Ki Hajar Dewantara Award, sebuah Penghargaan untuk Dedikasi

Ki Hajar Dewantara (KHD) Award adalah sebuah penghargaan yang diinisiasi oleh SEAMEO QITEP in Science. Untuk menghormati para guru sains yang telah berupaya untuk mengembangkan dan membawa proses belajar mengajar hingga ke tingkat yang sangat baik dan penuh kreativitas.

Siang itu saya sampai di Gedung LPMP Bali bertepatan dengan jeda menuju sharing session kedua dalam acara “International Conference on Science Education and Teacher Professional Development”. Orang-orang berpakaian rapi yang saat itu saya perkirakan sebagai peserta, menyebar di sekitar gedung. Ada yang sedang makan siang di ruang makan, mengobrol di koridor, ada juga yang berjalan sambil melihat-lihat di sekeliling.

Sambil berusaha tetap terlihat cool dan tenang di tengah kebingungan harus ke mana, saya mencoba menghubungi seorang panitia. Syukurnya ia segera datang dan bersedia menjadi kompas yang menuntun saya. Sambil mengenalkan diri dan menggambarkan sekilas tentang acara ini, kami berjalan menyusuri koridor menuju sebuah aula yang cukup besar.

Sharing session bersama Lau Chor Yam dan
Dr. Habibah Abdul Rahim. Foto arsip penyelenggara.

Ratusan kursi yang tersusun rapi belum terisi penuh saat saya sampai di aula tersebut. Para panitia tampak berada di wilayah tugas masing-masing, sementara narasumber bersiap di baris depan menunggu waktu untuk disilahkan memulai sesinya.

Berbekal buku panduan dari panitia, saya ambil posisi di deretan belakang sambil mencari tahu apa sebenarnya SEAMEO, QITEP in Science, dan Ki Hajar Dewantara Award yang terdengar asing di telinga. Dan setelah mendapat asupan dari beberapa sumber di internet pula, saya merasa tercerahkan. Istilah-istilah yang disebutkan tadi, ternyata beruhubungan dengan upaya menjawab tantangan dunia pendidikan terutama di bidang sains.

Tantangan dalam dunia pendidikan saat ini tidak hanya sebatas bagaimana memberi layanan yang adil dan merata bagi masyarakat, bagaimana menumbuhkan minat belajar dan suasana yang menyenangkan dalam prosesnya, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga pendidik sebagai upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. Sebab guru dan tenaga kependidikan diminta untuk membekali siswanya dengan kompetensi yang cukup sehingga mereka siap untuk menjadi warga dan pekerja aktif di abad ke-21.

Sebagai lembaga yang diharapkan untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan terutama di bidang sains, The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) berupaya mengatasi tantangan ini dengan mendirikan sebuah lembaga, Center of Quality Improvement of Teacher and Education Personnel  (QITEP) in Science.

QITEP in Science  menyediakan sebuah forum bagi para guru, akademisi, peneliti dan pengamat pendidikan untuk berkumpul, mendiskusikan, dan menyebarluaskan pengalaman mereka dalam memfasilitasi proses pembelajaran melalui konferensi internasional tersebut.

Konferensi yang diadakan tiap dua tahun sekali ini bertujuan untuk menyediakan program yang relevan dan berkualitas dalam pengembangan guru dan tenaga kependidikan di bidang sains melalui pengembangan kapasitas, sumber daya, penelitian dan, kolaborasi.

Konferensi yang berlangsung pada 17-19 September 2018 ini dihadiri oleh lebih dari 100 guru dari berbagai daerah yang menjadi bagian dari SEAMEO, termasuk penerima Ki Hajar Dewantara (KHD) Award.

Bertemakan “Innovation in Teaching, Learning, and Student Engagement through the Implementation of Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM)”, forum ini menghadirkan beberapa narasumber yang membagi pengalaman mereka dalam mengimplementasikan STEM di masing-masing negara. Mereka adalah Lau Chor Yam (Academy of Singapore Teacher), Dr. Habibah Abdul Rahim (Malaysia), Lee Saw Im (Malaysia) yang merupakan pemenang KHD Award edisi pertama, dan Herwin Hamid (Indonesia).

STEM sendiri merupakan singkatan dari pendekatan pembelajaran antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Pelaksanaannya dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif, melatih kerja sama, dan softskill. Pendekatan ini mampu menciptakan sebuah sistem pembelajaran secara aktif karena keempat aspek dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan masalah.

“Belajar itu bukan melalui transfer ide secara langsung dari guru kepada muridnya. Dibutuhkan pendekatan-pendekatan khusus dan beberapa mode dalam berkomunikasi,” jelas Lau Chor Yam dalam Bahasa Inggris.

Di menit-menit terakhir penyampaiannya, lebih lanjut lagi diterangkan bahwa penting pula bagaimana membuat siswa mengerti sains melalui sebuah konsep, bukan hafalan semata. Maka dari itu, upaya meningkatkan mutu pendidikan perlu dilakukan secara bertahap dan mengacu pada rencana strategis. Keterlibatan seluruh komponen pendidikan dalam perencanaan dan realisasi program sangat dibutuhkan dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan. Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan kompetensi terutama di era digital ini.

Minat siswa untuk melanjutkan karir di bidang sains, tergantung pada beberapa faktor seperti, apakah mereka menikmati pelajarannya dan merasa senang saat belajar. Pengalaman-pengalaman di dalam kelas itu yang pada akhirnya memupuk keinginan siswa tersebut akan ke arah mana nantinya. Sehingga, membuat suasana belajar yang menyenangkan dan penuh inovasi, menjadi hal yang sangat penting untuk dikembangkan agar para lulusan sekolah mampu berpikir fleksibel, dan juga banyak alternatif yang dikuasai dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.

Para pemenang Ki Hajar Dewantara Award setelah menerima penghargaan. Foto arsip penyelenggara.

Sosok-sosok seperti para narasumber inilah yang akan diapresiasi dalam Ki Hajar Dewantara (KHD) Award. Ini adalah sebuah penghargaan yang diinisiasi oleh SEAMEO QITEP in Science untuk menghormati para guru sains yang telah berupaya untuk mengembangkan dan membawa proses belajar mengajar hingga ke tingkat yang sangat baik dan penuh kreativitas.

Penghargaan ini terinspirasi dari Ki Hajar Dewantara yang bukan merupakan sosok asing lagi dalam dunia pendidikan. Kontribusi dan komitmennya dalam memperjuangkan pendidikan hingga mendirikan Taman Siswa, membuatnya dianugerahi sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Penyelenggara memberikan beasiswa untuk guru-guru yang terpilih sebagai nominasi KHD Award berupa biaya program, akomodasi, konsumsi, dan transportasi selama program berlangsung. Setelah melalui rangkaian tahapan diskusi, dan presentasi, akhirnya terpilihlah tiga orang yang berhak mendapatkan penghargaan sebagai pemenang.

Posisi pertama, diraih oleh Koh Chee Kiang (Singapore) dengan judul penelitian “FOSTERING THE JOY OF LEARNING THROUGH PHYSICS INQUIRY AND STEM ACTIVITIES”, pemenang kedua adalah Bryant C Acar (Philipines) dengan penelitiannya yang berjudul “GUIDED AND IMMERSIVE TRAINING APPROACH TO ENHANCE KNOWLEDGE AND SKILLS IN SCIENCE INVESTIGATORY PROJECT”, dan posisi ketiga berhasil diraih oleh Dini Siti Anggraeni (Indonesia) dengan penelitian yang berjudul “INTEGRATING ENGINEERING DESIGN PROCESS: AN EFFORT TO IMPROVE STUDENTS’ PROBLEM SOLVING SKILL THROUGH STEM LEARNING”.

Semoga ke depannya, seluruh komponen pendidikan baik guru, institusi, komite, kurikulum, pemerintah, serta siswa, dapat bekerja sama untuk menciptakan inovasi dan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga siswa tidak terburu takut dan tertekan ketika mendengar kata “belajar” dan harus masuk ke sebuah ruangan bernama “kelas”.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*