Ringkasan Hasil Penelitian Unud tentang Teluk Benoa

LPPM Unud

Rencana pembangunan di Teluk Benoa masih jadi kontroversi.

Pembangunan di Teluk Benoa, Badung tersebut menurut rencana akan dilakukan PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT. TWBI). Salah satu dasarnya adalah studi kelayakan yang dilakukan oleh Universitas Udayana (Unud), tepatnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).

Menurut website LPPM Unud, Tim Studi Kelayakan Revitalisasi Kawasan Teluk Benoa Bali ini diketuai Ida Bagus Putu Adnyana, ST., MT. Adapun anggota di sana adalah Ir. Mayun Nadiasa, MT, Ir. IGN. Dirgayusa, MT, Ir. IGB. Sila Darma, MT., Ph.D, IGN. Kerta Arsana, Prof. Ir. I W. Redana, MASc., PhD., Ir. Putu Preantjaya, MT, Ir. IGM.. Konsukarta, MT, Dr. Ir. I Wayan Parwata, Dr. Ir. I Wayan Suweda, M. Phil, Drs. I Nyoman Wiratmaja, M..Si, I Ketut Sudarsana, ST., Ph.D, N.K. Acuwin Dwijendra, ST., MASc, dan I Made Harta Wijaya, ST., MT.

Silakan baca di Surat Undangan Rapat Koordinasi ini biar tahu siapa saja tim riset tersebut.

Kerja sama riset LPPM Unud ini selama lima tahun yaitu mulai 12 September 2012 hingga 12 September 2017 mendatang.

Hasil penelitian tersebut berjudul Rencana Pemanfaatan dan Pengembangan Kawasan Perairan Teluk Benoa, Bali. Laporan ini terdiri dari empat bab yang membahas Identitas Pemohon, Lokasi dan Aspek Pembangunan kawasan Teluk Benoa, Rencana Pemanfaatan dan Pengembangan, serta Penutup.

Tulisan berikut hanya ringkasan terutama pada bagian-bagian yang menurut saya perlu diperhatikan.

Pesanan
Riset LPPM Unud merupakan pesanan dari PT TWBI. Di halaman 1 laporan ini dijelaskan siapa itu PT TWBI. PT TWBI merupakan perusahaan di bidang pengembangan, pembangunan, dan jasa pengelolaan usaha terkait properti. Perusahaan ini berkantor di Badung, Bali. Pengurusnya adalah Hendi Lukman sebagai direktur dan Henry Handayani Sutanto sebagai komisaris.

Hendi Lukman sebagai Direktur PT TWBI juga Direktur Pengembangan Usaha PT Jakarta International Hotels dan Development Tbk. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1969 ini membangun dan mengelola hotel. Mereka juga mengelola perkantoran, pertokoan, apartemen, dan pusat niaga beserta fasilitas-fasilitasnya.

PT Jakarta International adalah pemilik Hotel Borobudur Jakarta, Discovery Hotel & Resort Management, dan PT Danayasa Arthama TBK. Nama terakhir adalah pengembang dan pengelola kawasan niaga terpadu Sudirman, SCBD Sudirman, Jakarta Selatan.

Henry Handayani Sutanto sebagai komisaris PT TWBI juga menjabat sebagai PT Kharisma Arya Paksi, pemilik Hotel Discovery Kartika Plaza dan Discovery Shopping Mall di Kuta yang lebih sering dikenal dengan nama Centro. Kini, PT TWBI ingin menambah aset mereka di Bali dengan membangun kawasan wisata di Teluk Benoa.

Menurut riset ini, pembangunan tersebut akan mengedepankan konsep Green Development dan memerhatikan kearifan Bali.

teluk-benoa

Alasan
Rencana pemanfaatan dan pengembangan kawasan perairan Teluk Benoa ini, menurut riset tersebut, akan menjawab isu-isu strategis dalam rencana strategi wilayah pesisir dan pulau kecil di Bali. Isu yang bisa ditangani tersebut adalah kerusakan ekosistem pesisir, bencana alam dan dampak perubahan iklim global, kerusakan fisik pantai baik erosi maupun abrasi, terbatasnya sarana prasrana di wilayah pesisir serta lemahnya pemberdayaan adat.

Berikut penjelasan dari masing-masing isu tersebut.

Kerusakan ekosistem mangrove ditingkatkan melalui penanaman kembali di daerah yang merupakan zonasi hutan mangrove. Selain mangrove, sasaran yang ingin dicapai adalah pelestarian padang lamun.

Rencana pembangunan di Teluk Benoa juga diharapkanbisa mengurangi dampak bencana tsunami. Fasilitas baru diharapkan bisa menjadi pelindung sekaligus tempat evakuasi jika terjadi tsunami. Perubahan iklim juga bisa diatasi dengan penanaman mangrove kembali sekaligus menciptakan kawasan hijau di sini.

Selain itu, pembangunan fasilitas pariwisata ini juga diklaim akan mengurangi kerusakan fisik pantai akibat abrasi. Di teluk ini terdapat pulau kecil bernama Pulau Pudut. Awalnya pulau ini luasnya 8 ha. Namun kini hanya tinggal 1 ha. Reklamasi di sini akan merehabilitasi pulau tersebut.

Konsep pembangunan di Teluk Benoa akan dilakukan dengan mengacu pada green development, menciptakan ikon pariwisata baru, menerapkan nilai-nilai budaya Bali, pariwisata untuk Bali bukan Bali untuk pariwisata, dan kerja sama pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Lokasi pembangunan ini adalah wilayah pasang surut yang berbatasan dengan Pelabuhan Laut Benoa di utara, Desa Tanjung Benoa dan Desa Tengkulung di sisi timur, Desa Bualu di sebelah selatan, dan Desa Jimbaran di sisi barat.

Jalan Pintas
Bagian selanjutnya dari laporan setebal 73 halaman ini membahas hasil kajian tim peneliti. Kajian pemanfaatan tersebut ditinjau dari aspek teknis, lingkungan, dan sosial budaya.

Namanya saja aspek teknis, maka kajian dan penjelasannya sangat teknis. Saya yakin cuma orang teknik yang mengerti urusan seperti oceanografi, geoteknik, pembangkitan gelombang, elevasi lahan reklamasi, dan seterusnya. Salah satu poin penting di bagian ini adalah bahwa seluruh transportasi proses reklamasi di teluk ini akan dilakukan lewat laut.

Materi untuk reklamasi ini akan diambil dari perairan Pantai Sawangan, sekitar 800 meter dari Pantai Sawangan di daerah Ungasan. Lokasi ini berupa palung sedalam 40-60 meter.

Namun, investor akan membangun jalan baru selain Jalan Pratama yang selama ini menghubungkan Nusa Dua dan Tanjung Benoa. Jalan pintas ini meliputi akses ke timur melalui Pulau Pudut ke Desa Adat Benoa. Akses ke timur lainnya ke Desa Tengkulung. Akan ada pula akses ke persimpangan Nusa Dua.

Jalur ke barat melalui Jalan Tol di Atas Perairan ke arah Tuban dan Bandara Ngurah Rai. Adapun akses ke utara melewati JDP Nusa Dua – Bandara – Benoa dan juga lintasan laut Pelabuhan Benoa ke Denpasar Selatan.

Untuk aspek lingkungan hidup, laporan ini membahas kualitas udara, air laut, ekosistem pesisir, serta flora dan fauna. Sama saja. Bagian ini juga sangat teknis membahas aneka tanaman dan hewan yang hidup di Teluk Benoa dan Pantai Sawangan.

Namun, tidak ada poin apakah pembangunan Teluk Benoa akan berdampak terhadap ekosistem tersebut.

Bab aspek teknis ini ditutup pula dengan kajian aspek sosial budaya. Menurut saya sih pada bagian ini pembahasannya sangat umum. Misalnya bahwa proyek besar ini akan bisa menjaga keharmonisan, menumbuhkan rasa memiliki, sinergi dan simbiosis mutualisme, pemerataan dan pemberdayaan, dan seterusnya.

Sebagai contoh adalah perlunya proyek ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Pembangunan Teluk Benoa juga diminta untuk tidak mematikan usaha yang sudah ada, seperti wisata air, usaha kecil menengah, dan semacamnya. Proyek ini juga akan memberdayakan masyarakat lokal meskipun tak jelas apa bentuk pemberdayaan tersebut.

Bagian ini juga membahas dampak positif dan negatif proyek meskipun hanya dalam dua paragraf. Dampak positif tersebut antara lain peningkatan ekonomi warga serta pelestarian budaya masyarakat seperti keagamaan dan adat istiadat. Adapun dampak negatif antara lain kemungkinan penolakan masyarakat lokal, konflik kepentingan di antara pemangku kepentingan, serta munculnya praktik perjudian, prostitusi, dan penyalahgunaan seks.

Pengembangan
Lalu, sampailah pada bagian terpenting dari laporan ini, rencana pemanfaatan dan pengembangan. Rencana tersebut antara lain penghijauan, tempat ibadah, taman budaya, taman rekreasi, fasilitas sosial dan fasilitas umum, tempat tinggal dan akomodasi, tempat komersial, hall multifungsi, dan fasilitas olahraga.

Mari bahas satu per satu.

Penghijauan di kawasan baru ini akan sampai 50 persen, baik di kawasan publik maupun privat. Tidak ada bahasan lebih detail bagaimana penghijauan ini akan dilaksanakan.

Tempat ibadah akan dibangun di tempat baru ini dengan memerhatikan semua agama di Indonesia. Namun, yang paling dominan adalah pura.

Tempat wisata baru ini akan dilengkapi taman budaya yang secara rutin akan menampilkan kesenian, tari-tarian, budaya, dan cirikhas yang hanya ada di Bali. Taman budaya ini diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian, pertahanan budaya Bali. Taman budaya juga diharapkan akan menghasilkan pemasukan layak sehingga memberikan penghidupan layak bagi pelaku seni dan budaya Bali.

Taman Rekreasi yang akan dibangun nantinya akan sekelas Disneyland. Taman rekreasi baru ini akan menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali.

Ehem! Mendadak saya teringat kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dulu juga digadang-gadang akan jadi landmark Bali seperti Menara Eifel bagi Paris. Apa kabarnya ya?

Selanjutnya adalah fasilitas sosial dan umum. Di tempat baru ini akan dibangun pula rumah sakit dan perguruan tinggi.

Dalam kawasan baru ini juga akan dibangun perumahan marina dan perumahan pinggir pantai. Perumahan marina ini akan memiliki akses langsung ke dermaga laut sehingga memungkinkan kapal atau yacht untuk bersandar. Akomodasi lain yang akan dibangun adalah apartemen dan hotel.

Tempat komersial yang dimaksud di sini ya mall. Tempat belanja ini, menurut riset tersebut, akan mengutamakan produk lokal seperti kerajinan, lukisan, dan lain-lain.

Bagian selanjutnya yang akan dibangun di kawasan baru adalah hall multifungsi yang akan menjadi tempat pertemuan maupun pertunjukan. Acara-acara musik seperti konser dan orkestra akan dilaksanakan di hall ini.

Terakhir, tempat lain yang akan dibangun adalah fasilitas olahraga. Bukan. Tentu saja bukan lapangan sepak bola tapi lapangan golf. Alasannya karena golf adalah olahraga yang memadukan berbagai aspek kesehatan, pariwisata, alam terbuka dan komersial.

Dan, begitulah kurang lebih ringkasan laporan riset LPPM Unud soal rencana PT TWBI untuk membangun fasilitas pariwisata yang mewah tersebut. Di bagian penutup, tentu saja para peneliti Unud ini memberikan satu kalimat kunci yang ditunggu-tunggu pemesan riset ini, “Ide rencana pemanfaatan dan pengembangan kawasan perairan Teluk Benoa setelah dikaji secara akademis oleh LPPM Unud, pada prinsipnya BISA DITERUSKAN.” (sengaja dua kata itu dikapitalkan, biar jelas poin penting rekomendasi tersebut.

Kalimat penutup laporan ini pun jelas sekali, “Besar harapan PT Tirta Wahana Bali Internasional untuk mendapatkan izin pemanfaatan dan pengembangan kawasan perairan Teluk Benoa. Sekian dan terima kasih.” [b]

9 Comments

  1. kebetulan sebagai jasa 3d pernah membuat gambar masterplan benoa, apakah rencananya seperti ini ? semoga bisa memberikan gambaran tentang teluk benoa tersebut, suksma

  2. “mengedepankan konsep Green Development dan memerhatikan kearifan Bali”

    Entah berapa judul studi memakai kata-kata diatas, mungkin saja copy paste, dan hasil studi pun bisa saja copy paste. Mengerikan 😐

  3. Tempat wisata baru ini akan dilengkapi taman budaya yang secara rutin akan menampilkan kesenian, tari-tarian, budaya, dan cirikhas yang hanya ada di Bali. Taman budaya ini diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian, pertahanan budaya Bali. Taman budaya juga diharapkan akan menghasilkan pemasukan layak sehingga memberikan penghidupan layak bagi pelaku seni dan budaya Bali.

    *** Benarkah? Yakinkah? Bagaimana kalau Art Centre saja kita optimalkan….

  4. yak, beberapa nama diatas bisa dihunting lewat Fakultas Teknik baik Sipil maupun Arsitektur… kira-kira kalo sudah begini, bisa dimintakan pendapat mereka secara pribadi gag yah ?

  5. Oka Wirawan

    Kalo model gitu sih bukan riset ,proposal proyek ni tinggal tambah investasi sekian, kembali modal sekian tahun,ROI sekian %….. luar biasa ilmu sulap nya…

  6. Yuanita Ramadhani

    aduuuhhh…. UNUD aja udah gak independent, bisa bikin hasil tanpa riset tapi berdasarkan pesanan….
    iiihhh ngeri ngebayangin Bali 10-20 th kedepan,…

  7. pasirputihbali

    Saya malu menjadi alumni Udayana semenjak mencuatnya berita ini. sebelum kajian dilaksanakan, apakah tidak dilakukan kajian awal oleh bos-bos di LPM ini bahwa ada perpres Sarbagita yang menetapkan kawasan tersebut sebagai kawasan konservasi dan sejauh berita yang saya tahu bahwa UUD no 27 tahun 2007 terkait HPA3 terhadap perairan di judicial review. kemudian apa DASAR/LANDASAN untuk mau melakukan kajian tersebut oleh bapak-bapak dosen saya ini

  8. kenapa para pembuat keputusan tidak berfikir untuk mengembangkan potensi wilayah masing masing. kalau mau semua di bali selatan, nanti bali akan sangat pincang. kalau boleh saya usul…., misalnya:
    – Buleleng kota pendidikan….., semua perguruan tinggi mungkin bisa di alihkan ke buleleng.
    – Tabanan lumbung padi,……., aktivitas pertanian ada di sana.
    – badung kota pari wisata……, silahkan hotel & restaurant beserta fasilitasnya ada di sana.
    – Gianyar kota seni……….., karya seni semua ada di sana. jangan ada oleh oleh bali di badung dan denpasar.
    – dll,

    saya kira dengan demikian semua ekonomi di wilayah masing masing bergerak. mengenai pajak dan fasilitas umum, harus saling subsidi. sehingga semua bisa terjangkau oleh masyarakat Bali.

    mungkin macet, kekumuhan, kebisingan, dllnya juga bisa teratasi.

  9. Pingback: Reklamasi Teluk Benoa dan Problem Ketidakadilan Ekologis – Sarasdewi

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*