Reuni Pecinta Sepeda Tua Sedunia

Pawai sepeda tua menjadi ajang mempromosikan budaya Indonesia termasuk dari Palangka Raya.

Berbeda-beda tapi tetap satu ontel juga.

Suasana hari tanpa kendaraan bermotor (car free day) di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Bali lebih riuh pada Minggu, 15 April 2018. Tak hanya ribuan warga yang berolahraga, jalan kaki, atau asyik bersepeda seperti biasa, pagi itu belasan ribu pecinta sepeda tua dari berbagai negara juga melewati jalan di kawasan kantor Gubernur Bali itu.

Sejak sekitar pukul 8 WITA, pecinta sepeda tua berangkat dari Sanur. Mereka menempuh jarak sekitar 20 km dari Sanur menuju titik nol kilometer Denpasar di Lapangan I Gusti Ngurah Agung atau Lapangan Puputan Badung kemudian kembali ke Sanur.

Sepanjang jalan, warga menyambut para pecinta sepeda yang terpisah dalam beberapa rombongan itu. Tak hanya menonton di pinggir jalan tetapi juga memotret dan berteriak memberikan semangat.

Para peserta pawai sepeda memang menarik perhatian dengan penampilannya. Selain berpakaian tradisional daerah asal masing-masing, seperti Dayak, Batak, Mataraman, Sunda, dan lain-lain, sebagian peserta juga tampil layaknya karnaval. Ada yang tampil seperti Indian Amerika ataupun tokoh imajiner seperti di Jember Carnival.

Meskipun pakaiannya berbeda-beda, mereka mengendarai kendaraan yang sama, sepeda tua. Sepeda tua bergigi satu yang biasa disebut jengki itu berusia puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, peserta pawai sepeda hingga sekitar pukul 11 WITA itu juga dari 30 negara lain, termasuk Malaysia, Jepang, Belgia, Belanda, dan lain-lain.

Pawai sepeda tua memang bagian dari kongres International Veteran Cycle Association (IVCA). Tahun ini Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) menjadi tuan rumah kongres pecinta sepeda tua seluruh dunia itu. KOSTI memanfaatkan kesempatan sebagai tuan rumah kongres yang pertama kali diadakan di Asia ini untuk mengenalkan budaya Indonesia.

“Apalagi tema tahun ini adalah Menjunjung Tinggi Keberagaman dan Plularitas yang sangat sesuai dengan keberagaman di Indonesia,” kata Ketua Umum KOSTI Joko R. Prihartono.

Keberagaman itu tergambar selama kongres pada 12-15 April 2018. Para pecinta sepeda tua bertemu di Sanur tidak hanya untuk membicarakan tentang sepeda tua tetapi juga tak bersahabatnya jalan raya bagi pengguna sepeda.

“Kalau ketemu kendaraan besar ya harus mengalah,” kata Andi Surandi, salah satu pecinta sepeda ontel yang ikut reli dari Anyer sampai Bali menjelang pawai di Bali.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*