalau sekarang tidak berani saya membantu memutus aliran api. Dengan mendorong dapur yang sudah terbakar. Padahal jelas-jelas di sebelah barat, lahar panas sudah mengalir. Adik saya, sampai kena lahar kakinya akibat masuk ke luapan lahar. Sampai terkelupas kulit kakinya. Itulah akibat ketidaktahuan kami ketika itu.

Kalau di Desa Selat kan ada kulkul pengendehan?

Itulah yang dipukul, tapi warga lari ketika itu tanpa ada yang mengarahkan harus lari ke mana. Hanya sinyal untuk mengabarkan situasi bahaya.

Masih kentongan itu?

Masih sampai sekarang di sebelah timur pasar. Awalnya di pasar, tetapi dipindah ke sebelah timur pasar ketika pasar diperbaiki. Di sana banyak warga meninggal. Bisa dilihat di monumen kantor desa. Ledakan 17 Maret menghabiskan Tukad Lenggung Sebudi hancur. Pada Mei, tanggalnya saya lupa, meledak lagi sekali, baru kena Dusun Abian Tiing dan Tegeh. Letusannya memutus jembatan di Pedadakan. Itu ledakannya masih sama seperti 17 Maret.

Waktu itu sudah banyak warga kembali untuk bercocok tanam, memperbaiki rumah, sementara warga Desa Sebudi belum. Ternyata meletus lagi, menghabiskan Dusun Abian Tiing. Sebenarnya waktu itu, desa di sini masih kawasan yang harus dikosongkan, makanya banyak tentara berjaga-jaga. Namun, karena sungkan di tempat pengungsian makanya pulang untuk mencuci dan menyertika.

Saat sore, sudah diimbau oleh aparat untuk kembali ke pengungsian. Ketika dalam perjalanan kembali ke pengungsian, baru sampai depan banjar Bangbang Biaung ledakan besar kedua terjadi. Sore sekitar pukul setengah 6, meledak lagi sekali setelah 2 bulan tenang.

Saat saya lihat ke utara, kearah Gunung Agung, ledakan api sudah besar sekali. Larilah saya dari Bambang Biaung ke Padang Tunggal. Rasanya (kaki) seperti putus. Apalagi jalan belum seperti sekarang ini. Ketika itu bersama istri saya yang sedang hamil sampai akhirnya keguguran.

Sampai di jembatan Padang Tunggal. Saya beristirahat, ambil napas. Tidak pernah saya melihat api sebesar itu. Ledakan pada Mei itulah, baru Desa Tegeh terkena lahar, Pura Panti dan Banjar di Abian Tiing tertimbun lahar. Terus mengalir ke selatan, ke Tabia, sampai tembus Pedadakan, mengalir ke selatan ke Pedadakan sampai ke sebelah utara sungai Cenana berhenti di sana laharnya.

Jadi kalau banjar Telengis itu memang tidak terkena?

Memang tidak kena karena lahar sudah berhenti di sebelah utara sungai. Sementara pada ledakan 17 Maret itu juga berhenti di sebelah utara sungai. Di dekat bukit yang ada di Iseh, Bukit Bisbis. Makanya Telengis dan Iseh selamat tidak terkena dampak lahar. Di Iseh kami bisa mencari buruh untuk menguburkan korban erupsi.

Jadi warga di Iseh dan di Telengis tidak mengungsi ketika itu?

Mereka tidak ada yang mengungsi, justru mereka menerima pengungsi. Intinya, seperti saya katakan tadi. Dahulu berani karena tidak tahu, sekarang takut karena tahu. Belum lagi ditambah pemberitaan, semakin besarlah rasa takutnya. [b]

Editor: Anton Muhajir

Artikel ini merupakan bagian dari beasiswa liputan mendalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong 2018 bekerja sama dengan Mongabay Indonesia.