Mengintip Hari Depan Teater Kalangan

Teater Kalangan saat tampil di Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017 di Taman Baca Kesiman. Foto Wayan Martino.

Oleh Wulan Dewi Saraswati

Kami membuka tahun baru dengan catatan ini sungguh bahagia.

Seperti mengintip masa mendatang dan membungkus rapi pengalaman. Melewati tahun-tahun sebelumnya bersama Teater Kalangan adalah pengalaman yang senantiasa menjadi bekal bagi karya selanjutnya.

Berbagai kegiatan yang telah dilalui bersama tentu membuat semua kawan di Teater Kalangan semakin matang. Kematangan itu bisa dilihat salah satunya pada catatan ini. Catatan singkat ini saya tulis dari sudut pandang sebagai seseorang yang ikut nimbrung bersama Teater Kalangan.

Jika ditelisik beberapa tahun lalu ketika masih bernama Teater Tebu Tuh, kelompok ini memang sudah menawarkan hal berbeda. Kecenderungan yang digarap adalah kolosal menggunakan banyak pemain, komikal, interaktif, dan mengedepankan konsep artistik. Namun, Tebu Tuh belum memperlihatkan penawaran untuk bermain di luar daerah asal yakni Singaraja.

Sedikit nostalgia, saya sempat melihat penampilan Tebu Tuh pada Parade Teater Muda Bali Utara yang saat itu mementaskan naskah ADUH karya Putu Wijaya. Saya pun ikut pada garapan film pendek Doll Education yang berhasil menyabet juara 1 se-Bali.

Pada saat-saat itu sudah kentara orientasi sutradara yakni wacana besar dan padat, dipresentasikan secara kolosal dengan karakter komikal.

Sesudah ‘Reformasi’

Sebagaimana saya ketahui, Teater Kalangan telah di‘baptis’ sebagai sebuah nama yang dipilih oleh Sumahardika pada acara Mimbar Teater Indonesia yang digelar di Taman Budaya Surakarta Jawa Tengah, 23 September 2016. Pada saat itulah Teater Kalangan tampil kali pertama dengan naskah Rintik karya Danarto.

Bisa dibilang pada waktu itu pula Teater Kalangan diresmikan sebagai kelompok teater. Tentu tidak sembarang kelompok yang berhak tampil pada Mimbar Teater Indonesia. Maka dari itu, kelahiran Teater Kalangan telah disambut dan disaksikan oleh berbagai teater di Indonesia yang hadir pada acara tersebut. Kejadian itu pula adalah sebuah reformasi dari Sumahardika dan kawan-kawan.

Bersama beberapa kawan, Sumahardika membuat sebuah reformasi. Saya melihat hal itu sungguh dipersiapkan. Terutama visi, misi atau lebih kerennya ideologi dari Teater Kalangan sudah disiapkan dengan hati-hati, teliti, dan inovatif.

Kreativitas yang dimiliki oleh kawan-kawan yang bergabung di Teater Kalangan cukup unik dan menarik. Anggota yang tergabung tidak profesinal sebagai aktor, sebagai artistik, musisi, EO, atau singkatnya tidak belajar formal terkait hal itu. Kawan-kawan bergabung untuk belajar bersama, diskusi, bertukar ide, beradu argumen guna mendalami lagi materi-materi yang telah didapat serta mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam keaktoran, artistik, bahkan penulisan.

Saya berpikir bahwa poros energi Teater Kalangan terletak pada tataran wacana. Teater Kalangan membidik wacana sosial menjadi puitis sebagai sebuah tema dan bentuk pemanggungan. Maka tidak cukup kiranya bila diejawantahkan dalam dramaturgi Stanislavski. Bila pertarungan politik dan kontestasi ideologi menjadi daya ungkap dari Teater Kalangan, maka dramaturgi Brechtian adalah pondasi yang sesuai.

Tidak sampai di sana, pada produksi XIII Teater Kalangan yakni Wisata Monolog mempunyai bentuknya sendiri. Pementasan ini membawa isu-isu perjuangan kaum bawah sebagai bentuk provokasi. Adapun pementasan monolog Bali yang merupakan pementasan ke-100 dari Festival Monolog Putu Wijaya merupakan tindakan membangun nyali dan melek terhadap situasi politik.

Hal lain itu juga terlihat pada garapan Malala, produksi penutup tahun 2017 Teater Kalangan. Sutradara Santiasa Putu Putra melihat bahwa Malala adalah wacana yang ingin diperbincangkan. Kemudian, saya sebagai pemain diarahkan untuk menampilkan secara forum discussion group (FG).

Di satu sisi memang naskah ini adalah naskah monolog tetapi naskah tidak menutup kemungkinan untuk mengajak penonton beragumen. Naskah Malala memang menuntut keterlibatan penonton mengkritisi peran tunggal ayah. Penonton diajak berdiskusi bersama tentang keadaan Malala.

Pada saat itu, hal yang terpenting adalah membangun daya kritis penonton terhadap isu yang tampilkan, selain memang membuat suasana seperti berada di Bale Banjar.

Di sisi lain mengusung wacana sosial, penawaran menarik juga terlihat pada beberapa pementasan di Denpasar seperti Buah Tangan dari Utara. Tubuh aktor adalah hal utama sebagai daya ungkap. Hal ini sangat unik mengingat wacana tersebut diterjemahkan ke dalam idiom-idiom gerak pada tubuh si aktor.

Ada pula inovasi dalam respon puisi. Teater Kalangan sempat merespon beberapa puisi saya kemudian ditampilkan di Bentara Budaya Bali dan LittleTalks Ubud. Pada saat itu garapan condong pada gerak dan kekuatan bunyi.

Selanjutnya kami fokus untuk menggarap musik atau bunyi yang bertajuk Bebunyian. Pada pementasan Pidato Gila dan Damai pun Teater Kalangan bahkan menampilkan musik dalam bentuk live band.

Daya ungkap pada tataran wacana, konsep tubuh dan bunyi, sudah saya paparkan. Terakhir yang menjadikan Teater Kalangan menjadi segar adalah penggarapan penonton. Salah satunya yakni mengundang penonton.

Beberapa pementasan yang besar dan ingin melibatkan penonton dari prosfesional teater, berbagai disiplin ilmu, bahkan penonton awam tentu perlu ajakan resmi. Nampaknya tidak cukup hanya mengandalkan media sosial. Tidak cukup membuat cuplikan pementasan. Tidak cukup undangan lewat Facebook.

Kini undangan lebih serius, lebih intim, dan lebih formal. Kami mengundang kawan-kawan dalam bentuk kartu undangan atau mini famflet. Kami mengharapkan kehadiran para undangan untuk menyaksikan, mengkritisi, mengapresiasi karya kami dengan cara mereka. Dengan undangan ini, kami pun merasakan bahwa pementasan yang ditampilkan tentu tidak boleh sekadar atau hanya kejutan-kejutan belaka. Kami menjadi termotivasi untuk serius menggarap, tekun berlatih, dan menyadari kebutuhan penonton yang ingin menyaksikan pementasan penuh makna juga segar.

Mengintip Hari Depan
Nampaknya Teater Kalangan tidak saja beranjak dari apa yang ada. Teater Kalangan sudah meyakini bahwa yang ada perlu diberi makna agar semakin berharga. Memberi makna sebagai respon terhadap lingkungan sekitar adalah hal yang tengah dilakukan.

Secara Ekologis sebagaimana yang dikatakan Benny Yohanes bahwa teater adalah gejala kesenian berdimensi sosial dan intelektual, yang berlingkungan dan melingkungankan diri. Teater lahir melalui lingkungan sosial-intelektual kesenian yang secara kondusif kemudian menetaskan embrio sifat genetik dan hereditas keteaterannya. Hal itulah yang menjadi bekal sekaligus identitas sikap teater yang diambil Teater Kalangan.

Sikap Ekologis yang dipilih ini muncul berkat relasi-relasi yang berperan dalam pembangunan wacana pada pementasan Teater Kalangan. Relasi yang dimaksud bisa dipisahkan menjadi dua.

Pertama peran personal, seperti keterlibatan kawan-kawan musisi, film, aktivis, seniman tari, koreografer, pelukis, dsb. Peran kawan-kawan berbagai disiplin ilmu tentu meyakinkan kita bahwa teater tidak dibangun hanya dari seni peran, tetapi ada pula ilmu-ilmu lain yang tidak kalah penting sebagai unsur pembangun teater.

Kedua, relasi ruang. Respon-respon terhadap ruang akan mempengaruhi daya kreativitas artistik teater. Ruang beserta isinya harus mampu direspon agar terjadi proses pemaknaan. Seperti yang telah dilakukan pada ruang baca, kafé, tanah kosong, ruang bawah tanah, panggung terbuka, atau pemanfaatan benda bekas, bambu, panci, gambelan, kardus, dan lain-lain.

Teater Kalangan adalah penawaran bagi masa depan teater, khususnya di Bali. Tidak hanya bertumpu bahwa teater adalah bentuk swadaya, yadnya, atau panggilan hati.

Lebih dari itu, teater Kalangan melangkah kini pada tataran akal budi, pengembangan konsep, komposisi penyajian, dan tentu pertarungan wacana. Penonton tidak hanya diberikan ruang untuk menyaksikan, tetapi penonton diberi kesempatan untuk terlibat langsung di dalamnya. Kini menonton teater tidak seserius yang dipikirkan. Menonton teater adalah sarana rekreasi, refleksi, dan cerminan terhadap situasi lingkungan kini.

Tantangan masih terbuka luas. Menaklukkan wacana, bertarung dengan waktu, serta merawat persaudaraan adalah krikil yang harus disikapi bijak. Mengatur pola latihan, membagi waktu antara pribadi dan keluarga, serta menjalin silaturahmi sesama pejuang seni perlu dibina lebih lanjut.

Hari depan masih cerah membara. Harapan terhadap Teater Kalangan masih begitu panjang. Banyak kesempatan untuk tekun berkarya. Tentu masih ada ruang untuk berkarya selama gairah belajar terjaga. [b]

Denpasar, awal tahun 2018.

Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati berasal dari Desa Busung Biu, Buleleng. Lahir di Denpasar, 10 Juli 1994. Telah menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kemudian mendalami linguistik di Pascasarjana Universitas Udayana. Kini menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing di Yayasan Cinta Bahasa.

Saat ini bergabung di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta telah terbit pada tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui swulandewi@gmail.com, Facebook: Wulan Dewi Saraswati, dan Twitter: @wulansaraswati.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*