Nyepi di Bali kok Promosi Hotel untuk Hiburan?


Suasana Nyepi di Kuta.

Belakangan saya miris mendengar iklan di radio kesukaan.

Semua iklan yang saya dengar sambil menyetir mobil itu berisikan ajakan berlibur saat Nyepi. “Yuk, ber-Nyepi di hotel ini! Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di hotel!”. “Paket termasuk breakfast 2 kali dan satu dinner!”.

Bahkan ada hotel mengajak penginapnya untuk mengunggah fotonya di Instagram dengan tanda pagar (tagar) sekian sekian sekian.

Tunggu dulu.

Baru tahun lalu kita dihebohkan dengan permintaan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) untuk mematikan internet dan media sosial agar tidak ada yang menggunggah foto dan status ke sosial media tentang apa yang terjadi selama Nyepi.

Ini berarti kita masih terikat dengan duniawi, tidak menjalankan Nyepi dengan benar.

Teringat, waktu itu saya masih bekerja sebagai guru di suatu sekolah internasional, kami melaksanakan pertemuan dengan orang tua murid sebelum libur Nyepi. Saat itu Nyepi pada hari Sabtu bersambung dengan libur satu minggu.

Lalu, satu orang tua yang non-Bali dan non-Hindu berbagi bahwa dirinya dan keluarganya akan menyebrang ke Gili Trawangan karena hidup mereka tidak mungkin tanpa internet sekalian berliburan.

Saya memaklumi alasan orang tua itu dan saya justru kasihan kenapa internet harus dimatikan (yang akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah). Namun, saya tidak bisa toleran dengan iklan-iklan hotel di radio itu. Tidak hanya di radio, media yang saya sering gunakan yaitu Instagram, yang bersponsor pun mempromosikan yang sama. Saya sungguh bingung membacanya.

Jadi, apakah makna dan tujuan Nyepi gampang diobrak-abrik ya?

Sebenarnya tahun lalu saya tidak setuju dengan imbauan mematikan internet saat Nyepi di Bali juga. Itu seperti blackout internet yang sungguh tidak perlu. Permasalahan menjalankan Nyepi itu balik ke diri sendiri. Saya sebagai orang Bali yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya selama dua puluh tahun, saat bersama keluarga maupun sendiri, selalu menjalankan Nyepi di manapun kita berada.

Kami selalu mengusahakan menjalankan Catur Brata Penyepian mau itu di Jakarta yang memang libur dengan tanggal merah Nyepi maupun saat di luar negeri yang tidak ada tanggal merah Nyepi, kecuali untuk pegawai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan instansi Indonesia terkait lainnya.

Kami tidak masak, tidak bepergian, bergelapan, tidak memegang perangkat komunikasi, tidak berinternetan, tidak menghidupkan hiburan apapun. Dan di saat Nyepi saya selalu berandai bisa di Bali, karena hanya di Bali saya bisa melakukannya dengan hikmat.

Saya ingat satu saat tinggal di Hong Kong tahun 1998. Ayah saya mencabut koneksi telepon rumah untuk hari Nyepi. Saya bertanya, kenapa demikian? Ayah bilang, ya itu salah satu puasa kita, tidak berkomunikasi.

Ekstrem sih, tapi itu terbawa oleh saya sampai sekarang, dan memang harusnya demikian.

Sekarang, jika Nyepi tiba, saya jauhkan smartphone saya, saya tetap hidupkan untuk emergency tetapi saya silent total karena saya jauh dengan keluarga. Saya memang tidak berkomunikasi dan beberapa tahun terakhir saya selalu membuat pengumuman di sosial media saya akan menghilang 24 jam untuk Nyepi.

Jadi, saya tidak melakukan aktivitas sosial media selama hari Nyepi.

Jadi, sebenarnya kalau niat dijalankan, bisa saja kan dijalankan dengan sendirinya? Sekarang kalau internet dimatikan, kalau ada masalah darurat atau emergency dari keluarga jauh, lalu bagaimana? Dan bagi yang tidak menjalankan Nyepi, apakah mereka harus dipaksa ikut blackout juga? Apa salah mereka? Mereka kan tidak menjalankan Catur Brata Penyepian?

Lalu kembali ke hotel dengan paket-paket Nyepi-nya itu, kok bisa sih? Ini di Bali lho?

Karena fenomena iklan-iklan ini, teringat lagi dengan satu artikel di Balebengong yang pernah saya baca saat kuliah. Judulnya “Nyepi di Bali Tempo Doeloe” oleh I Nyoman Darma Putra.

Diceritakan oleh Darma Putra bahwa ada kekacauan untuk memandatkan Nyepi di Bali yang sesungguhnya dan cukup susah perjuangannya. Banyak unsur politik, sosial, bahkan yang hasil yang paling signifikan saat ini adalah keberhasilan bandara dan pelabuhan untuk ditutup 24 jam didapatkan saat reformasi (tahun 2000).

Ia bercerita bahwa salah dua orang yang datang saat Nyepi pada tahun 1936, yakni antropolog dan fotografer Margaret Mead dan Gregory Bateson. Mereka terkenal membuat buku yang cukup kontroversial memaknai karakter orang Bali versi mereka berjudul “Balinese Character: A Photographic Analysis”.

Mereka berlayar ke Bali dengan KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan pelayaran Belanda yang membawa orang-orang dari luar negeri ke Bali. Dikatakan bahwa seorang supir membawa mereka dengan mobil, saat dihentikan pecalang setempat, si supir mengakui bekerja di KPM, Pecalang pun ketakutan dan tidak menghentikannya karena “Bali adalah milik Belanda” saat penjajahan itu.

Nyepi pun ternyata bisa dikontrol penjajah pada zaman kolonial. Setelah kemerdekaan, Nyepi penuh “semangat kebangsaan dan revolusi.” Walaupun dari satu desa ke desa lainnya memiliki pemahaman Catur Brata Penyepian berbeda, tetapi berkendaraan memang tidak dilaksanakan. Berhasil menghentikan kendaraan darat, tetapo pesawat belum berhasil.

Alhasil beberapa biro perjalanan dan hotel mendapat dispensasi. Akhirnya itu mengganggu masyarakat dan dispensasi ditekan.

Lalu, apa yang terjadi sekarang? Siapa yang melayani paket hiburan di hotel-hotel di Bali tersebut? Bukankah sebagian besar orang Bali juga bekerja di perhotelan?

Di saat beginilah, Bali terasa kok kayak gak ada identitas yang pasti. Tetapi memang yang memastikan ya orang Bali itu sendiri. Nyepi itu untuk diri sendiri kok, bukan untuk orang lain. Menyambut tahun baru yang memang berbeda sensasinya dan untuk saya menyambut tahun baru yang sesungguhnya. Mengapresiasi diri sendiri, mengapresiasi lingkungan, menghadapi kedamaian, tanpa ikatan duniawi, satu hari saja.

Sudah banyak hal yang diperjuangkan dan bisa kita dapatkan untuk menjalani Nyepi dengan hikmat. Lalu kenapa rasanya seperti kita membebankan orang-orang lagi demi duniawi orang-orang yang tidak mau menjalankan Nyepi seperti paket Nyepi hotel-hotel ini? Mengapa yang tidak mau menjalankan tidak bisa mengapresiasi kebudayaan Nyepi itu sendiri? Kalau tidak mau kena hal-hal yang dihentikan Nyepi, ya mungkin sudah seharusnya seperti orang tua murid di atas tersebut – pergi dari Bali.

Saya bersyukur lahir ke dunia ini sebagai segelintir orang Bali beragama Hindu dan dapat menjalankan Catur Brata Penyepian setahun sekali dimanapun saya berada. Kalau kamu? [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*