Visit Bali Years, Promosi Citra Bali oleh SLINAT

 

Foto wanita Bali yang dicitrakan eksotik.

Bali seolah tidak bosan-bosannya menerima kunjungan orang penting dunia.

Pada Maret 2017 lalu, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta 1.500 rombongannya berkunjung dan membuat heboh seisi negeri. Setelah itu, gantian Barrack Obama yang berkunjung ke Bali selama lima hari sejak 23 Juni 2017 lalu.

Setelah mantan presiden AS yang digantikan oleh Donald Trump itu, Perdana Menteri negara tetangga, Malaysia, Najib Tun Razak pun juga tidak mau ketinggalan untuk mengunjungi Bali.

Citra orang Barat melihat Bali dan masyarakatnya menjadi referensi utama branding pulau Bali di kancah dunia internasional. Citra yang bermula ketika para agen perubahan yang ternyata “pelarian dari Eropa pada  Perang Dunia pertama” yaitu Walter Spies dan Miguel Covarrubias dan beberapa seniman kenamaan lainnya yang tiba di Bali pada tahun 1930-an.

Mereka datang, berinteraksi bahkan menetap dan mengembangkan serta menyebarkan citra mereka akan Bali melalui karya-karya mereka kepada dunia internasional.

Citra Barat yang didapat dari citra tokoh-tokoh  itulah yang kemudian membuat pemerintah secara serius ingin mengelola dan mengembangkan citra tersebut dalam bentuk pengembangan pariwisata dan Bali menjadi pusatnya. Upaya tersebut dilakukan pemerintah dengan membentuk Bali Tourist Development Corporation (BTDC) pada tahun 1972, yang kemudian diganti namanya menjadi Indonesia Tourist Development Corporation (ITDC) pada tahun 2014.

Bali menjadi pilot project pengembangan pariwisata di Indonesia yang pada saat itu tidak terlepas dari publikasi jurnalis dari Amerika Hickman Powell dalam bukunya The Last Paradise: An American’sDiscovery’ of Bali in the 1920’s yang diterbitkan pada tahun 1930. Karena publikasi tersebut jumlah wisatawan yang datang ke Bali berangsur-angsur meningkat dari 11,278 kunjungan pada tahun 1969 hingga mencapai 2.114.991 kunjungan pada tahun 2008.

Pencapaian hari ini tentu tidak dibangun tanpa usaha, promosi pariwisata yang diawali tahun1930-an dilanjutkan dengan ciamik oleh pemerintah Indonesia. Beberapa jargon pariwisata sebagai promosi menarik perhatian wisatawan pun mulai dilakukan. Media massa di sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an di bawah pemerintahan Orde Baru, memunculkan berbagai tagline. Di antaranya “Indonesia, there is more to it than Bali”, “Indonesia, Bali and Beyond”, serta “Indonesia, Bali plus Nine”. Tagline yang menggunakan nama Bali, walau berkesan untuk mempromosikan daerah lain selain Bali tetapi tetap saja nama Bali muncul sebagai pemikat.

Sampai kemudian tahun 1991, muncul jargon “Visit Indonesia Year” yang terus bergulir sampai tahun 2008 kemudian kini beralih menjadi “Wonderful Indonesia”.

VISIT BALI YEARS

Keresahan di Balik Ekspansi

Peningkatan industri pariwisata di Bali tergambar dari peningkatan kunjungan para wisatawan. Pada tahun 2016 kunjungan wisata ke Bali mencapai angka 4,9 juta. Seolah tidak puas dengan pencapaian itu, tahun ini kunjungan wisata ditargetkan menjadi 5,5 juta pengunjung.

Saat kunjungan wisata meningkat maka akan diikuti peningkatan akomodasi pariwisata. Dari yang hanya 1.653 hotel di tahun 2006 menjadi 2.079 hotel pada tahun 2015, dan 4.880 hotel pada tahun 2016.

Pariwisata yang merupakan salah satu bentuk budaya baru ternyata lebih dianak-emaskan pada saat ini. Bahkan sektor pertanian yang merupakan pembentuk budaya Bali sendiripun harus dikorbankan untuk itu.

Laju perkembangan dunia pariwisata ini tak luput dari pengamatan Slinat, seniman jalanan yang tumbuh dan tinggal di Bali. Menyaksikan bagaimana dunia pariwisata berputar dan ternyata tidak bisa dinikmati seluruh masyarakat.

Ibarat sebuah kue, kue ini dimasak oleh masyarakat yang secara teguh menjalankan dan mempertahankan tradisi budayanya. Namun, mereka merupakan lapisan paling kecil  bahkan bisa jadi berakhir dengan tidak mendapatkan kue yang mereka buat.

Gambaran masyarakat oleh orang Bali ini seolah telah memberikan sugesti kepada orang Bali sehingga mereka merasa harus bersikap seperti apa yang telah dicitrakan. Walaupun sudah tidak bertelanjang dada, tetapi tetap harus harmonis mempertahankan tradisi. Tidak boleh ada sedikit pun gejolak. Tidak boleh ada sedikitpun penolakan karena itu akan merusak citra Bali.

Orang Bali harus tersenyum menampilkan semua yang indah dan mengubur luka. Keindahan sawah terasiring yang permai walau akhirnya para petani kebingungan ketika penjualan hasil panen tidak menutup ongkos produksi. Sunset yang indah walau sampah berjubel di bibir pantai. Prosesi upacara adat yag megah walau untuk membuatnya tidak jarang harus meminjam uang ke sana kemari. Berpura-pura bahagia sambil terus berteriak “Jaen Hidup di Bali (enak hidup di Bali)”

Melihat situasi tersebut, Slinat menampilkan kegerahan dan kegeraman tentang bagaimana industri ini telah memanfaatkan tradisi dan budaya Bali untuk kepentingan mereka sediri dalam beberapa karyana.

Diawali pada tahun 2011, secara lugas Slinat menumpahkan dalam sebuah karya stensil gadis Bali lengkap dengan Bunga Jepun (kamboja) di telinga dengan tagline “Take My Picture and Say That My Culture is Beautiful”. Lokasinya di salah satu dinding bangunan di tengah Kota Denpasar. Karya itu menyoroti bagaimana selama ini industri pariwisata hanya mengambil citra keindahan Bali tanpa mempedulikan budaya itu Bali itu sendiri.

Tidak hanya gadis Bali yang cantik dengan berhias bunga kamboja, Slinat juga  menampilkan wanita Bali di zaman dahulu (yang masih bertelanjang dada) dengan masker kamp konsentrasi Nazi era perang Dunia II. Media yang digunakan juga beragam, mulai dari stensil, poster, stiker dan yang cukup popular tentu saja mural besar di Pasar Kumbasari yang dibuat dalam acara bertajuk “Bali yang Binal” di tahun 2015.

“Bayangkan jika dulu gambar seperti ini yang dilihat dan dipublikasikan oleh orang asing, apakah mereka akan menganggap Bali itu indah?” demikian kata yang dilontarkan pada saya ketika ditanya ketika karyanya.

Ketika pada tahun 1930-an, orang-orang asing tiba dan melihat wanita menggendong seorang anak dengan bertelanjang dada dan menggunakan masker, tentu bukan surga terakhir yang akan ada dikepala mereka. Bisa jadi gambaran yang muncul adalah neraka yang lain. Citra Bali tidak akan seindah  sekarang. Adat tradisi akan berjalan apa adanya tanpa tuntutan harus megah, dan semakin semakin megah untuk mengakomodir kerakusan pemodal industri pariwisata.

Selama kurun waktu sekitar 6 tahun Slinat mengamati dan menumpahkan keresahan (jika tidak mau disebut kegeraman) dalam karya-karyanya. Karya yang akan dipamerkan di Uma Seminyak, Jl. Kayu Cendana No. 1, Oberoi Seminyak-Kuta. Solo Exhibition yang bertajuk “X VISIT BALI YEAR X” show, pameran ini akan menampilkan sekitar 31 karya yang menyoroti bagaimana perkembangan industri pariwisata di pulau ini.

Kartu post dari Slinat untuk promosi VISIT BALI YEARS

Pameran yang akan diselenggarakan di salah satu area favorit yang sering dikunjungi para wisatawan asing ini, seolah ingin merekonstruksi citra tentang Bali yang selama ini telah terbangun sejak tahun 1930-an. Citra orang asing yang selalu memuja dan memuji Bali, citra Barat yang disebarkan lewat media tulisan, seni lukis bahkan kartu pos.

Mengambil tagline buatan Orde Baru (Visit Indonesia Year) yang bertahan sampai masa reformasi diparodikan menjadi Visit Bali Years yang tujuannya sama, mempromosikan Bali melalui seni (termasuk didalamnya kartu pos). Hanya saja, promosi Bali yang akan dilakukan Slinat kali ini berdasarkan citra realita yang terjadi di Bali, realita yang selama ini ditutup-tutupi agar Bali masih menjadi “Master Piece of God“.

Pameran ini akan berlangsung pada 1–17 Juli 2017. Pada saat pembukaannya, para pengunjung dapat menikmati promosi citra Bali yang apa adanya dengan ditemani senandung musik blues oleh Made mawut dan dendang folk dari Qupit Nosstress serta tidak mau kalah hentakan beat dari Madness On Tha Block dan Koes Min.

Jadi sampai jumpa disana, Kawan…

Mari terbangun dari peninaboboan  kata-kata manis Bali eksotik, surga terakhir dan berbagai kata manis lainnya. Cukuplah mencuci muka karena eksploitasi industri pariwisata terhadap budaya dan alam Bali akan tergambar jelas. Hanya saja kita masih terlalu enggan untuk mengakuinya. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*