Catatan Mingguan Men Coblong: Pengawas

Bukannya malu, tahanan KPK malah tersenyum manis dan sedikit bergaya. Foto Tirto.

Tahukah Anda, pekerjaan apa yang paling nikmat dan tidak memiliki risiko saat ini?

Di tengah cuaca yang sangat “sensitif”, setiap kritik dan koreksi jadi bumerang. Belakangan kita terlalu sering menonton pertunjukan “saling lapor”, tersinggung dan pencemaran nama baik, pencemaran ini-itu. Bahkan soal kita bertemu dan bicara dengan Tuhan juga jadi masalah.

Pokoknya saat ini cuaca penuh ketersinggungan, full sensitif. Meresahkan dan menganggu. Bahkan untuk membuat sebuah tulisan atau pun status Men Coblong berpikir sejuta kali, apalagi memberi saran atau kritik.

Agak “melelahkan” jika kritik yang kita bagi di media sosial justru jadi pergunjingan yang tidak mungkin akan menyelesaikan beragam persoalan dalam hidup ini, yang makin hari makin rumit. Belum lagi karena status di medsos, ada risiko masuk bui.

Men Coblong tidak habis pikir juga. Bagaimana orang bisa dengan mudah tersinggung dan mengamuk juga saling memaki-maki di sebuah grup Whatsapp. Permusuhan pun dilanjutkan ketika bertemu.

“Kok heran, itu baru grup Whatsapp. Bupati dan Wakil Bupati Tolitoli bahkan viral berteriak-teriak dan bertengkar di depan publik. Videonya viral. Mereka jadi terkenal. Rasanya kurang gaya dan tidak mengikuti tren kalau kita juga tidak menonton hal-hal yang berbau viral,” sahut teman Men Coblong serius dan tenang sambil tersenyum sendiri sibuk dengan gawainya.

“Kamu sendiri sudah nonton pertengkaran para pejabat itu? Kalau belum nanti kukirim lewat WA,” lanjutnya tanpa berpaling dari gawainya. Begitu santai, rileks, dan tanpa beban.

Lurus

Men Coblong terdiam. Otaknya, berpikir. Rasanya untuk menata hidup ini biar agak lurus diperlukan pengawas. Makanya apa yang ingin terbentuk lurus harus memiliki pengawas. Termasuk di dalam keluarga.

Setelah usia setengah abad Men coblong harus benar-benar memahami, bahwa pengawasan itu perlu dan kebutuhan. Misalnya, mengawasi menu makanan keluarga. Jangan sampai menu yang disodorkan Men Coblong setiap hari menimbulkan efek membahayakan keluarga. Atau yang lebih ekstrem bisa membunuh keluarga.

Mengurangi garam, gula, dan lemak. Sulitnya minta ampun. Karena jujur saja Men Coblong juga bukan orang yang kuat iman. Sesekali menyentuh garam, gula dan lemak dari daging. Apalagi kalau sudah berada di sebuah restoran Italia di jalan Gatot Subroto, Denpasar. Steak dan pizzanya benar-benar tidak terkalahkan. Terasa benar-benar berada di Roma, Italia. Ternyata jadi pengawas di rumah saja untuk dua orang lelaki, sulit, berat dan beban.

Sentilan
Men Coblong jadi teringat sentilan para petinggi bahwa pentingnya pengawas untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), agar lembaga itu tidak jadi lembaga yang mau menang sendiri. Salah seorang petinggi partai malah berkata, KPK sudah banyak memakan korban kepala daerah, dan anak-anak muda yang terjun ke politik juga disapu.

Masih menurut petinggi itu, kondisi ini sungguh membahayakan. Makanya kritik untuk KPK ini membuat Panitia Khusus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi dalam draf rekomendasinya diketahui akan meminta pembentukan Dewan Pengawas KPK. “Memang tidak ada dalam sejarah di republik ini bahwa ada lembaga bekerja tanpa pengawasan dapat berjalan dengan benar atau katakanlah ideal seperti yang diharapkan,” kata mereka.

KPK pun bersikap menanggapi hal tersebut. Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan sebenarnya lembaga antirasuah sudah punya pengawas. Pengawas itu termasuk salah satunya adalah DPR. “Jadi kami itu diawasi oleh banyak instansi. DPR mengawasi melalui fungsi rapat kerja dan kewenangan pengawasan yang dimiliki oleh DPR,” kata Febri di gedung KPK, Kuningan, Jakarta.

KPK, lanjut Febri, juga diawasi dalam hal keuangannya oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Publik juga termasuk di dalam pihak yang mengawasi KPK. “Seluruh yang dikerjakan oleh KPK terkait dengan proses peradilan, itu juga diawasi melalui mekanisme peradilan,” ujarnya lagi.

Sudah begitu banyak yang ingin mengawasi KPK, kenapa harus ditambah lagi? Sebetulnya pengawas apa lagi yang diperlukan? Toh, setiap Men Coblong menonton TV, yang terjerat korupsi oleh KPK, biasa saja. Malah pada dada-dada, melambaikan tangan dengan girang dan riang. Tersenyum manis dan sedikit bergaya.

Mereka juga tidak ada yang terlihat malu dan menunjukkan wajah sedih penuh penyesalan dengan seragam “kebesaran” berwarna oranye itu. Terus untuk apa perlu pengawas banyak. Yang diperlukan negeri ini saat ini adalah etika moral, niat untuk berubah menjadi lebih baik.

Untuk menata etika moral, Men Coblong pun mulai pagi ini mencoba memilih kerja menjadi “pengawas” menu makanan untuk suami agar kolesterolnya tidak meningkat. Dan mencoba untuk tidak tergoda jika ditawari merayakan ulang tahun di restoran pizza favorit. Agaknya memang perlu diperjuangkan. Harus hal-hal kecil dulu, sebelum jadi pengawas untuk hal-hal besar. Terbayang harum steak dan wangi pizza. Hust! [b]

One Comment

  1. El siregar

    Sesuatu yang benar belum tentu benar.
    Ketika tabir cakrawala terbuka.
    (Dari puisi ‘Bobrok’ – Angga Wijaya)

    Pekerjaan yang enak dan tak ada risiko?
    Jadi Pengawas!
    Kerja: Mengawasi orang.
    Sambil mengawasi orang yang mengawasi diri.

    A ngawasi B, B ngawasi C dan C ngawasi…, terus sampai Z.
    Enakkan?
    Nggak ada yang kerja sibuk jadi Pengawas!
    Lantas negeri ini mau jadi apa?

    Perlu ada yang ngawasi restoran Italia.
    Agar tak ada yang hanyut dalam godaan steak dan pizza yang rasanya aduhai.

    Sorry, saya harus berhenti dulu.
    Ada security yang mengawasi.
    I must go now.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*