Unik, Tradisi Nikah Massal di Desa Pengotan

Hujan deras dan angin mengguyur tak menghalangi warga berdatangan ke Desa Pengotan.

Kamis, 22 Maret 2018 kemarin, warga berdatangan dari semua penjuru desa. Mereka terfokus di Pura Penataran Agung, Desa Pekraman Pengotan, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Hari itu, Sasih Kadasa (bulan ke sepuluh) dalam sistem penanggalan Saka, adalah waktu di mana warga Desa Pengotan melangsungkan nganten (pernikahan) secara massal. Selain di Sasih Kedasa, prosesi ini juga dilangsungkan pada Sasih Kapat (bulan keempat).

Ada 21 pasang pengantin melangsungkan upacara pada hari tersebut. Jumlah ini tidak tentu, tergantung dari berapa banyak warga yang menikah dalam kurun waktu itu. Kadang lebih dari jumlah ini, kadangkala kurang.

Di tingkat desa, prosesi ini dimulai dengan sangkep anten yang dilaksanakan oleh prajuru Desa Pekraman Pengotan. Tujuannya untuk memberitahukan kepada warga tentang upacara ini. Proses berikutnya adalah memotong sapi sebagai sarana utama dalam upacara ini. Selain sapi, penganten juga menyerahkan sari putih (nasi peserah) sebagai pelengkap mengikuti upacara dan akan digunakan untuk membuat kawas.

Bila tahap ini telah selesai, maka penganten dipanggil dari masing-masing rumahnya. Mereka diantarkan oleh sanak keluarga ke sisi kelod pura (sisi selatan) untuk melangsungkan upacara mekalan-kalan (upacara pembersihan) agar bisa memasuki areal utama pura bale agung.

Di areal pura bale agung, penganten mendapatkan akte perkawinan (proses ini sebenarnya proses administrasi dan kedinasan tapi digabung dalam ritual). Selanjutnya pengantin naik ke bale nganten yang berada di sisi timur pura bale agung. Pengantin pria dan wanita duduk terpisah. Penganten pria duduk di sebelah selatan dan penganten wanita di sisi utara.

Di bale nganten ini mereka memakan sirih, sebagai simbol sah telah diterima menjadi warga desa pekraman. Sirih adalah petenget (simbol) bahwa mereka telah ikut menanggung suka duka dalam lingkungan desa mereka.

Prosesi selanjutnya adalah mepamit di sanggar agung lalu menaikkan damar kurung (lampu kurung) sebagai simbol memohon sinar suci dari Sang Pencipta. Sampai di sini, prosesi di pura bale agung telah selesai, namun dalam beberapa hari para penganten ini harus mebrata. Salah satu brata atau pantangan yang cukup unik di sini, warga desa yang ada di sebelah barat jalan tidak boleh menyeberang ke timur jalan. Begitu juga sebaliknya. [b]

Tulisan ini juga dimuat di Melalay.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*