End of Black Era, Melawan Ancaman Punahnya Kerajinan Tradisional

Bagaimana kerajinan tradisional dijelajahi dalam film fiksi?

Film merupakan salah satu medium yang bisa dijadikan alat untuk menyuarakan pendapat, mengedukasi masyarakat dan mengubah pola pikir masyarakat akan sesuatu. Itulah yang dilakukan oleh Yongki Ongestu dan Yuris Aryanna. Mereka adalah otak dalam pembuatan film pendek bergenre fantasi berjudul End of Black Era.

Film berdurasi 12 menit ini menjadi salah satu film yang diputar pada perhelatan festival film tahunan Bali International Film Festival (BALINALE 2017) pada Sabtu (30/9) bertempat di Studio 1 Cinemax Lippo Mall Kuta, Bali.

Melalui film pendek ini Yongki dan Aryanna ingin memperkenalkan kerajinan asli Indonesia yang saat ini kurang dilirik oleh pemerintah dan anak-anak muda.

“Melalui film ini kami ingin memperkenalkan kerajinan tradisional Indonesia yang sedikit mendapatkan perhatian. Kita menggabungkan tradisional ke desain modern agar anak muda juga tertarik,” jawabnya saat ditanya tujuan dari pembuatan film ini.

Yuris Aryanna juga menambahkan kalau pengerajin yang dia temui adalah generasi terakhir yang mengerjakan kerajinan tersebut, tidak ada anak-anak pengerajin yang meneruskan.

Tidak ada anak-anak yang meneruskan karena mereka melihat hal tersebut tidak mampu menjadi mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. “Kami mencoba untuk mengubah persepsi itu, kalau mereka bisa hidup dari kerajinan mereka, anak-anak mereka akan meneruskan dan orang lain juga akan teruskan,” tambahnya.

Dalam film End of Black Era; The Incident, Yongki dan Yuris mengangkat dua produk kerajinan yang diperkenalkan yaitu tenun lurik gendong dan juga kerajinan berbahan tembaga. Produk-produk kerajinan itu masih menggunakan cara-cara tradisional untuk membuatnya.

Tenun lurik gendong misalnya, tenun tersebut merupakan kerajinan yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Tenun tersebut dikerjakan dengan teknik menggendong oleh Mbah Reso, seorang pengerajin yang karyanya digunakan sebagai busana para pemain dalam film.

Tak hanya itu, kerajinan tambang juga digunakan sebagai senjata The Enemy dan aksesoris di telinga setiap penduduk dalam filmnya. Semua ide dan desain kostum pemain film datang dari Yuris sendiri. “Untuk kostum, sketsanya sudah dari waktu SMA dan baru terealisasi sekarang ini. Kebanyakan inspirasinya datang karena baca komik dan main game,” tuturnya sambil sedikit tertawa.

Dia menambahkan bahwa film fantasi juga mampu membuatnya untuk lebih mengeksplor kostum dan desain fashion. Dia juga mempunyai misi mengenalkan kerajinan Indonesia melalui fashion. Salah satunya dengan menggabungkan sesuatu yang tradisional dengan modern agar anak-anak muda tertarik untuk mengenalnya.

Bahasa Angin

Hal menarik dalam film End of Black Era selain kostum setiap pemainnya yang sangat diperhitungkan, juga bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan dalam film adalah “bahasa angin” atau bahasa yang dibuat-buat.

Ketika menonton filmnya, sekilas terdengar kalau bahasa tersebut adalah bahasa campuran dari beberapa bahasa lain, tetapi sebenarnya tidak. Bahasa yang digunakan adalah bahasa ciptaan seorang teman mereka. Yongki dan Yuris menuturkan bahwa seorang temannya menciptakan banyak bahasa-bahasa sendiri.

“Teman kami agak-agak. Dia senang membuat bahasa-bahasa sendiri. Dia pengen ada film yang menggunakan bahasa sendiri. Dan untuk ini kita juga libatkan dia,” ujar Yongki.

Dia menambahkan niatnya untuk mengangkat bahasa lain dalam proyek mereka selanjutnya. “Cuma untuk film ini karena 12 menit , jadi mesti ada something yang interest. Kalau nggak ada something yang interest jadi orang nggak ada yang bertanya-tanya,” jelas Yongki sembari tertawa saat menjawab pertanyaan salah satu dari penonton.

Menonton End of Black Era akan membawa kita ke dalam dua belas menit pengalaman dalam dunia fiksi. Pengambilan gambar dan pengaturan cahaya yang begitu sangat diperhitungkan membuat film ini terlihat luar biasa.

Tak ayal film ini membuat beberapa penonton yang hadir ikut kagum akan karya anak bangsa yang sangat luar biasa.

Besar harapan Yongki dan Yuris melalui film ini tujuan mereka untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan asli Indonesia bisa tercapai dan didengar oleh masyarakat. Sehingga masyarakat mulai melirik dan pengerajin kerajinan tradisional tersebut mampu tetap eksis dan bertahan dalam deru arus modernitas. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*