Wajah Baru Bahasa Indonesia dalam Tanda bagi Tanya

Sesi diskusi bersama Joko Pinurbo. Foto Iin Valentine.

Sabtu, 28 Oktober 2017 menjadi hari bersejarah bagi Frischa Aswarini.

Hari itu dia merupakan peluncuran buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Tanda bagi Tanya. Buku berisi 33 puisi pilihan yang ditulis sejak tahun 2009 sampai 2017 itu banyak berkisah tentang “perjalanan”.

“Tidak hanya perjalanan bersifat fisik, yaitu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, bertemu orang dan budaya yang berbeda, tetapi juga perjalanan yang sifatnya lebih ke pengalaman  batin,” ujar Frischa.

Menurut gadis yang lahir pada 17 Oktober 1991 ini, setiap perjalanan yang ia lalui selalu diwarnai dengan munculnya aneka pertanyaan. Seluruhnya ikut menentukan cara pandangnya terhadap sekian peristiwa, budaya, bacaan, dan hal lainnya.

Kecintaan Frischa terhadap puisi tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak di bangku SMP, puisi sudah tumbuh dalam dirinya. Hingga akhirnya ia belajar menulis di Komunitas Sahaja. Puisi-puisinya pernah disiarkan di beberapa media seperti Bali Post, Kompas, Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Le Banian, dan lainnya.

Sejumlah karyanya juga telah diterjemahkan ke bahasa Perancis dan Inggris, serta dibukukan dalam antologi puisi: Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris, Alliance Francaise de Denpasar, 2010), Happiness, The Delight-Tree 2 (United Nations SRC Society of Writers, 2016).

Tak hanya menulis, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Udayana ini juga aktif dalam kegiatan kesusastraan. Ia pernah diundang dalam program penulisan puisi Mastera (Majlis Sastera Asia Tenggara) Banten (2012), sebagai pembicara di Ubud Writers and Readers Festival (2013) dan Bali Beza, Kuala Lumpur (2012). Namun, perjalanannya ketika mengikuti kegiatan kepemudaan Canada World Youth (Kemenpora RI, 2014-2015) merupakan pengalaman yang mengilhami sejumlah sajak dalam buku Tanda bagi Tanya.

Judul Tanda bagi Tanya sendiri sebenarnya ditemukan secara tidak sengaja oleh Frischa dalam salah satu puisinya yang berjudul Hangus Rotiku, yang menurutnya dapat mewakili keseluruhan isi bukunya. Selain tergambarkan melalui judul, ilustrasi pada buku pertamanya tersebut pun semakin mendukung karakter puisi-puisinya. Uuk Paramahita adalah seniman di balik ilustrasi-ilustrasi tersebut.

Suasana ketika audiens meminta Frischa menandatangani bukunya. Foto Iin Valentine.

Momen peluncuran buku tersebut menjadi makin istimewa karena Joko Pinurbo, salah satu penyair ternama di Indonesia, hadir untuk membedah anak-anak rohani Frischa yang baru dilahirkan itu.

Menurut penyair yang akrab disapa Jokpin itu, sajak-sajak Frischa memiliki karakter kontemplatif, seperti kebanyakan penyair Bali, sehingga sajaknya tidak bisa dibaca hanya sekali. Perlu kesunyian agar sajak-sajak itu bisa benar-benar dinikmati, di mana hanya ada pembaca dan puisi itu sendiri.

“Satu-satunya cara mengembangkan tradisi puisi indonesia yang sudah dibangun dengan baik oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar, adalah dengan menggali dan memanfaatkan sekreatif mungkin potensi yang terkandung dalam bahasa Indonesia,” ujarnya.

Jokpin pun mengungkapkan bahwa ia melihat wajah bahasa Indonesia yang baru ketika membaca sajak-sajak karya Frischa. Bahasa yang lembut, hangat, lincah, dan imajinatif. Sehingga bisa keluar dari wajah bahasa Indonesia yang mengerikan.

“Bahasa Indonesia hari-hari ini menunjukkan karakter yang bagi saya sendiri, banyak segi negatifnya. Karena bahasa Indonesia sekarang ini adalah bahasa yang dikuasai oleh bahasa pejabat, politisi, pengacara, plus bahasa haters. Inilah bahasa Indonesia yang sedang berkembang di berbagai media, khususnya media sosial,” tambahnya.

Jokpin merasa prihatin ketika generasi muda harus menerima wajah bahasa Indonesia dengan versi yang buruk. Dengan hadirnya sajak-sajak Frischa, Jokpin memiliki optimisme bahwa bahasa Indonesia, di tangan para penyair, bisa tumbuh semakin mekar.

Puisi Frischa ini semacam pengingat untuk penyair-penyair yang lain bahwa menulis puisi itu, bagaimana pun tidak bisa instan. Prosesnya panjang. Salah satunya adalah proses pematangan kata-kata melalui kontemplasi. Kontemplasi dalam hal ini bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi dilihat sebagai proses batin yang harus dialami oleh seorang penyair untuk mengolah dan mengendapkan kata-kata. Sehingga kata-kata yang muncul dalam sajak, tidak hanya sebagai kata mentah yang belum diolah.

Pujian demi pujian terhadap karya Frischa terus dilontarkan Jokpin pada peluncuran buku yang berlangsung di Gramedia Level 21 Mall Denpasar saat itu. “Karya yang bagus, akan bisa dirasakan oleh sekian banyak orang, seakan-akan kita seleranya sama. Sebetulnya karena puisinya. Puisi yang bagus itu dapat menembus berbagai selera,” begitu kata Jokpin ketika salah satu puisi yang disukainya juga menjadi kesukaan sang moderator yang memandu diskusi. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*