PLTS Kayubihi, Contoh Keberhasilan Listrik Tenaga Matahari

PLTS Kayubihi di Bangli yang masih berjalan hingga saat ini. Foto Anton Muhajir.

Proyek energi matahari justru berhasil di daerah sejuk ini.

Dibandingkan kabupaten lain di Bali, Bangli termasuk wilayah berhawa sejuk. Bangli satu-satunya kabupaten di Provinsi Bali yang tidak memiliki pantai karena lokasinya di tengah pulau.

Suhu Bangli berkisar 25 derajat Celcius dengan kelembapan berkisar 85 persen pada bulan-bulan ini. Begitu pula wilayah lain di kabupaten seluas kira-kira 520 km persegi, kurang dari 10 persen luas Pulau Bali, ini.

Namun, dengan panas sinar matahari yang tidak setinggi kabupaten lain itu, Bangli justru menjadi lokasi percobaan (pilot project) rencana ambisius nasional pada 2013. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu, Jero Wacik, meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 1MWp di Bangli, yang juga tanah kelahirannya.

Selain di Bangli, lokasi percontohan lain saat itu adalah di Kubu, Kabupaten Karangasem dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Bali sendiri, PLTS lain juga berada di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung di mana terdapat juga Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Namun, baik PLTS di Kubu maupun PLTS dan PLTB di Nusa Penida saat ini tidak lagi berfungsi dengan baik. Justru PLTS di Bangli yang kini masih beroperasi dan bahkan menjual dayanya ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).

PLTS Bangli berada di Banjar Banglet, Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli. Jaraknya sekitar 11 km dari ibu kota kabupaten. Persis di pinggir jalan raya dari arah Bangli ke Kintamani. Karena itu dia lebih dikenal dengan nama PLTS Kayubihi. Kompleks PLTS Kayubihi berada di lahan seluas 2 hektar bekas lahan tempat pembuangan sampah dengan 1 hektar untuk 500 panel surya masing-masing berkekuatan 200 watt.

Ahir Mei lalu, lima pegawai PLTS Bangli sedang membersihkan rerumputan di sekitar panel surya. “Hanya perawatan rutin. Biar sekeliling panel tetap bersih,” kata I Wayan Yusdiantara, operator PLTS Bangli yang ikut bersih-bersih pagi itu.

PLTS Kayubihi memiliki enam pegawai untuk administrasi, operator, dan pembersih. Semuanya berasal dari desa setempat.

Yusdiantara termasuk salah satu dari tiga staf PLTS Kayubihi yang pernah ikut pelatihan di Kementerian ESDM sekitar enam bulan lalu. Selama dua minggu, Yusdiantara dan dua temannya belajar tentang dasar-dasar energi baru dan terbarukan (EBT) terutama PLTS. Misalnya standar prosedur dan perawatan PLTS.

Dia memberikan contoh standar prosedur itu misalnya alat-alat perlindungan, seperti sepatu dan helm, saat membersihkan areal solar panel. Adapun perawatan lebih banyak hanya pemeriksaan solar panel dan perangkat lain agar PLTS bisa tetap menghasilkan daya. “Tidak ada perawatan khusus karena sudah berfungsi dengan baik,” lanjutnya.

PLTS Bangli menggunakan sistem on grid, daya dari PLTS langsung disambungkan ke jaringan milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Panas matahari dari panel surya diubah menjadi listrik oleh 50 inventor untuk kemudian dikumpulkan di gardu distribusi. Gardu itu yang kemudian menyalurkannya ke jaringan PLN.

Penyimpanan daya dari panel surya ke pembangkit milik PLN. Foto Anton Muhajir.

Keseriusan Pemda

Pada Februari 2018 lalu, PLN Distribusi Bali menandatangani kerja sama pembelian daya dari PLTS Kayubihi. Menurut I Gusti Ketut Putra, Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Bali, PLN bisa membeli listrik dari PLTS Kayubihi setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli membentuk perusahaan daerah (Perusda) untuk mengelola PLTS Kayubihi.

“Aturannya memang begitu, PLN harus membeli dari perusda sehingga sifatnya membeli dari BUMD ke BUMN, bukan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat,” kata Putra.

Harga pembelian daya sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 39 tahun 2017. Menurut lampiran Permen tentang Pelaksanaan Kegiatan Fisik Pemanfaatan Energi Baru dan Energi Terbarukan serta Konservasi Energi itu nilai pembelian listrik dari PLTS adalah Rp 750 per kwh.

Lama kontrak pembelian adalah lima tahun dan bisa diperpanjang.

Adanya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mengelola PLTS Kayubihi menjadi salah satu kunci keberhasilan PLTS pertama di Indonesia ini tetap berjalan. Tidak seperti di PLTS Kubu serta PLTB dan PLTS Nusa Penida yang masih terkatung-katung karena tidak ada Perusda yang mengelola setelah diresmikan Kementerian ESDM pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Perusda pengelola PLTS Kayubihi menggunakan nama dari moto Kabupaten Bangli yaitu Bhukti Mukti Bhakti. Moto ini bermakna pengabdian kepada Tuhan dan Tanah Air untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Menurut Direktur Perusda Bhukti Mukti Bhakti Gusti Gede Satria pembentukan perusda menunjukkan keseriusan Pemkab Bangli untuk mengelola PLTS Kayubihi. “Koordinasi yang bagus lintas sektoral membuat proses pembentukan perusda dan pengelolaan jadi lebih mudah,” katanya.

Satria menambahkan keberhasilan pengelolaan PLTS Kayubihi juga terjadi karena ada kemauan bersama parapihak. “Kebetulan orang-orang di belakang meja juga mau bekerja sama, tidak hanya cari aman. Jadi bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.

Saat ini, PLTS Kayubihi menghasilkan 1,2 juta kwh per tahun. Menurut Deputi Manajer Perencanaan PLN Bali I Putu Priyatna, jumlah daya yang dihasilkan itu hanya 11 persen dari potensi. Idealnya, bisa mencapai 20 persen. “Mungkin karena kondisi cuaca di sana kurang bagus,” katanya.

Karena sistemnya on grid, maka PLTS Kayubihi juga tidak memiliki baterai penyimpan daya. Hal ini juga turut mempengaruhi berkurangnya capacity vector PLTS Kayubihi.

Petugas membersihkan rumput di sekitar panel surya di PLTS Kayubihi. Foto Anton Muhajir.

Tak Bisa Dibendung

Secara umum, Priyatna mengatakan, Bangli memang tidak sebagus Kubu, Karangasem dalam hal potensi panas matahari. Bangli lebih sering mendung karena memang berada di daerah ketinggian sedangkan PLTS Kubu berada di dekat pantai.

“Dari awal, pembangunan PLTS Kubu dan Kayubihi memang sebagai tempat penelitian untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” ujar Priyatna.

Gede Satria berpendapat serupa. Sebagai PLTS pertama di Indonesia, PLTS Kayubihi jangan hanya dilihat dari nilai komersialnya tetapi juga dari nilai tak terlihat (intangible) yang dia hasilkan. Saat ini PLTS Kayubihi menjadi tempat belajar mahasiswa, termasuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Udayana Bali, dan lain-lain.

Data-data dari PLTS Kayubihi juga digunakan oleh Kementerian ESDM untuk bahan pengembangan PLTS di daerah lain, seperti Gorontalo. “Biarkan PLTS ini menjadi tempat mencari pengetahuan dan pengalaman,” katanya.

Melalui pengalaman PLTS Kayubihi, Satria berharap, semua pihak terkait bisa belajar bagaimana mengembangkan proyek energi terbarukan di Indonesia. “Kita tahu sendirilah bagaimana pengembangan energi terbarukan di Indonesia, tetapi kita tidak boleh putus asa,” lanjutnya.

Satria mengatakan banyak faktor turut berperan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Multikompleks. Namun, menurutnya, proses itu tidak semudah sekaligus tidak sesusah yang dibayangkan. Tergantung kemauan bersama parapihak. Tidak hanya pemerintah tetapi juga konsumen.

Sebagai konsumen, masyarakat, misalnya, harus terus meningkatkan permintaan terhadap energi terbarukan. “Kita harus menggunakan energi terbarukan agar tidak tergantung pada energi minyak. Energi terbarukan saya lihat seperti HP (ponsel). Ini teknologi yang tidak bisa dibendung. Pada akhirnya, zaman yang akan membuat kita harus menggunakan energi terbarukan,” tambahnya. [b]

Catatan: artikel ini juga terbit di Mongabay Indonesia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*