PlastikDetox, Pinjam Alat Makan demi Kelestarian Lingkungan

#ALATMAKAN #SEKALIPAKAI #SINGLEUSE #EVENT #KURANGISAMPAH #BALI
Nurvitria, salah satu pengunjung Sunday Market Sanur melakukan deposit alat makan untuk beli siomay. Dia deposit piring dan sendok garpu.

Dengan meminjam peralatan makanan, kita bisa menyelamatkan lingkungan.

Bulan kelimabelas. Pertama kalinya PlastikDetox menerapkan uji coba peminjaman alat makan berbayar di Sunday Market Sanur. Sistem ini kemudian diberi nama sistem deposit. PlastikDetox secara sukarela menyediakan alat makan itu masing-masing 100 set, pada Minggu (28/10) lalu.

Ada piring, mangkok, sendok, garpu dan gelas berbahan stainless steel. Semua itu ditempatkan di sebuah meja yang dilengkapi dengan petunjuk cara deposit. Pengunjung di area makanan bisa deposit alat makan seharga Rp 10.000 per item, kecuali sendok dan garpu masing-masing seharga Rp 5.000.

Pengunjung yang memiliki rencana untuk membeli makanan, mereka bisa deposit alat makan yang diperlukan. Kemudian, mereka ke penjual makanan, memberikan alat makan ini ke pedagang agar makanannya ditaruh di tempat itu. Setelah itu, ketika mereka selesai makan, alat makan dikembalikan, maka uang mereka akan kembali.

Pagi itu, pertama kali deposit ini diterapkan, belum semua sadar, mengerti dan mau mencobanya. Ada pengunjung yang melihat dan membaca petunjuk deposit di stan kami dari kejauhan lalu pergi. Namun, ada juga yang kemudian mendekat, bertanya dan melakukan deposit.

“Wah ini ide bagus, baru pertama kali kami temui,” ujar seorang pengunjung pasar.

Deposit ini dilakukan selama 8 jam dari pukul 09.30 – 17.30 Wita. Selama itu, total 50 alat makan yang dipinjam oleh 24 pembeli yaitu 7 piring, 2 mangkok, 27 gelas, 1 gelas kopi, 8 sendok dan 5 garpu. Melalui itu, bisa dihitung bahwa PlastikDetox telah membantu mengurangi 50 buah potensi sampah alat makan sekali pakai. Ini belum terhitung, ada orang yang menggunakan alat makan lebih dari sekali makan dan minum.

Oh ya, hasil ini didapatkan sebelum adanya pengumuman detail melalui luring (offline) maupun daring (online).

Kesulitan yang masih dialami PlastikDetox yaitu kurangnya tempat untuk cuci langsung alat makan di lokasi. Ini menyebabkan, tim PlastikDetox harus membawa alat makan kotor ini pulang untuk dibersihkan. Biarpun masih uji coba dan jumlah alat makan yang dipakai masih sedikit, tapi ini harus dipikirkan ke depannya.

Uji coba ini menunjukkan adanya ketertarikan pengunjung untuk menggunakan alat makan dipakai ulang. Meskipun masih terasa asing, tapi kalau sudah kenal kan jadi sayang toh. Susahnya memang dari awal, bukankah lebih baik demikian? [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*