Karena Tuak, eh, Buruh adalah Nyawa

Seketika Pan Delem merasa nelangsa saat menonton berita peringatan May Day.

Lima tahun menjadi pensiunan, ternyata nasib buruh tak banyak berubah. Tuntutan para buruh saat demo di depan kantor gubernur juga masih sama dengan tuntutan mereka pada tahun-tahun sebelumnya. Pan Delem melongo, pikirannya berkelebatan.

Ia teringat masa-masa ketika masih aktif di Serikat Pekerja dulu. Sepekan menjelang Hari Buruh, ia selalu terlibat dalam rapat-rapat aliansi untuk menyusun pernyataan sikap. Rapat diikuti oleh berbagai perwakilan organisasi; mulai dari serikat pekerja, jurnalis, hingga mahasiswa.

Diskusi sering berlangsung alot, sengit, bahkan tak jarang hingga berlarut-larut. Meskipun demikian, isi tuntuntan dan pernyataan sikap mereka ujung-ujungnya nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Mewakili Serikat Pekerja Pariwisata, bagaimana pandangan Bung Delem terhadap kesejahteraan buruh pariwisata dewasa ini?” tanya moderator rapat.

“Terima kasih, moderator! Menyimak pandangan masing-masing perwakilan organisasi tadi, sepertinya kita semua sudah sepakat bahwasanya buruh memang belum diperlakukan adil oleh perusahaan! Pekerja hanya dianggap sebagai alat, sebagai mesin yang bisa mendatangkan kapital berlipat-lipat! Namun, mereka tidak dihargai dengan upah yang layak!”

“Seharusnya pekerja diperlakukan bagaimana, Bung Delem?”

“Pemilik modal harus melihat para pekerjanya sebagai aset perusahaan! Dengan begitu, mereka tidak akan semena-mena dengan keberadaan para pekerjanya!”

“Lho, saya justru tidak sependapat jika pekerja dianggap sebagai aset!” seorang mahasiswa kekiri-kirian yang nyaris terancam drop out lantaran tujuh tahun kuliah tak kunjung lulus menyela.

Ia melanjutkan, “Sekilas memang terdengar bagus jika pekerja dianggap sebagai aset. Tetapi, saya rasa itu tidak cukup manusiawi! Seorang pemilik modal bisa memanfaatkan asetnya dengan cara apapun, misalnya dengan menggadaikannya saat keuangan perusahaan mulai gonjang-ganjing!”

“Itu sama saja artinya memperlakukan manusia sebagai objek semata,” sambung mahasiswa itu, “Itu pula yang menyebabkan manusia terasing. Saya menjadi teringat dengan Marx ketika melihat manusia terasing, teralienasi, dari pekerjaannya! Pekerja sebagai aset perusahaan, akan merasa terasing terutama karena hasil kerja atau jerih payah mereka pada akhirnya bukan menjadi milik si pekerja; tetapi milik perusahaan! Milik pabrik! Milik pemilik modal!”

Mahasiswa dekil dengan bau tubuh yang tengik karena jarang mandi itu lalu mengisap dalam-dalam Djarum di tangan kanannya. Setelah diembuskan dan asapnya mengepul hingga membuat ruangan menjadi tambah gerah, ia melanjutkan, “Maka, pekerja harus dipandang sebagai nyawa! Nyawa perusahaan! Itu lebih etis dan manusiawi! Meskipun tetap saja dalam sistem yang kapitalistik, mewujudkan hubungan industrial yang berkeadilan sangat sulit! Yang juga perlu kita suarakan dan tak henti-hentinya kita perjuangkan saat ini adalah membangun kesadaran dan solidaritas para pekerja agar bergabung dalam barisan ini! Setiap kemenangan adalah karya massa!”

“Saya cukup sepakat dengan Bung Rino,” Ulul, jurnalis kawakan itu menimpali. “Saya ingin menambahkan dua hal. Pertama, dari perspektif kami sebagai jurnalis, masih banyak kawan-kawan kami para pekerja media yang menganggap dirinya bukan buruh. Meskipun sebagian besar beranggapan bahwa seorang jurnalis adalah profesional, tidak lantas berarti bahwa dia bukan buruh! Perlakuan pemilik media terhadap pekerjanya bisa jadi membuat para jurnalis merasa angkuh hingga merasa dirinya berbeda, bukan buruh! Belum lagi cengkraman pemilik media yang seakan-akan menghalang-halangi para jurnalisnya untuk berserikat! Ada cukup bukti bahwa jurnalis yang mendirikan serikat di kantornya, dan tak berselang lama setelah itu lalu dipecat!”

“Tahun 2010, menurut riset yang dilakukan oleh AJI, kesadaran para jurnalis untuk berserikat juga tergolong rendah! Kawan kami yang bekerja di media daring tak kalah sial. Sudah bekerjanya sepanjang hari, diminta kantor untuk mengirim berita dalam tempo sesingkat-singkatnya dan sebanyak-banyaknya, akhirnya menjadi bahan olok-olokan para pembaca karena kualitas berita yang rendah! Bahkan terkadang tak memiliki nilai berita!”

“Kedua, terkait upah yang diberikan perusahaan media terhadap para pekerjanya juga sama seperti tuntutan kawan-kawan tadi. Jurnalis sebagai buruh memang belum mendapat upah yang layak dan setara dengan beban kerja mereka yang berat! Terkait independensi jurnalis, barangkali akan menjadi pembahasan tersendiri. Hal ini yang tampaknya tidak dipikirkan oleh para pemilik media! Kawan-kawan jurnalis – kita sebut saja oknum – bahkan nekat melakukan pemerasan dengan menggunakan jubah kewartawanannya! Ini memang miris! Sangat miris! Kebebasan pers yang kita rebut sebagai salah satu kemenangan reformasi, terkesan bebas tanpa batas! Banyak media baru bermunculan. Tapi, maaf, banyak pula yang abal-abal! Kehadirannya yang semarak itu hanya untuk meraup keuntungan pribadi bahkan demi memuaskan libido kekuasaan sang pemilik modal!”

Ruangan tiba-tiba hening. Kreottt. Pintu terbuka.

“Bli! Bli Delem!” suara Nur Nurhayatun, istri Pan Delem yang mbakyu Banyuwangi itu membubarkan lamunan Pan Delem. “Pagi-pagi sudah melamun! Halaman rumah masih kotor! Kita belum mebanten saiban! Tiyang masih mens. Jadi, tolong Bli Delem yang maturan!”

“Jeg mengganggu gen! Nasib buruh tak kunjung sejahtera ini, Luh! Revolusi belum selesai!” gertak Pan Delem.

“Revolusi, revolusi! Bli ini sudah pensiun! Tak ada lagi revolusi-revolusian!”

Mebanten saiban kan masih bisa minta tolong kepada Kadek! Dek… Kadek Dianawati, anak Nanang yang cantik! Tolong mebanten saiban dulu!”

“Kadek juga mens, Nang! Nanang saja yang mebanten!” teriak Dianawati, anak kedua Nang Delem dari kamar tidurnya.

“Kadek tidak bimbingan hari ini? Pokoknya Nanang tidak mau Kadek lulus lama-lama!”

Dianawati lalu keluar dari sangkarnya. Sembari mengucek matanya yang lelah karena kelamaan berhadapan dengan layar gawai, dia menjawab, “Duh! Tenang aja, Meme dan Nanang! Ngapain pagi-pagi ribut ngomongin buruh, ngomongin revolusi! Kadek kurang apa coba? Kan, kuliahnya Kadek sudah pakai duit sendiri. Tidak minta-minta lagi sama Nanang dan Meme! Anak muda zaman now, Nang, Me, sudah punya alat produksi sendiri!”

“Maksud Kadek gimana?” Pan Delem heran sembari menurunkan sedikit kaca matanya yang bulat.

“Kadek selain kuliah juga kerja, Nang, Me! Kerjanya tidak di kantoran, tapi membangun jaringan di coworking space! Gawai ini, Nang, Me, alat produksi yang nyata! Semua orang memiliki, tapi tak banyak yang bisa memanfaatkannya! Jadi, pendapat Marx yang Nanang puja-puja itu, yang mengatakan alat produksi hanya dimonopoli oleh pemilik modal, saat ini sudah terbantahkan! Kadek mau makan, sudah ada yang menawarkan makanan! Kadek pengen pakaian necis, sudah ada yang bersedia endorse! Kadek sudah jadi selebgram sekarang, Nang, Me!”

Pan Delem dan Nurhayatun tambah melongo. Mereka berdua tak benar-benar mengerti dengan bawelan anaknya itu. Tak berselang lama, Wayan Marhaen, anak pertama Pan Delem datang. Tubuhnya lemas. Wajahnya pucat. Marhaen membawa kabar buruk: ia baru saja dipecat gara-gara ikutan membangun serikat pekerja di kantornya. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*