Catatan Mingguan Men Coblong: Filter

MEN COBLONG membelalakkan matanya.

Pikirannya tiba-tiba saja jadi terasa lemah dan Men Coblong merasa menjelma menjadi “umat” manusia yang makin hari makin bodoh. Bukannya makin hari makin cerdas.

“Harusnya, makin tua usia, makin memudahkan kita untuk memiliki pikiran-pikiran lebih sublim. Pikiran-pikiran yang menuai kebijakan. Bukan pikiran-pikiran yang menampung beragam hawa busuk. Hawa yang tidak terlihat tetapi tercium begitu dekat di lingkungan kita. Sangat menganggu tetapi wujudnya tidak terlihat,” kata sahabat Men Coblong serius sambil mengiris potongan bistik vegetarian yang dipesannya di sebuah kafe baru di Denpasar.

Men Coblong terdiam sambil melirik kafe baru. Kata sahabatnya, kafe itu membuat pikiran lapuk dan haus seperti disuntik zat yang membuat pengunjung ingin kembali lagi. Menikmati beragam mural lucu-lucu di setiap dinding-dinding tembok yang mengepung kursi-kursi.

Belakangan ini Men Coblong memang hobi berat mengelilingi beragam kafe kecil di kota Denpasar. Kafe-kafe itu mengingatkan Men Coblong pada “aroma” dan suasana khas dari negara-negara tetangga.

“Haloooo, kau dengar aku bicara?” tanya sahabat Men Coblong mengusik pikiran Men Coblong. Suaranya yang cukup keras dan setengah berteriak membuat mata beberapa pengunjung kafe mengarah ke meja Men Coblong. Men Coblong mendelik kepada sahabatnya.

“Mereka yang datang itu kebanyakan anak muda. Kau tidak usah takut. Harga diri dan eksistensimu sebagai perempuan “dewasa” tidak akan tercemar. Mereka generasi yang sibuk dan hiruk-pikuk dengan gawai mereka. Bukan generasi kita yang hobi ribut dan berisik,” suara sahabat Men coblong terdengar santai dan ringan.

Dia ngomong sambil melirik kepada segerombolan anak muda yang asyik dengan gawai mereka. Sesekali mereka juga melirik ke arah kursi Men Coblong. Mungkin mereka berpikir, gaul juga ibu-ibu ini, gumam Men Coblong dalam hati.

Men Coblong kembali asik menatap beragam mural-mural besar yang dilukis di dinding.

“Sebetulnya apa yang menjadi fokus perhatianmu? Kau suka suasana kafe ini kan?” tanya sahabat Men Coblong terdengar semakin nyinyir.

“Ya.”

“Kupikir aku memilih tempat yang pas untukmu. Agar pikiranmu tidak cupet dan mampet,” kata sahabat Men Coblong makin menohok.

“Ah, kau ini… Justru berada di dalam kafe ini aku mulai berpikir,” jawab Men Coblong serius.

“Tidak bisakah kau berhenti berpikir dan bersantai menikmati beragam menu sehat di kafe ini?”

“Maksudmu?”

“Menikmati dengan rileks dan tanpa beban,” jawab sahabat Men Coblong tanpa ekspresi.

“Menu organik ini?”

“Iya.” Jawab sahabat Men Coblong tegas.

“Dari mana kau tahu beragam bahan yang diolah di kafe ini organik?”

“Dari rasa, teknik pengolahan. Cobalah! Ayo… Kau harus mencicipinya. Rasakan bedanya dengan beragam menu-menu yang telah kau santap.”

“Aku tidak percaya dengan cap organik itu. Kau tahu dari mana?”

“Dari iklan.”

“Sudah ada bukti yang menyakinkanmu bahwa menu yang ditawarkan di kafe ini betul-betul organik? Aku tidak melihat cara memasaknya.”

“Ngapain kamu ingin melihat cara memasaknya!” Suara sahabat Men Coblong meninggi.

Men Coblong terdiam. Sebetulnya tidak enak juga berdebat dengan sahabatnya itu. Tetapi sebagai sahabat tentu harus paham karakter dan beragam tindak-tanduk Men Coblong yang kata orang-orang sering tidak masuk akal.

Kata para sahabatnya, aneh juga dirimu itu tidak sadar betul pertambahan usia. Harusnya di usia makin tinggi harus mulai hati-hati membuat filter pikiran-pikiran yang harus tetap ditimbun di otak, dan pikiran-pikiran yang mana saja harus segera disingkirkan dalam otak.

Sebetulnya ucapan-ucapan dari para sahabatnya itu ada benarnya juga sih. Namun, apakah di usia lima puluh ke atas harus menyerah dengan beragam kerentaan yang datang silih berganti? Apakah di usia yang makin bertambah kita tidak lagi memiliki tanggung jawab kepada lingkungan sosial, politik, budaya, dan agama? Tetapi fokus menyerahkan diri dengan pasrah pada Hyang Kosmis untuk mulai menghadap padaNya dengan rapalan-rapalan doa?

Men Coblong menarik napas. Baginya di usia yang makin matang seharusnya kita semua wajib jadi “filter” hidup yang kritis dengan beragam persoalan di negeri ini. Mural-mural dalam kafe itu justru mengganggu Men Coblong, kenapa tidak memiliki memori tentang budaya Bali dalam mural-mural itu?

Kenapa mural-mural dalam beragam cafe-cafe itu justru mengingatkan Men Coblong pada kafe-kafe di Amsterdam, Denhaag? Juga di Hamburg dan Frankfurt? Kenapa mural-mural itu tidak mengingatkan Men Coblong tentang keindonesiaan? Di Seoul, Korea Selatan, justru Men Coblong menemukan cafe-cafe yang berbau sangat Korea dengan ilustrasi cafe busana khas Korea Hanbok?

Mana wajah Indonesia dalam ilustrasi kafe-kafe di Bali?

Soal menu, bagaimana Men Coblong bisa yakin, menu yang ditawarkan benar-benar organik? Siapa yang bisa menjamin? Sarden, makanan khas yang lezat dan digemari Men Coblong pun mengandung cacing. Bahkan aparat yang berwenang mengatakan, cacing dalam sarden tidak berbahaya. Siapa yang ikhlas ada cacing sebagai menu di atas meja? [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*