Catatan Mingguan Men Coblong: Lancung

Masa kanak-kanak dikenal sebagai masa bermain.

SEKOLAH bagi Men Coblong adalah tempat untuk bersosialisasi yang paling nyaman.

Sekolah ketika kanak-kanak merupakan tempat bermain sekaligus belajar yang membuat girang dan senang. Rasanya pada masa itu, setahu Men Coblong, anak-anak justru merasa sedih jika libur terlalu panjang. Rasanya bosan di rumah. Rindu bertengkar dengan teman.

Pokoknya pada masa tahun 70-an sekolah adalah tempat “piknik” paling menyenangkan. Anak-anak pada masa itu selalu aktif dan tidak pernah merasa jenuh. Setahu Men Coblong tidak ada temannya semasa SD yang menjadi penyendiri. Waktu paling ditunggu adalah jam istirahat.

Wah, suasana pada masa itu benar- benar lebih heboh dari Pasar Badung. Semua bicara, semua teriak, semua ingin dapat tempat. Pokoknya semua ingin eksis.

Jenis permainannya juga beragam. Ada lompat tali menggunakan tali karet yang dijalin dengan sangat kuat sehingga berbentuk tali lentur dan kokoh. Ada bola gebok. Ini biasanya dimainkan anak lelaki. Bola dibuat dari kertas bekas bisa juga kertas koran. Ada gatrik, permainan dari bilah bambu. Ada bola bekel. Ini permainan favorit anak perempuan. Men Coblong lebih suka main congklak, berisi biji-biji kerang yang lucu.

Pokoknya, pada jam istirahat semua anak-anak turun ke halaman atau bermain di lantai kelas. Susana hiruk-pikuk dan gaduh itu justru membuat Men Coblong rindu masa kanak-kanak semasa hidup dan tumbuh besar di Jakarta.

Jauh sekali berbeda masa kanak-kanak yang dijalani anak-anak pada masa kini. Anak semata wayang Men Coblong justru sibuk dengan iPad ketika duduk di kelas tiga SD. Apa pun bisa didapatkan anak-anak itu dari alat berbentuk kotak yang sangat canggih, dengan harga juga “canggih” itu.

Melihat permainan anak-anak masa kini Men Coblong merasa seolah masa lalunya tercerabut.
“Jangan pernah membandingkan anak-anak pada masa kini dengan zamanmu yang jadul dan kuno itu. Harus punya cara pandang berbeda melihat hidup anak-anak pada masa kini. Jangan juga pernah mencocokkan.”

Men Coblong terdiam mendengar “ceramah budaya” sahabatnya itu dengan memoyongkan bibirnya sambil menarik napas pelan-pelan. Ada yang tidak bisa diterima Men Coblong pada proses pertumbuhan anak-anak masa kini atau yang disebut generasi milineal.

Anak-anak yang tumbuh senyap dengan alat-alat yang seringkali tidak bisa mereka tinggalkan. Anak-anak itu seperti sibuk dengan dirinya. Hidupnya kadang-kadang disita dan diperas oleh ponsel (HP) yang tidak bisa lepas dari hidup mereka.

Bahkan, ketika acara keluarga untuk sekadar makan siang, atau merayakan hari-hari penting keluarga Men Coblong merasa sudah seperti “petugas keamanan” yang ceriwis dan menyebalkan. Biasanya Men coblong selalu berkata begini, “Selama acara keluarga dan makan, teman kalian yang bernama HP harus disingkirkan dulu. Minimal silent.“ Itu kalimat yang terus berulang-ulang dikatakan Men Coblong.

Bahkan, ketika ada acara keluarga menemani ayah Men coblong yang sudah sepuh, biasanya kalimat itu diulang kembali. Bahkan, jika anak Men Coblong bergabung dengan para sepupu untuk mengunjungi ayah Men Coblong, kalimat itu diulang-ulang seperti kaset rusak yang sebetulnya menyebalkan juga. Yang mengucapkan bosan, yang mendengar dijamin super bosan juga! Karena kalimat-kalimat yang disampaikan itu-itu saja. Tidak ada peningkatan. Juga tidak memiliki estetika bahasa.

Parahnya belakangan ini kalimat jauhkan diri dari ponsel sudah seperti mantra yang harus diucapkan setiap menit. Biasanya menimbulkan efek pertengkaran dengan anak.

“Handphone tidak hanya dipakai untuk main. Bisa juga dipakai untuk belajar,” papar anak semata wayang Men Coblong bersungut-sungut dan berbisik dan mengeluh sambil mendengus dengan suara tidak jelas. Biasanya jika anak semata wayangnya mulai mendengus seperti itu, omelan Men Coblong akan muncrat seperti hujan yang kalap dan tidak bisa berhenti.

“Aku sudah capek bertengkar dengan anak soal itu,” suatu hari sahabat Men Coblong semasa SMA berkata lirih dan putus asa.

Men Coblong terdiam. Teringat kata-kata anak semata wayangnya yang berkata bahwa permainan di beragam peralatan canggihnya (handphone, laptop, dan iPad) adalah cara generasinya belajar banyak hal. Belajar bahasa Inggris juga menyusun puzzle pergaulan.

“Kalau menghidupkan laptop, bukan berarti main saja. Bisa juga berkomunikasi dengan orang-orang yang berada puluhan mil jauhnya. Bisa berdialog, dialog tidak dengan bahasa Bali atau bahasa Indonesia. Kita semua bermain bersama dengan orang-orang di seluruh dunia. Bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Ini kan sama juga belajar bahasa Inggris,” papar anak Men Coblong serius.

Memang sih, bahasa Inggris anak Men Coblong lumayan secara akademik prestasinya juga “lumayan” karena selama ini bisa masuk sekolah-sekolah favorit dengan nilai murni hasil kerja kerasnya sendiri. Jadi Men Coblong tidak perlu mengeluarkan ID (Identitas Diri) — atau mencari beragam cara bahkan dengan tega para orangtua mencari surat miskin untuk bisa dapat kursi di sekolah favorit.

Tapi, tapi apakah anak-anak itu tidak ingin bermain di luar? Berteriak, berlumuran debu dan lumpur?

“Ah, kita harus jadi orangtua yang fleksibel. Jaman sudah jauh berubah. Biar puzzle-puzzle hidup disusun dengan cara mereka. Yang penting jauh dari narkoba,” suara lirih sahabat Men Coblong belum juga bisa mengusir kepandiran Men Coblong tentang gaya hidup anak-anak masa kini.

Yang pasti selamat Hari Anak Nasional 23 Juli. Jadilah generasi terbaik untuk membangun bangsa ini. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*