Catatan dari Sarasehan Peradaban Air PKB

Gubernur Bali Made Mangku Pastika membuka sarasehan PKB ke-39. Foto Iin Valentine.

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 sudah sebulan berjalan.

Sejak dibuka pada 10 Juni 2017 lalu, telah banyak geliat seni ditampilkan para seniman dari seluruh penjuru Bali hingga luar Bali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, PKB tahun ini menampilkan banyak kegiatan.

Mungkin masih banyak juga yang belum tahu. Sebenarnya PKB tumbuh dalam enam bidang cabang utama: parade budaya, seni pertunjukan, pameran produk budaya, lomba kreativitas, film dokumenter, dan yang terakhir sarasehan.

Pada tahun ini, sarasehan terkait PKB bertemakan “Pemuliaan Air Sumber Kehidupan, Penghidupan, dan Peradaban”. Gubernur Bali Made Mangku Pastika membuka sarasehan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar.

Pastika menyatakan bahwa PKB tidak hanya olahan para seniman, tetapi juga cendekiawan dan akademisi untuk mengkritisi dan mencari solusi dari masalah-masalah sosial dan kebudayaan.

“Air itu bisa jadi sumber damai sekaligus sumber konflik,” tegas Pastika. Menurut Pastika di masa depan, selain udara bersih, air bersih pun berpeluang menjadi komoditas termahal. Karena itu, melalui sarasehan ini Pastika mengharapkan ada solusi bagaimana memanajemen air bersih khususnya di Bali.

Terdapat tiga tujuan utama sarasehan. Pertama membuka dialog kritis, komprehensif, dan konstruktif tentang Ulun Danu sebagai representasi peradaban air bagi kehidupan, penghidupan, dan kesejahteraan. Kedua, membahas secara multidisipliner tentang link age kebudayaan dalam bidang ekologi, ekonomi, humanisme, teknologi, dengan dimensi konflik kedamaian atau kesejahteraan.

Ketiga, sarasehan juga bertujuan merumuskan kebijakan, strategi, dan roadmap aksi menuju cita-cita kemanfaatan sumber daya air bagi kehidupa, penghidupan, dan kesejahteraan berkelanjutan.

Ada empat pembicara. Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid RI sebagai pembicara utama. Tiga pemakalah lainnya Ida Bagus Yudha Triguna, Nyoman Jampel, dan I Nyoman Darma Putra.

Menurut Hilmar Farid, Bali sangat unggul di bidang seni dan kebudayaan. Masyarakat Bali pun sangat memegang teguh tradisi, meskipun mengikuti juga perkembangan dunia global.

Salah satu organisasi sosial berbasis kebudayaan yang ada di Bali adalah Subak. Seperti yang diketahui secara umum, subak adalah organisasi di bidang agraris yang berkaitan dengan irigasi dan pembagian air.

Subak sebenarnya bukan hanya mengurus irigasi dan pembagian air. Subak itu adalah organisasi yang kompleks. “Saat ini, tantangan terbesar subak adalah menemukan masalah-masalah yang dulu tidak terbaca. Misalnya keberadaan air untuk kepentingan ekonomi, industri, dan lain-lain. Masalah air ini sepintas mudah, tapi ngga kelar-kelar,” ujar Farid.

Saat ini telah ada UU Pemajuan Kebudayaan tentang tata kelola kebudayaan. Bahwa kebudayaan bukan hanya ada pada tarian dan tradisi, tetapi juga pada karakter luhur yang akan diwariskan pada generasi-generasi selanjutnya. UU Pemajuan Kebudayaan ini menekankan empat hal yaitu: pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Pelindungan dan pembinaan kebudayaan dapat dilakukan dengan mencatat, merekam, dan mendokumentasikan pengetahuan tentang budaya yang dimiliki, baik itu berupa produk kesenian, kekayaan sumber daya alam, dan lainnya. Selain itu, perlu dilakukan pula peningkatan jumlah barisan orang berpengetahuan dan berkualitas agar dapat mengajak masyarakat luas untuk berpikir serta meningkatkan kesadarannya bahwa sebenarnya kita ini kaya, dan bersama-sama melakukan perlindungan maupun pembinaan kebudayaan.

Dalam pengembangan kebudayaan, kita tidak menolak pertemuan antara tradisi dan modernitas. Masyarakat tetap harus maju, pembangunan harus berkembang, tetapi nilai tradisi yang menghidupi perjalanan itu. Untuk pengembangan kebudayaan, perlu juga dilakukan penyebarluasan, pengkajian, dan peningkatan objek kebudayaan.

“Sedangkan dalam pemanfaatan, kebudayaan dapat digunakan untuk membangun karakter dan meningkatkan kesejahteraan serta kedudukan Indonesia di mata dunia,” tambah Farid.

“Air tidak cukup hanya dilestarikan dan dilindungi melalui kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Karena kebijakan yang tidak dibarengi dengan perbaikan perilaku pribadi, mustahil untuk membawa perubahan. Misalnya, cara yang sangat sedehana yang bisa dimulai dari diri sendiri adalah dengan mengurangi sampah terutama plastik. Karena sampah plastik memiliki andil yang cukup besar dalam pencemaran air dan lingkungan hidup,” begitu tanggapan daDiah, salah satu peserta sarasehan.

Hilmar Farid menjadi pembicara utama di sarasehan PKB ke-39. Foto Iin Valentine.

Masalah Edukasi

Diskusi sesi kedua dilanjutkan ketiga pemakalah panel. Ida Bagus Yudha Triguna, mantan Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama membahas keberadaan air dari segi keagamaan. Judul makalahnya “Pelestarian Air Sumber Kehidupan, Penghidupan, dan Peradaban dalam Perspektif Sinergi Agama, Kebudayaan, dan Kearifan Lokal”.

Menurut Yudha Triguna, kemuliaan air telah disebutkan dalam kitab suci Weda. Bagaimana air dan surya membawa sumber kehidupan dan penghidupan pun ada di dalamnya. Maka dari itu, berbagai macam ajaran kebaikan untuk memuliakan air, hutan, maupun laut, telah dilaksanakan. Tetapi, mengapa alam belum juga lestari?

“Terdapat problem yang mendasari hal itu. Salah satunya problem edukasi. Upacara pemuliaan air dan lain-lain itu hanya dipahami oleh lingkungan terbatas, masyarakat yang hadir. Tujuannya lebih untuk sembahyang. Tidak memaknainya sebagai upaya memuliakan sumber air, hutan, danau, maupun laut,” katanya.

Yudha menambahkan transformasi nilai agama tergantung pada kelompok terbatas (sulinggih, penekun sastra & agama, ilmuwan) yang tidak memiliki otoritas dan jejaring. “Sementara, umat bersandar pada pengetahuan dan keputusan dari kelompok terbatas itu,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, salah satu peserta sarasehan menyayangkan. Dalam pelaksanaan upacara pemuliaan air itu, sisa-sisa sesajen pasti dibuang atau ditinggalkan di lokasi, seperti laut dan sungai.

Padahal, sampah upacara tersebut sangat berpotensi pula merusak kelestarian air itu sendiri. Jadi, belum ada kesinambungan antara tujuan dengan realitasnya.

Sedangkan Nyoman Jampel, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja membawakan makalah berjudul “Pendidikan Karakter yang Mengapresiasi Sumber Daya Air, Manusia, terhadap Peluang dan Tantangan di Era Kekinian”.

Menurutnya, salah satu media strategis yang mampu membangun kesadaran ekologi dan menumbuhkembangkan keterampilan mengapresiasi sumber daya air khususnya di kalangan mahasiswa adalah melalui pendidikan karakter yang dilakukan melalui lima tahap, yaitu; (1) melalui contoh dan tauladan, (2) pelatihan, (3) pembiasaan, (4) pembudayaan, dan (5) kebudayaan.

Contoh dari dosen, tokoh masyarakat, pemangku kebijakan, penegak hukum, maupun orang tua akan menjadi dasar yang kuat untuk menetapkan nilai-nilai karakter yang mesti diikuti. Kurangnya contoh yang baik, sering kali berimplikasi pada karakter yang kontraproduktif, bahkan tak jarang berperilaku amoral.

Setelah mendapatkan contoh yang memadai, juga dilatih untuk bersikap dan berperilaku yang bertanggung jawab pada lingkungan. Pelatihan secara berkesinambungan diyakini akan menjadikan mahasiswa terbiasa dengan sikap dan perilaku yang baik, yang pada akhirnya menjadi sebuah budaya.

Jampel juga mengaitkan pendidikan karakter tersebut dengan salah satu ajaran Hindu, yaitu Tri Hita Karana atau tiga sumber penyebab adanya kesejahteraan dan kebahagiaan. Ketiga penyebab kebahagiaan itu akan terwujud melalui hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesamanya (Pawongan), dan antara manusia dengan lingkungan alamnya (Palemahan).

Sehingga poin-poin ini menjadi dasar bagi pembinaan dan pengembangan sikap, nilai-nilai, perilaku, maupun pola hubungan sosial masyarakat Bali.

Tiga pemakalah dalam sarasehan PKB ke-39 tentang peradaban air. Foto Iin Valentine.

Fakta atau Fiksi?

Adapun I Nyoman Dharma Putera membawakan makalah “Fakta atau Fiksi: Dekonstruksi Wacana Krisis Air di Bali dengan Kisah Tantri”. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa industri pariwisata sering dijadikan kmabing hitam sebagai penyebab krisis air.

Memang, pemakaian air di industri pariwisata jauh lebih besar daripada pemakaian air di rumah tangga. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Bali, tidak pernah krisis air secara sesungguhnya, seperti halnya yang dirasakan di Brisbane tahun 2009, ketika pemerintah membatasi penggunaan air untuk menyiram tanaman.

“Bukan berarti Bali bebas dari krisis air tingkat awal, lalu dapat menggunakan air secara boros. Tidak. Kalau pun terjadi kekurangan supply air, itu terjadi bukan karena sumber daya air terbatas, tetapi masalah tata kelola atau manajemen,” ujarnya.

Terdapat dua fragmen dalam kisah Ni Diah Tantri yang ceritanya berkaitan dengan krisis air. Yang pertama adalah kisah Empas (kura-kura) dan Angsa, di mana krisis air adalah fakta cerita. Sementara yang kedua adalah kisah burung bangau yang tamak, di Bali dikenal dengan nama Pedanda Baka, di mana krisis air adalah fiksi sebagai bahan tipu muslihat.

Dalam makalahnya juga disebutkan bahwa dari studi yang dikaji dalam artikel di dalamnya, tidak satu pun menyajikan potensi air yang dimiliki Bali, angka kebutuhan progresif, kebutuhan proyektif, sehingga tidak begitu jelas apakah pernyataan bahwa “Bali mengalami kekurangan air” itu fakta atau fiksi.

Jangan sampai kita salah langkah mengambil keputusan seperti ikan-ikan di Telaga Kumudasara yang ditipu bahwa kolam akan kekurangan air, padahal itu hanya jebakan bangau rakus untuk memangsa ikan-ikan.

Jangan sampai isu krisis air di Bali digunakan bangau-bangau rakus untuk menjatuhkan industri pariwisata Bali.

Beberapa partisipan dalam sarasehan tersebut menyayangkan mengapa para narasumber tidak to the point mengaitkan keberadaan air dengan kondisi di Bali yang beberapa tahun belakangan diguncang oleh isu reklamasinya.

Sekalipun ada yang menanyakan hal itu, para narasumber tidak memberikan penjelasan yang gamblang. Memang sedikit disayangkan, diskusi panjang namun mengawang.

Pada sarasehan PKB mendatang, diharapkan lebih banyak melibatkan anak-anak muda agar diskusi lebih bervariasi dan bisa berbagi ide segar. Di samping itu, beberapa tokoh juga mengusulkan agar perjalanan sarasehan ini dibukukan untuk menambah literasi dan bagian dari bukti perjalanan PKB itu sendiri. [b]

One Comment

  1. Beda narasumber, beda informasi dan perspektif. Seharusnya, panitia memberikan tempat juga untuk ibu-ibu rumah tangga di Kutuh yang susah cari air, petani di Jatiluwih yang terpaksa pakai selang krn kekeringan, atay malah warga Desa Ban, Karangasem.

    Biar tahu bahwa krisis air itu bukan fiksi tapi benar-benar terjadi, apapun penyebabnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*