Lelaki Kantong Sperma; Bicara Seks dengan Lugas

Suasana bincang buku Lelaki Kantong Sperma di Rumah Belajar Komunitas Mahima. Foto Dede Mas.

Pukul 21.50 Wita, 4 April 2018, saya menerima pesan di WhatsApp. Saya lihat siapa pengirimnya. Tertulis nama Pegok di pojok kiri atas. Saya sudah menduga, isi pesannya pasti undangan untuk menghadiri peluncuran buku barunya (beberapa waktu sebelumnya, ia sempat membicarakan rencana itu).

Benar saja, sebuah undangan sangat terbuka, yang dikirimkan dengan perasaan senang, saya terima.

Buku yang memuat kumpulan cerpen itu diberi judul Lelaki Kantong Sperma.

“Wih, dari judulnya saja sudah sangat berani. Apalagi isinya,” pikir saya.

Dalam obrolan terpisah, Pegok menyatakan bahwa diusungnya tema seksual dalam cerpen-cerpennya dilatarbelakangi oleh kisah nyata di desanya. Seorang laki-laki yang dianggap gila, berjalan keliling desa dengan memegang kelaminnya. Laki-laki ini tidak pernah malu ketika ada orang yang melihatnya. Bahkan, saat Pegok masih SMA, perilaku laki-laki itu sudah seperti itu.

Berbicara tentang Lelaki Kantong Sperma, tidak sempit pada ranah penciptaan sebuah cerpen semata. Tetapi juga menyinggung perilaku seks dan sisi lain dalam keseharian kita. Hal itu tergambar jelas dari 9 cerpen yang dimuat dalam karya anyar penulis yang memiliki nama asli Putu Juli Sastrawan ini.

“Aku punya konsep bahwa seksualitas itu memang harus dibicarakan. Kita tak perlu lagi malu atau menghamba pada tabu ketika membicarakan seksualitas. Tapi kebanyakan orang orang memang merasakan seakan dunia ini akan kiamat jika membicarakan seks. Padahal seks itu harus dibicarakan, bahkan sedini mungkin,” jelasnya.

Lelaki yang juga aktif sebagai pegiat literasi di @literasianakbangsa itu juga membagikan pengalamannya selama proses penulisan cerita. Menurutnya, tantangan terbesar saat menulis, adalah bagian research. Seperti di salah satu cerpen yang berjudul Aurat Si Mayat. Ia harus mendalami bagaimana karakter pada orang yang memiliki kepuasan tersendiri dalam menikmati hubungan intim dengan mayat.

“Kalau wacananya agak gawat itu disebut Necrophilia,” katanya sambil tertawa.

Selain research, fokus dan bagi waktu dengan pekerjaan yang lain juga ia rasa menjadi tantangan tersendiri.

Setelah melewati rangkaian yang cukup panjang, edit ini dan itu, akhirnya pada tanggal 7 April 2018, Lelaki Kantong Sperma resmi diluncurkan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah III No. 46 Singaraja, Bali.

Mengenang obrolan saat pertama kali berjumpa dengan Pegok, ia mengaku bahwa semasa di bangku kuliah, dirinya memang aktif juga di Mahima. Menulis, hingga terlibat menjadi tim dalam sebuah produksi pertunjukan.

Nama-nama seperti Putu Supartika, Wulan Dewi Saraswati, dan Jaswanto, malam itu hadir sebagai pembahas yang mengulas Lelaki Kantong Sperma dari berbagai sudut pandang.

Dalam ulasannya, Wulan Dewi Saraswati mengungkapkan bahwa membaca kumpulan cerpen karya Pegok ini, sangat menggugah selera. Menurutnya, Pegok mampu mengangkat tema yang selama ini tabu diperbincangkan menjadi sesuatu yang sewajarnya, dan layak dibicarakan. Bahkan, meskipun tema-tema cerpennya tentang seksualitas, tetapi kumpulan cerpen ini sangat memungkinkan juga untuk dibaca semua kalangan (termasuk anak-anak) dari latar belakang apa pun.

Wulan juga menilik posisi perempuan yang dominan sebagai objek penderita dalam kumpulan cerpen tersebut. Lebih lanjut lagi, penulis kumpulan puisi Seribu Pagi Secangkir Cinta ini mengharapkan bahwa Lelaki Kantong Sperma dapat menjadi semacam obat yang berperan untuk mencegah dan mengurangi kasus kejahatan seksual.

Sementara, menurut Jaswanto yang juga dikenal aktif di pers mahasiswa, cerita-cerita dalam Lelaki Kantong Sperma terasa menghibur. Buku ini juga tidak berusaha menggurui atau pun menyiarkan pesan-pesan bijak layaknya tokoh agama atau semacamnya. Uniknya lagi, cerita-cerita itu dirasa beragam walaupun mengusung satu tema besar, begitu santai dan enak dibaca.

Respon terhadap Lelaki Kantong Sperma tak berhenti pada bincang-bincang dan ulas-mengulas. Acara juga diramaikan dengan beberapa pertunjukan dari kelompok teater seperti Teater Kalangan, Komunitas Mahima, dan Teater Kampus Seribu Jendela. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*