Seorang Laki-laki yang Takut Ditinggal Pergi

Oleh Jacko

Nonstop-nonstop-nonstop-nonstop-nonstop-nonstop…. Nonstop!

Nama itu muncul ketika membuka Youtube. Nonstop itu sebutan panggung. Aslinya Marquese Scott. Dia sendiri menjadi refrensi. Bagiku ia mengenal betul setiap milimeter tubuhnya. Postur tubuhnya terlihat kurus dan tidak terlalu tinggi.

Video yang pertama kali aku tonton adalah “Pump Up Kick”. Lagu Band Foster the People itu dimix dengan aliran Dubstep. Tidak nyaman untuk menari pada umumnya tapi nyaman menari untuk diri sendiri.

Electro music ini memang sangat menarik, suara yang dihasilkan sangat aneh. Mendengarnya pun harus sambil membayangkan geraknya. Susah untuk menjaga gerakan agar sama sambil merespon musik yang terdengar. Itu tergantung dengan kondisi tubuh, seberapa cepat saraf perifer menyampaikan respon pikiran.

Lalu kesadaran mulai muncul. “Wahh gak bisa ni kayak gini terus”.

Seorang teman yang belum ada setahun kenal meminta bantuan untuk menjadi stage crew pementasan monolognya saat itu.

“Latihan jam enam, ya, temen temen”.

Jam enam pun aku sudah di tempat latihan. Ya! Latihan hari pertama ontime, keesokannya juga ontime. Aku yang memang perlu lompatan pun mengikuti jadwal itu tanpa telat, kecuali ada pekerjaan yang mengharuskan untuk pulang malam.

Kesadaran lagi yang muncul. Bukan hanya pementasan yang dibuat baik tapi disiplin pun jadi sangat penting. Bukan berarti tidak bebas, melainkan membebaskan diri dari rasa malas. Sampai pada pementasan selesai, aku mulai tahu kalau aku harus jauh dari rumahku untuk belajar ditempat lain.

Setahun sudah bersama teman-teman yang berbeda. Ada perubahan sikap, perubahan pola pikir, tumbuh kembang mengenal lebih dalam tentang tubuh, menyadari diri sepenuhnya bahwa sudah bisa mengembangkan kelebihan, kesombongan dan eksistensi dalam menari, lalu menyadari kalau itu cuma satu persen.

“Sembilan puluh sembilan persennya ke mana, Jack?” terucap dari seorang teman yang menggebu gebu, seorang teman yang berharap banyak.

Di ruang ini, seperti bet-bet yang gatal bila tersentuh, sakit bila terkena duri yang tak terlihat dan teramat sakit bila tidak diteruskan.

“Sudah sampai mana kamusmu?”

Ya itu terdengar menyakitkan. Lagi. Tak cukup hanya bebal. Timbul rasa yang menjadikan diri ingin disiplin tentang waktu, tentang keseriusan. Di awal sudah bilang kalau aku suka bercanda dan untung saja sadar. Frekuensi yang terbentuk berbeda.

Dalam pengamatan beberapa proses terjadilah pertentangan bahwa rumah yang aku tinggali dulu berbeda dengan apa yang aku tiduri sekarang. Tempat singgah ini suatu pembelajaran yang baik. Bukan hanya tentang mengelola teater tapi tentang mengelola diri yang harus dilatih seterusnya.

Selama berproses, hal-hal yang wajib dilakukan adalah memecahkan block pada diri sendiri. Bagaimana hambatan dilewati dan harus mendapatkan keputusan yang baik.

Dari cara itulah dapat menghasilkan karya yang baik. Atau kalau gagal, malah larut ke dalam hukum alam. Mengeliminasi diri sendiri.

Dalam lamunan terlintas keluhan.

“Ape cang ne strees nah?” kalimat tanya itu yang selalu lewat saat merangkai bunga, naik motor, duduk, mau tidur, dan terutama saat meju. Setelah itu mendapat jawaban yang samar.

“Ya mungkin itu perubahan pola pikir yang dulunya santai tidak tahu apa-apa menjadi apa yang harus dilakukan. Itu ya gak cuma sekadar, harus ada tafsirannya. Sama halnya merangkai bunga lalu menjualnya, tapi bagaimana kita membagi kebahagiaan ke orang lain.”

Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, banyak kegiatan yang cukup panjang jabarannya. Saat menulis catatan ini, terpikir bagaimana jika multidisiplin ini dijadikan kebiasaan hidup sehari-hari. Ternyata, sebagian besar orang tanpa sadar sudah punya pikiran itu. Kecuali aku.

Aku takut tertinggal oleh teman-temanku jika tidak berubah. Aku juga takut meninggalkan mereka dengan tidak ada perubahan.

“Aku mau jadi apa?” Beberapa kali berpikir pertanyaan itu. Lagi. Lagi. Lagiiii!

Sampai sekarang, aku belum menemukan jawaban itu. Apa jawaban itu begitu jauh? Atau tersesat di rambutku? Lupa diri, lupa sekitar, lupa ada hal kecil yang harus di perhatikan. Hmmm… Keinget kadang merasa bersalah sama pacar sendiri apalagi sama hal yang gak disayang.

“Peka, Jek! Peka kalo qe sedang disindir!”

Peka kok aku! Tapi memang begitu sebenarnya.

Disiplin. Kesadaran tubuh. Bukan tubuh yang harus disadarkan tapi pikiran. Disiplin supaya tidak nonton film porno lagi, itu contoh mudah. Nonton film porno menyebabkan cairan endorphin pada otak meningkat dan menjadi senang.

Ya. Kenapa itu tidak diterapkan pada latihan, membaca, menulis atau menggambar? Kalau sesekali, gapapalah nonton. Hehe.. Sadar itu tahu apa yang dilakukan, seberapa takaran emosi yang terlibat. Proses inilah yang menyadarkan diriku, bahwa disiplin memang perlu proses yang panjang sekali.

Setahun lamanya aku berproses di sini. Ada yang sangat berkesan sedikit, yakni pentas “Bebunyian”. Tumben menggarap pementasan dalam waktu singkat dengan durasi pementasan cukup lama. Wisnu Negara aka Meng yang menatata konsep bebunyian membagi ilmu musiknya ke teman-teman. Teori-teori yang dikeluarkan pun susah dimengerti.

Dalam dua minggu, pementasan itu jadi. Jadi bagus, jadi hancur, jadi senang, jadi-jadian. Itu kedua kalinya aku sebagai penata gerak mengarahkan teman-teman untuk begerak.

“Berapa kali sih harus sadar kalau gerakan yang kamu buat itu terlalu susah?”

“Ahh… Tidur dulu, Jek. Terus bangun. Terus perhatiin orang lain tidur. Apa sama kelihatan di kelopak matamu waktu pejam dengan orang lain? Ke sadar apa yang ada di pikiranmu itu beda dengan orang lain? Emang ke tau orang lain gimana?” begitu kataku.

Proses bebunyian berbeda dengan proses lainnya. Proses lain itu ada teks. Bebunyian itu tidak. Oh iya, hampir lupa kalau pentas “Buah Tangan dari Utara” juga seperti itu. Tapi itu ada riset. Dan memang nyatanya sedang terjadi.

Nah “Bebunyian” ini bagaimana? Kita hanya menerka. Kita hanya meramal. Sejauh apa aku mengerti bapak Agung sutradaraku? Seberapa dalam aku memahami maksudnya? Itulah proses awalku. Setelah lama bersama, baru sadar aku harus membaca itu.

Sudah setahun berlalu, di tahun ini banyak yang harus dicapai yaitu eksistensi. Siapa yang tidak perlu eksistensi kecuali Bli Curex? Hehe..

Bukan berarti harus paling menonjol di antara teman-teman. Melainkan maju bersama, berkarya bersama. Punya andil dengan diri sendiri. Selain itu juga pola pikir harus diubah. Yang dulu suka main Mobile Legend sekarang suka membaca atau intens menari. Yang suka bercanda pada saat yang salah sekarang serius. Itu khusus buatku.

Bagiku mempelajari gerakan bukan tentang suatu keindahan yang enak dilihat saja tapi mengenal diri jauh lebih dalam siapa dirimu. Mensyukuri bentuk badanmu. Yang perutnya buncit ya syukuri itu. Yang payudaranya besar ya bagus. Yang kecil ya gak masalah. Yang penting jangan membatasi dirimu pada tubuh dan pikiran sendiri. [b]

Tentang penulis: Jacko. Nama asli Rizky Wahyu. Aktif di Kini Berseri. Kadang-kadang diminta bantu jadi penari, aktor, atau penata gerak Teater Kalangan. Lahir di Banyuwangi 12 Juli 1994. Bila ketemu orang baru pasti dikira orang Timur. Mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*