Belenggu Perbudakan Bernama “Setan Kredit”

Hanya ada receh di kantongku. Oh tagihan sudah menunggu.

Kusibak jalan mencari kerja. Upah seadanya tanpa sisa. / Berpikul mimpi yang tak perlu. Ragaku merdeka, pikiran terbelenggu. / Oh setan kredit sungguh menggoda. Buatmu rela lakukan dosa.

Demikian lantunan lirik lagu baru milik solois blues asal Bali, Made Mawut berjudul “Setan Kredit”. Lirik yang menggambarkan, bagaimana kredit di satu sisi katanya menjadi tawaran solusi bagi kaum menengah ke bawah untuk memiliki sesuatu barang.

Namun, di sisi lain, kredit justru menjadi setan, yang terus menghantui mereka setiap hari. Apalagi mendekati tanggal jatuh tempo pembayaran.

Mereka yang terbelenggu kredit, berusaha keras menyiasati, membagi upah seadanya untuk kebutuhan sehari-hari dan kewajiban membayar kredit. Kadang upah yang mereka terima tak berbekas, hanya sisa receh di kantong.

Sedangkan mereka yang berpenghasilan tidak tetap, dipaksa memeras keringat, memutar otak, gali lubang tutup lubang demi memenuhi perut si hantu bernama “Setan Kredit”. Begitu terus setiap harinya.

Diangkatnya tema “Setan Kredit” ke dalam lagu bagi Made Mawut, laiknya perbudakan yang masih relevan hingga kini. “Hanya rantai belenggu itu tak mampu lagi menakuti kita, dibanding belenggu secara ekonomi yang jauh dapat merasuk, mengobok obok jiwa dan raga kita,” paparnya.

Kental dengan sentuhan deltablues, solois yang telah menelurkan album penuh berjudul “Blues Krisis” pada tahun 2014 mengingatkan kita kembali, akar musik blues. Musik blues lahir dari pendobrakan belenggu perbudakan berdasarkan kelas, warna kulit dan suku bangsa.

Di balik itu juga ada satu alasan yang kuat mengapa ia lahir, yakni dominasi oleh sekelompok orang yang mengendalikan ekonomi dunia. Seperti ikan hiu di laut, hewan predator tertinggi dalam mata rantai makanan yang tanpa segan memangsa yang lemah, hingga sesamanya.

Di lagu terbaru ini lah, Made Mawut mencoba merangkum dan menggambarkan keadaan yang kerap kita dijumpai di sekeliling dengan balutan santai nan akrab. Made Mawut juga ingin menonjolkan simbol “Setan Kredit” yang lekat dalam keseharian, tanpa kesan menakut-nakuti, apalagi menasihati.

“Semoga single ini mampu menggambarkan keadaan di atas dengan santai dan akrab. Untuk itu simbol-simbol yang lekat dalam keseharian, kita tonjolkan disini,” ucapnya.

Secara teknis, proses penggarapan lagu “Setan Kredit” direkam secara live di studio Antida, pada Mei 2018. Sebagai sound engineer adalah drumer Dialog Dini Hari (DDH), Deny Surya.

Diceritakan Made Mawut, proses penggarapan tak membutuhkan banyak waktu, mulai dari rekaman hingga mixing dilakukan dalam hitungan jam. “Tidak butuh banyak waktu, jadi proses rekaman dan mixing lagu “Setan Kredit” dilakukan sekaligus dalam waktu hanya 3 jam,” tuturnya.

Selain single, video klipnya pun telah rampung dikerjakan. Berkolaborasi dengan video maker dari Lian Line, Hadhi Kusuma. Keduanya memadukan konsep video klip gaya sinetron komedi era 90an seperti Jin & Jun, Wiro Sableng dan lain sebagainya. Keterbatasan justru memiliki seni tersendiri, tanpa mengganggu kenikmatan kita mengikuti alur ceritanya.

“Untuk penggarapan video, waktu yang dibutuhkan juga relatif singkat walau dengan alat yang minim, kelihaian Hadhi Kusuma meracik cerita adalah modal utama. Perpaduan ini membuat proses penerjemahan ide cerita yang saya ajukan dapat divisualkan dengan pas,” ucap Made Mawut.

Lebih lanjut diungkapkan Made Mawut, lagu “Setan Kredit” direncanakan menjadi salah satu single dari single lainnya yang terangkum dalam album terbarunya.” Rencananya, setelah single ini dirilis akan dibarengi beberapa single lain, sehingga akan disatukan ke dalam sebuah album nantinya,” ungkapnya. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*