Hand Lettering, Seni Merangkai Pesan dengan Keindahan

Hand Lettering oleh Lugu Gumilar bertema No Neuus Without U. Foto Anton Muhajir.

Ada pesan dan suasana baru di kantor kami.

Sejak akhir Februari, dinding ruang kelas kami berisi warna-warni tulisan besar “NO NEUUS WITHOUT U” dan “Yang hanya terucap akan menguap. Yang tercatat akan selalu diingat.”. Melalui dua tulisan itu, kami ingin menyampaikan pesannya kita menulis.

Tak sekadar kalimat dan jargon, tulisan itu juga tergambar indah di dinding putih ruang tempat kami biasa mengadakan diskusi, pelatihan, atau menerima tamu itu. Tulisan berwarna merah dan hitam itu serupa kaligrafi, dengan permainan jenis font dan warna huruf.

Untuk membuat hand lettering, istilah menggambar kalimat indah dalam tampilan dan pesan berbentuk serupa kaligrafi itu, kami bekerja sama dengan Lugu Gumilar. Pecinta kopi ini memang salah satu pembuat hand lettering, yang dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diterjemahkan sebagai seni menulis dengan tangan.

Meskipun sangat mirip, kaligrafi dan hand lettering ada bedanya.

Perbedaan hand lettering dengan kaligrafi ada di teknik. Keduanya sama-sama seni menulis indah, tetapi kaligrafi lebih identik menggunakan pena dengan tinta dan menghasilkan huruf dengan tebal-tipis yang bervariasi. Skala kaligrafi juga lebih kecil.

Adapun hand lettering lebih bebas menggunakan pena, kuas, atau apa saja untuk menulis huruf dengan lebih beragam. Skala hand lettering bisa lebih besar, mulai di kertas sampai di tembok.

Media sosial turut mempengaruhi popularitas hand lettering di Indonesia, termasuk Bali. Lugu mengatakan, sejak 2014 mulai banyak penggiat lettering dan kaligrafi yang meramaikan karya di sosial media. Hal ini didukung dengan kesan manual atau analog yang unik dan menarik.

Komunitas penggiat hand lettering di Indonesia pun bermunculan, seperti Kaligrafina dan Belmen (Belajar Menulis). “Di Bali, saya sempat bertemu dengan teman-teman Baligrafi yang giat bertukar informasi dan berkarya bersama,” ujar Lugu.

Lugu Gumilar saat membuat teks di BaleBengong. Foto Anton Muhajir.

Lebih Unik

Sebagai sebuah hobi, atau bahan pekerjaan baru, hand lettering memiliki keunikan tersendiri. “Mungkin karena hand lettering identik dengan handmade atau berkarya secara analog, membuat tulisan dengan tangan. “Jadi lebih unik dan spesial,” lanjut Lugu.

Meskipun demikian, di kalangan penggiat hand lettering, tidak ada batasan kriteria bagus atau tidak. Seiring latihan dan ketekunan, sebuah karya hand lettering bisa semakin bagus dari karya sebelumnya.

Biasanya, karya hand lettering dibedakan dari penggunaan alat, gaya menulis, dan dekorasi yang digunakan.

Lugu sendiri memulai hobi baru ini sejak 2011 karena dia memang senang dengan permainan font (tipografi) untuk kebutuhan desain grafis. Dari sana, dia makin menemukan keasyikan hingga kemudian sejak 2015 makin sering berkarya dengan hand lettering.

“Rasa senang, kepuasan, dan kemudahan menyampaikan pesan (untuk karya mural) menjadi alasan utama akhirnya saya menjadikan ini sebagai pekerjaan,” ujarnya.

Dalam karya-karyanya, Lugu mengaku menggunakan banyak referensi. Biasanya tergantung tema atau konsep yang diminta klien. Media sosial Instagram menjadi salah satu tempatnya mencari referensi sekaligus mempromosikan karya.

Beberapa yang menginspirasi, di Indonesia ada Erwin Indrawan, Jamal M. Azis, dan kawan-kawan. Di Luar negeri ada Lauren Hom, Jon Contino, dan masih banyak lagi.

Dalam karya-karyanya, Lugu lebih suka berkarya sesuai tema, tapi beberapa karyanya juga banyak menggunakan kombinasi huruf block dan handwriting yang jika bisa menjadi sebuah ciri khas. “Mungkin ini yang saya tonjolkan,” katanya.

Sejak menggeluti hand lettering sebagai pekerjaan, Lugu sering mendapat pesanan. Mulai dari lingkaran pertemanan, pergaulan, lalu ke pelanggan-pelanggan baru.

Karyanya pun tersebar dari sketchbook, papan tulis, mural di rumah, kantor sampai kafe. Proyek paling berkesan baginya adalah ketika dia mengerjakan proyek di kedai kopi. Dari mural, papan menu sampai visual identity dia kerjakan semua.

“Berkesan karena lebih bisa mengontrol tema dan leluasa dalam hal waktu pengerjaannya,” kata Lugu.

Kini, Lugu dan istrinya yang juga desainer interior dan arsitek, Nadjma Achmad, sedang memulai Kalih Studio. “Kami ingin menjadikan mural (hand-lettering) dan interior menjadi satu paket pekerjaan yang kami tawarkan,” katanya. [b]

One Comment

  1. Terima kasih atas kesempatannya BaleBengong!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*