Joged Bumbung, “Anak Durhaka” Ajeg Bali

Oleh I Wayan Sumahardika

Sudah sejak lama sesungguhnya saya dan kawan-kawan di Teater Kalangan membayangkan suatu pentas, di mana kami berkesempatan menyelami kehidupan suatu kelompok masyarakat hingga menggali kenyataan-kenyataan di dalamnya.

Dalam benak kami, sudah tentu, ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan kajian pentas. Agak heroik memang kami membayangkannya. Bagai anak ABG labil tetumbenan saja keluar rumah, ingin merekam segala kejadian yang lintas di kepalanya.

Dalam pentas kali ini, kami memberanikan diri keluar dari rutinitas pembentuk alam pikir kami. Beranjak menuju kekosongan hingga sampai pada kenyataan di luar realitas kami sehari-hari.

Namun, kenyataan yang ada sungguh berlainan dengan apa yang kami bayangkan. Fenomena joged porno yang notabene kami sepakati sebagai tema pentas tak serta merta sesuai dengan khayalan kami.

Jika sebelumnya kami membayangkan fenomena ini akan banyak bicara tentang perjuangan para penari dan sekaha joged porno dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang mencoba mengekang ruang geraknya, pada kenyataan di lapangan hal tersebut ternyata hanyalah serpihan narasi dari realitas besar tentang eksistensi mereka sebagai penari dan sekeha joged porno.

Berdasarkan observasi dan wawancara selama beberapa hari yang kami lakukan di Desa Silangjana, Seririt, Patemon, dan Marga, kami menemukan kenyataan bahwasanya para penari dan sekeha joged porno bukanlah individu atau kelompok lemah yang merasa kalah oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Mereka senantiasa siap dengan berbagai kemungkinan sesilangan makna, peristiwa dan segala hal yang melintasi realitas mereka.

Sebutlah, misalnya, kreativitas para sekaha joged yang berkembang di banjar kebanyakan desa Bali. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, begitu cairnya mereka merespon alat, gaya dan bentuk musik luar Bali untuk diadopsi menjadi miliknya sendiri. Penggunaan bass, gitar, simbal, rebana, bahkan didgeridoo tak jarang menghiasi aransemen joged.

Pada musik joged inilah saya merasakan spirit orang Bali yang begitu lapang dengan perkembangan budaya di luar arena produksi kulturalnya sendiri.

Bukankah itu yang sering terjadi pada proses penciptaan kebudayaan Bali masa lalu, pun sampai saat ini? Entah dilakukan secara sadar atau tidak. Dari zaman Bali Aga, Mpu Kuturan, Dang Hyang Nirarta, Penjajahan, dan era globalisasi saat ini. Semuanya saling pengaruh mempengaruhi, pinjam meminjam hingga tak bisa lagi disebut manakah yang Bali asli dan manakan yang turunan.

Hal ini tentu berkebalikan dengan wacana-wacana media dan pemerintah yang terus saja mengumandangkan ajeg Bali sebagai sesuatu yang beku tanpa menemukan konteks yang jelas. Yang pada akhirnya membuat seluruh persoalan tentang tradisi budaya diobjektifikasi sedemikian rupa dengan nilai-nilai ajeg Bali yang sayangnya bermuara hanya untuk kepentingan pariswisata.

Alhasil, hal-hal di luar pariwisata seolah dikaburkan dan kian luput dari pandangan mata. Ini pula yang menjadikan kerja-kerja kesenian joged memiliki daya juang berbeda jika dibandingkan dengan kesenian lainnya. Daya hidup para sekeha joged ini telah mampu melintasi peristiwa, ruang dan waktu yang berpotensi untuk mengehentikan kerja kreatifnya.

Sebab, sebagaimana yang diketahui, para penari dan sekaa joged ini adalah salah satu kesenian yang boleh dikata terpinggirkan keberadaannya. Meski jarang dilirik oleh pemerintah tak jadi soal. Mereka mampu menghidupi diri sendiri, dengan perjuangannya sendiri pula. Eksistensinya dihidupi oleh masyarakat penggemarnya.

Bahkan, ketika eksistensi joged porno berusaha dihilangkan oleh wacana budaya pariwisata, para seka joged ini lempeng saja menuruti aturan-aturan yang ada. Tanpa beban.

Pentas dalam rangka upacara agama, di pura-pura, balai banjar, rumah warga, hotel, bahkan lapangan sepak bola begitu akrab digauli tanpa mengurangi esensi joged itu sendiri sebagai tari pergaulan. Ketika waktunya penari sembahyang, ia sembahyang dengan khusyuk. Ketika menari porno ia lakukan pula dengan kualitas dan kapasitasnya sebagai penari. Pun ketika dilarang joged porno, ya nurut-nurut saja.

Nahh.. luwung sih maksud pemerintahe ento.. nak pedalem masih jogede gisang-gisange keto ajak pengibinge.. nak mule nyajang-nyajang pengibinge ento.. Kala yen sing ada pengibing ane cara keto, joged masih kan sing ada.. nak serba salah gen iraga dadine.. jani sing be ada ane bani joged porno..” Demikian yang dikatakan sebagian besar para penari dan sekeha joged yang kami wawancarai tentang kebijakkan pemerintah.

Apakah karena mereka hidup berkecukupan jadi bisa bicara demikian? Kami berani katakan tidak! Ini bukan masalah ekonomi, kemiskinan, atau sejenisnya. Bicara masalah ekonomi, sebagian para penari dan sekaha joged ini dapat dikata hidup seadanya. Pekerjaannya rata-rata menjadi buruh dan petani. Lalu, keikhlasan macam apakah ini sesungguhnya?

Kenyataan-kenyataan semacam inilah yang kemudian membuat kami menyelam kian dalam pada persoalan joged di Bali. Tak cukup dengan penari dan sekaha joged saja, wawancara juga dilakukan dengan perspektif seniman-seniman lintas disiplin lainnya. Artikel, sejarah, penelitian, hingga komen dan status Facebook tentang joged kami cari.

Joged porno yang berkembang awal tahun 2000-an yang kehadirannya disinyalir dipengaruhi oleh meledaknya goyang ngebor Inul, sejarah joged bumbung yang dulunya hanya menggunakan alat musik bambu, joged yang digunakan sebagai alat pengecoh tentara Belanda di Desa Patemon, tradisi “adar” yang kemudian menjadi cikal bakal judul pentas kami, juga bagaimana interpretasi joged sebagai salah satu jenis tarian Bali dibentuk dari masa kanak, sekolah, sampai dewasa, juga respon dan pembentukan wacana joged yang dilakukan oleh media dan pemerintah.

Saking banyaknya data-data yang diperoleh, alhasil niatan untuk menjangkarkan pentas pada suara-suara yang redam di masyarakat jadi kian samar. Keterhanyutan kami inilah yang membawa realitas joged bukan lagi sebagai tema dan tujuan pentas. Melainkan menjadi media dalam memukan kenyataan-kenyataan yang tersisih dari wacana besar kebudayaan masyarakat Bali hari ini.

Bagaimana Bali sebagai ibu turut hadir menjaga tumbuh dan berkembang anak-anak kebudayaanya? Bagaimana kita memandang tradisi dan budaya? Bagaimana media menginterpretasi alam pikir para pembaca dan pendengarnya? Bagaimana joged ditempatkan dalam berbagai perspektif para pelaku, masyarakat dan sekitarnya? Bagaimana joged dan realitas kita sehari-hari saling terhubung sekaligus saling tabrak satu sama lain?

Pada dunia yang serba instan ini, pada kenyataan yang mengharuskan kita untuk berkejaran dengan ruang dan waktu, kita terus saja menatap ke depan. Tanpa kita sadari mungkin saja ada yang tercecer di sela pelarian. [b]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*