Dua Seniman Bali Raih UOB Painting of the Year 2017

Dua perupa Bali bersama penerima UOB Painting of The Year 2017 lain di Jakarta.

Pencapaian ini diharapkan menjadi titik awal bagi perkembangan seni rupa di Bali.

Dua perupa dari Bali berhasil meraih penghargaan Gold Award  dan Bronze Award untuk kategori seniman professional pada perhelatan kompetisi seni lukis UOB Painting Of The Year tahun 2017. Citra Sasmita dengan judul lukisan “Old Mountain and Imaginary Pilars” meraih Gold Award UOB Painting of The Year 2017 sedangkanI Wayan Arnata dengan lukisan berjudul “Footprints” meraih Bronze Award.

Citra Sasmita dengan judul lukisan “Old Mountain and Imaginary Pilars”.

Melalui karya “Old Mountain and Imaginary Pilars”, Citra Sasmita mengangkat tema tentang subordinasi perempuan dalam budaya patrilineal. Tidak hanya di ranah sosial, melainkan juga di seni rupa itu sendiri di mana posisi seniman perempuan kerap kali dianggap tidak mampu bersaing dengan seniman pria.

Secara lebih luas, dalam karyanya, Citra juga mengangkat imaji budaya patrilineal tersebut melalui simbol-simbol dalam kebudayaan timur, seperti imaji gunung yang melambangkan sifat maskulinitas dari kebudayaan tersebut.

Sementara itu, seniman I Wayan Arnata melalui lukisan “Footprints” mengangkat tema perjalanan untuk mengenal diri sendiri melalui proses berkesenian. Arnata menjelaskan bahwa sebuah perjalanan akan mengantarkan manusia untuk menemukan jati dirinya sekaligus sampai pada titik kebijaksanaan di mana semua itu dapat nampak melalui karya yang dihasilkannya.

Melalui teknik tradisional Bali yaitu ‘ngodi’ Wayan Arnata melukis dengan menggunakan benang yang direkatkan di atas permukaan kanvasnya.

I Wayan Arnata melalui lukisan “Footprints” mengangkat tema perjalanan untuk mengenal diri sendiri melalui proses berkesenian.

Citra Sasmita merupakan seniman kelahiran tahun 1990 yang berasal dari Tabanan, selama ini karya-karyanya banyak terinspirasi dari tema perempuan dan kritik atas budaya partiarkhis. Karya-karyanya cukup banyak melukiskan tema kekerasan sosial dan budaya yang harus dialami kaum perempuan dalam memperjuangkan hidupnya dalam sistem kebudayaan.

Sementara itu I Wayan Arnata berasal dari Sukawati, Gianyar. Ciri khas dari lukisannya adalah teknik ‘ngodi’ yang menggunakan benang sebagai medium untuk melukis. Teknik tersebut diperolehnya dari mendiang kakeknya yang merupakan seorang sangging (seniman ornament tradisional Bali).

Tahun ini merupakan penyelenggaraan UOB Painting of The Years Indonesia yang ketujuh kalinya, dimulai sejak tahun 2011. Selama ini sayangnya seniman dari Bali belum ada yang berhasil menjadi pemenang, meskipun beberapa kali ada yang berhasil masuk menjadi nominasi.

Ternyata, pada tahun 2017 ini, dua seniman Bali sekaligus berhasil menjadi pemenangnya. Meskipun belum terpilih menjadi pemenang utama UOB Painting of The Year. Pencapaian ini harapannya dapat menjadi titik awal bagi perkembangan seni rupa di Bali, sekaligus dapat mendorong seniman-seniman lain dari Bali untuk memberanikan diri mengikuti kompetisi-kompetisi seni agar dapat mengangkat nama Bali di kancah seni rupa kontemporer Indonesia.

 

Daftar pemenang UOB Painting of the Year

Kategori professional artist
Painting of The Year – Kukuh Nuswantoro (Yogyakarta)
Gold Award – Citra Sasmita (Bali)
Silver Award – Decki Firmansyah ( Yogyakarta)
Bronze Award – I Wayan Arnata (Bali)

Kategori Emerging Artist
Most Promising Artist of The Year – Alvian Anta Putra (Yogyakarta)
Gold Award – Galih Reza Suseno (Yogyakarta)
Silver Award – Bambang Nurdiansyah (Yogyakarta)
Bronze Award – Anis Kurniasih (Solo)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*