Melali Sambil Melajah di Perpustakaan

perpusda-04

Karena membaca buku pun bisa dilakukan dengan menyenangkan.

Jalan-jalan tersebut bisa dilakukan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bali. Ribuan koleksinya bisa mengajak kita menjelajah dunia meski hanya duduk di ruangan.

Tak hanya buku-buku, Perpusda Bali juga memiliki banyak koleksi media-media lama yang kini makin ditinggalkan pembaca. Karena itu, untuk membuat analisis atau studi tertentu yang membutuhkan kliping dari terbitan lama, Perpusda Bali di Jalan Teuku Umar, Denpasar masih menjadi andalan.

Tak sedikit peneliti atau penulis bisa menyelesaikan risetnya tentang kebudayaan atau sosial di ruang khusus dokumentasi media cetak di Perpusda. Pengunjung dengan laptop dan gundukan bendelan koran bisa duduk berjam-jam untuk membuat analisis berita isu tertentu.

Selain ruang dokumentasi media cetak dan buku-buku tua, ruang paling ramai adalah lantai 1 tempat dokumentasi media terbitan baru atau setahun terakhir. Pengunjung bisa membaca koran harian, majalah, tabloid, dan lainnya di sini.

Selanjutnya kursi yang tak pernah kosong adalah sebuah computer dengan internet gratis di dekat ruang administrasi pengembalian buku. Mungkin karena ada satu unit.

Perpusda, kini namanya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Bali juga menyediakan ruang khusus anak. Ruangan dengan karpet dan AC ini cukup luas. Karena sering sepi, ruangan ini jadi terasa sangat lapang. Pembaca buku anak duduk lesehan di lantai atau juga bisa sambil tiduran.

Dilihat dari koleksi buku-bukunya, jauh lebih beragam dan lengkap buku anak terbitan baru di toko buku besar seperti Gramedia. Namun, di sini ada buku-buku sastra untuk anak tua terbitan tahun 80-90an yang masih enak dibaca. Walau kondisinya sudah lusuh dan beberapa robek.

Di sini ada buku-buku sastra untuk anak tua terbitan tahun 80-90an yang masih enak dibaca.

Keberadaan Perpusnas ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Perpustakaan Negara Provinsi Bali yang pertama kali didirikan di Singaraja pada 1 Februari 1959. Saat itu perpustakaan ini dipimpin oleh St. Kosta Soegeng sampai 1968.

Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 1979, mengalami perubahan nama di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan klasifikasi tipe B dikarenakan jumlah koleksi buku yang ada pada saat itu kurang dari 10 ribu judul.

Kini, menurut pengelola Perpusda koleksi buku sudah lebih dari 10 ribu judul dan klasifikasinya menjadi tipe A.

Pepusnas Bali ini baru memiliki portal digital yang merekam sejumlah buku dan foto-foto tua Bali Tempo Dulu. Jika membutuhkan dokumentasi terkait seniman atau kehidupan Bali zaman dulu bisa mencari di sini.

Pengelolanya ingin mewujudkan layanan perpustakaan tanpa dinding atau perpustakaan digital (digital library). Begitu juga halnya dengan pelayanan di bidang kearsipan.

Masih sedikit data dan arsip sejarah yang terdigitalisasi dan diunggah di sini. Namun tetap bagus buat menjelajahi informasi di portal ini. [b]

2 Comments

  1. Referensi Web tentang Pembukuan
    forum perpustakaan

  2. Pingback: Perpusda Bali: layanan yang buruk dan nasibmu kini | Ms Neno's Blog

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*