Hari Raya Nyepi, Bali Hening dalam Penyepian

Untuk pertama kali Nyepi di Bali tahun ini juga tanpa Internet. Foto Herdian Armandhani.

Selama Nyepi, Bali menjadi lebih hening dan tenang.

Hari Raya Nyepi 1940 Caka tahun ini jatuh pada Sabtu (17/3). Selama 24 jam, umat Hindu di Bali melakukan empat pantangan yang biasa disebut Catur Brata Penyepian.

Catur Brata Penyepian merupakan pantangan yang wajib dilakukan saat Nyepi yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api, listrik, lampu, alat elektronik yang mengahsilkan cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaaan atau aktivitas fisik seperti bekerja dan sekolah), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang atau melakukanan kesenangan), dan Amati Lelungaan (tidak bepergian selama Nyepi).

Seluruh jalan di Bali pun sama sekali kosong tanpa kendaraan yang melintas untuk menghormati Hari Raya Nyepi. Termasuk pelabuhan dan bandara pun tidak beroperasional selama 24 Jam.Stasiun televisi dan radio bahkan televisi kabel berlangganan juga tidak bersiaran.

Mulai tahun ini Hari Raya Nyepi semakin istimewa karena seluruh perusahaan telekomunikasi yang menawarkan faisiltas Internet pun selama 24 jam mematikan jaringan. Pengguna jasa telekomunikasi hanya bisa melakukan kirim pesan dan telepon saja.

Meski menjadi sebuah pro dan kontra terkait aturan ini tetapi dengan mematikan jaringan penyedia jasa Internet sejatinya agar Umat Hindu di Bali menjadi lebih fokus untuk menjalankan Catur Brata Penyepian. Umat non-Hindu pun menghormati aturan yang telah disepakati oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali itu.

Hari Raya Nyepi juga secara tidak langsung menghemat pemakaian energi listrik yang cukup besar karena Bali merupakan daerah pariwisata dan berkurangnya emisi karbon yang ditimbulkan oleh asap kendaraan bermotor. Udara menjadi lebih segar dan kebisingan menjadi tidak terdengar lagi. Para wisatawan yang kebetulan berlibur ke Bali juga memilih berdiam di dalam hotel. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*