Anak Saya Autis. Tapi, Dia Anugerah.

“Anak ibu ini diagnosisnya ASD.. Ini saya resepkan obat. Perlu terapi juga sebenarnya! Silakan ke alamat ini.”

Jederrrrr! Bagai disambar geledek, pernyataan psikolog itu mendorong saya masuk labirin masa lalu.

Sebuah label yang sudah saya rambah arti dan permasalahannya 6-7 tahun lalu. Ketika itu, saya mengajak salah satu siswa di kelas tempat saya mengajar ke seorang psikiater senior. Kami mengikuti pelatihan penggunaan salah satu metode yang kemudian sangat mahfum untuk saya mengerti. Kami ke Surabaya untuk berkunjung ke sebuah tempat terapi autis.

Dan, kini label itu diberikan pada anak saya. Setelah observasi, 1 menit kemudian berlanjut dengan tanya jawab dengan diriku saja berdasarkan sebuah kuesioner yang kemudian akrab di telinga saya, DSM IV. Menurut psikolog serta psikiater yang pernah saya temui tersebut, sebuah diagnosis gangguan autistik dapat dibuat ketika individu menampilkan 6 atau lebih dari 12 gejala yang tercantum dalam tiga bidang utama: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Anak saya, Arsa tentu saja telah menampilkan lebih dari 6 gejala sehingga mendapat label ASDs.

Mirip
Autism Spectrum Disorder (ASDs) adalah gangguan spektrum autisme, gangguan “cacat” perkembangan yang dapat berpengaruh secara sosial, komunikasi dan tantangan perilaku. Orang dengan ASDs menangani informasi di otak mereka berbeda dengan orang lain. ASDs adalah “gangguan spektrum.”

Itu berarti ASDs memengaruhi setiap orang dengan cara berbeda, dari sangat ringan sampai parah. Namun, orang dengan ASDs memiliki beberapa gejala mirip. Misalnya, bermasalah dengan interaksi sosial. Tetapi, ada perbedaan saat gejala mulai, bagaimana kadar ASDs mereka, dan perilaku yang ditunjukkan. Sehingga sekilas seperti mirip, tapi kok beda yah….

Walaupun telah membaca berulang kali, saya belum paham juga apa yang sebenarnya terjadi pada Arsa. Memang dia nggak bisa diam, belum fasih bicara. Memang dia sangat lekat sehingga sulit ditinggal kemana-mana. Namun, Arsa lucu, menyenangkan dan selalu antusias eksplorasi sana sini karena rasa ingin tahunya yang besar.

Lalu, mengapa disebut ASDs?

Mulailah kami juga konsultasi di bagian anak salah satu rumah sakit besar di Denpasar, Bali. Belum apa-apa, situasi konsultasi sangat tidak kondusif. Saya berkonsultasi bersama orang tua lain. Dalam satu ruangan sama di mana aku duduk berderet menghadapi meja dengan para penanya. Satu sama lain dari kami harus berlomba menaikkan frekuensi suara agar terdengar penanya masing-masing.

Hasilnya, tetap ASD bahkan ditambah autis dan hiperaktif. Ada saran tambahan, lanjutkan konsultasi ke spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Setelah dokter THT melihat kondisi telinga dan tenggorokan anak saya, ternyata tidak ada masalah dengan pendengaran  dan organ mulut sama sekali.

Pertanyaan tentang ASDs baru terjawab saat saya dan suami berdiskusi dengan para terapis di pusat terapi yang disarankan sang psikolog. Ada berbagai hal mencuat seperti masalah kepatuhan dan pembelajaran akademis lainnya. Beberapa metode terapi pun diusulkan, mulai Applied Behaviour Analysis (ABA) yang mendorong perilaku positif, Floortime yang berfokus pada perkembangan emosional dan relasional dengan cara bermain, maupun diet dan pemberian suplemen.

Mulailah hari-hari penuh asa dibentuk. Dengan setia kami menunggui sesi terapi one on one seminggu 2 x 1 jam. Diawali dengan tangisan dan teriakan anak kami karena tiba-tiba dipaksa dalam satu ruangan tertutup tanpa kehadiran kami, jeritan karena “dipaksa” mengepel ompolnya di kelas, tarik-tarikan untuk masuk ke kelas saat dia tidak mau terapi lagi….

Dan, semua itu harus kami tahan dengan hati perih…

Belum lagi uji coba diet dan suplemen yang sontak ‘menguruskan’ anak saya. Susu sapi yang diganti soya. Makanan berterigu dan bergula diganti Casein Free Gluten Free (CFGF) yang rasanya bagi kami saja agak-agak ajaib. Suplemen yang bisa membuat anak saya cekikikan sendiri, sampai tiba-tiba berdatangan orang-orang tak dikenal yang mau berteman alih-alih menawarkan suplemen untuk anak autis.

Namun optimisme terus saya tumbuhkan. Suplemen tak saya perdulikan tanpa saya tahu jaminan keamanan penggunaannya. Kami pun mulai menjajaki second opinon dan third  opinion. Mulailah aku merambah dunia maya, bergabung dengan milis orang tua yang juga memiliki anak seperti Arsa. Di sana saya merasa tiba-tiba bertemu teman dari pihak yang sama, orang tua. Kalaupun ada yang ahli dan mendalami, mereka belajar karena dan untuk anak mereka.

Abu-abu
Dari milis, saya menemukan psikolog di Jakarta, mbak Kassandra yang suka muncul di TV. Ternyata anak beliau juga mengalami permasalahan sama. Saat berkonsultasi, ia hanya bilang anak saya ini serupa benar dengan anaknya saat kecil dulu. Dia menyatakan perlunya shadow teacher alias guru pendamping, bila nanti di sekolah umum.

Mbak Kassandra menyarankan kami terus terapi dibantu berbagai stimulus lain. Ketika saya singgung DSM IV, beliau bilang dengan penanganan dan stimulus tepat, ciri-ciri keautisan anak saya akan berkurang seiring perkembangan usianya.

Ternyata hal itu sama dengan pendapat Dyah Puspita. Dia ibu rumah tangga biasa yang karena Ikhsan putranya, kemudian mendalami autis dan segala permasalahannya. Bahkan, dia mendirikan sekolah autis Mandiga di Jakarta.

Kami sering berdiskusi. Salah satu kesimpulannya, Arsa perlu terapi lebih intensif. Selain itu, keautisannya hanya putih abu-abu kalau digambarkan dalam spektrum warna. Jadi tak terlalu kentara pada awal orang melihat meski tetap ada ciri keautisannya.

Berlembar-lembar hasil evaluasi pun dikirimkan untuk kami pelajari, pahami dan jalankan. Memang tidak mudah. Yang langsung berubah adalah jadwal terapi yang sedianya 2x seminggu, kini menjadi 3x seminggu. Memang dari sisi biaya, jelas ada penambahan; namun di sisi lain perkembangan Arsa semakin baik.

Bertambahnya usia, Arsa perlu untuk sekolah. Tapi pendidikan seperti apa yang tepat selain terapi?

Kami telah mencoba beberapa sekolah. Kami mendapat beberapa pelajaran dalam pendidikan dasar anak ASD.

Pertama, jumlah siswa sedikit tidak menjamin perhatian yang cukup.

Ketika memutuskan untuk masuk TK A (catatan: anak saya tidak mengalami masa-masa di playgroup karena ketika dicoba yang ada hanya tangisan dan jeritan saja); kami memilih sekolah dengan jumlah siswa sedikit. Pertimbangannya, mungkin Arsa akan diperhatikan dan dibantu dalam masalah akademisnya.

Namun, hasilnya, karena selesai ketrampilan lebih dahulu, ia menggunting celananya hingga tak berbentuk celana. Dia juga beberapa kali ia ditemukan telah menelan penghapus. Dia pun tidak diikutsertakan acara outing sekolah dengan berbagai alasan (takut tantrum atau belum bisa ‘behave’ di tempat umum).

Hasil lainnya, kalau dianggap tidak memahami materi, Arsa dibiarkan bersama puzzle-puzzle yang jelas disukainya. Di sisi lain pemberian saran kepada sekolah, hanya menghasilkan feed back yang makin membuat luka hati kami. Tak ada maksud baik untuk menerima masukan sama sekali.

Maka, keputusan kami Arsa harus mencari sekolah yang lebih baik. Sekolah ternyata belum pro aktif dalam membantu kebutuhan Arsa; sehingga kemampuan Arsa tidak lebih baik dari sebelum dia bersekolah. Apa yang sudah mampu dilakukan Arsa di tempat terapinya 3x seminggu menjadi ‘mentah’ saat Arsa di sekolah.

Drama
Pelajaran kedua, sekolah dengan banyak kegiatan di luar, lingkungan yang sehat dan guru yang sehari-hari kolega orang tua, ternyata juga bukan jawaban yang baik.

Setelah mengevaluasi TK A pertama, kami berkesimpulan; pendekatan dan kedekatan dengan guru sangat perlu untuk menangani anak seperti Arsa. Kebetulan saya dan papinya Arsa guru di sebuah sekolah dengan metode pendidikan berbeda. Kami berdua mengajukan diri bagaimana kalau Arsa bersekolah di tempat kami bekerja. Sekolah menerima dengan syarat perlu ada shadow teacher atau guru pendamping. Kami pun berusaha mencarinya. Kami juga melengkapi dengan segala informasi yang diperlukan untuk bisa memahami Arsa.

Semester satu berjalan dengan baik. Arsa anak yang disukai, bahkan oleh kakak-kakak kelas. Di akhir semester perkembangan Arsa luar biasa, ia bisa tampil dalam drama sekolah walau hanya memegang sign Peduli Lingkungan. Namun, sayangnya, panjangnya waktu sekolah menyebabkan Arsa perlu menghentikan terapi. Kemudian kami sadar itu adalah keputusan yang sangat salah dan memicu timbulnya masalah di semester 2.

Hasilnya, usai libur, tiba-tiba Arsa tantrum bahkan mogok tidak mau ke sekolah hampir tiap hari tanpa alasan jelas. Namun akhirnya kami baru mengetahui penyebabnya. Sekolah yang selama ini memberi keleluasaan Arsa untuk eksplorasi dan menyesuaikan diri pada semester 1 mengganti ekspektasi. Secara tiba-tiba mereka “memaksa” Arsa untuk seperti anak lain. Dan Arsa tidak suka karenanya.

Hasil lain, shadow teacher yang mendampingi Arsa ternyata menjadi ‘bemper’ kalau Arsa tantrum. Bukan dijadikan motivator atau pendamping Arsa belajar. Sehingga Arsa semakin hari semakin benci padanya.

Puncaknya, ada insiden yang kisah aslinya baru saya tahu jauh hari kemudian setelah Arsa tidak lagi bersekolah di sekolah ini. Kelekatan dengan salah seorang guru yang telah saya singgung di atas, memicu sebuah insiden yang menstimulus Arsa sampai menggigit lengan temannya. Orang tua anak tersebut tidak bisa menerima dan meminta sekolah menyelesaikan dengan baik alias… Arsa harus pindah sekolah.

Ketika bersekolah di sekolah kedua, kami juga mengalami konflik kepentingan antara guru-guru Arsa yang jelas kolega kami dalam bekerja. Posisi kami yang juga sebagai orang tua siswa akhirnya berbuah pada pertemuan-pertemuan, evaluasi-evaluasi, observasi yang sangat tidak memberikan solusi apresiatif untuk anak seperti Arsa.

Maka, keputusan kami, kejadian itu menyadarkan, saya harus berhenti dari pekerjaan yang menyita waktu bersama Arsa selama ini. Memang ini sebuah keputusan besar. Tak hanya bagi saya dan keluarga, seperti pendapatan yang langsung berkurang drastis serta karir yang tiba-tiba berhenti, namun juga bagi sekolah.

Saat itu tengah tahun ajaran. Saya sedang terlibat proyek akhir tahun ajaran. Tapi, kebutuhan Arsa tidak bisa menunggu waktu lagi.

Dengan mengurangi sedikit demi sedikit waktu mengajar di sekolah, akhirnya sebelum tahun ajaran baru dimulai saya benar-benar mengundurkan diri dari karir yang saya bangun selama 10 tahun.

Arsa yang tantrum, perasaan yang hancur, Arsa yang tahu-tahunya agresif, bekas gigitan-gigitan ungkapan kekesalan dia di berbagai bagian tubuh saya, suami saya, ibu saya, bahkan termasuk pembantu kami. Kondisi rumah dan perasaan kami benar-benar berantakan.

Saya sempat menangis sejadi-jadinya ke suami. Membicarakan solusi seperti apa yang harus diambil. Suami saya justru lebih memikirkan kondisi psikologis saya. “Selama hati saya tak karuan, tak ada jalan yang baik untuk Arsa,” katanya.

Saat itu saya baru menyadari sungguh besar cinta suami kepada saya. Dan, mungkin itu beda laki-laki dan perempuan. Di saat hati saya sudah hancur lebur memikirkan masa depan Arsa, suami masih memikirkan saya di saat ia juga harus berpikir keras mengenai pendidikan Arsa.

Kejadian ini yang saya syukuri kemudian. Karena terus terang, tanpa adanya pemahaman dan kerjasama ayah dan ibu, menangani anak ASD seperti Arsa akan mengalami hambatan yang tak kecil. Bersyukurlah saya memiliki suami yang bisa menerima kondisi Arsa sebagaimana adanya. Dia mau mendukung saya untuk tak patah arang.

Mulailah kami mengerahkan segala daya dan jaringan untuk mencari info, dukungan dan tentu saja jawaban atas pendidikan Arsa.

Journey to the truth
Perjalanan baru pun saya mulai. Sisa gaji saya manfaatkan untuk mencari info sebanyak-banyaknya apa yang bisa saya lakukan. Saya ke Yayasan Suryakanti, Bandung. Di sini Arsa menjalani deteksi tumbuh kembang, konsultasi psikologi maupun sesi terapi beberapa kali.

Kesimpulannya, Arsa perlu menjalani terapi seperti bermain dalam Sensori Integrasi, terapi untuk membantu seseorang mengembangkan kemampuan sensori seperti penglihatan, bunyi-bunyian atau suara maupun bau-bauan. Sebagian besar anak ASD punya sensitivitas sendiri dalam hal-hal semacam itu.

Arsa juga perlu semacam speech therapy yang bisa dijalani sendiri dengan sering bernyanyi dan berbicara dengan nada-nada tertentu.

Reaksi kami terhadap analisis tersebut adalah dengan membelikan ayunan di rumah. Sebab, katanya, dengan mengayun, Arsa melatih keseimbangan dan tersalurkan sensitivitas tubuhnya. Kami juga mengikutkan Arsa kursus renang untuk membantu konsentrasi dan kesadaran akan tubuhnya, sering melakukan permainan role play dan berbagai aktivitas, seperti membuat kursi yang diatur memanjang, turun naik, berbelok, dan lain-lain di dalam rumah yang kami rancang sendiri. Kami mengajak Arsa berjalan keliling kompleks (yang akan memaksa Arsa melakukan aktivitas fisik) sementara Arsa tak sekolah.

Kami pun mau mengikutkannya pada lembaga nonformal seperti kursus. Kedatangan kami ke dua buah tempat kursus ternama di Denpasar justru menyadarkan kami bahwa semua takut berhadapan dengan anak autis. Di tempat pertama, sebuah kursus lukis, kami dijanjikan untuk dikonfirmasi lewat telepon. Namun, telepon tak kunjung datang. Saat kami berinisiatif menelpon, tahu-tahunya dibilang bahwa semua kelas sudah penuh.

Belum lagi di sebuah lembaga kursus matematika. Sang pemilik malah berbisik pada saya saat kami pamit pulang, “Maaf, Bu. Apakah anaknya pernah diperiksakan ke dokter? Saya merasa anak ibu terbelakang..” Hati kami sudah hancur untuk bersikap emosi pada pihak lain. Marah pun tak akan menghasilkan apa-apa.

Arsa memang senang dengan berbagai aktivitas baru yang saya perkenalkan. Hal baru, have fun, tidak ada marah-marah. Tapi, bagi saya dan suami, ini belumlah sebuah solusi. Akhirnya dengan bantuan milis seperti yang telah kuceritakan di atas, pergilah kami ke Yogyakarta untuk bertemu Pak Fred, orang Belanda yang sudah lama menetap di Indonesia. Dia pendiri sekolah autis Fredofios.

Dari hasil analisis, Pak Fred menyimpulkan Arsa mampu belajar di sekolah umum namun perlu didampingi dan difasilitasi dengan baik. Arsa juga tidak termasuk anak ASD yang berkemampuan rendah atau tidak mengerti apa-apa.

Kesimpulan tersebut mendorong kami untuk mulai “berburu” sekolah di Yogyakarta. Kami mengunjungi sebuah sekolah alternatif, Sekolah Alam di daerah Sleman. Waktu itu 75 persen hati kami sudah berpikir, mungkin dengan sekolah yang tidak menitikberatkan pada sisi akademis akan sangat membantu Arsa eksplorasi kemampuannya. Diskusi kami dengan ibu Wahya, pemilik dan juga kepala sekolah, sangat membumi dan sungguh menyejukkan hati; apalagi dengan kesamaan profesi yaitu pendidik.

Kami juga menyempatkan diri ke sebuah sekolah umum yang memiliki unit untuk anak berkebutuhan khusus. Sekolah yang didirikan politikus Amien Rais ini cukup mencengangkan dengan kepeduliannya. Di tiap-tiap kelas, ada seorang anak berkebutuhan khusus dengan guru, kurikulum dan metode khusus pula. Jadi dengan tema yang sama, anak berkebutuhan khusus tersebut belajar dengan cara dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya.

“Sekolah ini adalah surga,” pikir saya. Apalagi saat diberitahu ada satu tempat kosong di kelas 1 yang masih tersisa. Bila kami berminat, Arsa perlu menjalani tes dulu yang katanya sedikit formalitas saja, untuk tahu kemampuannya seperti apa.

Kondisi ini cukup membawa angin segar. Kami mulai mencari kontrakan, meninjau transportasi, biaya hidup dan lain-lain. Namun, kami masih menimbang-nimbang, apakah kepindahan Arsa, dan tentunya keluarga akan berimbas pada keluarga kecil kami.

Pendapatan keluarga sepenuhnya kini ditanggung suami yang tinggal di Bali. Lalu apabila saya dan Arsa pindah ke Yogyakarta tidakkah hal tersebut akan berimbas pada perkembangan psikologis Arsa yang harus berpisah jauh dari ayahnya? Memang ia belum mampu mengomunikasikan, namun saya tahu Arsa punya kedekatan batin dengan ayahnya, walau ayahnya kadang tak mampu juga menahan emosi. Demikian halnya dengan saya.

Apakah saya sanggup menjalani perkawinan jarak jauh di saat saya perlu berpegang kepada orang yang bisa menyangga kondisi ketakutan dan ketidakpastian yang saya alami.

Akhirnya setelah diskusi cukup panjang, keputusan kami adalah… cobalah di Bali dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantu atau setipe dengan sekolah-sekolah yang kami kunjungi.

Kami Harus Bisa!
Pencarian sekolah lagi-lagi bukan hal mudah. Maju ke negeri, ditawarkan buat Sekolah Luar Biasa. Ke sekolah khusus yang cukup punya nama, lagi-lagi didiagnosis ngawur tanpa benar-benar mengobservasi Arsa; yang berujung untuk mengikuti  terapi ini itu. Ke sekolah swasta umum, persyaratannya jelas-jelas nggak akan masuk ke kualifikasi yang dimiliki Arsa.

Sampai akhirnya kami menemukan sebuah sekolah swasta yang tahu-tahunya kepala sekolahnya adalah kolega kami sewaktu mulai berkarir di Denpasar. Gayung bersambut, walau sungguh maaf kalau kali ini agak “KKN”.  Di kemudian hari, kami tersadar; Arsa tak juga berkembang walau kami “KKN”.

Persyaratan sederhana, saya harus dampingi Arsa. Mulailah masa saya juga bersekolah, menjadi bayangan Arsa. Berkenalan dengan para guru, menjelaskan kondisi Arsa kepada guru dan terutama teman-temannya. Tidak selalu mulus, karena emosi Arsa turun naik, kesulitan berkomunikasi, keterbatasan kemampuan Arsa, penolakan sebagian orang tua dengan tatap mata mengasihani, itulah yang kami hadapi setiap hari.

Kejenuhan pun tak bisa saya pungkiri. Kemarahan bercampur kesedihan, tapi bercampur lagi dengan keteguhan untuk terus berjuang demi Arsa adalah emosi sayasehari-hari saat itu. Tiap bangun pagi, membangunkan Arsa dan sama-sama bersiap sekolah adalah saat membulatkan tekad, “Kami harus bisa!”

Tapi hal-hal lucu lainnya juga kami alami. Memisahkan pertengkaran anak lain, menjalin persahabatan dengan anak-anak perempuan yang ‘suka’ dengan Arsa karena ‘cool’ dan tidak nakal, membantu guru mengevakuasi anak saat terjadi insiden ledakan gardu, bahkan sebagai pengingat kalau guru lupa bahan terakhir yang disampaikan di kelas. Soal pengingat ini, bahkan di-’guna’-kan oleh orang tua yang bersimpati untuk mengetahui apa tugas yang diberikan guru di sekolah.

Saya juga pernah berusaha meminta guru pendamping Arsa di TK untuk mencoba lagi mendampingi Arsa. Biar Arsa tidak selalu mengandalkan saya dan ada interaksi dengan orang lain. Jadi ada masa-masa seorang Arsa didampingi oleh dua orang dewasa saat bersekolah. Sayang, trauma masa lalu saat Arsa mengalami insiden di TK, terus membekas dan itu dikaitkannya dengan guru pendamping ini. Padahal ibu Desak, begitu dia biasa dipanggil, sayang sekali pada Arsa, dianggapnya sebagai anak sendiri karena dia tak bisa memiliki anak.

Sebenarnya Arsa sudah mengenal alphabet, angka, bisa menulis walau tak sempurna, suka mewarnai, suka mencocokkan; harusnya bisa tereksplorasi saat itu. Namun, masuk dalam sebuah institusi yang menerapkan pendidikan dengan cara memenuhi tuntutan kurikulum ternyata bukan tempat yang pas buat Arsa.

Efek yang sangat jelas adalah ketidakpercayaan diri Arsa dalam mengerjakan segala sesuatu. Bila menggunakan pensil apapun namanya, ia memerlukan tangan saya. Tanganku harus menggenggam tangannya untuk menulis, menggaris, menggambar; kecuali menggunting dan mewarnai. Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan guru-guru, berarti Arsa belum mampu apa-apa.

Jangankan latihan sehari-hari, ulangan pun demikian. Jangankan kegiatan akademis, non akademis seperti musik, olahraga dan yoga, Arsa hanya duduk bersandar pada saya. Pernah saya paksa ikut lari di lapangan, ikut melakukan yoga, coba menyanyi; hanya sekali-kali saja ia mau. Hanya pelajaran komputer saja yang buat ia tertarik dan ia pun menggambar dengan mouse.

Karena sikap dan kemampuan Arsa, ia tak pernah menerima rapor yang sama dengan anak lain, seperti usul kami juga. Hanya berupa komentar-komentar kemampuan Arsa seperti apa. Begitu seterusnya sampai tahun berikutnya. Walau aku sudah mengerahkan segala metode, dengan mengubah materi guru untuk kemudian diberikan kepada Arsa, menyederhanakan pilihan ganda menjadi hanya A atau B, YA atau TIDAK, membuat banyak lembar kerja untuk membantu guru; namun tak semua guru di sekolah mau menilai Arsa sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Kepercayaan Diri
Di tengah perjalanan saya dan Arsa di sekolah umum ini kami juga menjalani yang namanya terapi homeopati dari seorang Eropa yang banyak membantu anak ASD seperti Arsa.

Homeopati adalah ilmu kedokteran yang dikembangkan oleh Dr Samuel Hahnemann (1755-1843), seorang dokter Jerman. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa bahwa substansi apa pun, yang dapat menghasilkan gejala-gejala pada orang sehat, dapat menyembuhkan gejala serupa pada orang sakit.

Ide ini disebut sebagai “Hukum similars” dan dipahami oleh Aristoteles dan Hippocrates. Dia  disebutkan dalam manuskrip Hindu kuno. Hahnemann mengubahnya menjadi sebuah ilmu penyembuhan.

Berikut adalah contoh dari prinsip ini.

Pertama, bawang adalah zat yang membuat air mata dan hidung Anda terbakar. Jika Anda mengalami serangan demam dengan mata berair dan hidung terbakar, obat homeopati yang terbuat dari bawang dapat meringankannya.

Contoh kedua, ketika Anda disengat lebah Anda merasa sakit, terbakar menyengat dan jaringan sekitar daerah tersebut membengkak. Beberapa bantuan diperoleh dari penerapan dingin ke daerah tersebut. Karenanya Jika Anda memiliki amandel membengkak berefek seperti terasa terbakar dan menyengat, maka rasa sakit akan menjadi lega dengan proses pendinginan yang didapat dari substansi obat homeopati.

Penjelasan di atas dikutip dan diterjemahkan bebas dari penjelasan tentang homeopati.

Reaksi Arsa pada proses ini sungguh luar biasa. Karena awal dari proses homeopathy adalah detoksifikasi maka Arsa tak boleh ke dokter dan mengkonsumsi obat apapun; maka muncullah berbagai reaksi. Sakit kepala, keluar kotoran dari mata, lendir dari hidung, bau mulut, gas semacam kentut, dan berbagai hal lain yang tak saya kira ternyata berdampak baik pada perkembangan Arsa.

Kepercayaan diri, kestabilan emosi, kemampuan berkomunikasi, bertambahnya nafsu makan dan yang paling jelas sistem imun Arsa semakin baik. Di saat teman-teman sekelas berjatuhan sakit, Arsa  justru segar bugar.

Namun, kemajuan Arsa justru mendorongnya untuk mengembangkan emosi, perasaan dan tentu saja kesadaran bahwa ia tidak suka dan tidak mau sekolah di tempat itu. Yang mau menerima keadaan Arsa, namun tidak bisa memfasilitasi untuk membuatnya berkembang.  Hal itu mencapai puncaknya saat kami masukkan ke terapi yang sempat terputus 1,5 tahun lamanya. Semua terapisnya kaget, mengapa Arsa menjadi seperti saat baru mulai senang diterapi. Kata mereka, “Harusnya Arsa bisa begini, begitu, dll.”

Arsa pun terapi lagi. Kali ini kombinasi terapi okupasi yang mengajarkan keterampilan yang membantu orang hidup seindependen mungkin. Keterampilan termasuk berpakaian, makan, mandi, dan berinteraksi dengan orang lain. Juga terapi wicara dan pictures exchange communication system (PECS) yang membantu meningkatkan keterampilan komunikasi menggunakan gerakan, simbol, foto dan papan gambar secara lebih realistis.

Terapi memang mengembalikan kepercayaan diri Arsa. Namun, ketidaksukaannya untuk belajar di sekolah ini semakin menjadi. Mulailah Arsa ngambek dengan minta pulang saat pelajaran, tidak mau dibangunkan di pagi hari, sampai terus berdiam di kamar selama berhari-hari.

Menyadari kondisi Arsa yang sedemikian rupa, dan setelah berkonsultasi dengan para terapis maupun pihak sekolah; akhirnya Arsa kami istirahatkan dulu sambil mengefektifkan Arsa di tempat terapi selama beberapa bulan. Untung sekolah mau menerima dan mengerti, tempat terapi pun siap membantu memfasilitasi Arsa secara lebih intensif dalam masa percobaan 1 bulan.

A place called home
Ternyata tak perlu menunggu 1 bulan. Dua minggu, tiga minggu perkembangan Arsa di segala bidang terus meningkat. Ia pun percaya diri untuk ku’tinggal’ selama terapi intensif tersebut, tak perlu ditemani.

Akhirnya di awal tahun 2011, Arsa memulai pendidikan sebenarnya di tempat terapi yang sedang diproses untuk menjadi sekolah, Perhimpunan Peduli Autisme Bali (PPAB) di daerah Denpasar Utara. Di sini siswa dibagi berdasar level kemampuan. Jadi, Arsa bisa belajar dengan anak ASD lain yang berusia 5 tahun atau 7 tahun lebih tua. Arsa paling muda di sekolah, karenanya ia cepat mengejar kemampuannya yang tertinggal selama ini.

Dengan 20 jam seminggu, perkembangan Arsa semakin baik. Kepercayaan diri, kemandirian, keberanian, kedisiplinan Arsa terus dipupuk. Evaluasi, masukan terus diberikan intensif setiap saat kami bertanya. Sayangnya ketergantungan Arsa pada saya masih tertinggal. Bila di PPAB, ia mau mengerjakan sendiri, setiba di rumah, pasti ia minta dibuatkan. Tangannya selalu mencari-cari tangan saya minta bantuan.

Karenanya saya memutuskan kalau mau beraktivitas dengan Arsa adalah di luar materi yang diberikan sekolah. Misalnya, menjahit dan memasak. Ternyata pangeran kecil saya ini sangat trampil di hal-hal motorik halus, yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian.

Saya menyiapkan bahan-bahan untuk menyulam. Mulai dari kertas yang digambar hewan atau benda, kemudian dilubangi sebagai jalur untuk menyulam. Sampai akhirnya berpindah ke kain. Sudah banyak karya yang dihasilkan Arsa sampai saya buatkan sebuah galeri foto di Facebook untuk karya-karyanya. Tapi satu hal yang selalu saya ingat adalah merekam saat ia menjahit, bila suatu saat orang meragukan apakah aktivitas itu benar-benar dikerjakan Arsa.

Kalau memasak, Arsa masih kikuk menggunakan kompor. Jadi, tak pernah kubiarkan ia sendirian mengutak atik kompor. Yang biasa ia lakukan adalah mempersiapkan alat-alat untuk memasak, termasuk mengupas, menggeprek dan memotong bawang putih. Tak lupa ia selalu mencuci semua peralatan itu bila kami sudah selesai. Setiap momen ini, rasanya ada air es mengguyur hati saya karena tak semua anak ‘normal’ mau membantu ibunya memasak.

Rasa percaya diri, pemahaman komunikasi yang semakin baik,  keinginan membantu, ketrampilan yang dilakukan di rumah saling menunjang satu sama lain dengan perkembangan Arsa di sekolah. Arsa seperti menemukan rumah di mana dirinya dihargai sebagai Arsa dengan segala kemampuan, kelebihan dan kekurangannya. Biarlah waktu yang akan menjawab kapan Arsa siap melangkah ke pendidikan formal seperti anak-anak lain.

Ringan Melangkah
Saat dulu bergabung di sebuah milis, saya menemukan teman-teman baru. Para ibu yang juga berjuang menerjang ‘badai’ berlabel autis atau ASD dalam kehidupan mereka. Curhat kami termasuk sharing mengenai berbagai pendekatan ilmiah dan non ilmiah, pontang panting kami dalam keseharian mengurus si kecil, sampai kepedulian kami terhadap olok-olok kata autis di dunia maya maupun pergaulan sehari-hari.

Karenanya salah seorang teman saya pun mengambil insiatif untuk melakukan kampanye setiap hari Rabu di akun FB maupun twitter kami. Kami bergantian mengemukakan ide, untuk mengambil dari sudut pandang mana kita mau berkampanye untuk lebih peduli pada anak-anak ASD maupun kebutuhan khusus lainnya.

Kami didampingi Toge Aprilianto, psikolog dari Surabaya yang kerap dimintai seminar atau diskusi di radio. Tak dinyana beliau memiliki masa kecil yang bisa dikatakan serupa dengan anak-anak ASD yang menjadi kliennya. Sehingga pemahaman beliau pun tak sebatas medis, tak sebatas ilmiah atau teori-teori di buku, atau malah untuk jualan produk suplemen yang belum teruji kesehatannya. Pemahaman beliau seperti memahami dirinya sendiri. Apa yang disukai atau tidak, apa yang efektif atau tidak dilakukan orang tua.

Kehadiran Pak Ge (demikian ia dipanggil) menjadi angin segar dan pendamping yang terus menyemangati kami, para orang tua anak ASD untuk terus memperjuangkan pendidikan yang lebih baik dan sesuai dengan anak-anak kami termasuk bagaimana mendidik anak-anak dengan pola asuh yang sebenarnya juga perlu diterapkan pada anak-anak ‘normal’

Keseharian kami bersama anak-anak ASD tak bisa dikatakan ringan. Kami berhadapan dengan keluarga yang tak semuanya menerima, masyarakat sekitar yang malah menggunakan kata-kata ‘autis’ untuk olok-olok, institusi pendidikan yang masih kebingungan mencari konsep dan kurikulum pendidikan tepat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi, dengan bergandengan tangan, berinteraksi baik di dunia maya maupun dunia nyata, membuat kami semua lebih ringan melangkah setiap harinya.

Kacamata Berbeda
Dulu, bila Arsa ngambek dan ngamuk di tempat umum; rasanya saya ingin sembunyi di bawah meja. Tak kuat saya melihat tatapan mata orang-orang antara,”bisa nggak sih didik anaknya?” atau “kasihan ya anaknya kayak gitu”. Malu, tentu saja.

Bahkan kami pernah harus membayar sebuah vacuum cleaner yang patah rodanya di sebuah pusat perlengkapan ternama untuk perilaku tak tertib itu. Belum lagi baju saya yang robek di tempat umum karena ditarik tangan Arsa saat tantrum. Atau sorot mata aneh, bila Arsa berdiri di atas kursi makan atau teriak-teriak tak jelas saat ada iklan yang tak disukai di TV restoran.

Namun, bila melihat Arsa berusaha berkata-kata, bernyanyi dan menari, saya merasa tak pantas memiliki rasa malu. Selalu saya pompa jiwa untuk besar dan berlapang dada. Dia anak saya, lahir dari rahim saya, dari cinta saya dan suami; kenapa saya ingkari kondisi dan kebutuhannya?

Karena Arsa, saya belajar lebih banyak. Belajar untuk tidak hanya memperdulikan karir saya  saja. Belajar untuk tidak malas mencari tahu dan berkenalan dengan lebih banyak orang. Belajar untuk menghargai apa yang telah dicapainya, dan mengapresiasi ketidaksempurnaan yang dimiliki. Belajar mengambil kesempatan-kesempatan yang membuatku kenal banyak orang. Belajar untuk tidak merasa malu hanya karena hidupku tidak sempurna. Saya juga jadi berkesempatan bekerja paruh waktu di sebuah lembaga kebudayaan yang mendorong saya  melebarkan lingkungan sosial dan menambah kemampuan berbahasa asing.

Kini, saya harus memikirkan langkah Arsa ke depan. Kadang-kadang, saya ingin mengikutkan dia pada kursus-kursus seperti lukis, musik, sepakbola, dan sebagainya. Sayang, tak semua kursus bisa memahami kondisi dan kebutuhan Arsa. Belum memulai saja mereka sudah jeri, khawatir tak bisa menangani.

Namun, kami tak mau berhenti pada penolakan orang-orang. Karena Arsa adalah observer sejati, saya dan suami mulai berpikir dan menimbang-nimbang untuk mencari kursus untuk diri saya. Biar saya yang belajar, lalu mengajarkannya di rumah.

Melihat ibunya bisa, biasanya ia akan ikut seperti saat belajar menjahit dulu.

Ya, langkah kami belum berakhir dan belum berarti kami sudah ‘hebat’ memfasilitasi Arsa. Ia baru 8 tahun, dan masih banyak sekali yang perlu dikerjakan.Tapi sekali lagi, karena Arsa saya dan suami belajar tentang hidup. Belajar menghargai ketidaksempurnaan orang lain, menghargai pencapaian hal-hal sederhana, meresapi pengalaman berbeda, dan tentu saja belajar mencintai tak bersyarat.

Arsa seperti anak lainnya, anugerah terindah bila kami melihat dari kacamata berbeda. [b]

112 Comments

  1. bunda racha

    Semangat bunda, gandeng tangan…bersama kita usahakan yg terbaik untuk anak2 kita

    • Bunda Racha : yuk bergandengan….:)

      Chipi : terima kasih…saya masih terus belajar, tumbuh dan berkembang bersama anugrah ini

      Deenaura : salam kenal juga

      Luhde : iya…sebenarnya ga cuma untuk orang tua anak autis saja…

      • Mba ivy salam kenal..blh mnta ctcnya sy ingin tahu detox yg dijalani arsa utk anak sy yg lbh heboh dr arsa..trmkasih..salut utj mba ivy

  2. terharu…dan membuka mata bagi semua org bahwa anak adalah amanah dan anugrah yg hrs kita jaga. Salut Bund…tetaplah tersenyum 🙂

  3. deeanaura

    Salam kenal dr sesama pejuang 😀

  4. modal info berharga unt calon2 ibu dan bapak

  5. Saya dapat semangat baru dan motivasi baru setelah membaca tulisan ini, kebetulan anak saya Rezha B W umur 12 th keluhannya hampir sama dengan anak ibu. Obat ini saya bisa dapatkan di mana ya bu..? saya ingin mencoba ke anak saya. tks

    Wassalam

    Artati
    Surabaya

    • Bu Artati, ada e-mail address atau no telpon , biar ngomongnya lebih enak…
      Semangat terus bu..kalau bukan kita, siapa lagi?
      :))

  6. bunda ivy, boleh saya minta no hp atau email? pengen sharing… *khawatir dengan kondisi anak saya. tulisan bunda sgt menginspirasi… terimakasih

  7. Halo bunda Ivy Sudjana, salam kenal. Saya terharu sekali membaca kisah Arsa. Kebetulan anak saya juga penderita autis dan kebetulan saya tinggal di jimbaran. Saya pingin sharing, ini email saya dedenmail@gmail.com. Makasih banyak bun, tetap semangat ya bu 🙂

  8. Dedy Letlora

    Untuk Ibu/bpk yang memiliki anak dengan spektrum ASD (Anak berkebutuhan khusus) kami dari Youth Shine Academy telah bergerak di bidang Pusat Pelatihan Orang TUa dan Anak berkebutuhan Khusus yang bertempat di Bali dan Surabaya, jika anda tertarik dan berminat untuk sharing hubung kami di FB youthshine indonesia,,, kami telah bergerak dibidang ini kurang lebih 9 tahun, mungkin kita bisa berbagi dengan Ibu/bpk… 🙂 God Bless U

  9. Dedy Letlora

    Untuk Ibu/bpk yang memiliki anak dengan spektrum ASD (Anak berkebutuhan khusus) kami dari Youth Shine Academy telah bergerak di bidang Pusat Pelatihan Orang TUa dan Anak berkebutuhan Khusus yang bertempat di Bali dan Surabaya, jika anda tertarik dan berminat untuk sharing hubung kami di FB youthshine indonesia,,, kami telah bergerak dibidang ini kurang lebih 9 tahun, mungkin kita bisa berbagi dengan Ibu/bpk… 🙂 God Bless U

  10. mentik faiyah

    selamat pagi …..

    setelah saya membaca tentang arsa , hati saya sangat tersentuh sungguh perjuangan yang sangat keras , kebetulan saya singgel perent yang mempunyai kanak kebutuhan khusus seperti arsa , dia umur 11 tahun .
    beberapa sekolah udah saya daftarin , dari bali , java pandaan pasuruan sampai sekolah di kediri kita lalui, akhir nya aku putusin untuk sekolah di bali lagi ,

    mudah 2 an setelah saya menulis ini banyak info yang saya dapatkan .

    terima kasih

    • Ibu..silakan menghubungi PPAB di A Yani Utara, sebelah Kumon, untuk berdiskusi dengan para terapis. Mudah-mudahan bisa membantu.

  11. Amanda Mei

    Masih Adakah Kasih Itu? Mengapa Anak2 Tak Bersalah Jadi Korban– Sebar-kan Pesan Ini.

    Mengapa Jumlah Anak Yg Punya Cacat Mental Terus Bertambah Tiap Tahun-nya !

    Ada 3 macam kimia ber-bahaya yg ada pada roti yg disalah-gunakan oleh banyak produsen roti:
    1. Kimia Pengawet
    2. Kimia Pengembang
    3. Kimia Pemutih

    1. Kimia Pengawet
    Produsen roti ingin roti-nya tidak ber-jamur & tahan selama-lama-nya untuk meningkatkan keuntungan.
    Pengawet yg ditambahkan pada roti2 di Indonesia saat ini diperkirakan sampai 5 kali lipat dari pada yg dibenarkan oleh undang2. Bahkan beberapa pengawet yg dipakai bukan food grade / pengawet makanan.

    2. Kimia Pengembang
    Jaman dulu orang memakai ragi / yeast untuk membuat roti. Yeast ini bukan bahan kimia, tetapi microorganisme yg
    meng-gigit-in adonan tepung sambil mengeluarkan gas CO2 yg membuat roti mengembang pelahan2. Microorganisme ini tidak ber-bahaya karena mati setelah roti di-oven.
    Sekarang ini roti diproduksi memakai kimia pengembang dalam takaran yg banyak, supaya roti bisa diproduksi dgn adonan yg sedikit dan supaya roti bisa mengembang menjadi besar sekali & empuk dalam waktu yang singkat. Begitu kimia pengembang dimasukkan pada adonan, gelembung2 gas langsung terjadi , dan roti langsung mengembang & mem-besar ber-kali2 lipat. Kimia pengembang ini dalam jumlah banyak menyebabkan kanker(carcinogenic).

    3. Kimia Pemutih
    Karena warna asli gandum bukan putih, maka roti putih itu dibuat putih seperti kapas supaya kelihatan bersih & menarik melalui proses pemutihan dengan memakai kimia pemutih.

    Siapa Korban-nya? Mengapa Tiap Tahun Jumlah Anak Cacat Mental Terus Bertambah!
    Bagi yg kebetulan tidak tahan / allergi terhadap kimia2 tersebut, kimia2 yang ada pada roti selain menyebabkan kanker (carcinogenic), menyebabkan gangguan syaraf, ADHD hyperactive, keterbelakangan, gangguan syaraf, cacat otak, IQ rendah, dll. Karena susunan syaraf anak kecil atau bayi masih rentan, roti yang mengandung banyak bahan kimia berlebih ini tidak disarankan bila dikonsumsi ibu hamil, ibu menyusui & anak kecil.

    Lalu apa solusi-nya bagi pecinta roti?
    Pembuat roti beras kering “N_asiKriuk”, ibu Debbie memberi penjelasan kepada saya: N_asikriuk berupaya mengurangi jumlah anak penyandang cacat mental, seperti autis, ADHD, mental retardasi, dll. Di tengah marak-nya penyalah-gunaan bahan kimia tambahan, N_asiKriuk memberikan suatu pilihan roti tawar yang tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun, aman dikonsumsi siapa saja terutama ibu hamil, menyusui & anak kecil.
    – Tanpa kimia pewarna / pemutih > Warna asli
    – Tanpa kimia pengawet > Kering, tak perlu pengawet
    – Tanpa kimia pengembang roti > Dibuat dengan proses “pop”
    – Tanpa kimia penguat rasa / MSG > Rasa original
    – Tanpa kimia pemanis /& flavor > Disajikan dgn topping2 sehat

    N_asiKriuk Debbie bisa dijumpai di Jakarta:
    – Supermarket Rezeki
    – Total-Taman Palem Lestari
    – Club Sehat Jl. Cideng Barat 62B atau Pluit Sakti Raya 33
    – Nano-Pluit

    Atau dipesan melalui on line shop: Sentra Camilan Nusantara,
    http://www.sentracamilannusantara.com/

    Informasi mengenai roti beras kering atau rice cake “N_asiKriuk Debbie” dapat anda jumpai di Facebook “N_asiKriuk Debbie” Terima kasih.

    – Lili –

    Jangan egois & tutup mata terhadap bertambah-nya jumlah anak cacat mental. Ambil tindakan untuk mengurangi-nya & tunjuk-kan kalau masih ada sedikit kasih di hati anda. Sebar luas-kan pesan ini.

    Wikipedia: Bread Improver (http://en.wikipedia.org/wiki/Bread_improver )
    two ingredients commonly used in bread improvers were singled out as causing harm to those who ate the bread. Calcium propionate (Preservative 282) was linked to Attention-Deficit Disorder among children. Potassium bromate was also singled out as being potentially carcinogenic.

    Wikipedia: White Bread ( http://en.wikipedia.org/wiki/White_Bread)
    white flour is often bleached using potassium bromate or chlorine dioxide gas to remove any slight yellow color and make its baking properties more predictable. Bleaching gives white flour a far longer shelf life .

  12. Dian Novianty

    saya memiliki anak autis umur 5 tahun. saya berharap bisa bergabung dengan milist orang tua anak autis.

    Mohon bisa diinvite untuk join. selama ini saya sering tertinggal mengenai info untuk perkembangan anak autis.

    Terima kasih dan salam,
    Dian Novianty

  13. Dian Novianty

    Mohon diinvite

  14. ..mbak ivy, walaupun memang perlu waktu yg lama, akhirnya anak saya bisa berbicara & komunikasi 2 arah, tetap semangat utk terapi ya, salam kasih..

  15. Mami Ivy … ketemu disini juga. Keep on fighting for Arsa … he is a precious thing. He is amazing. Terakhir aku berkunjung ke PPAB, sudah banyak sekali perubahan positif pada Arsa. Dan tetep, kalo belum disapa secara pribadi dia akan ngeliatin terus … hehe Sampai ketemu kapan-kapan kalo aku mampir PPAB lagi …
    Bunda Ina

  16. dwi endah

    Mohon di sharing tempat terapi yg bagus di Surabaya apa, dan tolong di sharing juga alamat bapak Toge, karena saya adalah ibu seorang anak autis usia 11 tahun yg mengalami perjalanan yg sama dengan ibu, dan sedang diambang kebingungan, terima ksih. tolong invite saya dan email saya bu di dwiendahmsi@yahoo.com. terima kasih

  17. fatkhiyyah

    klo mau gabung ke millisnya gimana ya bunda… anak saya dua tahun kemarin ada temen yang bilang anak saya autis. (subhannallah akhirnya terjawab sudah pemikiran saya). mungkin minggu depan akan ke spesialis untuk cek lebih pasti dan dietnya… klo boleh tanya apa sich pengaruh diet sama tubuhnya anak-anak SN?Mohon maaf klo banyak tanya. thx

  18. Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak (PTTKA) Rumah Sahabat Yogyakarta melayani deteksi dini anak berkebutuhan khusus dengan psikolog, terapi wicara, sensori integrasi, fisioterapi, behavior terapi, Renang& musik untuk anak berkebutuhan khusus, terapi terpadu untuk autism, ADD, ADHD, home visit terapi & program pendampingan ke sekolah umum. informasi lebih lanjut hubungi 0274 8267882

  19. Ni Made

    Terharu…
    Dan sy ingin belajar kesabaran san semangat dr bunda Arsa..
    Sy di Jakarta dan lg cari sekolah yg tepat utk putra saya 6 tahun juga ASD..

  20. maradit

    Mbak Ivy, saya juga punya anak ASD 5 yo, lagi pusing cari sekolah. Senang sekali kalo boleh bertukar informasi dan pengalaman dengan mbak Ivy, terutama mengenai homeopathy & kursus renang. Kalau boleh saya minta alamat email mbak ya, email saya : maradityo@gmail.com
    Terimakasih, keep on fighting….

  21. yuliana

    Bu Ivy, cerita Ibu membuat saya menangis saat membacanya. Saya mempunyai satu putra umur 2 thn dan saya sangat ingin sharing dengan Ibu Ivy…

  22. yuliana

    Thank you Bu Ivy

  23. mariana

    mam, terima kasih atas inspirasinya, saya sangat terharu, anak saya juga anak berkebutuhan khusus, mohon informasi-informasi yang dapat membantu, trims yah mom 🙂

  24. Bu Ivy klo boleh saya mau minta alamatnya PPAB lokasinya dimana ya ?

  25. hai bu
    boleh saya tau alamat sanggar melukis utk abk?terimakasih

  26. Hai,, bu ivy bisa minta alamt ol nya? Mohon info2 na, mengenai ciri2 ASD,, thank’s

  27. netty herawati

    sy dr banjarmasin, usia anak sekarang 10 thn, dulu sy mengalami hal yg sama sprt ibu, bingung , tdk percaya diri, terapi berulang2 hasilnx tdk lbh baik jika anak kita handle sendiri dg pengalaman mengajarkan membaca seperti kepada saudaranx yg normal, metode tsb sj saya ajarkan dan tekanan yg sy lalkukan kepadanx dg hukuman menulis sampai selesai, tdk boleh berdiri sebelum selesai pekerjaan ternyta hal itu sangat efektif. lebih lg kalo dia melakukan kesalahan, sekarang anak sy sdh bisa menulis, mulai membeo dan mulai banyak kata2, hanya sj untuk itu semua kami hrs melakukannx berulang2 seperti a i u e o setiap hari sy lakukan dan ternyata hampir setahun dia baru dpt mengingat huruf tsb, intinx kesabaran, sabar menunggu dan selalu rutin diajarkan baca dan menuliskan hurufnx. sekarang dia mulai bisa menggabungkan sprt a bi, i ba, u ba, ba ca , blm lg yg lbh sulit, sy hanya hrs sabar dan menyadari anak saya tdk secepat anak normal, terapi obat tetap sy jalani, karena tantrumnx masih ada ,

  28. salut utk perjuangan bunda arsa 🙂 sekrg bgm perkembangan arsa bunda? sekolah dimn?

  29. Para bunda sekalian yang belum sempat saya balas satu persatu…ini beberapa jawaban sekaligus.

    Arsa saat ini sudah belajar di PPAB, Jl A Yani Utara no 237, Denpasar. Perkembangan akademis baik sekali…sedang senang-senangnya belajar, terutama matematika dasar. (penjumlahan dan pengurangan sederhana) dan baca tulis kalimat sederhana.
    Setiap hari saya yg kewalahan membuatkan soal untuknya karena antusiasme belajar besar sekali.
    Kemandirian semakin baik, malah banyak hal yang tidak mau dibantu lagi.
    Arsa bisa membuat telur dadar maupun omelet berbumbu sederhana, bisa menumis kangkung dan membuatkan teh untuk org tuanya.

    KEmampuan berkomunikasi sudah tahap dialog sederhana, dan sering berusaha menyampaikan sesuatu walau dengan kalimat-kalimat pendek.
    Perkembangan emosional semakin baik, sudah bisa negosiasi hal-hal sederhana, seperti paham harus menunggu dulu baru mendapatkan/melakukan sesuatu, atau melakukan A untuk mendapatkan B. Makin menguasai ekspresi verbal dan non verbal dan memahami ekspresi verbal dan non verbal orang lain.
    Sosialisasi dengan teman sebaya semakin baik namun masih cenderung tidak mau bila apa yang dilakukannya diganggu oleh orang lain.
    Arsa juga sedang belajar untuk menyayangi calon adiknya (masih di perut saya), melalui gambar proses perkembangan kandungan dari bulan ke bulan.

    Rencana lanjutan, bila matematika dasar sudah mantap mau mulai bersosialisasi di tempat kursus matematika, musik dan renang.
    Tentang tempat dan guru kursus, kita sendiri yang harus observasi dan diskusi dengan gurunya, apakah cocok dengan kebutuhan dan kondisi anak kita.

    Demikian…mungkin bila ada yg ingin ngobrol lagi dengan saya, bisa via e-mail yg nanti saya kirimkan ke masing-masing.

    Terima kasih apresiasi dan perhatiannya…
    Jalan masih panjang, jangan mudah putus asa, yuk sama-sama bekerja keras bersama anak dan keluarga untuk hari depan mereka.

    Salam hangat

  30. mohon langkah-langkah/tahapan apa saja yang secara sistematis harus ditempuh orang tua untuk menangani anak seperti ini?,terimakasih sebelumnya

  31. berjuanglah terus jangan lelah, mereka butuh kita, orang yang peduli pada mereka.
    saya belum jadi seorang bunda namun saya terapis ABK, sedikit tahu tentang mereka.
    Tuhan memberkati…

  32. Christine

    Wah bunda arsa, sy christine salam kenal ????, sy tersentuh sekali membaca cerita ibu, kebetulan anak saya Damian usia 4 tahun juga spektrum autistik sdh terapi 1 tahun lebih, sy bisa rasakan perjuangan ibu.. Kl boleh ibu berkenan berbagi cerita dan berbagi pengalaman mengenai homeotherapi pd sy? Alamat email sy ch_rovani@yahoo.com

  33. Christine

    Wah bunda arsa, sy christine salam kenal ????, sy tersentuh sekali membaca cerita ibu, kebetulan anak saya Damian usia 4 tahun juga spektrum autistik sdh terapi 1 tahun lebih, sy bisa rasakan perjuangan ibu.. Kl boleh ibu berkenan berbagi cerita dan berbagi pengalaman mengenai homeotherapi pd sy? Alamat email sy ch_rovani@yahoo.com

  34. Salam Ibunda Arsa, saya mohon petunjuk untuk Homeo terapi, apakah ada di surabaya? kebetulan domisili saya di surabaya, mohon petunjuk sekolah apa yang baik untuk anak saya di surabaya?

    terima kasih atas sharing anda, sungguh bermanfaat, jika tidak keberatan boleh saya minta alamat email anda? terima kasih sebelum nya, salam buat keluarga
    teddylauda@hotmail.com

  35. Saya sungguh kagum dengan pengorbanan Ibu. Saya sendiri saat ini sedang berjuang untuk bisa memiliki kesabaran dan mau berkorban supaya bisa mengurus anak saya yang autis, berumur 4,5 th. Karena saya bukan tipe ibu rumah tangga, saya suka berkarir. Saat ini sedang dilema, apakah mau berhenti kerja atau bagaimana ya?
    Saya sampai mengikuti kursus bagaimana menangani anak kebutuhan khusus. Sangat berguna untuk kita ibu2 yang awam…blm tau apa itu autis, hiperaktif dan lainnya. Kalau mau tahu lebih jelas ttg autis dan lainnya, bisa membuka http://www.forumkonsultasi.org (isinya informasi pendidikan dan psikologi anak, semoga membantu ya)
    Dan “two thumbs up” buat para orang tua diluar sana yang memiliki anak kebutuhan khusus, jangan berkecil hati, kita adalah orang2 khusus terpilih untuk menghadapi hal-hal ini. Jangan menyerah ya….
    🙂

  36. salam kenal mbak ivy,sy bunda desak,punya anak adhd.sy lg bingung cr tempat sekolah untuk anak sy! mohon informasinya jg tentang tempat homepaty .oya gimana perkembangan arsa saat ini, apakah msh terafi dippab ?boleh minta no hp ato almt email mbak ivy biar bs sharing, mhn dibls ,almt email sy mawarmerahku63@yahoo.com.trims

  37. yuni rahmanti

    Bunda arsa,sy punya masalah yg sama dan sy boleh minta alamat dan nomer telepon yg bisa sy hubungi perihal sekolah anak saya yg juga special needs..anak sy 4thn tp blom bisa bicara dan sempat difonis autis oleh psikolog. Plis ini penting buat saya,,,salam yuni from negara bali

  38. Nidhia Aryati

    salam kenal bunda Arsa,
    Terima kasih sudah berbagi kepada kami kebetulan anak saya usia 5,5 th juga Autis Aspeger, sekarang ini saya sangat kebingungan utk mencari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan Rhadea anak kami bila berkenan berbagi informasi mengenai sekloah, suplemen penunjang yg aman( selama ini sy tidak berani memberikan suplemen) dan terutama sy tertarik dgn dengan terapi homeopati. Saya sudah add fb bunda arsa mohon di konfirm ya……. Banyak yang ingin saya tanyakan kepada bunda, berikut alamat email saya nidhia_aryati@yahoo.co.id
    Saya tinggal di denpasar jujur ini seperti oase bagi saya.
    terima kasih 🙂

    • made sri

      Halo Bunda ivy,anak pertama saya di diaknosa asperger syndrome Sudah mampir setahun terapi. Perkembangannya lumayan banyak membeo sdh tapi inisiatif untuk bicara Dari dia belum Ada.saya pernah jadwalin konsul ke PPAB di Ahmad yani tapi blm sempat kesana.
      Saya ingin sekali berbagi informasi mengenai PPAB Karna saya belum menemukan sekolah yang pas buat anak saya.
      Mohon infonya Bunda email saya dennicca@yahoo.com Makasih bunda

  39. yhanie wibisono

    Salam mom ivy,
    Luar biasa mbaca kisah arsa. Naura, bidadari kecil sy-5yo, pun mengalami ads. Perasaan sy tercabik-2, sempat depresi, jadi marah pd diri sendiri, pd lingk, dan pd pasangan. MALU adalah musuh utama sy saat itu. Selalu was2 klo naik angkot, takut dia tantrum dsb. Makin kesini, sy mkn mnyadari, bhw anak mrs nyaman klo orgtuanya tenang. Maka, sy mulai blajar mengikis rs malu krn kondisinya. Perjuangan bagi saya baru sj dimulai, mulai dr diri sy sendiri! Mom, mohon share info sekolah milik amin rais yg di jogja via yhanie_apr3rd@yahoo.com, dan mhon invite sy di milis ortu abk. Salam damai.
    GOD with us

  40. Hallo Bu.. Ceritanya bikin saya sangat terharu, apa boleh minta emailnya Bu.., Trims…. terus berjuang ya Bu,,, salam buat Arsa

  41. Q mnta fb ivy donx/ email. Q pny adek jg bs di blg sprti nak ivy. Ble q mnta saran n lain’a gar adek q bs brubah n lbih baik lgi. Mnta nomor tlp’a ble ivy. Ditunggu ya mksih.

  42. Sandy Yudhana

    Hallo semua Ibu dan Bapak di forum ini. Bolehkah di add email saya sandygw999@gmail.com. Putra saya sekarang berusia 12 tahun. Dan nampaknya banyak yang bisa kita sharing. Memang, di awal usia dini nya positif muncul beberapa gejala autism. Atas perkenanNya putra saya sekarang sudah sangat mampu mandiri, memang dari segi standar dan norma yang diberlakukan, dia termasuk di area border line. Saya tidak percaya itu :). Karena ternyata ada bakat-bakat kuat yang belum terasah baik dan entah kenapa kok “tidak diketemukan” sebelumnya? Mari, saya tunggu kontaknya di email ya. Dan maaf kepada moderator/webmaster balebengong.net bolehkan saya di add sebagai member di balebengong. Terima kasih sebelumnya. Semoga bisa membantu sharing pengalaman selama 12 tahun mendampingi anak ini. Apakah ada jadwal pertemuan di darat? Dan oh ya saya sedang membangun sekolah Anak BerKEMAMPUAN Khusus di Denpasar. Mohon saran dan dukungan dari semua teman disini ya. Salam, Sandy.

  43. Sandy Yudhana

    Hallo para Ortu Khusus. Perkenalkan saya Sandy, bolehkah di add sandygw999@gmail.com bagi yang mau sharing how to menolong anak-anak khusus. Thanks ya.

  44. Lany Johan

    Semangat terus Ivy….tdk ada yg lebih baik daripada anak yg dirawat sendiri oleh Ibunya.

  45. Mbak ivy apa saya bisa minta no hpnya ya.mau tanya2 anak saya yg hiperaktif dan gak bisa fokus.thanks

  46. Salam kenal mbak ivy, perkenalkan saya Riza, ibu dari seorang anak ABK, dandra 9 thn, mhn bisa diinvite d milis ortu ABK, mksh byk.

  47. olive mama owen

    Bunda arsaaaa.. sy banjirrr baca blog ini. Bole sy minta konteknya bunda.

    Knlkn sy mama owen. Owen diagnosis pdd nos usia 22 bln an. Skrg ud 6thn tp verbalnya blm
    Ingin skli sy knl dgn bunda arsa dan bisa ktmu mgkin bila ad kesempatan.

    Bole sms sy bun no hp bunda 087775780921. Ni no WA sy jugabunda. Trima kasi skali bun

  48. Bunda dan ayah..yg tanya dan komen…sepertinya sdh sy jawab ato respon by personal e-mail yah.
    Mdh2an bisa slg memberi masukan. Tetap semangattt..
    Salam hangat dari saya dan Arsa.

    • Mbak Ivy yang baik, tetap semangat dan jangan menyerah ya, anak saya berusia 5 tahun dan mengalami speech delay, saat ini sedang berjuang kesana kemari mencari sekolah yang kiranya cocok, kiranya bisa minta alamat milisnya utk bisa mendapatkan info mengenai pengalaman orang tua lain yang mempunyai pengalaman yang sama.. terima kasih ya sebelumnya….

    • Salam kenal mb Ivy….merenungi perjuangan mba…saya merasa kurang dalam perjuangan untuk anakku y berkebutuhan khusus. Pengalaman mba ini memberi masukan yg besar ke saya. Tolong mba saya di invite. apa mba punya WATerimakasih mba…..

    • Mba Ivy, boleh minta alamat emailnya, mau tanya nih mba bagaimana caranya ya agar ank bisa fokus di ajak bicara, karena sekarang anak Saya usianya 2 th 6 bln, tapi belum bisa bicara,

  49. ketika anak saya dinyatakan autis pada umur 2,8 thn saya merasa apa yang menjadi harapan saya nantinya jadi apa, dan saya membaca perbagai pengalaman hidup orang tua yang anaknya sama seperti anak saya, saya yakin anak2 qta akan menjadi anak yang hebat nantinya….ada email ya bu biar bsa sering

  50. saya wartawan sebuah tabloid yang menulis pengalaman ibu dengan anak berkebutuhan khusus. saya ingin sekali bertemu dengan ibu, menimba pengalaman dari ibu Ivy. saya asli flores, pernah belajar di Sekolah Tinggi Pekerjaan Sosial Malang yang juga prakteknya mengurus anak-anak berkebutuhan khusus. terimakasih ibu, hp saya 081337769252

  51. Mbak Ivy yang baik, tetap semangat dan jangan menyerah ya, anak saya berusia 5 tahun dan mengalami speech delay, saat ini sedang berjuang kesana kemari mencari sekolah yang kiranya cocok, kiranya bisa minta alamat milisnya utk bisa mendapatkan info mengenai pengalaman orang tua lain yang mempunyai pengalaman yang sama.. terima kasih ya sebelumnya….

  52. Hai..temen2 .mo infoin aja tgl 1 Mei y a d ( tgl merah – hari buruh) Yayasan Peduli Autisme Bali sekolah Arsa seperti yg saya ceritakan, akan ngadain hut ke 10 di ged pln renon. Selain hut ke 10..sekaligus kami mau menggalang dana utk pembangunan gedung baru sekolah di mana saat ini sarana yg ada sdh tak mencukupi..sementara jlh anak penyandang autis di denpasar semakin banyak.
    Dukungan teman2 bisa dlm berbagai cara..
    1. Menghadiri perayaan hut ini dan menyaksikan penampilan anak2 autis termsk Arsa sprt nyanyi, tari, baca puisi, demo masak dan fashion show.

    Atau membeli hasil kreasi anak2 dan terapis dlm btk prakarya seperti handpainting t shirt, tas dan topi, tas dgn sulaman gbr (ini buatan Arsa), gelang, bando, keset, lampu hias, dll

    Atau hadir dan membeli kupon konsumsi berbayar saat acara

    2. Membeli kupon bazaar Be Paseh @35K utk penggalangan dana

    3. Pada acara tersb jg ada presentasi 10thn perjalanan yayasan oleh remaja penyandang autis yg kini bersekolah di sekolah umum, presentasi visual “gajah dan anak autis” di Thailand oleh Rio Helmi

    4. Siang hari ada seminar gratis bertema masa galau remaja autis dgn narasumber ibu Adriana Ginanjar…namun krn tpt terbatas…mohon melakukan pendaftaran terlebih dahulu kepada kami

    Demikian saya mewakili teman2 terapis dan anak2 teman2 Arsa mengundang bpk ibu utk hdr di acara ini.

    Salam Peduli Autis.

  53. hai mba ivy salam kenal ,salut buat mba ivy , anak saya skrg SD klas 1 & sedihx 2bln yg lalu saya dipanggil kesekolah & blng anak saya tidak boleh skolah lg disitu krn anak saya lama dlm menangkap pelajaran ,jd skrg saya lg cari2 skolah yg kirax cocok , wktu umur 3thn didiagnosa speech delay, tp memang motorikx kurang ,bsa kasih saya info tentang skolah dibali& psikolog yg bsa saya datangi untuk konsultasi….. makasih mba ivy

  54. renni anggraini

    Salam kenal mbak ivy
    Kebetulan putra saya mirip sekali kondisi asd nya dengan Arsa. Kalau boleh minta email mbak ivy, spy bs sharing. Krn saya di surabaya pun sedang berusaha cari sekolah yg mau terima anakku, apalagi hiper nya msh tinggi. Saya selalu senang utk bs sharing dg sesama ortu anask2 asd. Email ku reniangg1611@gmail.com. tenkyu 🙂

  55. Salam kenal mba ivy…..
    sekolah yg di bali untuk kak arsa dimn itu….
    anak sy didiagnosa rm…bs mnta tlng info sekolh yg khusus di bali nda khususnya yg dekat daerah nusa dua….mksh

  56. ku jga pnya ank yg pnya kemiripan prilaku spt arsa n lg bingung nyari sklh yg cocok d bali tuk natha ank ku usiax 8 thn. klo blh sharing ini no hp sy. 082359513322

  57. n bs ngga bu ivy sy hubungi? thanks

  58. Bunda ivy..
    Minta emailnya boleh?
    Teman seperjuangan

  59. Salam kenal bunda ivy…saya. punya anak yg Abk umur 4 tahun …saya merasakan hal yg sama dgn bunda ivy…saya ingin bergabung dengan bunda ivy di milis ortu abk…boleh minta alamat emailnya? Trima kasih….

    • bunda vita…. semangat terus ya bunda .. anak yang dititipkan kepada kita pastinya selalu membawa kebahagiaan tersendiri

  60. salam seperjuangan bu Ivy..
    saya mau bergabung di forum ini, email saya: ardanww@yahoo.com.
    terima kasih.

  61. saya mau bergabung di forum ini, email suzan.susana@gmail.com
    terima kasih.

  62. Salam kenal bunda ivy…
    Benar2 tulisan yg membuat sya n swami semangat kembali. Karena anak kami Calya umur 5th sama persis dengan arsa. Namun karena swami saya cuman karyawan swasta biasa, maka kami pun hanya membiarkan anak kami sehari2 bersama saya di dalam kamar kost kecil di jogja. Karena minimnya kami tentang pengetahuan ABK dan kebetulan di klinik2 yg kami tanyai menawarkan biaya yg menurut kami sangat berat. Mohon kiranya sya ikut bergabung mengenai informasi ABK dan mgkin cara penanganannya… mohon email saya di invite… terima kasih sebelumnya…

    agustina_maharani_putri@yahoo.com

  63. Saya juga punya anak ASD umur 6 th,saya boleh email mbk ivy?

  64. Ingin rasanya seperti bunda ivy, seorang wanita yang sabar dan tangguh, karena melihat sya yg sekarang masih belum bisa seperti bunda, kadang malu dengan suami karena selalu menangis saat dia perlu senyuman saya ketika lelah pulang bekerja.. Mas Aldi, begitu kami memanggil anak kami. Dia begitu “istimewa” di mata kami, divonis ADHD oleh dokter.. salut buat bunda, saya mohon do’a dan dukungan bunda untuk bisa menumbuhkan kekuatan dalam hati saya bunda… terimakasih wslm

  65. Hallo bunda ivy..
    Salam kenal ya bunda ivy..
    Saya sekarang sekolah di UNJ , IKIP dulu bunda, satu sekolahan sama bunda hehe…
    Bunda ivy, sayang banget sama arsya yah bunda, arsya juga sepertinya punya banyak minat pada berbagai hal ya bunda ? pasti seru tetap bisa menikmati waktu bersama Arsya ya bun.. Apalagi cerita bunda tadi, belum tentu anak lainnya mau didapur bareng bundanya ..
    Arsa sehat bun ? Semoga Arsa, bunda dan ayah selalu sehat ya
    oya bunda, kalau bunda ada kesempatan , mampir ke blog saya ya bun (http://solusipenyakitasma-autis.blogspot.com/2015/03/penanganan-terbaik-anak-autis-bersama.html), semoga informasi di blog saya dapat membantu …
    Salam buat Arsa ya bunda… Kalau main ke Jakarta, boleh saya main ke tempat bunda ya bun..

  66. ketut darmiwi

    setelah saya membaca kisah bunda saya jadi semangat untuk anak saya… salam kenal ya

  67. semangat ya bu? saya sendiri juga adalah seorang anak pertama dari 3 bersaudara (saya terlahir kembar) atau kakak pertama yang mana adik terkecil saya (saat ini berusia 12 tahun) mengalami nasib yang persis dengan Arsa anak ibu. adik saya memang didagnosa mengalami Autisme dan memiiki kecenderungan yang ekpresif dalam mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap sesuatu yang ia lihat, rasakan atau dengarkan yang kebetulan dirasa mengganggu. namun dia sangat tertarik dalam hal teknologi/gadget seperti saat ini. Meskipun dia belum bisa bicara dengan baik sampai sekarang namun perkembangannya saat ini dia bisa menyampaikan sesuatu kepada kami dengan bahasa yang sedikit tidak sempurna namun kami pahami, misalnya ia ingin diambilkan makan dsb. Ayah-ibu saya juga pernah mengalami saat-saat sedih dan saya sendiri juga mendengar anak-anak sebayanya mengatakan kalau adik saya bisu. Sedih tetapi saya tetap menganggap adik saya normal dan memperlakukannya dengan normal pula, karena saya sekeluarga kecil yakin itu akan menjaga kepercayaan dirinya dan agar dia tetap ceria.Bahkan saya juga seringkali memarahi dia jika dia melakukan hal yang salah dan dia biasanya akan mengerti ketika dimarahi dan menyadari kesalahannya, alhasil saya dan adik saya itu sangat dekat dan seringkali bercanda meskipun saya seringkali marah-marah padanya. maaf ya bu agak kepanjangan, yang jelas saya salut dan menjadikan ibu sebagai inspirasi serta motivasi untuk meyainkan diri kami sekeluarga kalau kami bisa merawat dan mendidik adik saya dengan baik. tetap berbagi bu, terimakasih…….., (kalau boleh jujur saya hampir menangis membaca cerita ibu karena saya seperti mengingat kembali masa-masa penuh tatapan sinis dan rasa malu itu, terimakasih bu)

  68. Utk bunda, ayah, kakak..dan siapapun yg sdh membaca dan komen di tulisan ini..terima kasih atas perhatiannya..
    Mudah2an masing2 sdh saya balas e-mailnya.
    Saya di sini hanya berbagi semangat… berbagi harapan… tapi kemajuan dan kemandirian putra putri bunda dan ayah tergtg pd apa yg telah diintervensi kepdnya..entah diet..terapi..sekolah dll.
    Diet..terapi atau metode apapun hasilnya akan berbeda2 di masing2 anak.
    Jangan sembarang jadikan putra putri kita kelinci percobaan hny krn ingin sekali anaknya cepat ‘sembuh’
    Hati2 juga dgn pihak2 yg menawarkan ‘harapan’ palsu..dgn memanfaatkan kondisi anak kita yg autistik.
    Sbg org tua..kita memang ingin anak kita mendpt jln keluar yg baik…yg bisa kita lakukan adalah berusaha…bekerja keras bersamanya…memfasilitasi dan tentu berdoa.

    Tulisan saya ttg Arsa di web bale bengong ini ada di judul lain sbg lanjutan tulisan ini.
    “Biar sang anugerah terus move on”
    “Beda tapi mandiri berkreasi-…dstnya”

    Tetap semangat semuanya.
    Salam hangat dari saya dan Arsa.

    • Hai mbak Ivy.. Thanks utk sharing ceritanya. Boleh minta info utk terapi Homeopati di Jakarta ada di mana ya? Anak saya ASD 9thn, verbal, hiperaktif, masih susah fokus dan blm bisa mengontrol dirinya.
      Boleh kirim ke email saya di hastiar@yahoo.com.
      Thanks a lot yaah.. ??

  69. halo bisa mintak info tentang tempat terapis di ayani itu ??

  70. Bunda ivy..anak saya spectrum autis 5th di sby. Therapy di RS sby dg jdwal trapy sebulan 3x. Dan diet serta konsumsi obat dokter. Kami rasa itu sgtttt kurang.
    Mohon info sekolah autis bagus di sby. Krn sy ingin mningkatkan kemampuannya.skrg Sekolah di pg umum dgn kami orangtua bergantian sbg shadow. Anak sy tdk tantrum ditempat umum. Berhitung angka bisa. Tp abjad TDK mau. Pegang pensil Susah sekali.
    Slain diet autis anak saya juga alergi telur, ayam,coklat.kacang. untuk saat ini protein Dari ikan tawar ,Tempe Serta buah (selain diet)
    Bbrp sekolah autis yg kami datangi sangat keras pada anak dgn teriakan, sy jd trauma. Mohon pencerahannya..Terima kasih atas bantuannya

  71. adhie luhung p

    salah satu pusat tumbuh kembang anak yang ada di jogja
    facebook.com/pages/BCT-Bulu-Child-Treatment-JOGJA/732677823492308

  72. adhie luhung p

    dan juga buat para bunda dan sekolah yang ingin melengkapi alat terapinya bisa hubungi 085725326243

  73. komang leni

    Dear ibu ivy,
    saya punya keponakan autis usia 6 tahun…mohon dibantu share apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan kemampuannya supaya mandiri..tahun ajaran lalu kami sekolahkan di taman kanak2…seharusnya masuk sd kelas 1 tahun ajaran ini. fokus untuk belajarnya susah sekali bu..mohon saya dibantu sharingnya bu..karena saya ingin dia tumbuh jadi anak yang mandiri.

    salam hormat
    leni

  74. Salam kenal untuk Ibu Ivy,
    Tulisan Ibu semakin membuat kami makin bersyukur dengan karunia dalam keluarga kami…
    Kami juga memiliki seorang putri dengan karunia istimewa….
    Sejak usia 2 tahun telah dilakukan therapy & dirumah kami coba menerapkan pola therapy yg sama…
    Pola makanan diet juga kami terapkan namun tidak ekstrem…
    Melalui comment ini semoga bisa menjalin pertemanan tuk sesama keluarga dengan karunia istimewa…

  75. Pingback: Pendidikan Anak Autis | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

  76. Pingback: Lembaga Pendidikan Anak Nakal | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

  77. Pingback: Pendidikan Anak Dengan Hambatan Penglihatan | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

  78. Pingback: Pendidikan Anak Dengan Hambatan Emosi Dan Perilaku | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

  79. Pingback: Pendidikan Anak Cacat Ganda | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

  80. Mbak ivy, boleh saya tahu fbnya. Anak saya juga di diagnosis adhd

  81. Pingback: Ini Cerita Arsa, Remaja Rasa Anak-anak - BaleBengong

  82. Salam kenal mbak Ivy,
    cerita tentang Arsa sangat menginspirasi sekali bagi orang tua seperti kita, yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Saya sangat tertarik untuk mengikuti terapi homeo dan forum diskusi ttg penanganan abk terutama anak2 ASD. mohon sharing infonya, terima kasih.

  83. Mr Fredrick

    Apakah Anda mencari pinjaman bisnis? pinjaman pribadi, pinjaman rumah, kredit mobil, pinjaman mahasiswa, pinjaman konsolidasi utang, pinjaman tanpa jaminan, modal ventura, dll .. Atau anda telah menolak pinjaman oleh bank atau lembaga keuangan untuk alasan apapun. Kami adalah pemberi pinjaman swasta, pinjaman untuk bisnis dan individu dalam tingkat bunga rendah dan terjangkau suku bunga 2%. jika Tertarik? Hubungi kami hari ini di (fredrickpetersonloan@gmail.com) dan mendapatkan pinjaman Anda hari ini
    Salam,
    Tim investasi Fredrick Peterson

  84. Rini Handayasakti

    Salam kenal Mbak Ivy, anak saya ASD umur 8 th, bisa tolong dishare alamat homeopathy terapi dan pak Fred yg di Jogja? Terimakasih

  85. shaba rina

    Mbak ivy. ANak.saya juga didiagnosis asd. Sampe skrg masih di terapi di rsmh palembang. Anak bisa membeo. Menurut dokter blom ada komunikasi 2 arah. Tp kalo dia ada kemauan pasti ngomong
    TLONG kirim ke email saya ilmunya. Saya tinggal di palembang shabarina_rsmh@yahoo.com

  86. Sharingnya sangat membantu bunda.. Bunda ivy anak saya 4 tahun juga didiagnosa Adhd dan Autisme tak khas bisa undang saya ke forum atau no kontak bunda ivy supaya saya bisa sharing dengan bunda. Terimakasih

  87. Anak saya di diagnosa PDD NOS. bisa undang saya ke forum supaya bisa mendapat sharing dan bertukar pikiran. Terima Kasih

  88. bu Ivy

    Terima kasih sharingnya

    Bu saya pengen tau terapi Homeopaty

  89. Salam Kenal bunda ivy..bisa minta emailnya?
    Thanx bun, keep spirit

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*