Jelajah Ruang dan Waktu di BALINALE 2017

Jumpa pers BALINALE turut dihadiri komite, juri dan sineas dunia, 24 September lalu.

Ratusan film dari 42 negara hadir di BALINALE tahun ini.

Festival Film Internasional Tahunan BALINALE menginjak tahun kesebelas. Sama seperti tahun sebelumnya, BALINALE diadakan di Cinemaxx Theatre, Lippo Mall Kuta, mulai 24 hingga 30 September 2017.

Deborah Gabinetti, pendiri sekaligus direktur BALINALE mengungkapkan ada 108 film dari 42 negara yang akan tayang di festival tahun ini. Pada mulanya ada 300 pilihan film yang masuk dalam daftar kurasi. Namun, karena layar yang terbatas akhirnya hanya 108 film yang diputar di tiga studio.

“Tapi kami cukup berbangga karena tahun ini kami menghadirkan film dari 42 negara. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk BALINALE,” jelas Deborah.

BALINALE memang selalu melibatkan penonton dalam memilih film terbaik setiap tahunnya. Setiap akhir film, ada boks khusus voting yang disediakan oleh panitia. Tak hanya itu, edisi kali ini juga menggelar kompetisi film untuk kategori film dokumenter, film naratif dan film pendek. Tiga kategori ini adalah sebuah permulaan, mengingat ini adalah tahun pertama BALINALE untuk menggelar kompetisi.

“Tahun ini hanya tiga kategori karena ini sesuatu yang baru untuk kami. Kami ingin memulainya dengan sesuatu yang sederhana,” tutur Deborah.

Deborah menjelaskan BALINALE bukan hanya menayangkan film-film global. BALINALE turut memfasilitasi pertemuan para filmmaker mancanegara dan Indonesia, sehingga mereka dapat bertukar ide dan belajar bersama.

Salah satu contohnya adalah seminar gratis tentang pembuatan film bersama Eiko Mizuno Gray asal Jepang. Seminar ini diselenggarakan pada Selasa, 26 September 2017, berkat dukungan The Japan Foundation.

Bagi yang tertarik pada seni peran, BALINALE juga menyelenggarakan pelatihan akting bersama Felix Schaeffer, salah satu aktor dalam film Freddy/Eddy. Film tersebut juga akan tayang di BALINALE pada Jumat, 29 September 2017. Biaya pelatihan senilai Rp 35.000, sudah termasuk tiket nonton film Freddy/Eddy.

Hal menarik lainnya dari BALINALE adalah program film anak. BALINALE memberikan akses gratis bagi anak-anak untuk film tertentu. Mengenai hal ini, Deborah bercerita pengalaman festival beberapa tahun lalu ketika Didi Petet masih bergabung di dalam komite BALINALE.

Rupanya Didi Petet pernah bertanya kepada anak-anak yang hadir, ‘siapa yang belum pernah nonton ke bioskop?’ Deborah berpikir itu adalah pertanyaan yang aneh. Tetapi, respon anak-anak tersebut cukup mengejutkan.

“Hampir 99% dari mereka mengacungkan tangan. Ini yang menyulut semangat saya untuk berkontribusi pada masyarakat lokal,” imbuh Deborah.

BALINALE telah dibuka pada hari Minggu kemarin, dengan pemutaran perdana film Chaplin in Bali (produksi Prancis, Belgia dan Singapura) dan Message Man (Indonesia). Sutradara kedua film ini turut hadir saat pemutaran perdana di BALINALE.

Lawrence Blair, Ketua Komite Penasihat Festival BALINALE menambahkan penonton akan menemukan film-film yang sama sekali berbeda. Film-film pilihan BALINALE tidak (atau belum) ditayangkan di bioskop komersial, baik nasional maupun internasional.

“Kita akan melihat banyak perspektif dari film dan bahasa yang bervariasi selama satu minggu,” ungkap Lawrence.

Bertemu Chaplin

Charlie Chaplin. Sumber Nocturnes Productions – Phish Communications – Man’s Films – Roy Export – RTBF

Siapa yang tak mengenal Charlie Chaplin? Aktor komedi serba bisa ini sangat tersohor pada era 1930-an. Chaplin adalah tokoh yang penting dalam sejarah industri film, terutama film bisu. Kesuksesan Chaplin pun tergambar jelas pada pembuka film dokumenter Chaplin in Bali. Saat itu, semua orang begitu mengaguminya dan ingin berdekatan dengannya.

“Chaplin bukan hanya seniman besar, tapi super besar,” tutur Raphael Millet, sutradara Chaplin in Bali.

Di balik kesuksesan Chaplin, tampaknya ia juga merasa jenuh. Chaplin memutuskan berlibur setelah merampungkan tur promosi “City Lights” di Eropa. Saat itu, Sydney menyarankan liburan ke Bali. Tepat pada tahun 1932, Chaplin dan Sydney menginjakkan kaki pertama kali di Bali.

Menurut Raphael, tahun 1932 adalah tahun yang amat penting bagi Bali dan dunia. Pada tahun tersebut, Bali mulai terbuka pada dunia barat. Banyak seniman Bali yang bertolak ke Eropa untuk pertunjukan kesenian. Begitu pula sebaliknya. Seniman besar dunia juga banyak bertandang ke Bali, seperti Chaplin.

Film Chaplin in Bali menggabungkan rekaman video dan foto saat liburan Chaplin di Bali dengan beragam dokumen yang berkaitan dengannya sekitar tahun 1932 hingga 1961. Di samping itu, ada gambar-gambar berwarna mengenai Bali pada masa kini. Hal ini menjadikan film ini sebagai dokumenter yang kontemporer.

Menariknya, Raphael turut menghadirkan rekonstruksi tarian klasik Legong Kupu-kupu yang pernah populer di Bali pada tahun 1930-an. Dalam film ini, Chaplin terlihat sering menonton tarian ini, bahkan ikut menarikannya dengan gestur yang lucu. Pada proses rekonstruksi tari, seniman Ayu Bulantrisna Djelantik terlibat sebagai koreografer dan Ni Wayan Phia Widari Eka Tana sebagai penari Legong Kupu-kupu.

Rekonstruksi tarian klasik Bali, Legong Kupu-kupu dalam film Chaplin in Bali

“Film ini mengajak kita menjelajah waktu kembali pada tahun 1932. Menurut saya, orang Bali dan dunia perlu tahu tentang Bali pada zaman itu,” jelas Raphael.

Mau tidak mau, ada perbandingan situasi Bali akan terjadi pada film ini, antara tahun 1932 dan saat ini. Pada masa lalu, dunia barat memandang Bali sebagai destinasi yang damai nan eksotis. Namun, Raphael tidak bermaksud membuat penonton beromantika dengan masa lalu. Bali memang telah berubah.

“Dari film ini, kita akan melihat bagaimana Bali berubah, bahkan dalam rentang beberapa tahun saja. Tapi itulah hidup yang tidak bisa kita pungkiri,” tegas Raphael.

Chaplin tercatat pernah mengunjungi Bali pada tahun 1932, 1936 dan terakhir 1961. Setiap kali bertandang ke Bali, Chaplin telah merasakan perubahan di Bali. Tapi ketertarikannya pada Bali tak surut. Chaplin selalu ingin kembali ke Bali.

Film Chaplin in Bali pertama kali tayang di Bali pada pembukaan BALINALE tahun ini. Setelah pemutaran di Bali, film ini akan tayang di 2017 Vancouver International Film Festival, Kanada. Bagi yang penasaran dengan film ini, film Chaplin in Bali akan kembali ditayangkan di BALINALE pada Jumat, 29 September 2017, mulai pukul 16.30 WITA.

Informasi jadwal film lain dapat disimak pada tautan Jadwal BALINALE. [b]

One Comment

  1. Pingback: End of Black Era, Melawan Ancaman Punahnya Kerajinan Tradisional - BaleBengong

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*