[Esai Foto] Paras Dewa Air dalam Dilema

Sujud kami pada Tuhan yang berada pada api,

yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta, yang ada dalam tumbuh tumbuhan, yang ada dalam pohon-pohon kayu. – Svetasvatara Upanisad II.17

Kami memuja Dewa Wisnu sebagai dewa air sekaligus pemelihara mahluk hidup. Air dan pemelihara merupakan kesatuan. Air adalah pemelihara itu sendiri. Pohon-pohon bertumbuh karena dipelihara oleh air, lalu menghasilkan daun-daun hijau yang mampu membuat penghuni di bawahnya teduh oleh sentuhan udara bersih. Hewan dan manusia hidup karena setiap hari minum air.

Intinya Air memelihara segalanya, benda hidup dan benda mati.

Menjadi pantas jika tetua Hindu kami mengangungkan air. Dewa Wisnu adalah simbolnya. Setiap ritual dan upacara yang kami lakukan tak lepas dari kehadiran air. Ritual untuk dewa, untuk manusia, untuk bhuta dan lingkungan, semuanya tak luput dari elemen air.

Air disucikan lalu diberi gelar ‘tirta’. Tirta adalah berkat yang datang dari Dewa pujaan kami, Dewa Air. Latah dalam bahasa keseharian, kami menyebutnya ‘Wangsuh Pada Ida betara’ yang kira-kira dalam bahasa Indonesia artinya air penyucian kaki dewa.

Dalam setiap doa yang terkumandang baik terucap atau dalam benak, kami senantiasa memohon agar berkat ini tak putus mengalir. Upacara kami lakukan saban hari, sarana pemujaan kami pelihara dan perbaiki berkala, agar menjadi megah dan dianggap pantas sebagai tempat suci.

Sarana pemujaan kami adalah patung dan pelinggih-pelinggih yang ditempatkan di pura, di tempat yang kami sucikan. Material pembuatan patung-patung dan pelinggih kami gali dari pinggiran sungai. Salah satunya batu paras dari Tukad Petanu. Secara sadar kami menyayangkan, sarana pemujaan membuat sungai tercemar oleh limbah batu paras, tebing-tebing menjadi hancur terkikis dan air tak lagi sebersih doa kami.

Semestinya rusaknya sungai akibat penggalian batu paras bisa dihentikan, namun dengan sengaja kami pelihara dalam sebuah dilema. Dilema besar yang akan selalu kami kaitkan dengan sarana pemujaan, dengan kelangsungan hidup penggali batu paras, dan dengan perputaran uang batu paras.

Di satu sisi kami butuh batu paras pinggiran sungai untuk sarana memuja dewa. Agar kami dapat membuat patung dewa wisnu bersenjata chakra yang gagah, agar kami bisa membangun pelinggih dan pura yang lebih elite, agar doa kami tidak disangsikan para dewa. Dan di sisi yang berseberangan lingkungan kami kotor dan hancur, limbah batu paras menumpuk, tebing terkikis dan air tercemari.

Kami yakin dilema ini bukan ajaran agama. Juga tidak berhubungan dengan pesan bijak yang tertulis dari leluhur kami. Agama kami menuntun menuju jalan terang tidak hanya pada satu garis vertikal ke atas namun juga ke bawah dan ke samping. Dan dari ketiga bentangan- bentangan jalan itu, memuja dewa, mengasihi sesama dan menghormati lingkungan, jalan ketiga kami lalaikan.

Kami masih memuja Dewa Wisnu yang bersenjatakan Chakra, sebagai dewa air dan pemelihara semua mahluk. Semoga beliau masih berkenan mengalirkan berkatnya pada kami, dan pada semua mahluk hidup lainnya. Semoga kelalaian kami karena disengaja ini, diampuni. [b]

One Comment

  1. Pingback: Inilah Para Peraih Anugerah Jurnalisme Warga 2016 - BaleBengong

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*