Kesenian Bali Siapa yang Butuh?

Warga lokal bermain musik tradisional di pantai Bias Putih, Karangasem. Foto Anton Muhajir.

Tiada kumpul tanpa Lolot, XXX, Slank dan Iwan Fals.

Begitulah prinsip generasi saya, generasi kelahiran 80-an yang masa mudanya kisaran tahun 2000-an. Generasi di mana menjadi anak band itu keren. Wajib bagi kami setidaknya bisa memainkan beberapa kunci dasar gitar.

Minimal kami memiliki sepasang sepatu Converse, celana pendek rombeng, anting dan sehelai baju hitam. Satu lagi, kenangan gugupnya naik panggung meskipun itu sebuah bazzar di desa dengan penonton yang juga kawan kami.

Sebagian besar dari kami tidak bisa memainkan alat musik tradisional. Saya sendiri tidak memiliki alasan untuk mempelajari alat musik tradisional. Dalam pikiran saya ketika itu adalah memainkan alat musik tradisional tidak keren, yang keren hanyalah menjadi anak band.

Cerita ini berbeda dengan seorang kawan. Anak seorang pemangku Pura Puseh di desa saya. Dia merasa dirinya keren ketika dikelilingi oleh ibu-ibu sekaha Santi. Dia memilih untuk belajar matembang. Ada kebanggaan tersendiri pada dirinya ketika melakukan itu. Setara dengan kebahagiaan kami ketika manggung dan memainkan alat musik ala anak band.

Berbeda lagi dengan seorang kawan saya ketika Sekolah Menengah Petama (SMP). Dia merasa dirinya keren ketika bisa memenangkan kontes tari. Sejak SMP dia memang rutin menjuarai kontes tari tingkat kabupaten Tabanan, bahkan beberapa kali menjuarai kontes tingkat provinsi. Piala dan piagam inilah yang sering dia banggakan sekaligus yang membuat dia terlihat keren.

Tiga cerita tersebut memiliki satu benang merah. Kami berkesenian untuk diperhatikan. Saya dan kawan nge-band hanya untuk menarik perhatian. Kawan saya lainnya matembang dan menari agar terlihat keren. Masa muda memang seperti itu, yang dikejar hanya agar terlihat keren dan diperhatikan oleh lawan jenis. Minimal dibilang hebat oleh kawan se-geng.

Tidak ada suruhan atau dorongan dari orang lain. Semua muncul atas inisiatif sendiri.

Lain dulu lain pula sekarang. Kawan-kawan se-band saya dulu bahkan sudah tidak pernah menyentuh alat musik lagi. Ada yang jadi supir truk, ada yang menjalani usaha. Saya sendiri berkutat dengan komputer setiap hari.

Kawan saya yang suka matembang sekarang ini bahkan tidak pernah terdengar suaranya. Kebanyakan waktunya dihabiskan dalam mobil untuk mengantarkan tamu keliling seharian.

Kawan saya yang juara tari, badannya sudah legam dan kaku karena setiap hari berkutat dengan bahan bangunan. Dia memilih untuk menjadi kontraktor sekaligus buruh bangunan. Himpitan ekonomi membuat kami tidak tertarik berkesenian lagi.

Kita semua berbicara untuk melestarikan kesenian Bali. Tapi, pernahkah kita sesekali bertanya pada generasi muda kita, apakah kesenian Bali itu bisa membuat mereka terlihat keren? Jika iya, saya rasa kita tidak perlu lagi khawatir tentang pelestarian kesenian Bali, karena akan lestari dengan sendirinya. Namun, kalau berkesenian justru membuat mereka tidak keren, di sana kita perlu mempertanyakan kelestarian kesenian itu sendiri.

Masa muda memang masa setiap orang mengejar perhatian atau yang saya istilahkan dengan keren. Mereka tidak bisa kita batasi untuk menjadi keren dengan cara mereka masing-masing. Mereka akan selalu menjalani apa yang bisa mereka banggakan, minimal dalam lingkungan pergaulan mereka. Jika menurut mereka merokok dan minum arak itu keren, mereka akan menjalani itu. Adakah yang bisa menghentikan ini?

Berbeda cara pandang kita dengan generasi yang lebih tua, terutama yang sudah memiliki keluarga.

Pertanyaannya sanggupkah berkesenian itu menghidupi mereka? Jika memang sanggup, saya rasa kesenian Bali akan tetap lestari dan justru berkembang. Jika tidak, kembali perlu kita pertanyakan kelestarian kesenian tersebut.

Jika di masa ini kami diajak berkesenian untuk kebutuhan spiritual, apalagi untuk penyatuan diri kepada Tuhan, saya rasa kami belum bisa mengerti bahasa itu. Kami masih memiliki kebutuhan di dunia ini untuk kami cukupi. Tapi seiring perjalanan waktu, saya rasa kita semua berproses. Dan akan mencapai puncak dari proses itu pada waktunya.

Satu cerita lagi.

Menjelang pawai ogoh-ogoh beberapa bulan lalu. beberapa anak di desa saya bersemangat untuk latihan megamel, menurut mereka menjadi bagian dari ‘Anak Gong’ itu keren. Terlepas dari keributan yang mereka hasilkan setiap malam di Bale Gong sebelah rumah, telinga saya masih bisa menikmati apa yang mereka sajikan. Masih belum rapi, masih belum halus, tapi mereka mampu untuk rutin berlatih mulai dari jam 4 sore hingga 9 malam.

Usia mereka rerata 10-12 tahun. Semangat yang mereka dapatkan karena ingin terlihat keren dan bisa mereka banggakan di depan teman-temannya.

Mereka masih belum paham irama. Bahkan mereka masih belum paham apa itu keindahan sebuah irama. Yang mereka dalami adalah kemampuan menghafal dan kelemasan tangan serta ketepatan dari setiap pukulan sesuai dengan arahan pelatihnya.

Jika ditanya bagus atau tidak, mereka akan jawab bagus. Tanpa paham apa itu bagus atau tidak. Asalkan sudah tidak ada kesalahan, maka irama itu dikatakan bagus.

Pertanyaannya, kenapa megamel justru terlihat keren untuk anak – anak itu di masa sekarang ini? Saya masih belum menemukan jawaban pastinya. Dugaan saya, ketika pawai ogoh-ogoh hanya dua posisi yang terlihat keren yaitu penggotong dan gamelan. Tinggal piliha salah satu, ketika tidak kuat menggotong maka hanya megamel-lah pilihannya. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*