Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?

Ilustrasi pernikahan secara adat di Bali. Foto thebridedept.com.

MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam.

Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya.

Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru nikahi”. Istilah lainnya, sebelum ketahuan bisa hamil tidak usah dinikahi. Alasan pembenar untuk melakukan seks pranikah. Seks yang sebenarnya hanya untuk memenuhi hawa nafsu belaka, lalu menjadi tanpa pilihan selain menikah ketika kehamilan pacar tidak terelakkan.

Bagi lelaki seperti saya, terlebih karena kurangnya informasi ketika itu, tidak ada yang bisa saya jadikan patokan selain menjadi lelaki yang bertanggung jawab karena telah menghamili pacar saya. Sesungguhnya, saya tidak memiliki alasan lain untuk menikah ketika itu selain karena pacar saya yang telah hamil.

Saya juga tidak memiliki informasi yang cukup tentang sebuah pernikahan. Bahkan, saya tidak terlalu mengerti kenapa saya harus menikah selain karena alasan tanggung jawab.

Celakanya, pacar saya ketika itu juga sama. Tidak tahu kenapa harus menikahi saya selain karena dia telah mengandung anak saya.

Usia yang masih relatif muda -saya 24 tahun, pacar saya berusia 22 tahun- dan kurangnya informasi yang membuat kami merasa telah melakukan hal tepat, menikah. Meskipun kami tidak tahu kenapa kami harus menikah.

Keluarga kami juga ternyata sama. Tidak ada yang bisa memberi kami informasi yang tepat tentang sebuah pernikahan selain karena sudah telanjur hamil ya menikah saja. Dan itulah lazimnya yang berlaku pada pemikiran kebanyakan masyarakat kita.

Cerita saya berbeda dengan cerita seorang kawan saya. Dia yang telah dalam usia matang (mendekati 30 tahun) menyatakan tidak akan menikahi pacarnya sebelum ketahuan bisa hamil. Sekalipun usia pacaran mereka telah menginjak tiga tahun. Sekalipun untuk ukuran kematangan penghasilan dan usia dia sudah cukup matang.

Pemikirannya sederhana, buat apa menikah kalau tidak bisa memiliki anak. Benar saja, setelah ketahuan pacarnya hamil, kawan saya dengan segera menikahinya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah yang terjadi jika pacar kawan saya tersebut tidak kunjung hamil? Saya cukup yakin kalau kawan saya akan memutuskan untuk mencari perempuan lain untuk dihamili. Ini juga pemikiran yang lazim di kebanyakan masyarakat kita.

Bersedia Dicerai

Cerita berbeda lagi datang dari seorang tetangga saya, seorang om-om sukses yang memiliki usaha cukup sukses untuk ukuran orang di desa saya. Dia menikahi seorang gadis yang berasal dari lingkungan keluarganya. Istilah lainnya, masih kerabat dekat.

Hingga usia pernikahan yang memasuki 10 tahun, mereka tidak kunjung dikaruniai anak. Hingga akhirnya terjadilah pertengkaran karena si om menyalahkan istrinya karena tidak bisa hamil.

Alih-alih memeriksakan diri ke dokter, sang istri malah membawa perempuan lain untuk dihamili oleh si om. Istrinya memberi waktu enam bulan untuk si om dan si perempuan tinggal bersama. Kalau kemudian si perempuan ini bisa hamil, maka istrinya bersedia untuk dicerai.

Ujung ceritanya adalah kegagalan si om menghamili perempuan yang dibawakan oleh istrinya.

Masih membekas di telinga saya bagaimana lingkungan saya menilai si om yang tidak memiliki keturunan. Nyinyir cukup menusuk yang memposisikannya sebagai lelaki lemah karena tidak mampu menghasilkan keturunan.

Istrinya juga memilih untuk bertahan karena alasan komitmen. Komitmen agar tidak berpisah. Sebab, berpisah adalah kutukan lain dari tidak memiliki keturunan. Alih-alih bertahan karena kebahagiaan, mereka mengikatkan diri pada komitmen hanya agar tidak berpisah.

Ketiga gambaran tersebut adalah hal nyata di lingkungan saya. Benang merahnya ada pada anak. Alasan ketiga pernikahan tersebut adalah anak. Menikah sangat lekat dengan memiliki anak. Coba saja lihat urutan pertanyaan setelah “kapan nikah?”, pasti yang pertama ditanyakan adalah “kapan punya anak?”.

Seolah menegaskan bahwa tujuan menikah hanya untuk punya anak. Tidak ada aspek lain yang lebih penting dari sebuah pernikahan selain menghasilkan keturunan.

Tidak bisa kita pungkiri, pandangan ini justru diamini sebagian besar orang. Istilah terlambat menikah merujuk pada kesehatan reproduksi perempuan untuk memiliki anak. Selain itu, istilah terlambat menikah juga merujuk pada usia produktif lelaki untuk menghasilkan uang untuk membiayai anak.

Keduanya dikatakan terlambat karena menggunakan anak sebagai tolok ukur. Karena itu tadi, menikah hanya dipandang bertujuan untuk punya anak. Jika saja pernikahan dipandang untuk cinta dan kebahagiaan, masihkah ada istilah terlambat untuk menikah?

Masyarakat kita sangat susah memandang pernikahan sebagai sebuah pilihan, begitu juga dengan pandangan memiliki anak sebagai sebuah pilihan. Keduanya ditabsihkan sebagai sebuah keharusan. Seorang perempuan dan seorang lelaki yang terlahir di dunia ini harus menikah dan setiap orang yang menikah harus memiliki anak. Paling tidak itu tugas wajib yang diemban setiap masyarakat yang ada di lingkungan saya.

Tidak menikah adalah sebuah kutukan. Tidak memiliki anak adalah kutukan lainnya. Menikah kemudian berpisah juga adalah kutukan lain yang harus dihindari. Saya rasa ini juga pemikiran sebagian besar masyarakat kita.

Jadi, sudah cukup pahamkah kenapa usia selalu dibawa ketika menentukan jodoh? [b]

3 Comments

  1. mmhh cukup tahu saja, bagi para muda yang ingin menikah sebagiknya jangan berpatokan pada teori, ini adalah menentukan siapa pendamping anda selamanya, terlepas dari materi, anak keluarga.

  2. Suka banget dengan bagian ini,
    ‘Jika saja pernikahan dipandang untuk cinta dan kebahagiaan, masihkah ada istilah terlambat untuk menikah?’

    Saya pernah bertanya pada pasangan saya, “Apa yg membuatmu ingin menikah?”
    Jawabnya, “Karena saya ingin menikah, perlu alasan ya utk nikah?”
    Spontan jawaban ini membuat saya tertawa sekaligus berpikir, “Betul juga ya! Membuat pernikahan menjadi sesuatu yg seru dan menyenangkan”

  3. Jika ingin bahagia dan ingin memiliki keturunan, maka tidak ideal menunda pernikahan dan terlambat memiliki anak, karena berhubungan dengan gap usia anak dan orang tua dan banyak lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*