Belajar Jurnalisme Warga di Taman Baca Kesiman

Diskusi TBK
Diskusi tentang jurnalisme warga di Taman Baca Kesiman. Foto Diah Dharmapatni.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Setidaknya seperti itulah penggalan kata yang pernah diucapkan sastrawan terkemuka Indonesia, almarhum Pramoedya Ananta Toer.

Ya menulis adalah sebuah pekerjaan untuk keabadian. Namun, tak sedikit orang menganggap menulis bukanlah sesuatu hal yang penting di zaman serba canggih ini.

Hari Sabtu, 23 April 2016 lalu, Taman Baca Kesiman mengadakan kelas menarik, kelas belajar menjadi jurnalisme warga.

Menarik saya katakan, karena saat ini informasi sangat mudah bisa disampaikan seseorang melalui media sosial. Namun, terkadang cara penulisan dan bahasanya membuat beberapa orang enggan untuk membacanya. Nah, tepat sekali dengan diadakan kelas ini. Orang awam yang ingin menulis dan menyampaikan keluh kesah bisa menjadi ini sebagai alternatif pembelajaraan.

Apalagi tema yang diangkat ‘Menuliskan Suara Kaum yang Tak Bersua’. Kaum yang tak bersua saya kira di sini datang dari siapa saja. Tak perlu memandang tingkatan suatu pendidikan seseorang untuk menggolongkannya.

Mengapa demikian? Sebab tak jarang seseorang terpelajar pun masih malu bahkan enggan untuk menuliskan masalah sekitar dan keluh kesah hatinya.

Seperti yang saya katakan di awal acara ini menjadi alternatif bagi orang-orang yang mau belajar menulis yang memiliki nilai jurnalisme.

Acara ini dipandu oleh Anton Muhajir, pewarta warga dari Sloka Institute. Anton membimbing kita bagaimana cara menulis yang memiliki nilai jurnalisme.

Sebagai orang awam yang baru ingin bergabung menulis (jurnalisme warga) tentu belum mengetahui teori-teori dasar menulis. Untungnya kak Anton dengan gaya santai menjelaskan kepada peserta kelas kali ini.

Namun, dia mengingatkan bahwa menulis bukanlah berpatokan kepada teori-teori sebab tulisan akan begitu mengalir secara tak sadar jika seorang penulis memiliki kemauan yang besar.

Pada kelas kali ini memang disampaikan apa itu berita, nilai berita, jenis-jenis berita, kerangka penulisan berita, unsur berita, karakter berita, dan berbagai hal mengenai dunia tulis-menulis di sebagai jurnalisme warga.

Dalam menulis sebuah berita memang perlu mengetahui teori-teori dasarnya. Namun, jika tidak memiliki kemauan yang besar dalam menulis bisa saja tulisan itu akan terbengkalai. Saat menulis bayangkanlah ritme yang indah maka tulisan itu akan menarik.

Metropolutan

Di sela-sela pembelajaran peserta dipersilakan bertanya dan menyampaikan pendapat. Diskusi sangat diutamakan pada kelas ini. Ini yang membuat menarik. Kita bisa mempunyai hal baru dan tentu saja mempunyai teman baru yang banyak jika mengikuti kelas-kelas seperti ini.

Acara ini GRATIS atau tanpa dipungut biaya. Siapa pun bisa mengikuti acara ini. Apalagi bagi para pemuda yang ingin pergi keluar, saya rasa mengikuti kelas ini adalah pilih yang tepat.

Namun sayang, acara sebagus ini saya rasa di kota metropolutan seperti di Denpasar ini masih sepi peminat. Padahal dengan mengikuti acara ini kita dapat belajar berbagai hal seperti bagaimana cara menulis berita yang benar dan menarik bagi pembaca.

Saya berpikir, di saat ada acara sebagus ini disia-siakan bagi pemuda, apakah memang lebih menarik kehidupan glamour di luar sana? Setidaknya Taman Baca Kesiman sebagai penyelenggara acara ini sudah memberikan wadah bagi para pemuda untuk saling bertemu dan bertukar pikiran yang positif.

Tetapi pemuda belum memanfaatkannya secara maksimal.

Jika dikatakan kekurangan informasi bukankah para pemuda saat ini tidak terlepas dari media sosial? Hmm informasi acara ini sangat mudah ditemukan di media sosial, namun kendati demikian saya kira pemuda di kota ini masih acuh.

Ah, maafkan saya yang tidak bisa adil dalam berpikir ini. Saya berpikir demikian sebab sangat disayangkan acara sebagus ini hanya dihadiri beberapa orang. Sedangkan acara di luar sana yang berbayar yang hanya menunjukkan gengsi dengan mudah mereka hadiri.

Semoga saja ke depannya acara-acara diskusi bagus seperti ini dihadiri oleh pemuda-pemuda dalam jumlah yaa setidaknya lebih dari 10 orang. [b]

One Comment

  1. Pingback: » Belajar Jurnalisme Warga bersama Anton Muhajir | perpustakaan, venue, permaculture, komunitas di Bali

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*