Kelana Selera dalam Aruna dan Lidahnya

Sumber: cosmopolitan.co.id

Antara makanan, pekerjaan, persahabatan, dan asmara.

Film Aruna dan Lidahnya meramu bahan-bahan itu menjadi sajian menggiurkan. Fim ini tayang perdana di Bali yakni di Cinema XXI Level 21 Denpasar pada Selasa, 2 Oktober 2018. Dia merupakan adaptasi dari novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamunjtak.

Di tangan sutradara Edwin, film ini menjadi sajian pas dengan nampilkan Dian Sastra sebagai Aruna, Oka Antara sebagai Farish, Hannah Al Rashid sebagai Nad, dan Nicolas Saputra sebagai Beno.

Tayangan perdana ini dibuka oleh produser film Meise Teurisia dari Palari Films. Hadir pula Nicolas Saputra, juga sutradara Edwin.

Sebelum diskusi lebih lanjut, produser mempersilakan penonton menyaksikan film terlebih dahulu. Adegan pertama pada film ini sudah mengantarkan penonton pada makanan yang dibuat Beno untuk Aruna. Kamudian Aruna mulai menjelaskan tentang makanan yang merepresentasikan karakteristik penikmatnya.

Kemudian cerita pun bergulir antara makanan, pekerjaan, persahabatan, dan asmara. Aruna yang pada saat itu ditugaskan menginvestigasi wabah Flu Burung ke daerah-daerah, menggunakan kesempatannya untuk mencicipi olahan makanan di daerah tersebut. Mulai dari Surabaya, Madura, Pontianak, hingga Singkawang.

Ditemani dua teman karibnya yakni Beno dan Nad, Aruna pun menjelajah makanan di kota-kota tersebut di antara rutinitas investigasinya. Namun, Farish sebagai pengawas Aruna yang pada saat itu mendadak ditugaskan memantau kinerja Aruna, akhirnya turut serta dalam wisata kuliner.

Makanan lokal seperti nasi goreng, soto lamongan, dumpling, rujak soto, dan pengkang mampu diangkat dan dibahas dengan renyah oleh para sahabat tersebut. Di sela menikmati makanan, mereka pun membahas pekerjaan dan masalah pribadi.

Sampai pada kesimpulan yang dikatakan Aruna. “Sudahlah, percaya saja pada makanan,” katanya sambil menyikapi persoalan di kantornya. Kepercayaan Aruna pada makanan membuatnya semakin sensitif hingga mampu merasakan hal-hal aneh yang terjadi saat perjalanannya.

Natural dan Dinamis

Penulis Skenario Titien Wattimena sadar betul cara menempatkan humor ringan di setiap perjalanan mereka mencari makanan. Humor- humor yang ditampilkan begitu natural dan dinamis. Penonton tertawa geli menyaksikan tingkah Aruna sebagai pengantar cerita tersebut.

Ekspresi Dian Sastrowardoyo sangat natural dan mengalir. Dia mampu keluar dari zona karkakternya sebagai Cinta. Begitupula Beno yang diperankan Nicolas Saputra berhasil keluar dari karakter Rangga.

Di film ini Dian dan Nicolas membangun relasi antara sahabat. Jalinan keakraban tersebut berhasil dibangun bersama Hannah Al Rashid sebagai Nad. Percakapan tiga sahabat tentang makanan sangat ringan namun sarat makna.

Tokoh Farish pada film ini sangat menarik sebab secara tiba-tiba dia hadir ketika Aruna melakukan investigasi di Surabaya. Kemudian Farish dan Aruna bersama-sama melakukan investigasi. Saat itu, Farish mau tidak mau juga terlibat dalam wisata kuliner yang telah Beno rancang.

Masalah makin pelik ketika Aruna mencium aroma yang tidak beres. Baik dari makanan hingga wabah Flu Burung. Semua makanan yang Aruna makan tidak senikmat dan tidak semenarik yang dia bayangkan.

Dia merasakan lidahnya aneh. Begitupula dalam investigasinya, dia merasakan aroma kejanggalan yang dilakukan oleh perusahaan Farish.

Masalah semakin meruncing saat Farish mengungkapkan rahasianya. Saat itu pula Aruna semakin kesal dengan sikap Faris kemudian kembali ke Pontianak untuk mencari nasi goreng khas Si Mbok. Farish yang menyesal akhirnya menyusul begitu pula Beno dan Nad. Film ditutup dengan adegan Beno membuat nasi goreng untuk Nad dan juga saat kasus korupsi terungkap.

Film ini cocok disaksikan dari berbagai kalangan. Penonton remaja hingga orang tua bisa menikmati humor romantis yang disajikan. Penonton juga bisa melek makanan lokal khas daerah yang belum diketahui.

Sang sutradara Edwin berhasil membuat sinematografi dari film ini ciamik. Sudut-sudut yang diambil dan detail peristiwa yang dibidik menjadi menarik dan menambah kesan natural. Hal unik juga pada saat anak kecil bermain dengan meja. Kaki meja yang tidak rata membuat asik digoyang-goyangkan sehingga timbul suara berisik.

Bagian itu sangatlah sederhana dan kecil, namun bisa menjadi representasi Aruna yang kesal. Akhirnya Aruna menambahkan kertas pada kaki meja agar semua kaki asah dan tidak ada suara lagi.

Adegan-adegan rinci seperti ini membuat penonton semakin tertawa. Belum lagi ketika Aruna merespon sesuatu dan diperlihatkan ke penonton. Cara bertutur film ini mengingatkan saya pada Drama Gong atau Ketoprak yang membuat interaksi dengan penonton sehingga jarak tak begitu terasa.

Intrik Korupsi

Keberhasilan film memang bukan tunggal pada makanan yang dibahas, melainkan pada cita rasa yang dimiliki oleh Aruna saat dia mencicipi makanan hingga intrik korupsi.

Namun, ada sedikit keganjilan terasa, beberapa adegan kurang cocok. Misalnya saat Farish bertemu dengan Aruna di Surabaya. Hal-hal kebetulan yang bisa ditebak penonton. Ada pula saat Farish berhasil menemukan Aruna di pinggir jalan memesan nasi goreng. Adegan yang terkesan tak sengaja itu sedikit tidak natural.

Banyak hal kebetulan lain yang menjadi pertanyaan. Ada juga toilet yang letaknya cukup romantis. Mungkin hanya untuk mengejar artistik sehingga memang sengaja dibuat toilet umum yang pemandangannya bagus dan bersih di antara jalan Pontianak- Singkawang.

Sutradara mencoba sedekat mungkin dengan novelnya yang menampilkan jenis-jenis makanan. Selain itu Edwin juga ingin menjelaskan bahwa makanan dan manusia mempunyai interaksi yang penting.

Interaksi makanan dengan lidah manusia memiliki hubungan yang subjektif. Tentu orang yang sedang sedih akan berberbeda makanannya dengan orang yang sedang marah. Bumbu-bumbu lucu yang menyegarkan bisa diarahkan menjadi genre komedi.

“Kami sebisa mungkin ingin menampilkan komedi yang natural,” kata Edwin. Nicolas Saputra turut menimpali “Saya tertarik bermain dalam film ini karena naskahnya bagus. Saya suka naskahnya.”

Hendaknya sebelum menonton film ini, lebih baik penuhi perut. Pengambilan gambar yang baik dan musik romantis sangat menggugah selera makan Anda. Jangan takut bila Anda lapar usai nonton film ini karena ada menu nasi goreng ala Aruna yang bisa Anda pesan di XXI Café. Jadi, jangan khawatir kelaparan usai menyaksikan film Aruna dan Lidahnya ya! [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*