BUMDA Ungasan Gandeng Unud Tata Pantai Melasti

Tim BUMDA Ungasan dan Prodi S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Foto I Made Sarjana.

Bagaimana BUMDA Ungasan bangkit setelah Rp 48 miliar dananya pernah digondol pengurus lama?

Masyarakat Desa Adat Ungasan Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung kini sedang berbenah memperbaiki perekonomian desa. Pantai Melasti pun disulap menjadi daya tarik pariwisata.

Demi percepatan penataan daya tarik wisata baru tersebut, Bhaga Utsaha Manunggal Desa Adat (BUMDA) milik Desa Adat Ungasan menggandeng Program Studi (Prodi) S2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana sebagai mitra kerja sama untuk melakukan kajian sekaligus pembinaan secara berkelanjutan. Perjanjian kerja sama dua belah pihak ditandatangani di Kantor LPD Desa Ungasan pada Sabtu (2/3/2019).

Perjanjian ditandatangani Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa, SE bersama Ketua Prodi S2 Kajian Pariwisata Dr. Ir. IGA Suryawardani, M.Mgt

Usai menandatangani surat perjanjian, Gung Dani, panggilan akrab IGA Suryawardani, menyampaikan kesannya atas potensi pariwisata di Pantai Melasti. Menurut Gung Dani pantainya eksotis, dari segi nama maupun potensi fisik. Keunikan ini memberi peluang lebih mudah untuk dipasarkan.

“Dalam bahasa Inggris kata melasti artinya purification. Ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung,” tutur ahli pemasaran produk pariwisata dan pertanian ini.

Gung Dani mengingatkan, perlunya mengelola Pantai Melasti dengan mempertahankan kesucian dan meminimalkan kebencian. Kesucian yang dimaksud Pantai Melasti sebagai tempat upacara keagamaan, taksunya harus dijaga. Kebersihan dan keasrian wilayah ditingkatkan dengan model penataan yang ramah lingkungan.

Harmoni di tengah-tengah masyarakat menjadi kunci dalam membangun industri jasa. Jadi, kata Gung Dani, konflik social akibat pengembangan Pantai Melasti harus dihindari dengan cara menumbuhkan kepercayaan satu sama lain dan hilangkan perasaan dengki.

Lebih Jauh, Gung Dani menjelaskan dalam merealisasikan kerja sama bertajuk “Pengembangan Daya Tarik Pantai Melasti” pihaknya didukung ahli-ahli pariwisata Unud yang mengajar di S2 Kajian Pariwisata dan Pusat Unggulan Pariwisata. Ada Dr. Agung Suryawan, Dr. Pujaastawa , Dr. Nyoman Sudiantara, Dr. Indra, dan juga para guru besar seperti Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, Prof. Dr. Sukaatmaja, Prof. Dr. Made Budiarsa, Prof. Dr. Made Antara.

“Ini adalah kerja sama yang pertama bagi S2 Kajian Pariwisata. Saya berharap proyek rintisan ini bisa bermanfaat bagi Desa Adat Ungasan dan Unud sendiri,” tutur Gung Dani penuh semangat.

Suasana pantai Melasti menjadi daya tarik selain keunikan namanya. Foto I Made Sarjana.

Bangkit setelah Bangkrut

Sementara Wayan Disel Astawa menuturkan Pantai Melasti yang diluncurkan sebagai daya tarik pariwisata per 1 Agustus 2018 sudah memberi manfaat nyata bagi Desa Adat Ungasan. Pemasukan bersih yang mereka dapatkan sekitar Rp 600-700 juta per bulan.

Pada periode awal pembukaan, LPD sudah mampu menyelamatkan LPD Ungasan tetap beroperasi setelah bangkrut akibat “dibobol” pengurus lama sekitar Rp 48 miliar. “Syukur sekarang kami sudah punya dana cadangan 12 miliar,” tutur mantan anggota DPRD Provinsi Bali itu.

Astawa menambahkan Pantai Melasti dikelola dengan berbasis masyarakat di mana peluang usaha dan peluang kerja yang tercipta setelah Pantai Melasti jadi daerah tujuan wisata (DTW) sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat Ungasan.

Pengelola Pantai Melasti telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,7 miliar untuk membangun berbagai fasilitas dan penataan wilayah pantai ke dalamlima5 zonasi. Nantinya disiapkan 15 kios untuk masing-masing banjar adat dan ada 22 kios yang disewakan untuk perorangan.

Penandatangan kerja sama tersebut dirangkaikan dengan kegiatan pelatihan jurnalisme wisata untuk pengisian website secara berkala. Pakar jurnalistik Bali Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Lit. tampil sebagai instruktur bagi 30 pegawai BUMDA peserta pelatihan tersebut. [b]


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*