Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Harapannya, Jembrana bisa menjadi jendela kakao fermentasi Indonesia.

Petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali mengirimkan biji kakao kering fermentasi sebanyak 11 ton untuk pembelinya di pasar internasional maupun domestik. Pengiriman secara seremonial diadakan pada Kamis, 6 September 2018, di depan Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Negara, Jembrana.

Hadir sekitar 700 undangan, termasuk petani, pelajar, Bupati Jembrana, dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Petani yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS) mengirim biji kakao kering tersebut ke lima pembeli yaitu Valrhona Peranci (5 ton), AKP Organic untuk Dari-K Jepang (2 ton), Cau Chocolate (2 ton), POD (1 ton), dan Bali Chocolate Factory (1 ton). Seluruhnya dalam bentuk kakao kering fermentasi.

Keberhasilan petani kakao Jembrana mengekspor kakao fermentasi ke Perancis dan Jepang maupun pasar domestik ini mendapat apresiasi dari Dirjen Perkebunan Bambang. Dalam sambutan pelepasan ekspor, Bambang mengatakan kakao fermentasi dari Jembrana menjadi bukti bahwa Indonesia bisa memproduksi kakao berkualitas.

“Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas,” kata Bambang.

Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas.

Bambang menambahkan saat ini kebutuhan cokelat dunia semakin bertambah. Indonesia berpotensi menjadi produsen kakao berkualitas dunia karena selama ini merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan kualitas lebih bagus, termasuk melalui fermentasi, kakao Indonesia akan mendapatkan harga lebih tinggi pula.

Menurut Bambang Indonesia sebagai pengahasil kakao terbesar ketiga di dunia justru dikenal sebagai produsen kakao yang terburuk karena tidak terfermentasi. “Kesadaraan untuk mengolah kakao melalui fermentasi itu tumbuh dari Jembrana dan itu pelajaran yang sangat penting untuk kita,” ujarnya.

Masa depan kakao Indonesia, Bambang melanjutkan, akan berjaya seiring dengan perhatian dari para pembeli yang memberikan harga lebih tinggi. Karena itu, Bambang mendesak agar Pemerintah Kabupaten Jembrana lebih serius menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan daerah. “Pemahaman perkebunan yang baik akan berdampak terhadap hasil lebih baik karena pemahaman pejabat-pejabat daerah masih menganggap sektor perkebunan itu belum penting. Padahal, perkebunan adalah fundamental kekuatan ekonomian nasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan MOU antara Koperasi KSS dengan POD Chocolate, Mason Gourmet Chocolate, Cau Chocolate dan AKP Organic untuk dukungan kerjasama yang lebih berkelanjutan. Kampanye Coklat juga menjadi bagian dari membangun kesadaran publik bahwa kakao Jembrana adalah milik bersama dan patut untuk didukung. Public Awareness melalui Chocolate Campaign sepenuhnya didukung oleh Cau Chocolate, POD Chocolate dan Mason Gourmet Chocolate. Dedikasi penuh ini diberikan untuk para pejuang kakao Jembrana.

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Menjawab Tantangan

Bupati Jembrana I Putu Artha menyatakan menyambut baik saran Dirjen Perkebunan tersebut sebagaimana selama ini sudah ditunjukkan oleh Pemkab Jembrana. Pihak menyadari bahwa sektor pertanian dan perkebunan berperan penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan, tetapi di sisi lain sektor ini justru menghadapi banyak tantangan, seperti alih fungsi lahan dan kurangnya minat anak muda.

“Selama delapan tahun terakhir kami menyambut baik program Kakao Lestari untuk pengembangan kakao unggulan yang dampaknya sudah dirasakan oleh para petani saat ini. Petani mulai bangkit untuk mengelola kebun kakaonya dari hulu sampai hilir, yang hasilnya bisa kita lihat pada hari ini bahwa kakao Jembrana bias merambah dunia internasional. Ini adalah hasil dari komitmen semua pihak,” ujar Bupati Artha.

Bupati menambahkan Jembrana memiliki satu satunya lembaga koperasi yang bergerak di bidang perkakaoan yaitu Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) yang memiliki anggota 38 subak abian atau subak di kawasan kering. Koperasi ini mampu mendampingi dan memfasilitasi anggotanya dalam proses, produksi, mutu dan juga pemasaran walaupun masih sebatas biji kakao fermentasi. Jumlah anggota koperasi saat ini adalah 609 petani kakao.

“Ke depan agar para petani anggota koperasi tidak terhenti hanya pada produk biji kakao fermentasi, tetapi sampai juga kepada produk turunan biji kakao untuk peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jembrana,” Bupati Artha berharap.

Julien Desmedt, perwakilan Valrhona Perancis yang membeli kakao fermentasi dari Jembrana sejak 2015, berharap petani bisa berkomitmen untuk menjaga kualitas biji kakao dengan dukungan semua pihak. “Hal yang paling penting adalah peremajaan pohon dengan klon-klon baru yang tahan terhadap hama agar dapat memberi hasil kualitas yang lebih baik dan juga akan memberi income yang lebih baik lagi untuk para petani,” katanya.

Adapun Agung Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajari yang mendampingi petani kakao Jembrana dalam program Kakao Lestari sejak 2011, mengatakan pengiriman kakao ini membuktikan bahwa petani bisa mengubah pandangan negatif terhadap sektor pertanian selama ini. “Ini bukti bahwa pasar memang ada di depan mata, tetapi kita harus berjuang untuk mencapainya. Ini bukan mission impossible karena kita bisa mewujudkannya,” kata Widiastuti.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana. Jika dulunya mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan pasar, tetapi saat ini justru mereka yang dicari-cari oleh pembeli. “Kami bangga karena ini sekaligus membuktikan bahwa petani kakao bisa membawa harum nama Jembrana dan Indonesia ke pasar internasional,” ujarnya. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*