Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai

Anak-anak main gawai di salah satu SD di Denpasar. Foto Men Coblong.

MEN COBLONG belakangan ini sungguh prihatin dan jujur saja nelangsa. Juga migren akut.

Masalah di negeri ini makin hari bukannya makin berkurang tapi justru makin bertambah dan makin tidak masuk akal. Padahal di setiap acara berisi pidato-pidato suara-suara para petinggi negeri terdengar begitu indah dan membuai.

Seolah semua kata-kata indah itu mampu membuat para “umat” di negara ini akan ketiban kesejahteraan yang berlimpah. Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Mimpi menjadi sejahtera di Indonesia memang harapan yang paling dalam tumbuh dan menjalar di tubuh Men Coblong. Rasanya impian-impian semasa muda ketika berumur 20-an mengambang setelah usia Men Coblong menginjak setengah abad.

“Kau bermimpi apa lagi tentang negeri ini?” suara sahabatnya membuat Men Coblong merengut. Mimpi? Apakah layak memiliki mimpi lagi di tengah beragam onak yang makin hari makin aneh.

Salah satunya adalah persoalan gawai yang menyita fokus dan perhatian generasi muda Indonesia. Masalah gawai yang terhubung dengan sistem daring dengan berbagai fitur, menurut sebuah harian pagi ternama di Indonesia, ibarat pisau bermata dua, yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami “gangguan jiwa” akibat kecanduan gawai.

Men Coblong jujur saja prihatin, tetapi apakah cukup prihatin saja? Pengalaman Men Coblong yang memiliki anak dari generasi Z, justru memiliki beragam pengalaman menarik. Ketika Men Coblong berkunjung ke SDN 21 Desa Dauh Puri Kauh Denpasar, yang diisi anak-anak dengan ekonomi terbatas dengan fasilitas terbatas juga. Banyak anak di sekolah yang terletak di pinggir kali Badung ini sehabis pulang sekolah justru membantu orangtua mereka mempersiapkan dagangan. Mereka membantu menyokong ekonomi keluarga.

Di SD yang tentu saja tidak terjamah pers ini, guru-guru dengan segala keterbatasan dan ruang kelas yang juga tidak begitu lengkap harus memiliki ide-ide gemilang untuk mengejar beragam trik dan teknik untuk membuat anak-anak di siini memiliki mimpi tinggi dan merasa nyaman di sekolah.

“Dengan segala keterbatasan secara ekonomi yang dimiliki anak-anak di SD ini, para guru justru merasa ilmu yang selama ini hanya dipelajari dalam teks-teks baku di bangku sekolah guru justru teruji. Jadi ilmu mereka berguna di sekolah ini, karena guru-guru di sini harus memiliki beragam ide-ide untuk membuat anak-anak di selah ini betah berlama-lama berada di sekolah. Sekolah kan bukan hanya tempat belajar saja tetapi juga bermain. Bermain sambil belajar.”

Kesadaran para guru di SD ini memang teruji, karena guru-guru di SD ini sadar betul, banyak anak-anak yang ikut bekerja membantu orangtua mereka. Karena banyak orangtua di sekolah ini bekerja di sektor informal.

Dengan ekonomi yang serba terbatas itu, para guru juga tidak bisa mengharapkan sumbangan dana yang agak lebih untuk fasilitas sekolah. Boro-boro mau jadi donatur, untuk hidup sehari-hari saja mereka harus lintang pukang memiikirkan beragam cara untuk menghidupi keluarga mereka.

Kelelahan, fasilitas yang minim kondisi seperti ini ada di sekolah-sekolah yang berada di kota besar. Sekolah-sekolah yang jarang dilirik, jarang dibidik. Karena memang sekolah dasar seperti ini tidak memiliki “dana” untuk ongkos para “pengunjung” yang datang.

Yang membuat Men Coblong takjub, ada saja ide-ide cemerlang para guru.

“Di SD ini jarang anak memiliki gawai. Bisa dihitung dengan jari,” papar seorang guru. Makanya para guru pun harus ikhlas dipinjam gawainya untuk menelpon orangtua jika anak-anak belum dijemput, atau ada insiden yang tidak diinginkan seperti, anak sakit.

Pengalaman mengunjungi sebuah SD di pinggir kali Badung itu membuat Men Coblong berpikir dan mendapat ide. “Bagaimana kalau pemerintah memasukkan pelajaran IT di sekolah-sekolah.” Men Coblong berkata pada sahabatnya.

“Dulu juga sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada laboratorium komputer. Hasilnya? Tidak efektif juga, wong kurikulum selalu berubah, selalu menyesatkan. Ada-ada saja aturan-aturan baru,” Sahut sahabat Men Coblong gemas.

Ya, Men Coblong ingat dulu di sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada ekstrakulikuler komputer. Begitu anak Men Coblong masuk sekolah menengah top ini, beragam ekskul raib. Masalahnya bukan pada guru — karena di sekolah ini para orangtua mau menyumbangkan uang berapa saja asal fasilitas mumpuni. Yang menghajar beragam kebijakan yang telah dibuat sekolah ini jadi berantakan adalah usulan-usulan “maha cerdas” — kurikulum selalu diotak-atik. Padahal sederhana saja, masukkan pelajaran informasi teknologi dalam kurikulum — dijamin anak-anak di tingkat dasar dan menengah akan paham dan khatam.

“Itu ‘kan maumu? Memangnya kamu menterinya?” suara sahabat Men Coblong terdengar sinis. [b]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*