Inilah Panduan Melihat Lumba-lumba di Lovina

Untuk mengendalikan banyaknya turis perlu ada panduan melihat lumba-lumba di Lovina. Foto Anggara Mahendra.

Puluhan jukung memecah kesunyian pagi di Pantai Lovina di bagian utara Bali.

Mereka mulai dari sejumlah titik penjemputan turis. Titik-titik lumba-lumba mulai mencari makan dan muncul di permukaan perairan obyek wisata Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sekitar pukul 6.30 WITA, kerumunan jukung sudah berkumpul di titik kumpul populasi lumba-lumba ini. Dari belasan, sekarang mencapai hampir 50 jukung. Suara mesin tempel makin keras dan bersahutan.

Kadang-kadang mesin berhenti menderu. Jukung bergoyang-goyang di lautan. Pengemudi jukung mengarahkan pandangan ke segala penjuru. Mereka konsentrasi menemukan wujud ikan berwarna hitam yang gemar melompat itu.

“Kanan… kanan, Bu. Ayo cepat rekam,” seru seorang pengemudi pada penumpang jukungnya memberitahu kemunculan lumba-lumba.

Teriakan ini segera diketahui jukung lain. Mereka pun mengejar lumba-lumba yang melompat rendah di permukaan. Biasanya terlihat dua ekor lompat bersamaan, kadangkala empat ekor. Mereka terlihat dalam rombongan kecil.

Para penumpang jukung lalu bersemangat. Meminta pengemudi lebih cepat agar tak kehilangan momen memotret si dolphin lebih dekat. Kadang jarak lumba-lumba hampir menyentuh ujung kapal.

Hewan lucu ini lalu menghilang. Tak lagi terlihat lompatannya. Kemudian terlihat lagi di arah yang lebih sepi kerumunan jukung. Lagi, jukung-jukung ngebut ingin mendekati.

Demikian peristiwa ini terjadi berkali-kali selama hampir sejam. Perahu-perahu ini melaju, kemudian menurunkan kecepatan ketika lumba-lumba menghilang. Kemudian segera menderu menghidupkan mesin mengejar mereka.

Sementara di ufuk timur, matahari sudah melewati horizon. Langit memerah dan para turis pencari lumba-lumba masih penasaran untuk menemukan lebih banyak lagi rombongan lumba-lumba.

Wisata menonton lumba-lumba di laut lepas perairan Bali Utara ini tak pernah surut. Disebut-sebut termasuk empat wisata dolphin watching teramai di dunia. Sekitar 100 pengemudi jukung, sebagian nelayan kini sangat menggantungkan penghasilannya pada si lumba-lumba ini.

“Sebenarnya sudah ada imbauan agar jangan terlalu mengejar lumba-lumba biar dia nyaman, tapi penumpang minta kita lebih dekat. Saya dilema,” ujar Mangku, salah seorang pemilik jukung.
Salah satu etika yang dia ketahui adalah jangan membelakangi rombongan lumba-lumba tapi lebih baik melihatnya dari samping perahu. Untuk keselamatan dan memberi ruang bagi aktivitasnya di permukaan.

Tantangan
Wisata pengamatan lumba-lumba di Pantai Lovina, Buleleng sudah berkembang sejak 1987. Namun, masih ada banyak tantangan terutama aspek konservasi, sumber daya ikan, dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan.

Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Dinas Perikanan dan Kelautan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menyepakati pembutan panduan melihat lumba-lumba atau standar operasional prosedur (SOP) wisata pengamatan lumba-lumba.

“Ada empat kesepakatan di lapangan oleh kelompok pemandu wisata namun belum optimal pelaksanaannya oleh para kapten kapal,” kata Permana Yudiarso, Kepala Seksi Program dan Evaluasi Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

Ada empat kesepakatan panduan melihat lumba-lumba ini.

Pertama, kapten kapal tidak memotong jalur berenang lumba-lumba. Kapal harus berenang searah dengan lumba-lumba dan di samping kanan atau kiri lumba-lumba.

Kedua, angkat dan matikan mesin ketika berada dekat lumba-lumba. Ketiga, jaga jarak minimal 50 meter dari sekawanan lumba-lumba.

Keempat, tidak memberi makan lumba-lumba. Jika pengemudi kapal lupa, penumpang atau turis sebaiknya yang mengingatkan.

Selain panduan melihat lumba-lumba, masyarakat juga akan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan di Lovina. Pokmaswas akan melakukan pengawasan SOP wisata lumba-lumba di lapangan dan melakukan tindakan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Ada juga pendataan seluruh kelompok dan anggota pemandu wisata pengamatan lumba-lumba di Pantai Lovina. “Kelompok dan anggota yang sudah terdaftar (kapten kapal) akan dilakukan pelatihan dan sertifikasi wisata bahari bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Kelautan dan Perikanan,” tambah Permana.

Wacana lain yang muncul adalah pengembangan taman laut untuk mendukung wisata bahari di Pantai Lovina. Belum ada detail soal ini. Tapi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Nyoman Sutrisna sempat menyebut rencana pembuatan lima rumpon di tengah laut untuk menata wisata melihat lumba-lumba di tengah laut ini.

Wacana ini sudah pernah disampaikan ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Buleleng, Dewa Suardipa. Dia melontarkan wacana membuat semacam rumpon di tengah laut sebagai pusat wisata lumba-lumba di habitatnya. Tujuannya, agar lumba-lumba tak dikejar-kejar jukung pembawa turis.

Ia meyakini membuat semacam rumpon adalah solusinya. Ia berharap industri pariwisata segera mewujudkan alternative cara melihat lumba-lumba ini di laut dengan cara mengajukan ke pemerintah pusat.

“Wacana ini perlu dibicarakan bersama,” tambahnya.

Tak Sesuai Standar
Sementara Putu Liza Kusuma Mustika, peneliti Cetacean dan wisata lumba-lumba Lovina cenderung mendorong pelaksanaan SOP wisata dolphin watching ini untuk memastikan keberlanjutannya. Karena menyangkut kenyamanan lumba-lumba dan kepuasan wisatawan.

Ia menyampaikan sejumlah data dari serial penelitiannya. Code of Practice dari the Australian National Guidelines for Whale and Dolphin Watching (2005) menyebutkan syarat tidak membuntuti atau berada di depan lumba-lumba. Jarak melihat dari samping kiri atau kanan minimal 50 meter.

Namun kondisi berbeda terjadi di Lovina. Diperoleh kesimpulan sekitar 10 m jarak antara jukung terdekat dengan lumba-lumba. Kemudian 25 m rata-rata jarak antara kelima jukung terdekat dengan lumba-lumba.

Lalu ada rata-rata 15 jukung di sekitar lumba-lumba. Jadi setidaknya 1 dari 5 jukung terdekat ngebut atau masuk ke dalam kelompok lumba-lumba. Ini tidak sesuai dengan aturan internasional untuk memastikan lumba-lumba bisa hidup nyaman seperti reproduksi dan istirahat.

“Tidak bisa hanya 1-2 orang kapten kapal yang berperilaku baik. Semua harus sepakat untuk berperilaku yang baik saat berwisata,” Liza memberi catatan penting.

Sebagian lumba-lumba bisa dilihat dengan jukung pada pukul 6-8 pagi walau bisa ada sepanjang hari dan tahun. Sekitar 40 ribu turis ke Lovina tiap tahun. Total pengeluaran langsung sekitar 46 persen pada 2008/2009 (USD 4.1 juta pa). Lalu menurun menjadi 38,5 persen total pengeluaran langsung di 2013 (USD 2.3 juta pa). Sebanyak 38 persen kontribusi industri wisata Lovina terhadap pemasukan lokal.

Pengemudi kapal menetapkan harga mengejar lumba-lumba di Lovina ini rata-rata Rp 75 ribu per orang. Satu perahu berisi antara 4-6 orang. Mereka biasanya kerja sama dengan pengelola hotel atau penginapan tempat turis menginap.

Potensi penghasilan wisata dari cetacean cukup tinggi. Dari catatan Liza, ada 13 juta wisatawan paus dan lumba-lumba pada 2008. Meliputi 3.300 operator dengan 13.200 tenaga kerja berlangsung di 119 negara. Nilai penghasilan dari wisata di laut ini sekitar USD 872 juta dari tiket saja.

Di balik gelimang uangnya, ada lumba-lumba yang terus dikejar-kejar para turis domestik maupun mancanegara. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*