Bentara Budaya Putar Film Pendek Lintas Tema

Film-film pendek beragam tema dan genre diputar di Bentara Sinema.

Tak saja sinema pendek Indonesia yang ditayangkan, tetapi juga internasional, besutan sutradara-sutradara mumpuni. Ada pula diskusi bersama sineas Bali, I Gusti Made Ariyadi.

Program kali ini didukung oleh Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club.

Sinema yang diputar antara lain dari program Short Export 2017, Omnibus KvsK (KITA VERSUS KORUPSI), film Perancis Au Sol (Grounded) dan 10 Film Animasi dari Puisi-Puisi Penyair Guillaume Apollinaire.

Selama dua hari pada pada 19-20 Mei, penonton diajak meresapi film-film yang menyuguhkan sisi imajinatif penuh arti dari adegan-adegan terpilih yang memfokuskan pada kedalaman cerita.

Misalnya saja, sejumlah film pendek animasi yang terangkum dalam bingkai Short Export 2017 kerja sama dengan Pusat Kebudayaan Jerman, Goethe Institut Indonesien, mengetengahkan kompleksitas hubungan antarmanusia yang berbeda latar tetapi memiliki suatu bahasa ungkap kemanusiaan yang sama yakni penghormatan pada kesetaran dan keadilan.

Short Export 2017 merangkum film-film pendek fiksi dan animasi terpilih dari Jerman, hasil seleksi lebih dari 500 entri pada Clermont-Ferrand Festival. Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand merupakan titik pertemuan paling penting untuk film pendek internasional.

Program ini merupakan kerja sama antara AG Kurzfilm – Asosiasi Film Pendek Jerman, Goethe-Institut Lyon, Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand, dan Kurz FilmAgentur Hamburg.

Tidak kalah menarik, film-film pendek animasi dari Perancis “En Sortant de l’école – Guillaume Apollinaire”. Seri animasi pendek ini merupakan sebuah upaya tafsir dari puisi-puisi penyair sohor dunia, Guillaume Apollinaire. Terangkum di dalamnya karya-karya puisi monumental, seperti Le Pont Mirabeu, Carte Postale, Automne, dan lainnya.

Sementara itu, sebuah film pendek Perancis bertajuk Au Sol (Grounded) mengisahkan perjuangan seorang perempuan bernama Evelyne bersama bayinya yang baru lahir harus berkelit dari peraturan bandara yang keras dan kaku, agar bisa berangkat ke London tepat waktu untuk pemakaman Ibunya.

Film ini mendapatkan penghargaan film terbaik pada sejumlah festival film internasional di antaranya: Aubagne International Film Festival 2015, Cabbagetown Short Film & Video Festival 2014, dan Cleveland International Film Festival 2016.

Juga Omnibus dari KPK bertajuk KvsK (Kita Versus Korupsi) dirilis pada tahun 2012 sebagai bentuk gerakan kesadaran akan perlawanan terhadap korupsi sedini usia muda melalui media film. Omnibus ini merangkum empat film pendek dari sutradara cemerlang Indonesia, di antaranya Emil Heradi, Lasja F.Susatyo, Ine Febriyanti, dan Chairun Nissa.

Sinema Bentara bulan ini masih diselenggarakan dengan konsep misbar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang guyub, hangat, dan akrab dengan layar lebar di halaman Bentara Budaya Bali. Acara ini dimeriahkan pula Pasar Kreatif Misbar serta penampilan sejumlah kelompok anak muda kreatif di Bali melalui pentas akustik. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*