SVF 2018: Pesona Wisata Sanur di Bulan Agustus

Jangan lewatkan bulan Agustus nanti.

Inilah waktu untuk menikmati pengalaman mengesankan panorama pantai bersama mentari yang lagi sedang manjanya, mendengarkan alunan musik, menyantap makanan dan menyesap minuman atau sekadar bersantai memanjakan diri bersama masyarakat di desa ujung timur Kota Denpasar ini.

Cuaca cerah, sedikit sejuk dengan angin muson dari timur yang biasa menerbangkan layang-layang masyarakat Bali, adalah penanda alam ketika menikmati pesta hajatan tahunan masyarakat Desa Sanur atau yang dikenal dengan Sanur Village Festival. Desa perintis pariwisata Bali ini telah berubah secara perlahan-lahan menjadi desa internasional.

Terlebih setelah kehadiran kaum ekspatriat yang terlebih awal tinggal, desa ini menjadi sohor karena warga dunia ingin tahu keindahan alam, tradisi, budaya serta kehidupan sosial masyarakatnya. Dari semula Sanur adalah desa nelayan, kini menjadi desa pariwisata yang mendunia. Siapa yang tidak mengenal Sanur, atau belum ke Bali kalau tidak berkunjung ke Sanur.

Sanur Village Festival yang dihelat pertama kali pada tahun 2006, semakin membuktikan dirinya menjadi festival kebanggan masyarakat Bali. Dia bahkan telah masuk dalam sepuluh besar agenda pariwisata Indonesia.

Pada 22-26 Agustus, agenda ini akan dilaksanakan di Pantai Matahari Terbit Sanur. Seluruh rangkaian event yang dihelat selama lima hari penuh ini akan dibingkai dengan tema besar “Mandala Giri”.

Ketua Umum Sanur Village Festival Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan konsep Mandala Giri sebagai kerangka acuan adalah sebuah semangat pemikiran untuk memusatkan perhatian kembali kepada Gunung Agung. Ketika aktivitas vulkanik Gunung Agung meningkat pada November 2017 dan berulang erupsi belum lama ini adalah kenyataan yang memberikan refleksi dalam hal kemanusiaan, persaudaraan, dan pendekatan terhadap alam.

Semangat inilah yang perlu diwadahi kembali menjadi kekuatan yang senantiasa menyadarkan kita untuk berempati, ‘menyama braya’ maupun hormat dan berbuat yang terbaik bagi alam.

“Sebagai masyarakat Bali yang menjujung filosofi kehidupan Tri Hita Karana, kami dingatkan secara terus-menerus untuk menjaga Bali baik secara keduniaan maupun taksunya,” kata Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau yang dikenal Gusde.

Lebih dari itu menurut Gusde, semangat kebersamaan dan rasa memiliki telah mengantar SVF menjadi kegiatan komunal yang memberikan kemanfaatan nyata bagi warga dan sejumlah komunitas desa pesisir ini dan sekitarnya. Spirit kreativitas, motivasi, dan inovasi ala Sanur yang diadahi dan disalurkan melalui SVF ini bakal terus dikembangkan untuk mewujudkan tatanan sosial dan budaya yang berkesejahteraan dan berkedamaian.

Perjalanan 12 tahun SVF telah mewujudkan ciri khas warga desa yang dengan penuh rasa kekeluargaan, gotong royong (ngayah), metetulung, menjaga lingkungan dan mewujudkan kenyamanan dalam suatu komunitas yang membanggakan.

Pelaksanaan festival kali ini tetap berpegang pada potensi alam dan budaya yang ada, seperti tujuan utama festival sebagai respons atas peristiwa bom pada 2005 silam. Ketika itu Yayasan Pembangunan Sanur menggagas kegiatan untuk menghidupkan kembali serta mengangkat citra pariwisata Bali, dan Sanur khususnya, untuk bangkit dari keterpurukan.

SVF dirancang bukan sekadar promosi pariwisata yang berdampak terhadap terdorongnya perekonomian setempat, tetapi juga menjadi ajang pengayaan keberagaman seni dan budaya, memperluasn ruang kreatif, sekaligus perayaan kehidupan masyarakat Sanur dengan segala keramahtamahan dan keterbukaannya. Dedikasi yang berawal dari tanggap darurat pascabom itu kini kian memposisikan Sanur yang memiliki daya saing di industri pariwisata.

Para pengunjung SVF bisa memilih program untuk berpartisipasi maupun menikmati program-program yang digelar setelah terbit fajar sampai malam hari. Adapun program itu diantaranya adalah parade budaya, malam seni dan budaya, musik dan aneka hiburan, bazar aneka kuliner, turnamen golf (Sanur Open Golf Turnament), festival bawah air, kompetisi jukung, turnamen memancing di laut lepas, festival layang-layang internasional, kompetisi fotografi, aneka olah raga air, Jelajah Sanur dengan sepeda, olah raga dan permainan gembira, kegiatan seni rupa, yoga bersama, peragaan busana, festival memahat es, diskusi budaya, pameran kartun, temu bisnis dan Sanur Creative Expo, Sanur Run dan Triathlon.

Setiap pengunjung memiliki kegemaran yang kadang tidak sama, maka SVF memberikan suguhan yang berbeda dimana pengunjung dapat memilih program yang sesuai dengan pilihannya. Salah satu yang paling menarik dikunjungi adalah stan food bazar yang menyajikan makanan rasa bintang lima dengan harga kaki lima. Setiap pengunjung yang memendam rindu selama setahun tentu akan menantikan stan-stan kuliner yang menjadi idolanya. Ini bukan masalah sensasi rasa tapi suasana, seperti diungkapkan oleh kebanyakan pengunjung.

Bersinergi dengan food bazar, pagelaran seni budaya dan musik dari musisi dan penyanyi papan atas Indonesia akan menambahi kenikmatan yang tidak lagi melangkahkan kaki kemana. Belum lagi, tatanan panggung yang terus berubah semakin menemukan pesonanya lewat kemunculan garapan kreatif seniman-seniman Sanur. Yang pasti, SVF punya banyak kejutan menyenangkan untuk para pengunjungnya. [b]

One Comment

  1. hebat banget konsepnya svf 2018. semoga sukses ya acaranya. Mandala Giri, The New Spirit of Heritage

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*