Tragedi Penghilangan Paksa 1998 dalam Film Laut Bercerita

Diskusi tentang film Laut Bercerita dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018.

Suasana mencekam dan gelap menyelimuti layar.

Sesaat kemudian suara pukulan dan orang jatuh terdengar memecahkan keheningan. Lampu kemudian menyala. Seorang lelaki berambut ikal, pendek, dan awut-awutan diseret tak berdaya ke dalam sel tahanan oleh dua orang bertubuh gempal memakai topeng.

Dari sel sebelah, lelaki seumurannya membuka satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia mengetok sel di sebelah kanannya seraya menyelipkan pakaiannya ke dalam.

Dengan susah payah pria berambut ikal tersebut merangkak dan memungut pakaian itu. Lantas ia meringkuk bergelung pada secuil kehangatan itu.

Lelaki berambut ikal tersebut Biru Laut Wibisono. Pria yang mendiami sel sebelahnya Sunu. Karena aktivitas politiknya keduanya dijebloskan di sel tahanan dan menerima beragam penyiksaan.

Biru Laut yang diperankan oleh Reza Rahardian merupakan tokoh utama cerita film pendek Laut Bercerita.

Cerita yang ia kisahkan dalam sel tahanan menjadi pemandu jalannya cerita. Rentetan peristiwa dikisahkan secara bergantian antara masa kini, saat ia dalam penjara dan masa lalunya, saat ia masih menjadi aktivis yang diburu. Pada penghujung cerita Biru Laut menemui kematiannya di suatu pagi. Ditemani deburan ombak ia melesat terjerembap di dasar lautan.
Film Laut Bercerita diputarkan di salah satu sesi Ubud Writers and Readers Festival 2018 (UWRF18) pada Jumat (26/10) malam di Taman Baca Festival.

Film pendek ini merupakan adaptasi novel dengan judul sama karya Leila S. Chudori. Sepanjang 30 menit film ini berusaha memvisualisasikan kisah dalam novel setebal 400 halaman karya kedua jurnalis TEMPO itu.

Kisah Laut Bercerita mengambil latar peristiwa sejarah tahun 1998, yakni hari-hari menjelang reformasi. Hingga hari ini puluhan aktivis yang terlibat reformasi masih hilang tak diketahui belantaranya.

Penantian Panjang

Dalam sesi diskusi seusai pemutaran film, Leila S. Chudori mengungkapkan kisah dalam novel maupun film ini berusaha merangkum rasa kehilangan keluarga dan kerabat korban penghilangan paksa. Kesedihan dan kehilangan dalam penantian panjang terhadap anak dan saudara yang tak diketahui keberadaannya, entah masih hidup atau tidak.

“Tak hanya berbicara tentang peristiwa ’98, tetapi kesedihan dan kehilangan. Perasaan seperti itu universal. Bisa dialami oleh siapa saja,” ujar Leila.

Kesedihan dan kehilangan digambarkan dengan epik melalui tokoh-tokoh di kehidupan Biru Laut, seperti adik semata wayangnya, Asmara Jati yang diperankan Ayushita Nugraha, kekasih Biru Laut Ratih Ajani yang diperankan Dian Sastrowardoyo dan kedua orang tua Biru Laut yang diperankan oleh Tio Pakusadewo dan Aryani Willems dengan arahan sutradara Pritagita Arianegara.

Pada saat yang sama Gita Fara, produser film mengatakan bahwa meski peristiwa 1998 sudah 20 tahun berlalu, film ini masih relevan dengan generasi saat ini.

“Sebagai medium untuk mengenalkan anak muda bahwa pernah terjadi peristiwa seperti ini. Juga untuk mengingatkan kembali rezim yang berkuasa perihal menuntaskan tugas mengungkap kejahatan kemanusiaan masa silam,” tutur Gita. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*