Dua Diskusi Pekan Ini di Bentara Budaya Bali

Ilustrasi perempuan Jawa modern. Foto CNN.
Ilustrasi perempuan Jawa modern. Foto CNN.

Isu-isu feminisme selalu menarik diperbincangkan. 

Melalui program timbang buku “Pustaka Bentara”, Bentara Budaya Bali (BBB) mendiskusikan buku Dadi Wong Wadon, Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern, karya Risa Permandeli terbitan Pustaka Ifada.

Buku karya Risa Permanadeli ini mengungkap problematik sosial yang dihadapi perempuan Indonesia, utamanya perempuan Jawa. Maria Hartiningsih, wartawan Kompas, mengulas buku tersebut di BBB pada Jumat ini di Jln. Prof IB Mantra 88A, Ketewel, Gianyar.

Buku yang berawal dari disertasi Risa Permanadeli ini sejatinya berupaya membahas mengenai kehidupan keseharian dan sistem pemikiran masyarakat Jawa. Dalam buku setebal 442 halaman tersebut, Risa memaparkan sejumlah problematik sosial perempuan Jawa, termasuk pula kompleksitas budaya akibat pertemuan arus modern dan pergulatan budaya dari masyarakat Jawa.

Risa Permanadeli adalah pendiri dan Direktur Pusat Representasi Sosial, Jakarta sejak tahun 2005. Dia meraih gelar doktor di Psikologi Sosial dari École des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris, France. Penelitian berfokus pada elaborasi pemikiran sosial dalam masyarakat non-Barat, khususnya Indonesia.

Dia mengeksplorasi sosial, sejarah dan budaya sebagai platform dari pemikiran sosial dengan menggunakan perspektif Representasi Sosial untuk mempelajari Modernitas dan modernisasi; Menempatkan dan Peran Perempuan; Power dan Representasi sosial; Budaya perkotaan; Mitologi, Imajiner dan Tradisi Lisan. Dia mengajar di Program Pascasarjana Studi Eropa di Universitas Indonesia , dan dia juga anggota dari Laboratoire Eropa de la Psyhology Sociale, dari Maison des Sciences de l’ Homme, Paris, France.

“Perempuan Jawa mendobrak tanpa suara, melawan tanpa senjata, mendekonstruksi tanpa berteori dan memenangi pertarungan tanpa membuat pihak yang kalah merasa dikalahkan,“ lanjutnya.

Bila yang dikupas adalah sosok perempuan Jawa, dengan segala problematiknya, bagaimana jika dibandingkan dengan keadaan yang melingkupi perempuan dari latar sosial dan budaya yang berbeda, semisal perempuan Minang, Sunda, Bali, Papua, atau bahkan perempuan dari belahan bumi Afrika, Eropa, dan jazirah Timur Tengah?

Dialog mengulas pula perihal gerakan penyadaran dan pemberdayaan perempuan di tengah dominasi kemaskulinan, serta posisi budaya patriarki dalam upaya tersebut.

Jurnalisme: antara idealisme dan pragmatisme

Selain membahas buku “Dadi Wong Wadon-Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern” ini, Maria Hartiningsih, secara khusus juga berbagi pandangan dan pengalamannya seputar dunia jurnalisme dalam program loka karya jurnalistik, pada Sabtu (21/5) di BBB.

Lokakarya Jurnalistik ini merupakan bagian dari “Kelas Kreatif Bentara Muda” yang digagas oleh Bentara Budaya Bali, meliputi pengenalan mendasar terkait jurnalistik, fotografi, penulisan kreatif dan kuratorial.

Maria akan berbagi seputar pengalaman peliputannya di dalam negeri maupun di berbagai belahan dunia lainnya, terutama menyangkut topik-topik ketidakadilan, kekerasan dari berbagai pihak, malpraktik pembangunan, serta aneka bentuk penindasan dan pembelaan kepada kaum minoritas atau terpinggirkan, termasuk kaum perempuan dan anak-anak.

Lebih lanjut, jurnalis kelahiran Semarang ini akan memperbincangkan bagaimana upayanya untuk mempertahankan idealisme serta pilihan humanismenya di tengah aneka perubahan yang terjadi, baik oleh proses demokratisasi, maupun kemajuan teknologi informasi yang sering terlambat disadari oleh sebagian besar masyarakat.

Maria Margaretha Hartiningsih, lahir di Semarang, 12 November 1954. Ia adalah wartawan Kompas sejak 1984. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat perihal wanita, anak-anak, dan kelompok terpinggirkan lainnya, lingkungan, populasi, multikulturalisme dan isu-isu perdamaian terkait, kemiskinan dan dampak dari “pembangunan”.

Menjadi narasumber dalam berbagai forum nasional dan internasional mengenai jurnalisme, isu-isu seputar perempuan, perdamaian dan multikulturalisme. Pernah melakukan liputan ke sejumlah negara, seperti Thailand, Kamboja, India, Kashmir, Nepal, dll.

Atas dedikasinya pada kemanusiaan, ia meraih Yap Thiam Hien Human Rights Award (2003). Sejumlah penghargaan lain yang sempat diraihnya, antara lain: Swara Sarasvati Award dari Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (Koalisi Perempuan Indonesia) 2010, Juara 1 untuk artikel Pariwisata (diterbitkan), dari Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi (1996), Penghargaan dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (Indonesian Child Welfare Foundation) 1993, Penghargaan Khusus dari Real Estate Indonesia (1991), dll.

“Banyak Perempuan Jawa mengenal istilah Feminisme, tetapi mereka adalah feminisme yang terus bergerak dalam senyap, untuk merebut otonomi diri tanpa keluar dari sistem nilai yang selama ini dianggap sebagai penjara,“ ungkap Maria Hartiningsih. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*